perjalanan lalat hijau

LALAT HIJAU, sebuah catatan perjalanan untuk beberapa waktunya ke depan


kisah si lalat hijau


lalat hijau
Originally uploaded by lalat hijau.

lalat, lalat hijau... apa yang pantas diharapkan dari cerita dan kisah perjalanannya?

Tidak banyak yang suka dengan keberadaan lalat hijau di rumahnya. Jika suatu kali aku lihat salah satu diantaranya beterbangan atau hinggap di salah satu sudut, atau bahkan di makanan atau alat makan di rumahku, buru-buru pasti kuusir dengan kibasan tangan, jika aku sedang baik, atau dengan alat untuk menghancurkan tubuhnya, jika aku sedang kesal. Kata buku ensiklopedi, umur seekor lalat paling-paling hanya sekitar 1 minggu sementara untuk lalat hijau yang ukuran tubuhnya lebih besar dari lalat hitam umurnya bisa 2 kali lipat.
Aku kira, jumlah lalat hijau juga tidak sebanyak lalat hitam dan yang pasti gerak mereka juga lebih lambat sehingga lalat hijau lebih mudah dipukul dengan gulungan koran, sapu lidi, tebah, atau pemukul lalat dari plastik. Dengan hidup yang tidak begitu panjang, apa yang kira-kira bisa dicatat dari perjalanan hidup seekor lalat barangkali juga tidak akan lebih dari sekitar sampah, makanan, kotoran dan tentu juga sesama lalat-lalat lain.
Seekor lalat hijau memang dapat dipastikan bukanlah binatang yang pintar. Pernahkah kamu perhatikan tingkah lakunya yang menyebalkan setiap berada di depan jendela kaca? Ya, ia melompat-lompat seolah-olah ingin menembus kaca itu. Walaupun jendelanya sudah dibuka sekalipun, seringkali ia masih tetap memilih terus mencoba menembus kaca yang dikiranya adalah dunia luar dalam bentuk 2 dimensi, sungguh bodoh dan gampang tertipu!
Omong-omong soal intelegensia lalat, menurut legenda, hal itu sebenarnya bukanlah bawaan sejak ia diciptakan. Konon, pada zaman dahulu, lalat adalah binatang peliharaan Yang Mulia Dewa Kahyangan dan menjadi tunggangan ratu kahyangan, putri serta dayang-dayangnya. Lalat adalah binatang yang terhormat dan paling disegani sehingga bahkan sempat hampir diputuskan untuk masuk ke dalam jajaran 12 binatang yang menjadi simbol shio dalam mitologi Cina. Semuanya itu terjadi sebelum sebuah peristiwa merubah posisinya menjadi seperti sekarang ini.
Lalat, pada masa itu adalah binatang yang ukuran tubuhnya sebesar kerbau namun tetap gesit dan mempunyai lompatan yang sangat jauh sama juga seperti lalat masa kini. Dengan kegesitannya itulah ia dijadikan alat transportasi paling mewah sekaligus juga tunggangan yang hebat bagi ratu dan putri-putrinya yang memang memiliki hobi berburu di hutan. Selama ratusan tahun kahyangan itu, binatang-binatang lain selalu berharap dirinya adalah seekor lalat, semuanya kecuali satu saja yang tidak, para semut.
Semut adalah binatang yang tidak pernah bermimpi ingin jadi lalat, selain karena semut jarang sekali tidur apalagi bermimpi, mereka juga adalah bangsa yang tak pernah merasa kekurangan. Bagaimana tidak? Dengan populasi jutaan, milyaran, bahkan trilyunan seperti itu, tidak ada yang mereka perlu takuti dan tak ada yang harus mereka anggap musuh. Semua mahluk bagi mereka adalah makanan, sebesar apapun mahluk itu tak ada yang dapat diangkat oleh semut ke sarangnya, dan makanan selalu dibagi rata, sama rasa sama suka, tak ada yang dianggap berbeda, mereka semua sederajat. Dan bagi semut, hal itu juga berlaku untuk mahluk lainnya, binatang terkuatpun suatu saat akan mati juga termasuk yang terhormat seperti lalat, mereka akan menjadi jenazah penuh belatung yang menggiurkan bagi semut-semut itu.
Lalatpun, dibalik segala kehormatan yang ia miliki tidak serta merta membuatnya menjadi sombong. Walau sudah pasti pula sebagai peliharaan raja, ia juga mendapatkan pendidikan yang lebih baik dibandingkan binatang yang lain. Hanya satu yang menjadi kelemahan lalat, terlalu obsesif. Ya! Lalat adalah binatang yang sangat obsesif dan keras kepala, jika mempunyai sebuah keinginan, ia akan terus selalu berusaha mewujudkan apapun risikonya. Nampaknya, sifat itu juga yang masih terus dipegang keturunan mereka sampai saat ini sehingga sulit sekali mengusir lalat tanpa lewat jalur kekerasan (ingat juga lalat di depan jendela kaca itu tadi).
Sifat lalat yang satu ini bukannya tidak pernah mengakibatkan masalah besar bagi dirinya. Kisah seekor pemuda lalat ini bisa menjadi contoh. Larsenn (jv. laler sek enom) adalah salah satu lalat kerajaan kahyangan yang masih sangat muda sehingga sebagai tunggangan jam terbangnya masih sedikit, atau sekalipun pernah dipakai juga masih belum untuk bepergian jauh seperti lalat-lalat dewasa. Hal ini tidak membuat Larsenn gembira karena sejauh ini ia hanya bisa bengong setiap mendengarkan obrolan lalat-lalat dewasa lainnya. Sebagai pemuda yang penuh gejolak dan selalu ingin membuktikan diri, iapun bertekad untuk menjadi lalat yang akan terbang paling jauh sehingga iapun akan mempunyai cerita paling banyak dibandingkan para dewasa sekalipun.
Tanpa mengindahkan larangan dan kondisi tubuhnya yang memang belum kuat benar untuk terbang jauh, suatu hari diam-diam ia mencuri salah satu pakaian dinas lalat dewasa lalu menyelinap keluar dari istana untuk terbang sendirian menggapai keinginannya. Larsenn, untuk pertama kalinya merasa begitu gembira dan bangga dengan dirinya sendiri. “Siapa bilang aku masih belum kuat? Buktinya sudah bermenit-menit aku terbang dan melompat tapi masih tak ada rasa capek sedikitpun yang aku rasakan! Huh! mereka hanya takut dikalahkan oleh yang muda seperti aku” pikirnya.
Berpuluh-puluh mil sudah ia lewati, kali ini ia sudah keluar dari kota kelahirannya dan mulai melewati satu, dua, tiga,… lima kota! Sayapnya mulai capek dan demikian juga kakinya. Namun walau begitu, semua masih tidak ia pedulikan. Ia ingat dengan si Largo (jv. Laler goblok), lalat dewasa yang paling lemah dan paling bodoh itu saja pernah melewati delapan kota dan bisa kembali lagi dengan selamat, pikirnya. “Tidak!” Ia memutuskan, “aku akan dan harus menjadi lalat yang pernah terbang paling jauh dari yang lainnya!”. Larsenn terus terbang dan melompat sampai suatu waktu ia telah melewati perbatasan kota ke sembilan sebelum ia mulai merasa ada yang aneh. Ia tidak bisa terbang atau bahkan melompat jauh lagi. Ia hanya bisa berjalan, berjingkat-jingkat sebelum kemudian ia sadar, sesuatu yang mengerikan telah terjadi.
Sayap si Larsenn! Ya.. sayapnya lepas sebelah! Betapa kaget dirinya menyadari hal itu sementara sejurus kemudian nyeri yang teramat sangat mulai terasa merambat di sekujur tubuhnya. Ia telah menjadi lalat cacat! Ia tak dapat lagi melanjutkan perjalanannya atau kembali ke rumahnya lagi. Ia kini sendirian dan tiba-tiba ia mulai bergidik melihat sekelilingnya. Di sekitarnya nampak bahwa ia bukan hanya sendirian tapi beberapa meter disamping kiri kanannya terlihat bangkai-bangkai lalat. “Ini adalah kuburan!” teriak Larsenn begitu menyadari dimana ia berada. Bangkai-bangkai itu, sebagian besar masih nampak bahwa itu adalah bangkai-bangkai lalat seukuran tubuhnya, lalat-lalat muda yang barangkali juga pernah mempunyai niat dan obsesi yang sama seperti dirinya. Ia terhuyung, di matanya terbayang lagi lalat-lalat dewasa yang selalu membawa banyak cerita dan oleh-oleh untuk dirinya setiap kali mereka pulang dari perjalanan jauh. Kini ia memang punya cukup banyak cerita, tapi siapa yang akan mendengarkan ceritanya? Ia kini sendirian, cacat dan tak dapat lagi pulang ke istana. Tak lama Larsenn pun seperti tak merasakan apa-apa lagi dan dunianya menjadi gelap.
Begitulah sifat keras kepala dan obsesifnya lalat yang seringkali membuat mereka kurang memperhitungkan akibat yang akan ia peroleh. Mengenai Larsenn dapat dilanjutkan bahwa ternyata akhirnya ia selamat setelah beberapa lalat dewasa saudaranya mencari dan menemukannya dalam keadaan pingsan. Ia masih tetap cacat dan bahkan menjadi bisu karena shock sampai akhir hayatnya, bagi Larsenn, kota ke 9 itu pulalah tempat terjauh yang pernah ia capai, tak ada lagi kesempatan, bahkan tak ada juga cerita yang dapat ia katakan pada teman-temannya.
Kisah si Larsenn tidak begitu lama terjadi sebelum sebuah kisah lain membuat kehidupan semua lalat berubah sampai selamanya. Adalah seekor lalat lain, kali ini bukan sembarang lalat, lalat ini adalah seekor perwira lalat yang paling dipercaya oleh keluarga raja kahyangan. Larusso (jv. Laler seng kuwoso) adalah lalat yang paling dihormati diantara lalat-lalat yang lain. Sebagai pemimpin, sama seperti kebanyakkan lalat lain, ia juga tidak sombong. Ia senang bergaul dengan siapa saja termasuk dengan bangsa semut yang pemberani dan kompak itu. Sebegitu dekatnya ia dengan para semut membuat ia diangkat sebagai bagian dari keluarga semut dan para semutpun berjanji jika kelak ia mati maka bangkainya tidak akan diperlakukan dengan sia-sia, dalam arti mereka akan langsung memakannya sampai habis dalam satu kali dudukan.
Begitulah Larusso, kharisma dan wibawanya bahkan telah membuat bangsa yang paling pemberani pun menaruh hormat padanya. Namun sekali lagi, tak ada yang sempurna, Larusso tetap mempunyai sifat keras kepala dan begitu mudah terobsesi dengan keinginannya. Sebagai pemimpin dan lalat yang paling dipercaya raja, kali ini ia mempunyai obsesi yang tak kalah megah dan bahkan mungkin kelewat batas untuk diinginkan bangsa binatang sepertinya. Larusso ternyata diam-diam menaruh hati pada putri kahyangan, sebagai tunggangan kesayangannya Larusso merasa ia telah begitu dekat dan mengenal sang putri. Bahkan dengan menutup matanya yang besar itu, Larusso dapat membedakan yang mana kaki sang putri yang melingkar diatas punggungnya dan mana yang bukan. Putri kahyangan yang menungganginya memang wanita tercantik di seantero jagat waktu itu. Larusso sendiri bukannya tak sadar dengan posisinya sebagai bawahan sang putrid, namun ia bersikeras “tak ada yang lebih besar dari kekuatan cinta, karenanya cinta akan mengalahkan segalanya” katanya yakin.
Dan keputusannya telah bulat, ia akan mengatakannya pada sang putri sendiri, tak usah peduli dengan pendapat yang lain. Suatu pagi, seperti biasa sang putri minta diantarkan berburu bersama beberapa dayang-dayangnya dan sang perwira lalatpun segera mengantarnya tanpa menunggu lama. Hutan yang lebat telah menunggu mereka, panah yang hendak dibawapun sudah disiapkan para dayang-dayang sebelum tiba-tiba sang putri berteriak,
“Tunggu!” katanya, “Kali ini kita tidak akan berburu di hutan!”
Tentu saja perintah ini membuat semua bingung termasuk Larusso sendiri
“Mohon ampun, tetapi jika tidak di hutan, kemana kita akan berburu tuan putri?” kata dayang-dayangnya
“kita akan berburu di padang pasir, kita akan berburu semut!!”
Semuanya terperangah, ada-ada saja putri yang satu ini, mana ada orang berburu semut? Namun demi mengingat mutlaknya kekuasaan yang dimiliki sang putri merekapun membungkuk dan mengangguk serempak menyatakan persetujuannya.
Semua tak ada yang berkeberatan dengan usul aneh itu, hanya satu yang masih terus bertanya-tanya dalam hati, sang perwira lalat Larusso. Mana mungkin ia memburu dan membunuh para semut sahabatnya itu? Untuk sejenak ia sedikit melupakan rencana pengungkapan isi hatinya pada si putri. Tiba-tiba sebuah elusan lembut di atas kepalanya membuat ia sadar, “Ayolah Larusso, tunggu apa lagi, tak maukah kau mengantarku berburu lagi?”. Ah! Kata-kata itu begitu lembut di telinganya dan segera saja seperti menyihir ia untuk terbang dan melompat ke sebuah padang pasir tempat tinggal semut-semut sahabatnya. Yang terjadi selanjutnya sangatlah mengerikan untuk bangsa semut, ribuan semut dibantai, dipanah, dan beberapa diantaranya diinjak sendiri oleh Larusso sekedar untuk menyenangkan sang putri yang nampak gembira dan tertawa-tawa puas di atas punggungnya.
Nampaknya kegiatan ini memang berbeda dengan perburuan biasanya, semut-semut itu tentu saja tak akan dimakan atau dibawa pulang seperti jika mereka berburu babi, kuda, kerbau atau harimau di hutan. Bangkai yang mati itu dibiarkan begitu saja tanpa penjelasan apa-apa dari yang menggagas rencana. Tengah hari merekapun semuanya lelah, sang putri turun dari atas punggung lalat itu dan ingin beristirahat sejenak di atas batu sementara dayang-dayang berada agak jauh mengawasi sekitarnya. Inilah saat yang ditunggu Larusso, sang putri masih terlihat gembira dan terus mengelus-elus kepala lalat kesayangannya itu.
“Mohon ampun baginda, bolehkab kiranya hamba bertanya sesuatu?”
“bertanya apa kau lalat?”
“Begini…”
“hmm.. pasti kau bingung dengan kegiatan kita hari ini ya?”
“eee…”
“tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan semut-semut itu, mereka mati ribuan tapi masih milyaran atau bahkan trilyunan semut lain yang masih ada di dunia ini”
ia melanjutkan “setiap hari kita berburu kuda, harimau, babi dan kerbau di hutan, tak tahukah kau berapa banyak populasi mereka yang tersisa saat ini?”
“puluhan ribu saya kira” lalat yang pandai itu menjawab
“nah, itu pula yang kumaksud, bagaimana jika dengan populasi sedemikian, masih tetap tiap hari kita bunuh mereka sementara masa reproduksi mereka jauh lebih lambat dari semut-semut itu?”
“ampun baginda, mereka akan menjadi langka dan punah”
“yah, kaupun tahu sendiri itu”
“ampun baginda, namun bukan hal itu yang ingin hamba tanyakan”
“lantas apa itu?” jawabnya dengan lembut
“ngg… benarkah baginda putri tak akan marah?”
“pernahkah aku marah padamu, Larusso sayang? Kita telah lama bersama dan kaupun telah kuanggap sebagai sahabatku yang terbaik lebih dari yang lainnya”
sang lalat kali ini semakin bertambah gugup walaupun di dalam hatinya ia merasa sangat bahagia,
“betapa harum hati tuan putri lebih dari semua bunga diatas jagat ini”
“ah.. terima kasih, tapi apa itu saja yang hendak kaukatakan?”
“oh, begini, tuan putri, semakin hari bersama tuan putri semakin jauh pula hamba menyadari betapa bijaksana dan mulianya hati tuan putri, seelok dan semulia kecantikan yang tuan putri miliki, dan hari ini…”
“ada apa dengan hari ini?” sang putri bertanya menyelidiki
“Ampunilah hamba tuan putri, hamba tak kuat lagi menahan kata-kata yang betapa ingin hamba sampaikan pada tuan putri”
“…..” sang putri hanya termangu sambil matanya memandang lurus ke mata majemuk sang lalat yang besar itu.
“hamba sangat mencintai tuan putri dan hamba ingin terus hidup bersama tuan putri seperti baginda raja dan ratu kahyangan yang mulia” Larusso hanya dapat mengatakannya sambil menutup mata, menunggu kemungkinan meledaknya kemarahan yang akan ia terima.
Reaksi yang diberikan sang putri ternyata sangat jauh dari perkiraannya. Sang putri mengernyitkan dahinya dan mulai bersuara dalam nada heran
“Apa kau bilang? Men.. cin..tai?
“Ampunilah kelancangan hamba tuan, hamba tak bermaksud…”
“aku baru dengar kata aneh itu.. Cinta? Apa itu? Apa pula hubungannya dengan ayah dan ibuku?
Kali ini si lalatlah yang terheran-heran, bagaimana bisa ia tidak pernah mendengar kata cinta? Aku kira kata itu ditemukan dan disebarluaskan oleh bangsa manusia seperti yang ia hadapi saat ini.
“coba kau jelaskan apa yang kaumaksud dengan cinta itu?”
“ah.. tuan putri, cinta kiranya adalah sesuatu perasaan yang paling mulia yang pernah dirasakan mahluk hidup apalagi manusia seperti tuanku putri, ia adalah seperti cahaya matahari yang membuat kehidupan berjalan dan sekaligus dapat membuat kita melihat betapa indahnya dunia ini tuan putri”
“ah.. terlalu absurd! Aku masih tak mengerti? Kalau memang sudah ada sinar matahari, buat apa lagi ada cinta? Tolonglah jangan menjelaskan dengan perumpamaan, coba kau peragakan! Bisakah cinta itu diperagakan?”
“ah tuan putri, tentu saja dapat”
“maukah kau memperagakannya untukku”
“ampun tuan putri, hamba tiada berani..”
“kenapa tak berani, bukankah kita sahabat? Hmmm.. atau bukankah aku ini tuanmu? Apa lagi yang kautakutkan?”.
Kali ini sang perwira lalat tak dapat menjawab, dalam hatinya ia bingung dan mengutuki dirinya yang tiba-tiba menjadi begitu penakut, bukankah ini saat yang aku tunggu? Aku dapat mengekspresikan rasa cintaku pada sosok yang paling kuimpikan dan yang paling kucintai.. dan ia telah mengizinkan.. kenapa aku malah ragu-ragu?
Dan sejurus kemudian, ia pun bergerak, didaratkannya sebuah ciuman ke bibir sang putri.
Wajah sang putri menjadi merah dan merona, bahagiakah ia? Apakah ia telah merasakan indahnya rasa cinta itu? pikir sang lalat.
“arggghh…. Apa? …Apa yang kaulakukan?????
“tuanku putriii…. Hamba Larusso sangat mencintai tuan putri..”
Sambil mengelap air liur lalat yang baru saja membasahi bibirnya, sang putri berteriak lagi
“Kau!!! Persetan dengan cintamu, lalat kurang ajar! kau begitu menjijikan, perilakumu tak ubahnya sampah! Bangkai busuk!!”
Belum sempat si lalat terkejut atas melesetnya dugaan yang ia pikirkan, sang putri segera berlari dan segera diikuti oleh dayang-dayang yang ikut berteriak-teriak kebingungan sambil mengikutinya meninggalkan lalat-lalat tunggangannya.
Malam itu, tak ada yang sanggup meredakan amarah dan tangisan si putri kahyangan yang diikuti oleh kemarahan yang lebih besar lagi dari sang raja Kahyangan.
Sidang darurat segera digelar, Larusso sang perwira lalat yang begitu percaya kekuatan cinta dan melupakan bahwa ada kekuatan yang melebihi segalanya yakni sang raja kahyangan itu sendiri, telah dihadapkan ke para pembesar dan segenap keluarga kerajaan termasuk putri semata wayangnya. Ia tak berani memandang keatas, ia merasa dirinya seakan menciut di hadapan sang putri dan keluarganya.
“Larusso!” seperti petir yang menggelegar sang raja menyebut namanya.
“Ham.. hamm.. hammbba.. baginda..”
“Sungguh tak tahu diuntung! Berapa lama aku telah memperkerjakanmu dan mengangkatmu sebagai binatang paling mulia di atas binatang lain, tapi kini apa yang kaulakukan pada putriku?”
“Ampuni hamba yang mulia..”
“tak ada lagi yang dapat kuampuni atas perbuatanmu yang menjijikan itu, kau telah menghancurkan masa depan putriku satu-satunya tanpa alasan yang jelas!!”
“Ampun baginda, hamba…”
“Kau pemberontak yang tak dapat diampuni!!”
“Hamba…”
“Coba ceritakan, berapa lama kaurencanakan pemberontakan ini? Siapa-siapa saja semut atau hewan lain yang terlibat?? Cepat!!!”
Semut? Apa pula hubungannya dengan mereka? Rasa takutnya berubah menjadi kebingungan dan tanpa sadar ditengadahkan kepalanya mencoba mencari jawaban
“Hamba tak mengerti… ahh.. putri??”
Apa yang dilihatnya di depan begitu mengejutkan, sang putri yang cantik, separuh dari tubuhnya menjadi berbadan semut. Dan raja nampak begitu besar, lebih besar dari yang ia pernah lihat selama ini.
“Jangan pura-pura tak mengerti! Kau kira kau dapat membodohi rajamu? Aku tahu kau sangat dekat dengan bangsa semut dan hari ini putriku ini membunuhi beberapa diantaranya, itupun dengan bantuanmu!! Begitu licik!! Aku tak paham dengan permainanmu…”
Dan yang terjadi baru disadari oleh sang lalat, ia dituduh telah bersekongkol dengan bangsa semut untuk membalas dendam kepada sang putri yang membantai ribuan dari mereka demi kesenangan. Dengan dalih cinta, sebuah kata yang tak dipahami juga oleh sang putri, ia mencium sang putri seperti kebiasaan para semut kepada teman-temannya, dan rupanya ludah si lalat yang dekat dengan bangsa semut itu telah terkontaminasi oleh ludah semut yang membuat sang putri perlahan-lahan berubah menjadi seekor semut.
“Sebagai raja kahyangan, pemimpin seluruh mahluk di jagat raya ini, aku memutuskan menghukum pengkhianat dan pemberontak sepertimu beserta seluruh bangsamu dengan menurunkan derajatmu! Kau kini tak ubahnya seperti yang dikatakan putriku, kau adalah sampah, pemakan bangkai busuk yang paling menjijikan!! Akan kuingatkan seluruh dunia untuk mewaspadaimu terutama mulutmu! Ciumanmu yang penuh kotoran, pembawa penyakit!! Sekarang pergi kau!! Jangan pernah sekalipun kulihat wajahmu lagi!!
Wajah sang raja begitu mengerikan dan tubuhnya serta tubuh manusia-manusia yang lain seakan semakin membesar. Sang lalat itu kini menyadari, ia telah menjadi begitu kecil, hanya sedikit lebih besar dari semut. Rasa takut dan kesedihannya telah membuat ia menciut, ia tak punya lagi cinta, sesuatu yang membuatnya merasa sederajat dengan mahluk-mahluk lain termasuk tuannya sendiri. Ia pun terbang keluar diikuti seluruh bangsa lalat yang terbuang itu, mereka semua telah menciut, tak punya apa-apa dan seperti kutukan yang dijatuhkan raja, setiap melihat sampah atau sisa makanan atau bangkai atau segala sesuatu yang baunya menusuk telinga mereka menjadi begitu berselera. Hal itu juga yang menyebabkan lalat modern kini menjadi sedemikian bodoh karena makan tanpa gizi dan tak lagi memperoleh pendidikan yang layak karena kemiskinan mereka.
Lain lagi dengan kisah sang putri, setelah beberapa hari ia pun bermutasi menjadi seekor semut, namun tidak seperti semut yang lain, tubuhnya sedikit lebih besar. Oleh titah raja pula, dengan segala otoritas yang dimilikinya, ia menitipkan putrinya pada bangsa semut yang terpaksa menerima orang yang telah membunuh bangsa mereka dan bahkan mengangkat sang putri menjadi ratu mereka. Dan bangsa semut adalah bangsa yang selalu menepati janji, mereka tak pernah mencoba menggulingkan kekuasaan sang putri yang dinobatkan secara paksa oleh sang raja untuk menjadi pemimpin mereka. Sejak itu juga dengan pengetahuan ketatanegaraannya, sang ratu membagi para semut menjadi semut pekerja, prajurit dan lainnya, sementara sang putri hanya bertugas melahirkan anak tanpa rasa cinta yang belum juga ia pahami, sambil bersantai dan makan sepuasnya. Seperti juga janji yang diikrarkan pada lalat, para semut juga tak pernah makan bangkai lalat dengan bersisa sampai saat ini.
Itulah sebenarnya sebuah mitos mengenai para lalat yang mungkin tak nampak seperti binatang yang mempunyai kisah hidup, namun sebenarnya menyimpan begitu banyak cerita dalam jejak langkah kehidupannya dan lalat-lalat akan terus memiliki cerita sama seperti kita.



1 Responses to “kisah si lalat hijau”

  1. # Blogger vero

    hai, arix, bloggermu keren. kayak dedaunan.
    he.....

    kamu kemana aja neeh sekarang?

    vero  

Poskan Komentar


Web This Blog

Sebelum ini



XML

Powered by Blogger

make money online blogger templates




Free chat widget @ ShoutMix

Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign
Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign!



© 2006 perjalanan lalat hijau | Blogger Templates by GeckoandFly.
blog ini berisi catatan, kenangan, keluhan, caci maki, khayalan, pengakuan, tiruan, dan hasil kopi paste
blog ini tidak ada hubungannya dengan lalatx atau padepokan silat tertentu, pengelola sebenarnya tidak suka warna ijo!