perjalanan lalat hijau

LALAT HIJAU, sebuah catatan perjalanan untuk beberapa waktunya ke depan


Cerita Pengantar Hujan (Bagian 2)

Angin malam menyeruak masuk ke sela-sela pintu, jendela, dan semua lubang yang ada di rumah warga. Malam itu hawa terasa begitu dingin. Dua tiga helai selimut mungkin baru akan menangkalnya. Ini tentu menjadi masalah bagi kebanyakan warga yang terbiasa mengandalkan sehelai sarung untuk menangkal angin malam sekaligus serbuan nyamuk. Nyamuk malam itu memang absen. Diduga kuat mereka tak kuat melawan hawa yang sangat menusuk ini. Tidak ada yang tahu mengapa desa kami terasa telah dipindahkan ke atas lereng gunung. Namun, kali ini, barangkali juga karena sudah terlalu banyak terjadi hal-hal dan peristiwa aneh, hawa dingin inipun tidak dianggap sebagai satu musibah atau kejadian aneh.

Hujan memang tidak turun sejak kemarin, demikian pula matahari tetap bersinar terik tadi siang. Semua biasa saja sebelum pukul 10 malam ini. Itupun jika aku tidak salah memperhitungkan waktu. Di kamar sebelah terdengar bunyi kain bergesekan dan gedebuk tubuh yang mencoba mencari posisi paling pas, semua dilakukan dengan mata tertutup, mungkin saja yang mereka lihat dalam pikirannya saat itu adalah sebuah kulkas. Aku sendiri mengumpulkan sebanyak mungkin bantal dan kain ditambah jaket paling tebal yang kumiliki. Akan tetapi, wajahku masih tetap terasa membeku. Di luar jalanan terlihat lengang, tidak ada suara bahkan jangkrik atau bunyi televisi seperti biasanya. Sekitar pukul 2 aku baru bisa tertidur.

“Ada orang mati!” teriakan Sofyan, anak tetangga memaksaku membuka mata yang masih mengantuk. Tak berapa lama, banyak orang sudah ramai-ramai berlomba mengabarkan, “Mbah Atmo mati!” Aku segera berlari kea rah kerumunan warga di depan teras yang biasa menjadi tempat mbah Atmo berjualan. Toples, gelas, piring, serta makanan minuman di warung itu belum dibereskan, kacang dan air yang ada di panci terlihat memadat seperti agar-agar. Dingin malam kemarin telah membekukannya. Pagi ini pun sebenarnya masih dingin, meski tidak sedingin semalam. Pada dipan di teras itu terbujur sesosok tubuh yang berwarna hampir abu-abu. Mulut mbah Atmo terbuka memperlihatkan gigi-gigi menghitam dan jarang-jarang, sedangkan lidahnya nampak melekat pada langit-langit mulutnya. Mata Mbah Atmo setengah tertutup,rambutnya yang putih dan agak panjang itu berkibar-kibar tertiup angin, pasrah, menunjukkan jiwa yang menghuninya telah tiada. Mbah Atmo hanya mengenakan pakaian seperti biasa, kaus parpol kusam warna biru tua, celana panjang kain warna kelabu, sementara sehelai sarung nampak berusaha diselubungkan menutupi seluruh tubuhnya. Usaha yang sia-sia sebab kain kotak-kotak itu hanya berukuran tiga perempat tinggi tubuhnya. Jemari mbah Atmo masih menggenggam erat-erat cangklong kesayangannya. Demikianlah akhir riwayat sosok yang baru beberapa hari yang lalu menjadi harapan warga untuk menjalankan peran sebagai guru pemberi petuah. Ia kini benar-benar menjadi mbah Atmo sebagaimana yang dikenal warga. Selama 7 tahun terakhir, sejak istrinya meninggal dunia. Pria tua miskin, mata keranjang, dan selalu berusaha menjalin perkawanan dengan anak-anak muda yang sayangnya justru terlihat benci padanya.

Kepala desa dan anak-anak anggota karang taruna segera menjadi yang paling sibuk. Anehnya, Maryati,Tini,Marni, dan gadis-gadis lain yang sering marah-marah jika digoda mbah Atmo kini juga terlihat meneteskan air mata melihat kondisi pria tua itu saat menemui ajalnya. Hipertermia, itulah istilah yang dipakai Anto, pemuda yang sempat dua tahun kuliah kedokteran, meski sekarang hanya menjadi sales minyak wangi.

Kematian mbah Atmo segera menjadi pembicaraan, meski kematian seorang lansia seharusnya bukan sesuatu kejadian aneh, sangat jauh kurang aneh dibanding pristiwa hilangnya keluarga Wiro, hujan batu dam hawa dingin yang makin tak wajar ini. Namun, kematian adalah kematian, selalu saja ada yang membicarakannya. Hawa dingin sementara ini dianggap sebagai satu-satunya tersangka pembunuh mbah Atmo. Sejak itu, hawa dingin tiba-tiba terasa sebagai sebuah musibah lain. Apalagi hal itu masih terjadi hingga berhari-hari, entah siang terlebih malam. Udara yang setelah diukur bisa mencapai sepuluh derajat celcius pada siang hari dan delapan derajat celcius di malam hari itu terjadi di bulan Agustus yang kemarau. Hujan memang tak turun, tapi desa kami pun tetap becek karena embun. Tiga hari berlalu, beberapa ‘korban’ kini mulai bertumbangan akibat hawa dingin itu. Sisa burung peliharaan Pak Surip yang masih selamat dari kebakaran tempo hari selama dua hari berturut-turut ditemukan mati dalam kurungannya, demikian pula seekor anjing tanpa pemilik yang biasa berkeliaran di pasar, suatu pagi juga ditemukan meringkuk tak bernyawa. Selain itu, beberapa mobil atau motor juga makin banyak yang ngadat, susah dihidupkan di pagi hari. Suara batuk, bersin, sedotan ingus, sebagaimana keluhan gejala flu lainnya juga makin menjadi milik hampir semua warga, terutama anak-anak kecil. Ronda malam untuk sementara berhenti, bukan karena instruksi namun karena memang tak ada yang cukup kebal kulit untuk berjalan-jalan keluar saat waktu sudah di atas pukul 8 malam. Para maling pun mungkin punya pendapat serupa.

Mas Eko, mantan wartawan yang kini menjadi seniman, di mana karya-karyanya biasanya memuja-muja hujan, air, hawa dingin pegunungan, suatu kali berujar, “Dik, bukankah hawa dingin ini memang bangsat? Tapi bukan hawanya yang bangsat. Rasa malas yang dibikinnya itulah yang lebih bangsat.”Aku tertawa. Mas Eko memang selalu menyelipkan kata umpatan hampir di setiap kalimatnya, tanpa ada maksud mengata-ngatai orang yang ia ajak bicara. Tapi kali ini, kata itu sangat jelas merupakan ungkapan hatinya yang terdalam. “Kenapa bisa begini ya?” tanyaku. “Kita tahu apa? Tahu apa kalau memang desa ini sudah saatnya musnah?” Pak Surip, pecinta unggas yang kian hari kian tampak marah dan tertekan melihat kematian peliharaan-peliharaan kesayangannya menimpali dengan sengit. “Sudah, Mas.. jangan bikin warga tambah resah’ kata pak RT yang adalah adik iparnya. “Kenapa tidak? Semua tahu kata mbahmu dulu” “Tahu apa pak?” tanyaku. “Ayo mas” pak RT segera menggamit lengan pak Surip, menjauhi aku dan mas Eko yang tampak bingung sekaligus cemas dengan perilaku ganjil Pak Surip dan iparnya barusan.
bersambung

2 Responses to “Cerita Pengantar Hujan (Bagian 2)”

  1. # Blogger Die Seite 13

    hypothermia kali Ri  

  2. # Blogger ary

    hehe.. iya, makin tua mata makin rabun  

Poskan Komentar


Web This Blog


XML

Powered by Blogger

make money online blogger templates




Free chat widget @ ShoutMix

Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign
Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign!



© 2006 perjalanan lalat hijau | Blogger Templates by GeckoandFly.
blog ini berisi catatan, kenangan, keluhan, caci maki, khayalan, pengakuan, tiruan, dan hasil kopi paste
blog ini tidak ada hubungannya dengan lalatx atau padepokan silat tertentu, pengelola sebenarnya tidak suka warna ijo!