perjalanan lalat hijau

LALAT HIJAU, sebuah catatan perjalanan untuk beberapa waktunya ke depan


Surabaya yang suka dipanggil Suroboyo


surabaya map
Originally uploaded by lalat hijau.

Surabaya, akhirnya aku kembali menginjakkan kakiku kembali di kota yang banyak dibenci penduduknya itu. Aha, agaknya memang demikianlah keadaannya. Semakin besar cinta seseorang, semakin besar pula kemarahan dan sumpah serapah yang ia keluarkan tatkala sang cintanya itu berbuat salah. Aku pun tak perlu mengelak kalau aku juga merasakan hal yang sama terhadap kota kelahiranku sendiri.

Saat ini, telah sekitar 7-8 bulan lamanya aku tak merasakan gerahnya hawa kota terbesar kedua yang pernah kusinggahi itu. Memang, sepertinya kini selalu tak ada alasan yang cukup kuat yang mampu membuatku tak ragu-ragu mengunjungi tempat yang sempat sekitar 5,5 tahun kutinggali itu (secara resmi aku sudah tak tinggal lagi di Surabaya sejak 13 bulan lalu). Kadang tak begitu terasa lewatnya waktu 8 atau bahkan 13 bulan itu, tapi aku masih ingat dengan kunjunganku yang terakhir ketika dengan berat aku menyerah pada ancaman untuk menjadi sarjana muda lulusan universitas mahamahal yang tuna wisma dan pengangguran, dan kibaran bendera putih itu ditandai dengan mengirimkan kembali barang-barang yang dulu sempat menjadi alasanku mengunjungi kota itu lebih sering lagi. Kini tak ada lagi barang kepunyaanku yang tersisa di kota itu kecuali sebuah almari kayu yang telah kurelakan untuk dimiliki siapa saja; si Benny teman satu kosku atau keluarga Hasibuan yang memiliki rumah kos-kosan itu.

Rasa bingung mencari alasan itupun juga masih sering menghinggapiku sejak aku memutuskan untuk menghabiskan liburan akhir tahun di sana sampai di hari terakhir aku meninggalkan kota itu lagi. Kadang, di saat-saat hening, di rumah kawan-kawan yang masih dengan ramah menerimaku tidur dan makan di rumahnya itu, pertanyaan-pertanyaan atau mungkin hanya sekedar potongan-potongan lirik lagu "Creep" sering mengiang di kepalaku "Whatta hell am i doin' here?" Dan pada beberapa situasi yang membuatku hilang akal, yang ingin kuyakini hanyalah "i'm not here this is not happening!" (Untung aku tak sempat benar-benar hilang akal selama 6 hari itu).

Tak ada orang yang suka mendengarkan keluhan, tak juga aku. 7 bulan memang lama, apalagi jika itu terjadi di kota yang selama 6 hari itu saja sudah kudengar dicaci sebagai kota konsumtif oleh 3 pihak berbeda. Begitu banyak perubahan yang terjadi, dan aku harus mampu memakluminya. Sama seperti dulu ketika melihat keponakan-keponakanku yang wajah dan perilakunya begitu cepat berubah setiap kali aku pulang kampung di liburan semester.

ROMBONGAN MOTOR PELAYAT

Mungkin inilah perubahan yang paling mencolok yang terjadi di Surabaya. Kata
Djohan, seorang musisi-calon penyair yang telah meluangkan banyak waktunya untuk mengantarku kemana-mana dengan motor barunya (yang juga sempat kukendarai dengan "cukup lancar") peraturan yang mengharuskan sepeda motor menghidupkan lampu di siang hari sekalipun itu telah mulai disosialisasikan sejak 4 bulan lalu. Kabarnya lagi, hal itu diprakarsai salah satunya oleh pihak Jawapos. Yah, demikianlah Surabaya, sulit memang memisahkan Surabaya dengan Jawapos (mungkin dengan Suara Surabaya FM juga). Membayangkan hubungan keduanya seringkali membawa ingatanku ke cerita-cerita komik Batman, Superman atau film James Bond "The World is not Enough".

Aku memang tak menentang atau menganggap peraturan itu buruk, hanya aneh saja dan baru pertama kalinya aku lihat yang seperti ini. Semoga saja ini memang baru pertama kali dilakukan di dunia, paling tidak Surabaya dapat membuktikan bahwa mereka tidak selalu hanya bisa mengkonsumsi atau ikut-ikutan saja. Namun aku ragu.

MAHALNYA TRANSPORT

Aku tahu dan aku sadar kapan dan kenapa hal ini terjadi. Namun, keadaan jelas sangat berbeda dengan 7 bulan lalu (tentu saja!). Hal ini memang salah satu alasan yang sempat membuatku ragu mengunjungi Surabaya lagi. Naiknya biaya kereta api mungkin dapat kuperhitungkan, persoalan yang utama adalah dengan tak adanya kendaraan yang dapat membawaku ke tempat-tempat yang menjadi titik-titik tujuan utamaku. Tanpa mengganggu kepentingan orang lain tentunya. Aku tak dapat membayangkan berapa banyak yang harus kuanggarkan untuk biaya transport. Dan bayangan itu akhirnya kudapatkan di setengah jam pertama aku menginjakkan kaki di kota tersebut.

Seperti biasa, pemandangan yang selalu terjadi ketika para penumpang baru turun dari kereta yang membawanya adalah seperti ketika ada lelehan susu coklat yang mengalir jatuh di lantai yang banyak semut. Beberapa sopir taksi yang dan penarik becak berhasil kulalui dengan gelengan kepala meski sebenarnya aku juga berencana memakai jasa mereka, tapi kurasa lebih baik menunggu keadaan agak sepi dulu. 5 menit kemudian, hampir semua penumpang dari kereta yang sama telah habis dilahap kendaraan umum atau kendaraan penjemput mereka. Sempat terpikir untuk meluangkan beberapa waktu di stasiun dulu, siapa tahu ada kejadian menarik disitu, namun sekali lagi kuurungkan niatku karena alasan yang tak jelas. Aku keluar, masih banyak sopir taksi dan penarik becak lain yang menawariku naik kendaraan mereka. Kukatakan tujuanku ke jalan raya Kertajaya yang merupakan rumah Barawan yang setuju untuk memberiku tumpangan tempat tinggal. Aku rasa tujuan jalan raya Kertajaya itu sendiri memang terdengar kurang memberikanku kesempatan untuk mendapat tawaran ongkos transport yang rendah. Dan ketika beberapa sopir taksi menyebutkan angka 15 ribu bahkan 10 ribu rupiah untuk mengantarkanku ke rumah kawanku itu, aku sengaja menolaknya, karena aku rasa jumlah itu terlalu mahal karena pastinya mereka mengira aku penghuni salah satu rumah mewah di daerah tujuanku itu. Akupun keluar, mengira akan ada ojek yang juga menawariku, ternyata tak ada. Akhirnya kuputuskan naik ke salah satu taksi yang dulu aku dengar punya reputasi bersih dalam hal sistem argometernya. Sekali lagi langkahku salah. Aku memang sudah cukup lama tak memakai jasa taksi, apalagi setelah kenaikan harga BBM, aku juga sudah cukup lama tidak ke Surabaya. Gubeng - Raya Kertajaya ternyata tak sedekat bayanganku, kenaikan BBM ternyata juga membuat kecepatan perubahan angka di argo taksi menjadi seperti stopwatch saja. Sampai di depan rumah Barawan, argometer menunjukkan angka 18.500 rupiah.

KABAR KAWAN-KAWAN

Hari pertama sampai di tujuan memang selalu menyenangkan. Suasana yang kudapatkan juga tak jauh beda dengan apa yang kuingat dan kubayangkan, terutama tentang kawan-kawanku. Barawan masih membukakanku pintu dengan berjalan perlahan dan jari mengepit sebatang rokok Marlboro merah. Demikian juga Monika yang selalu datang beberapa saat kemudian dari lantai atas lengkap dengan berbagai celaan dan komentar mengenai penampilanku saat ini. Sekitar sejam kemudian Wikjatmiko mampir. Namun, kali ini ada satu perbedaan yang mencolok. Ya, kali ini ia diikuti oleh seorang gadis yang memang memiliki kisah tersendiri dengan diri pria yang sekarang berpenampilan lebih rapi dan baru saja menjalani sidang skripsi ini. Sepasang kekasih ini ternyata baru saja pulang dari perjalanan ke klenteng di Tuban bersama keluarga pihak wanita yang bernama Erlin itu. Jatmiko juga masih selalu membawa kamera digital kesayangannya untuk memfoto dan berpose di depan apa saja yang ia anggap menarik, di samping 2 ponselnya, dan 1 pak rokok Gudang Garam Suryanya, cuma kali ini semua barang itu ia taruh di tas si Erlin yang selalu siap mengambilkannya. Kata orang-orang yang sudah sangat tua, mencintai butuh pengorbanan, berani menyatakan cinta harus berani berkorban. Ini pula yang tengah dilakukan Wikjatmiko. Dan ia mengorbankan koleksi yang telah ia kumpulkan dalam sebuah tas besar sejak SMU. Koleksi yang dulu sangat ia sayangi, terbukti betapa ia masih sering mengungkit-ungkit kesalahanku yang sempat menghilangkan salah satu koleksinya tersebut, namun kini semuanya telah ia jual.. tanpa beban.

Hal sama meski kasusnya sedikit beda juga terjadi pada pasangan satunya. Barawan dan Monika. Akhir tahun 2006 nanti, rencana pernikahan keduanya telah dikabarkan. Berbagai persiapan pun sudah mulai disiapkan bahkan mulai dari kini. Karena aku tak memiliki acara apapun, selama sehari-dua hari itupun aku mengikuti perjalanan merekamembooking dan memesan berbagai macam persiapan yang seringkali membuatku takut. Takut? Siapa yang tak takut ketika mendengar harga-harga yang ditawarkan (dan dianggarkan) oleh mereka yang terlibat dalam perayaan perkawinan keduanya itu? Memang, tingkat ekonomi kami jelas sangat berbeda, hanya aku seringkali masih tak dapat membayangkan seandainya aku berada di level merekapun, apakah aku akan rela mengeluarkan ratusan juta itu untuk satu malam saja? Sementara apa yang ditawarkan oleh studio-studio foto, dokumentasi video dsb itu menurutku juga tak begitu istimewa dan tak sulit untuk dilakukan. Hmm, inikah salah satu efek cinta-pengorbanan tadi? Bagaimana dengan diriku sendiri nantinya? Sepertinya rasa cinta manusia memang selalu jadi lahan tersubur untuk dimanfaatkan para pebisnis. Apakah hal ini membuatku jadi banyak ide?

Sore hari, pada hari yang sama, acara kumpul-kumpul di rumah Carol. Kabarnya itu sebagai acara perpisahan Carol yang akan berangkat ke Jerman selama sekitar 90 hari. Sebenarnya tak ada kegiatan apa-apa di situ, selain makan makanan yang agak jarang kudapat selain di rumahnya Carol. Namun, kumpul-kumpul antar teman lama kan tidak harus didasari sebuah tujuan spesifik bukan? Sebelumnya Djohan menjemputku di rumah Barawan, tak hanya dengan motor barunya, tapi juga dengan potongan rambut tak lazim yang namun kemudian menjadi tak begitu aneh jika yang memakainya adalah seorang Djohan yang Santoso van Kranggan. Walau sempat tertunda hujan yang mengakibatkan kami beserta kedua pasangan kekasih di atas jalan-jalan dulu ke Galaxi Mall, akhirnya Djohan dan aku bisa berangkat. Sesampainya di rumah yang letaknya agak di pojokan itu, (Aulia) Reza dan Beatrix telah tiba disana, baru beberapa saat kemudian Oni dan Utik menyusul. Tak seramai dulu-dulu memang. Tapi lama tak bertemu tentu membuat kami semua membawa berbagai macam cerita yang tak akan habis jika dikatakan satu malam itu saja. Cerita mulai seputar buku puisi "NonPoetry" nya Djohan, kemelut di milis dosen sastra Petra almamaterku sampai masalah virus komputer pun menyerang waktu-waktu kami dan menggerogoti menit-menit yang membawa kami sampai di tengah malam. Dan ngantuk datang, kemudian semua memutuskan pulang. Sambil berharap akan ada waktu-waktu untuk bertemu lagi.

KABEL LEMON DAN HAL LAINNYA

Seperti biasa, salah satu tujuanku ke Surabaya (mungkin di kota lain juga) adalah untuk memuaskan nafsu menambah koleksiku. Selain musik tentunya, kini juga ditambah koleksi buku yang baru kulakukan beberapa bulan terakhir. Untuk musik sepertinya bisa dibilang cukup berhasil, meski komputer dan disk drive Djohan sempat hampir membuat putus asa, dan warnet yang mempunyai software bernama limewire itu malah semakin membuatku bertambah serakah dan membayangkan seandainya saja warnet itu telah berdiri sejak dulu, pendek kata aku rasa banyak tambahan signifikan yang sudah kudapat.

Lain lagi dengan kegiatan pembelian buku yang sebenarnya belum pantas kusebut sebagai koleksi itu. Karena harga buku yang masih terbang jauh di atas MP3 bajakan, dan kegagalan untuk pergi ke tempat-tempat yang banyak menjual buku yang tak dapat kutemukan di Solo. Hanya satu karya penulis lokal saja yang belakangan aku rasa juga tak begitu bagus yang kubawa pulang. Memburu buku memang jauh lebih kompleks dan sulit daripada musik. Walau tidak begitu jauh pula perbedaannya. Keduanya memiliki genre yang dapat dipilih, cover dan judul yang kadang menipu, kreator yang tidak selalu menghasilkan karya yang sebaik sebelumnya, bedanya mungkin cuma pada harga, akses, cara menikmati dan dampak langsung bagi penikmatnya. Sementara ini, demikianlah.. Betapa aku merindukan perpustakaan.

PULANG

6 hari sudah aku melewati liburan di Surabaya. Meski pada awalnya hanya berencana 5 hari saja. Tiket kereta yang telah sold out untuk sore hari memaksa aku pulang pada pagi hari di hari terakhir tahun 2005. Waktu yang tak begitu jelek, seolah memberi kesan aku melewatkan seluruh tahun 2005 di kota itu, sama seperti tahun 2004 lalu. Beberapa tujuan memang tak berhasil dicapai dalam 6 hari itu, tapi aku tak kecewa, toh itu bukan hal yang penting. Aku hanya berharap-harap cemas agar aku tak membawa pandangan baru yang lebih buruk dari sebelumnya.

Wah, besok sudah masuk lagi..

0 Responses to “Surabaya yang suka dipanggil Suroboyo”

Poskan Komentar


Web This Blog


XML

Powered by Blogger

make money online blogger templates




Free chat widget @ ShoutMix

Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign
Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign!



© 2006 perjalanan lalat hijau | Blogger Templates by GeckoandFly.
blog ini berisi catatan, kenangan, keluhan, caci maki, khayalan, pengakuan, tiruan, dan hasil kopi paste
blog ini tidak ada hubungannya dengan lalatx atau padepokan silat tertentu, pengelola sebenarnya tidak suka warna ijo!