perjalanan lalat hijau

LALAT HIJAU, sebuah catatan perjalanan untuk beberapa waktunya ke depan


Duaribu Sebelas

2011 adalah tahun yang berkesan sekaligus tidak berkesan. Di tahun 2011, yang paling berkesan tentu saja adalah acara lamaran saya hehe.. Namanya juga baru pertama kali. Lalu, dari segi karier, saya juga mengalami peningkatan. Baru pertama kali dalam seumur hidup saya naik jabatan. Dan pekerjaan yang sekarang juga adalah pekerjaan terlama yang pernah saya jalani (mungkin memang akan bakal lama, entah sampai kapan). Tapi, kesibukan demi kesibukan yang sebenarnya hampir mirip dengan 2010 membuat tahun 2011 terasa berlalu begitu cepat.

Saya misalnya hanya melakukan perjalanan ke luar kota Solo di kota-kota berikut ini: Yogyakarta (tentu saja), Kebumen (yeah right?), Bandung (piknik kantor), dan Cirebon (untuk kondangan). Sudah, itu saja. Membosankan yah? Mungkin. Tapi, untung saya ini memang bukan tipe traveller meski dulu di CV pernah mengaku hobi travelling hihihi... Dari segi kesibukan lain, hobi, misalnya, saya juga mengalami banyak penurunan. Pokoknya tahun 2011 adalah tahun kerja dan kerja. Yah, saya menghibur dirinya adalah karena hasilnya juga worth it, itung-itung mempersiapkan biaya pernikahan tahun depan. Saya yang mengaku hobinya adalah membaca, mendengarkan musik, nonton film, mengkoleksi, dan juga (dulu) olahraga, tahun ini, atau tepatnya semester kedua sangat menurun melakukannya. Membaca sangat berkurang, hunting buku menurun drastis (termasuk keinginannya), film masih lumayan (untuk koleksi, tapi nontonnya masih kesulitan memiliki waktu), sedangkan olahraga saya sempat beberapa bulan fitness, tapi akhirnya bosan dan berhenti sejak pertengahan tahun kemarin. Perut buncit pun masih tetap buncit. Oh ya, saya juga punya hobi menulis hehehe.. Dan itu, untuk hal-hal idealis, bahkan sama sekali tidak ada kemajuan. Yang masih lumayan bahkan berkembang adalah soal musik. Di tahun ini mungkin adalah tahun saya agak gila-gilaan, setelah didukung internet akses yang keren, saya setiap hari kira-kira menghabiskan 2/3 waktu saya di depan internet (soal ini yang lebih lengkap saya tulis di notes FB saya).
Dan pada akhirnya, mengenai hubungan sosial, ini sangat payah bahkan paling payah. Tidak ada teman baru selain teman kerja baru. Dan banyak teman lama lost contact karena saya juga kadang bingung saat ngobrolnya. Kini, di akhir tahun 2011, saya hanya berharap tahun 2012 akan ada perubahan saja dalam hal-hal itu, minimal dalam hal hubungan sosial. Semoga yes...

Label: ,

Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...

Kenapa Isinya Video Terus?

Saya tahu blog sudah tidak terlalu zaman. Orang makin males baca blog, apalagi blogwalking. Saya tahu kalau blog ini tidak banyak dikunjungi orang (saya rasa yg cukup bisa saya banggakan dari blog ini cuma menang "tua" dan masih update biar cuma sebulan sekali dan selama 6 tahun lebih baru dua bulan yang tidak ada update). Saya sendiri, sekarang memang harus diakui malas mengupdate blog ini. Tapi, saya cuma suka kalau gambar lekuk-lekuk bulan di sisi kanan blog ini terus memanjang seperti ular. Nah, itulah alasan pertama saya belakangan lebih sering posting Youtube.
Tapi, bukan cuma itu. Hal kedua adalah bahwa katanya kan di zaman sekarang ini tidak boleh kolot. Masakan blog harus hanya berisi tulisan, youtube hanya berisi video, picasa dan flickr hanya berisi foto? Harusnya diintegrasikan biar lebih menarik. Karena saya tidak punya foto (atau kamera, maksudnya) dan tidak mengupload sendiri video-video saya, maka saya baru bisa mengintegrasikan tulisan dan video postingan orang lain di sini. Dan hal ketiga adalah bahwa saya pernah punya pengalaman agak buruk dengan menulis hal-hal yang pribadi seperti "seharusnya" blog (dulu kan katanya blog itu harus jurnal pribadi hehehe...). Maka, saya sekarang agak malas yang begituan, kan sudah ada Twitter dan Facebook. Saya juga sepertinya sudah susah sekali bikin cerpen atau puisi dan semacamnya. Meski sebenarnya masih ingin bisa menulis dengan variatif dan tema yang menarik (menurut saya), seperti dulu (sekarang, setelah punya Twitter, terutama, saya makin merasa apa yang hendak saya katakan kok sudah ada yang mengatakan atau banyak yang lebih menarik dan mendalam, sehingga yg mau saya tulis di blog tadi tak pantas dibahas atau dipublikasikan)
Lalu Kenapa Video Musik Terus?
Memang tidak pernah ada yang bertanya begitu hehehe.. Ini cuma pertanyaan saya sendiri, sebagai penggemar fanatik blog ini (?). Bukan, bukan semata karena saya malas atau karena saya hanya cari mudahnya saja kok. Flashback jauh ke tahun 80-90an, sebagai anak kecil, saya memang tidak punya banyak teman selain teman di sekolah. Di rumah, sejak SD saya pindah ke rumah besar di tengah tetangga-tetangga yang rumahnya kecil-kecil. Maka, terciptalah gap tanpa diingini. Saya pun di rumah lebih banyak menghabiskan waktu di depan TV. Untunglah waktu itu bukan TV biasa, apalagi hanya TVRI yang saya bisa tonton. Tapi, ada parabola yang membuat saya bisa melihat berbagai acara di luar negeri.
Salah satunya adalah acara-acara musik. Dari MTV, Channel V, atau siaran TV lain seperti Nescafe UK Top 40, dan lain-lain. Waktu itu, saya menonton dalam status abstain. Maksudnya, seingat saya, saya masih belum punya band favorit atau genre musik favorit. Semua macam musik saya tonton dan terutama musik yang videonya berkesan. Bahkan, saking banyaknya nonton TV, saya sempat dijadikan semacam TV Guide oleh Papa saya. Entah dia maksudnya ngeledek atau apa, padahal saya merasa saya tidak hafal-hafal banget semua acara TV. Saya merasa beruntung karena saya mengalami masa itu di tahun 80-90an, dan bukan di tahun 2000an hehehe.. (biasa, ini statemen khas orang tua). Tapi, faktanya lagu-lagu delapanpuluh dan sembilanpuluhan, sampai sekarang tetap dicover musisi tahun 2000-2010an kok? Jadi, memang tak salah kalau periode itu lebih superior dari periode saat ini. Kebiasaan nonton TV, terutama musik ini terus saya lakukan, kalau tidak salah hingga akhir 90 atau awal 2000an, meski waktu itu saya hanya nonton di TV (ANTV masih merelay banyak acara musik dari MTV).
Kalau saya pikir-pikir, kasian sekali anak-anak zaman ini yang terpaksa hanya menonton musik dari acara seperti Dahsyat dan Inbox. Tapi, ada untungnya juga anak-anak zaman sekarang juga punya Youtube. Hanya, dari mana mereka tahu kalau tidak ada yang memberi tahu? Jadi, semoga blog ini bisa membantu mereka. Demikianlah alasan saya, maaf tulisan ini memang acakadut.

Label: , , ,

Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...

Funeral Song

Kematian seharusnya tidak lebih tinggi atau rendah dibandingkan kehidupan. Kematian, bagi sebagian orang dihubungkan dengan kepercayaan. Bagi sebagian lagi, dihubungkan dengan psikologi. Sebagian suka mengaitkan dengan kesehatan, dst. Intinya, semua hal dalam kehidupan sebenarnya selalu bisa dikaitkan dengan kematian. Hanya ilmu yang belum lengkaplah yang belum bisa mengaitkan dirinya dengan kematian. Dan musik, bahkan musik pop, sudah sejak dulu sering mengangkat tema atau dihubungkan dengan kematian. Di sini sepertinya masih agak jarang yang memakai musik pop sebagai pengiring kematian. Yang ada hanya musik yang berkaitan dengan kepercayaan (lagu rohani gitu maksudnya), lagu folk, klasik (yang paling populer tentu saja adalah Taps) atau malah lagu yang terkait politik (Gugur Bunga, Mengheningkan Cipta). Entah kenapa banyak orang seperti tabu memakai musik pop untuk mengiring kematian seseorang. Mungkin ini karena anggapan musik pop kurang syahdu atau hanya "duniawi". Meski saya rasa ada banyak orang yang ingin memakainya (untung di zaman social media sekarang hal ini seperti diwadahi, seperti banyak orang yang untuk mengenang seseorang yang telah tiada, lalu menshare lagu-lagu dari yutub), tapi rasanya agak jarang kalau di upacara resmi. Kenapa? Apa karena tidak khidmat? Mestinya tidak juga. Nah, bagi yang tidak takut memikirkan tentang kematian, mungkin Anda bisa ikut saya memikirkan kira-kira lagu apa yang pas mengiringi kematian diri Anda nanti. Kalau saya, sejauh ini, baru bisa memikirkan lagu-lagu berikut ini:
VNV Nation - From My Hands

Ini lagu tidak bisa dimungkiri sangat dahsyat dan sangat sangat pas untuk mengiringi kematian. Iramanya memang sangat sedih (apalagi fanvideo yang bisa kita liat di atas ini), tapi liriknya sebenarnya tidak juga. Isinya kalau menurut saya adalah tentang mengikhlaskan, terutama bagian, "And hush now, Let it go now, There's no need for sad goodbyes.."
Sarah McLachlan - I Will Remember You

Ada lagu Sarah McLachlan yang lain yang diilhami dari kematian, yaitu Angels, yang terilhami peristiwa kematian Jonathan Melvoin, touring keyboardis dari Smashing Pumpkins. Tapi, saya kok pilih lagu yang ini. Sejak awal lagu ini sudah berisi petuah supaya jangan terlalu menangisi yang sudah lalu (di sini adalah kematian). Tapi, meski demikian jangan lupakan orang yang sudah meninggalkan Anda itu. "I will remember you, will you remember me, dont let your life pass you by weep not for the memories" Begitulah bunyinya...
Johnny Cash - Hurt

Hurt adalah lagunya Nine Inch Nails yang kemudian dicover dengan sangat baik dan sangat berbeda oleh Johnny Cash beberapa waktu sebelum ia kemudian meninggal dunia. Saya akui, lagu ini jadi pilihan saya karena fakta-fakta tersebut (Johnny Cash menyanyikan di akhir masa hidupnya, istrinya juga tampil di video ini di akhir masa hidupnya, dan videonya memang keren sekali). Saya bermimpi kalau saja nanti kalau saya meninggal, maka bisa ada big screen dan kalau saja ada video yang bisa benar-benar menggambarkan diri dan kehidupan saya. Kan tidak cuma pernikahan saja yang pake video seperti itu. Lucu lagi kalau bisa seperti di ending film "Man on the Moon." Ya, lagu ini memang liriknya agak getir, tapi bukankah seindah-indahnya kematian itu tetap ada rasa getir, minimal bagi mereka yang ditinggalkan?
Bill Medley & Jennifer Warnes - I’ve Had the Time of My Life

Ini adalah soundtrack Dirty Dancing, yang di abad 21 ini agak dirusak Black Eyed Peas hehehe.... Belakangan, setelah Patrick Swayze meninggal, banyak yang di Youtube mengenang Swayze dengan lagu ini. Lagu ini iramanya ceria (iyalah, wong buat menari kotor). Ada yang memakai lagu ini buat lagu wedding (liriknya cocok sih, karena tentang orang bergembira setelah kini bertemu seseorang). Tapi, sebagai lagu funeral pun cocok, menurut saya. Ya, hanya supaya menghibur orang-orang yang ditinggalkan bahwa si mati sudah menemukan waktu terindah bersama Seseorang kini. Meskipun tidak ada orang hidup yang benar-benar tahu apakah waktu meninggal dunia itu menyenangkan atau tidak.
Lighthouse Family - High

Ini liriknya juga ceria. Tapi, dengan iramanya yang naik dan terus naik, ini adalah rekomendasi saya selanjutnya untuk menghibur mereka yang ditinggalkan. Apalagi lagu ini gampang dinyanyikan buat saya karena nadanya rendah dan easy listening, meski bandnya sebenarnya tidak terlalu suka. Ada yang memakai lagu ini untuk lagu waktu lulusan atau perpisahan setelah wisuda, tapi untuk pemakaman sih cocok juga. Alasannya antara lain liriknya ada yang berbunyi "When you're close to tears remember, some day it'll all be over, one day we're gonna get so high... "
Vangelis - Chariots of Fire

Chariots of fire yang merupakan soundtrack dari film berjudul sama, kerap dipakai untuk menggambarkan sebuah kemenangan. Ya, saya sendiri tidak mau kematian saya nanti dianggap kekalahan. Setidaknya, berdasarkan iman kepercayaan yang saya anut, saya dinasihatkan untuk menganggap demikian. Di pemakaman, khotbah pendeta biasanya berisikan ayat tentang "aku telah mengakhiri pertandingan dengan baik." Dan hal itu memang yang membuat saya memasukkan lagu ini dalam playlist funeral song ini. Sekali lagi dengan alasan hampir mirip-mirip dengan beberapa lagu sebelumnya. Dan makin ke sini saya memang inginnya kesedihan sebuah pemakaman lambat laun berganti dengan optimisme dan semangat buat hidup lebih baik lagi. Sukur-sukur kalau hidup mati saya bisa jadi inspirasi, motivasi, atau sebuah peringatan pun tak apa-apa.
Bonus: Robbie Williams - Angel

Menurut sebuah jajak pendapat yang kalau tidak salah ditulis Majalah "Time", lagu ini ada di nomor satu lagu yang akan dipilih para surveyor di Amerika sana. Maka, tak ada salahnya saya pasang juga, siapa tahu ada yang tertarik memilih. Tentunya lagu ini dipilih karena liriknya (jadi saya pasang video yang cuma berisi lirik, dan bukan video aslinya yang berisi muka Robbie Williams itu). Mungkin lirik yang ini nih: "And do they know, the places where we go, when we're grey and old..."
Demikian beberapa saja lagu yang bisa saya pikirkan hingga saat ini, terutama karena saya belum sempat mikir bener-bener dan meneliti satu-satu lagu yang saya tahu. Sempat saya mau masukkan Changes dari Ozzy Osbourne atau Once Upon A Time dari Smashing Pumpkins tapi kayaknya terlalu sedih. Atau juga I Can See Clearly Now dari Jimmy Cliff yang bagus juga, tapi nanti kok kayaknya terlalu gembira atau kepedean begitu yah hehehe... Ya, kalau ada yang punya lagu pop lain, boleh juga menambahi.

Label: , , , , ,

Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...

Wed Song

Karena belakangan ini lagi musim orang nikahan, termasuk beberapa di antaranya orang-orang dekat, maka terpaksa saya sering datang kondangan. Dan mungkin baru beberapa tahun ini (karena ada masa di mana saya sekian tahun tidak pernah kondangan, yaitu masa kuliah dan masa belum dapat kerja), saya sadar kalau ada beberapa perubahan acara di kondangan. Salah satunya lagu. Dulu, lagu-lagu di kondangan seingat saya kurang begitu bervariasi. Yang ada, kondangan diisi dengan lagu-lagu Mandarin atau kemudian juga lagu-lagu gereja, yang juga cuma itu-itu saja. Menginjak awal tahun 2000an, memang sudah ada lagu-lagu pop Indonesia ataupun Barat dibawakan di kondangan. Tapi, itu juga biasanya yang membawakan penyanyi rumah makan atau bintang tamu, atau tamunya. Sekarang, entah dari meniru siapa suka ada pengantin yang menyanyi sendiri gitu. Kadang, ada juga yang dansa (kalo ini sih mungkin meniru di Barat yah?) .

Lalu, saya baru sadar juga kalau sebenarnya bisa saja pengantin memilih sendiri lagu-lagu yang untuk dibawakan, entah oleh band atau penyanyi sewaan, di acara kondangannya. Meski ini mungkin jarang dilakukan, tapi saya rasa ada juga kok yang begitu. Waktu kondangan di nikahan salah seorang teman, saya lihat sendiri band yang main di situ kebanyakan membawakan lagu-lagu yang saya tahu banget itu pilihan mempelai berdua karena beberapa lagu tidak pernah saya dengar di kondangan. Nah, bagi yang concern soal hal-hal begini, atau bagi yang mau nyanyi di waktu nikahan, mungkin kadang bingung pilih lagu ya? Yang jelas, menurut saya sih jangan boleh band atau penyanyi sewaan itu pilih yang lagi populer saja (apalagi kalau kadang ada request-request gitu dari penonton eh tamu undangan). Dulu, ada seorang penyanyi ibukota malah bingung sendiri waktu dia tanya mau request apa? Eh penonton ups tamu malah memilih lagu Jablay. Wong edan, mantenan kok malah lagunya ditinggal suami. Tapi, akhirnya sih diturutin juga. Nah, apalagi sekarang kita tau lagu-lagu yang lagi populer itu pada busuk liriknya dan isinya cuma selingkuh, putus, galau, mendua, dst. Maka sangat-sangat tidak recommended. Demikian juga, kalau mau nyanyi sendiri, sebenarnya sih terserah. Tapi, kalau cuma mengandalkan lagu yang disukai, kadang nggak selalu cocok juga menurut saya. Meski penggemar metal, tapi kalau lagunya metal meski liriknya cinta, tapi pengiringnya band yang ala kadarnya, sih menurut saya malah jadi aneh. Ya sudah, biar nggak bingung, sekarang saya mau merekomendasikan saja kira-kira lagu yang menurut saya cocok buat acara wedding ya.
1. Lionel Richie - Truly

Entah kenapa lagu ini kayaknya jarang dibawakan di wedding di Indonesia ini. Padahal, semua syarat sudah memenuhi. Cuma pake piano, lirik sederhana dan tentang cinta, komitmen, etc. Nyanyinya cukup gampang. Ada banyak di karaoker buat belajar. Lagu yang nggak baru lagi (jadi orang-orang tua juga bisa menikmati).
2. Vina Panduwinata - Biru

Ini juga mirip dengan Truly. Meski zaman sekarang, pada banyak yang taunya ini lagunya Afghan. Tapi, menurut saya lagu ini lebih cocok dinyanyikan cewe.
3. Nancy Danino - Reality

Iya, memang ini aslinya adalah dari Richard Sanderson. Tapi, menurut saya lagu ini lebih cocok kalau dibawakan dengan irama bossas seperti ini. Tapi, mungkin cocoknya tetep yang nyanyi cowo yah?
4. Bjork - All is Full of Love

Nah, yang ini mungkin susah dibawakan dan dinyanyikan. Tapi, saya sempat berpikir ini lagu yang pas buat mengiringi waktu pengantin masuk ruangan gitu (kalau memang nggak mau pake musik dari live band).
5. Kylie Minogue & Jason Donovan - Especially for You

Yang ini mungkin cocok kalau mau nyanyi duet. Kebetulan kedua penyanyi aslinya juga suaranya nggak terlalu istimewa hehehe.. Jadi kalau dinyanyikan ulang dengan suara agak pas-pasan sih saya rasa OK aja.
6. Karena agak males cari youtube, saya dulu pernah berpikir akan memakai Ava Adore dari Smashing Pumpkins atau Only Time dari Enya buat mengiringi masuk pengantin. Tapi, sekarang kayaknya sudah tidak kepingin lagi. Beberapa lagu lain yang dulu pernah dibayangkan sebagai lagu waktu menikah adalah Evan & Jaron - Crazy for This Girl, Ash (atau versinya Annie Lennox juga boleh) - Shinning Light, tapi kayaknya lagu-lagu itu terlalu remaja. Richard Marx dengan Now and Forever sebenarnya juga bisa, tapi kayaknya sudah sering. Demikian pula True dari Spandau Bullet. Atau Billy Joel - Love You Just the Way You Are, Your Song dari Elton John, serta lagu-lagu Elvis dan angkatannya, atau juga Kebo Giro, Kutut Manggung, Kodok Ngorek, Bimo Kurda sudah terlalu klise sehingga malas juga saya sebutkan apalagi cari videonya. Demikianlah, semoga tulisan ini menjadi tulisan yang tidak berguna bagi kalian hehe...

Label: , , ,

Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...

Jalan Raya Pos & Shadow Play

Siapa sangka ternyata film-film ini bisa lengkap ditemukan di Youtube!!!

Jalan Raya Pos
Jalan Raya Pos adalah film tentang jalan pos yang dibangun oleh Daendels pada awal abad 20. Kisah tentang jalan ini sudah ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer yang di film ini menjadi narator dengan cara membacakan tulisan di bukunya tersebut. Tapi, selain itu, film ini pada dasarnya mengangkat dua tema: kisah hidup keseharian seorang Pramoedya dan gambaran kehidupan rakyat di bawah Orde Baru. Gambar-gambar yang banyak bercerita sendiri tentang petani, buruh, eksekutif muda, orang desa yang terpaksa mencari makan di kota besar, militer, petugas layanan masyarakat, etnis-etnis, agama-agama, dan banyak lagi. Memang yang paling menjadi alasan saya mengumpulkan 40 video yang dipecah-pecah di Youtube ini adalah karena sosok Pram, tapi selain itu gambaran-gambaran kehidupan nyata dari manusia-manusia yang hidup dan mengais rezeki di sepanjang Jalan Raya Pos ini jelas sangat menarik. Berikut video pertamanya (video-video selanjutnya bisa disearch cukup dengan mengganti angkanya, dari 1 sampai 40):
Shadow Play
Untuk film ini, saya sudah pernah mendengarnya sewaktu masih kuliah. Saya bahkan hampir menontonnya seandainya saja pihak rektorat kampus memberikan izin untuk pemutaran film tersebut. Film berdurasi sekitar 1 jam yang mengangkat kisah korban genosida Orde Baru terhadap mereka yang dituduh orang komunis ini saya dengar beberapa tahun lalu juga pernah diputar di Gedung Cak Durasim Surabaya, tapi kemudian didatangi oleh FPI dan Forum Anti Komunis yang merampas VCDnya (tentu saja diberi yang kopian hahaha...). Nah, kini dengan bisa dinikmati di Youtube, mau apa itu para monyet bersorban. Mungkin mereka akan melapor ke Tifatul hehehe.. Padahal film dan tulisan seperti ini banyak sekali di Youtube atau internet. Tidak bisalah terus berusaha menyembunyikan kebusukannya, hai para penguasa negeri ini dan para begundalnya. Film ini juga saya rasa tidaklah memberikan info yang baru, sebenarnya. Ada banyak buku yang bahkan jauh lebih detail atau (kalau mau cari) provokatif dari film ini. Justru film ini adalah sebuah film yang menyedihkan tentang bagaimana orang-orang yang sudah tua itu tidak bisa membela diri hingga sekarang dan terpaksa menerima hidup yang begitu tidak adil, entah sampai kapan. Dan satu quotes paling saya suka di film ini adalah ini, "The army, they are very stupid.. they are very very stupid." :D Inilah cuplikannya (oya, yang ini cuma 9 klip aja kok):

Label: , , , , , , ,

Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...

Great Live Performance & Cover Version

Sementara sebagian orang menganggap mengkover lagu sebagai sesuatu yang kurang kreatif, saya tidak setuju. Saya rasa lagu cover version justru bisa menunjukkan beberapa hal. Yang pertama, sejauh mana selera atau influence sebuah band atau musisi. Yang kedua, sejauh apa kita bisa berharap pada musikalitas si musisi atau band itu. Ketiga, sejauh mana pergaulan band atau musisi tersebut. Dan keempat, dari kesimpulan dua poin pertama, maka saya paling tidak bisa memutuskan sejauh mana saya cocok dengan band atau musisi itu. Kadang, saya malah bisa menyukai sebuah band atau seorang musisi karena ia mencover lagu yang saya suka. Pernah juga, saya yang semula tidak menyukai sebuah band atau musisi lalu jadi suka karena ia bisa melakukan cover yang bagus terhadap sebuah lagu. Untuk ketiga poin pertama, apakah perlu saya jelaskan? Mungkin perlu ya..
Yang pertama sudah jelas. Kadang saya sendiri bisa "kaget" karena sebuah band atau musisi ternyata mencover sebuah lagu dari band atau musisi yang sama sekali lain dari musik yang ia bawakan sekarang. Contoh paling mutakhir yang saya temukan adalah Viva Vox Choirs, sebuah kelompok paduan suara membawakan Du Hast dari band industrial Rammstein, secara acapella lagi! Hasilnya keren sekali (bisa cari di Youtube). Ya, tentu saja ada kalanya, bahkan cukup sering, yang seperti itu hasilnya jelek atau biasa-biasa saja. Salah satu contohnya adalah seri album Punk Goes... (eighties, nineties, new wave, metal, pop, dangdut, etc), yang menurut saya kebanyakan hasilnya adalah satu kata: lame. Sudah hasilnya jelek, yang mengaku punk itu juga kebanyakan pop punk biasa. Tapi, ada banyak juga kok, artis musik pop yang saat mencover hasilnya malah bagus. Jadi, bahwa selama ini musiknya kurang, mungkin hanya karena tuntutan industri saja maka ia membawakan musik yang seperti dikenal sekarang. Ini cukup menarik buat saya.
Yang kedua, ketika seorang musisi atau sebuah band yang kurang saya suka mengkover sebuah lagu yang saya suka dan hasilnya bagus, maka saya merasa bisa berharap pada band tersebut. Meski saat ini ia mungkin masih membawakan lagu-lagu yang kurang enak, tapi paling tidak satu saat ia mungkin bisa mendekati kualitas musik band atau musisi yang pernah ia cover. Itu harapan saya sih. Fakta bahwa ada banyak band atau musisi yang seiring waktu kemudian merubah aliran musiknya membuat saya sering optimis akan hal ini. Hal ini juga terutama berlaku buat band-band atau musisi baru atau yang baru saya dengar. Sementara biasanya seiring usia orang akan mandeg di selera musik waktu kuliah, misalnya, saya pribadi merasa senang tidak terjebak di situasi itu (meski sebelumnya hampir terjerumus ke dalam kemandegan seperti itu). Jika hingga kini saya bisa terus menemukan banyak band atau musisi baru sehingga daftar last.fm saya terus bertambah, salah satunya adalah berkat mendengarkan cover version atau album-album tribute. Beberapa contoh misalnya, Cylab saya tahu setelah mendengarkan mereka mengcover Heart Shaped Box dari Nirvana, Sonata Artica jadi saya suka setelah mendengar mereka dengan keren mengcover Still Loving You dari Scorpion, Banda Bassoti setelah dengar Bandiera Rosa plus Anarchy in UK versi mereka, Tina Root beserta berbagai grupnya (Tre Lux, Switchblade Symphony, Small Halo) syaa suka sejak ia menyanyikan Ava Adore, atau untuk lokal ada Amazing in Bed yang terlibat dalam album tribute Koil, bahkan band-band tribute seperti West End Girls (tribute band Pet Shop Boys) atau para spesialis penyanyi lagu orang seperti Apocalyptica dan Igor Presnyakov juga kini saya suka. Musikalitas juga bisa dibuktikan saat sebuah band atau musisi mengkover lagu yang tidak saya suka. Ini lebih hebat jika bisa membuat sebuah lagu yang tidak saya suka menjadi suka, karena ini berarti ia lebih-lebih memahami saya lagi. Tidak hanya itu, semakin lama mendengarkan lagu-lagu cover ini, kita bisa juga membedakan mana yang sekadar mengkover dan yang bisa membawakan lagu itu dengan jiwa. Kadang saya pikir, bisa jadi sebuah band atau artis hanya numpang tenar dengan mengkover sebuah lagu atau berpartisipasi dalam sebuah album tribute penyanyi atau band terkenal atau yang reputasinya bagus. Bisa saja menurut saya, meski saya tidak tahu kenyataannya. Tapi, saya kira itu bisa dibedakan.
Ketiga, dengan mendengarkan lagu-lagu cover, kita juga bisa melihat sejauh mana pergaulan band atau penyanyi itu. Maksudnya bagaimana? Maksudnya pergaulan di sini mungkin lebih pada keterbukaan dan hormat menghormati. Tidak selalu juga cover version menunjukkan senioritas. Bahkan The Cure ikut serta dalam album tribute Depeche Mode sementara menurut saya kedua band itu ada di level yang sama. Atau Annie Lennox yang sudah berkarier sejak 80an menyanyikan lagunya Ash yang kondang di masa saya kuliah. Keterbukaan juga saya hargai, misalnya ketika sebuah band atau penyanyi bisa mengkover band atau penyanyi lain yang genrenya sangat beda, bahkan di saat orang masih sering menganggap genre satu lebih tinggi dari genre lain. Lihat, misalnya saat Manic Street Preachers menyanyikan Umbrella (Rihanna), atau kunjungi saja blog tributes-of-metal.blogspot.com untuk menemukan para band metal menyanyikan lagu pop. Saya rasa perlu dibedakan juga antara gimmick dan tributes dan salah satunya itu bisa dilihat dari pilihan lagu atau artis yang dicovernya. Menurut saya, jika misalnya band death metal menyanyikan lagunya Avril Lavigne, itu gimmick yang agak murahan. Tapi, jika band darkwave membawakan lagunya Lady Gaga itu cukup sebuah tribute. Apa yang membedakan? Tentu saja sepop-popnya seorang artis kita masih bisa kok melihat mana yang berkualitas dan mana yang hanya pure industri belaka.
Nah, sejauh ini, saya memang paling suka jika menemukan lagu yang saya suka, yang berasal dari band yang "kurang terkenal" dicover artis/band yang bereputasi baik. Juga jika ternyata menemukan bahwa band atau musisi ini pernah mencover lagu ini. Seperti detektif saja rasanya. Tapi, sering juga saya temukan satu lagu yang entah kenapa covernya banyak sekali. Lagu macam Enjoy the Silence, Black Hole Sun, Love Will Tear Us Apart, Umbrella, Tainted Love, adalah beberapa lagu yang rasanya sangat sering dicover. Nggak apa-apa juga sih, selama itu bagus. Mungkin mereka cuma ingin menunjukkan kalau mereka cukup eighties, nineties, ngepop, new wave, disko, dsb.
Yang juga mengasyikkan adalah kalau mengetahui jika ternyata lagu yang sangat populer itu ternyata hanya lagu cover version. Saya rasa pendengar musik di Indonesia banyak yang tidak tahu itu. Siapa penyanyi Nothing Compares to You, misalnya? Kebanyakan bilang Sinnead O'Connor padahal penyanyi aslinya adalah Prince. Siapa yang nyanyi Bizarre Love Triangle? kebanyakan kenalnya Frente, padahal New Order. Siapa yang nyanyi Sweet Dream atau Tainted Love, mungkin pada taunya Marilyn Manson. Yang nyanyi Come On Aileen? Bukan Save Ferris donk! All Along Watchtower, bukan Hendrix! I Will Survive dan Perhaps Perhaps bukan Cake. Love Song bukan 311. Don't Dream It's Over bukan Sixpence. Man Who Sold the World juga bukan Nirvana. You Can't Hurry Love bukan Genesis. American Pie bukan Madonna. Landslide bukan Smashing Pumpkins. Big Yellow Taxi bukan Counting Crows. Backdoor Man bukan The Doors. Haduh.. Apa lagi ya? Bahkan Blue Suede Shoes itu hanya dicover Elvis. House of Rising Sun bukan punya the Animals. Perfect Day jelas bukan Duran Duran yang menciptakan. I Fought the Law bukan The Clash. Last Kiss bukan Pearl Jam. Me and Bobby McGee bukan Janis Joplin. Dan Only You adalah lagu Cues yang dicover The Platters, sebagaimana Stand By Me adalah karya Ben E King yang dinyanyikan lagi oleh John Lennon. Aha.. ternyata memang banyak sekali cover version, dan banyak di antaranya bagus-bagus kan? Karena itulah, saya merasa tidaklah tepat jika cover version dianggap tidak kreatif atau hanya dilakukan penyanyi atau band baru saja. Ini asyik sekali sehingga (dan inilah sebenarnya inti blog ini) saya lalu membuat Page di Facebook yang berisi link-link Youtube dari berbagai Cover Version, Mix Version dan juga Live Performance dari artis-artis, musisi, dan band-band yang keren (penampilan atau hasil covernya). Sampai saat ini, setelah berbulan-bulan, baru satu anggotanya: saya sendiri hehehe.. Ternyata susah sekali memang membuat sebuah Page bisa ditemukan tidak sengaja oleh orang yang tidak saya kenal (karena saya memang tidak mempromosikannya). Tidak semua musik di page ini lagu Barat, ada juga beberapa lagu Indonesia atau lagu dari manapun, asal saya kenal lagunya. Meski sendirian, cukup menyenangkan juga mengurusi Page ini. Supaya teman-teman di FB saya tidak terganggu juga jika saya terlalu sering memajang link-link musik (yang banyak di antara mereka tidak kenal atau bahkan tidak suka).
Klik di SINI atau SINI untuk melihat atau bergabung di Pagenya.

Label: , , , ,

Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...


Web This Blog


XML

Powered by Blogger

make money online blogger templates




Free chat widget @ ShoutMix

Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign
Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign!



© 2006 perjalanan lalat hijau | Blogger Templates by GeckoandFly.
blog ini berisi catatan, kenangan, keluhan, caci maki, khayalan, pengakuan, tiruan, dan hasil kopi paste
blog ini tidak ada hubungannya dengan lalatx atau padepokan silat tertentu, pengelola sebenarnya tidak suka warna ijo!