perjalanan lalat hijau

LALAT HIJAU, sebuah catatan perjalanan untuk beberapa waktunya ke depan


TV

Hubungan saya dan TV cukup naik turun. Sewaktu kecil dan tinggal di rumah pertama saya, sebuah rumah kontrakan kecil di dalam gang sempit, keluarga kami sempat mengalami kesulitan ekonomi sehingga terpaksa menjual TV. Itu terjadi ketika saya masih sangat kecil, balita tepatnya. Maka, jadilah kami menumpang nonton TV di rumah tetangga. Untungnya saja, kami tinggal di gang sempit yang antar tetangga masih sangat guyub. Saya dan kakak-kakak biasanya menumpang nonton TV saat sore, ketika acara kartun. Hanya satu syaratnya, harus sudah mandi.


Lalu, kami sekeluarga pindah. Dari rumah kecil di gang sempit ke sebuah rumah besar dua lantai di jalan besar. Meski demikian, wilayahnya masih jarang penduduknya dan jauh dari pusat kota. Berbeda dengan rumah pertama yang termasuk cukup kota. Bukan karena keluarga kami mendadak kaya. Rumah itu milik bosnya ayah dan dipersilakan dihuni. Di situ, saya pun bersentuhan dengan dunia yang hanya ada TV dan saya. Ini karena berbeda dengan lingkungan sebelumnya, di rumah saya yang kedua ini, praktis saya tidak punya teman bermain. Maka, jadilah kegiatan saya hanya sekolah dan nonton TV. Istimewanya, TV di rumah ini dilengkapi dengan antena parabola - pernah yang kecil, pernah juga yang besar. Sekali lagi, ini juga karena memang usaha tempat kerja ayah saya adalah pemasangan antena parabola. Dari tidak punya TV, tiba-tiba bisa menikmati channel TV dari berbagai negara. Yang sering memang adalah Malaysia, tapi kadang juga Filipina, Thailand (yang ini tidak terlalu suka karena semua didubbing bahasa Thai), kadang (jarang) juga beberapa stasiun TV dari Amerika, RRC, Prancis. Channel yang terakhir-terakhir ini agak jarang karena antena harus diarahkan ke arah lain dan ayah saya melarang hal ini dilakukan kecuali oleh dia sendiri. Tapi, saya rasa mungkin TV dari Prancis tidak perlu memutar antena, entahlah saya lupa. TV dari Indonesia baru kadang disetel setelah bisa menangkap siaran RCTI dan SCTV yang saat itu masih kompak acaranya hampir selalu sama dan hanya bisa dinikmati lewat dekoder atau antena parabola tadi. Tentu saja saya tidak selalu menonton TV sendiri. Saudara saya banyak dan TV di rumah juga hanya satu. Jadi, yang sering saya nikmati pun adalah acara keluarga. Mengikuti film seri Hongkong (produksi TVB) yang ditayangkan channel Malaysia seperti TV3 (yang barusan saya lihat logonya tidak berubah sejak dulu) setiap sore. Ini adalah semacam sinetron tapi aktingnya bagus karena sering diperankan bintang-bintang Hongkong top seperti Adam Cheng, Tony Leung, Anthony Wong, dll. Kadang juga melihat acara musik, di mana di sinilah saya mulai mendengarkan lagu-lagu mancanegara. Dan tentu saja film kartun serta tayangan lokal Malaysia. Beberapa film seri Barat seperti L.A Law, Moonlighting, Dirty Dozen, Supercarrier, digemari kakak-kakak tapi tidak untuk saya karena masih terlalu kecil, kecuali mungkin yang genrenya segala umur seperti MacGyver, Knight Rider, Manimal, the A Team, Renegades, eh kok banyak juga ya? Selama sekitar 7 tahun, hingga awal SMP, saya berada di rumah itu. Saking seringnya nonton TV, ayah saya sampai menganggap saya semacam TV guide dan kadang bertanya acara apa yang bagus hari ini kepada saya. Mungkin dia bercanda, tapi saya tidak terlalu suka dengan hal itu. Namun, memang dari antara semua penghuni rumah, sayalah yang paling sering nonton TV. Ya, namanya tidak ada kegiatan.

Lalu, saya pindah ke rumah lain. Masih rumah pinjaman, tapi bukan dari orang yang sama. Di situ, masih ada parabola, hanya saja beberapa tayangan mulai diacak. Namun, saya sudah remaja dan selera saya mulai berubah. Saya masih tetap sering menonton TV. Tapi, lebih banyak acara musik, apalagi MTV dan Channel V serta beberapa acara musik lain sudah bisa ditangkap. Acara TV nasional juga mulai bagus karena TV swasta mulai bisa ditangkap antena TV biasa. Dan lagi, TV di rumah sekarang ada 2. Yang satu di bawah, satunya di atas. Ayah dan ibu selalu melihat TV di bawah, sedangkan kakak-kakak yang kamarnya di atas menonton di atas. Saya sendiri menonton keduanya. Sayangnya, kemudian TV di bawah rusak. Tepatnya adalah ketika pertandingan Mike Tyson dan Holyfield edisi pertama. Saya ingat persis karena sedang asyik menonton tiba-tiba TV mati dan sejak itu tidak pernah menyala lagi. Maka, kadang ayah naik ke atas untuk menonton TV. Dan privasi anak-anak untuk nonton TV tidak lagi sebebas dulu hehehe...

Beberapa TV series juga masih saya nikmati, kuis juga, olahraga terutama basket, juga sering. Namun, kalau saya ingat, tidak banyak tayangan film lepas yang saya lihat di TV. Apakah waktu itu tidak ada? Saya lupa juga. Mungkin saya tidak terlalu punya waktu melihat film lepas di TV. Atau mungkin saya lebih sering menonton lewat VCD. Kegiatan saya waktu remaja memang tidak sibuk-sibuk amat. Tapi, beda dengan rumah kedua, saya kini mulai sering main ke luar, main basket, ke rumah teman (sekolah) yang kebetulan dekat dengan rumah saya, hingga les. Saya tinggal di rumah yang ketiga ini hingga kelas 2 SMA. Dan dari waktu ke waktu, parabola makin tidak begitu berguna karena banyaknya acara yang diacak. Hingga kemudian beberapa waktu setelah pindah, parabola di rumah itu dicopot. Selain karena tidak berguna, tren parabola makin menukik turun, juga karena ayah saya tidak lagi bekerja di tempat kerja sebelumnya.

Saya lalu pindah ke rumah baru. Beda dengan sebelumnya, kali ini akhirnya, ayah saya bisa membeli rumah sendiri. Meski saat itu, ayah pindah dalam keadaan sudah lumpuh karena stroke. Jadilah, perasaan ketika pindah itu cukup bercampur, antara gembira tapi juga nelangsa. Tidak ada lagi parabola. Kasur ayah yang ditaruh di depan TV (atau TV ditaruh di depan kasur ayah ya?) membuatnya menonton hampir semua acara TV. Ia bahkan mengikuti sinetron, sesuatu yang saya rasa bukan Papa banget. Bahkan saya pernah memergoki matanya berkaca-kaca saat menonton adegan klise di salah satu sinetron, yaitu saat tokoh mertua jahat (diperankan Ully Artha) dimaafkan oleh menantu perempuannya yang jadi tokoh baik. Saya mau mentertawakan tapi saya tahan karena bingung antara kaget, geli, juga takut dan malu.

Seingat saya, saya tidak terlalu sering nonton TV lagi terutama karena keberadaan ayah di depan TV itu. Saya malah pernah bertengkar dengan dia gara-gara TV. Ceritanya waktu itu saya nonton pertandingan NBA di TV. Ayah saya pun (terpaksa) ikut menonton. Namun, bagi ayah, rupanya nonton pertandingan olahraga itu yang penting hanya asal tahu siapa yang menang saja. Sementara saya yang tergila-gila basket suka nonton juga karena menunggu aksi-aksi permainan basketnya. Waktu itu, pertandingan di TV tersebut sudah memasuki menit-menit akhir, kira-kira 5 menit akhirlah, mungkin kurang. Skor dua tim sudah sangat jauh. Biasanya, kalau skor sudah jauh begitu, pemain cadangan yang dimainkan dan permainan tidak seketat sebelumnya. Waktu itu, pemain cadangan kalau tidak salah dari Miami Heat yang bernama Brent Barry dimainkan. Barry ini adalah juara lomba slam dunk NBA tahun itu. Saya berharap-harap Barry akan bisa mempertontonkan slam dunk yang dahsyat di saat itu, terutama karena tim lawannya sudah tidak melakukan penjagaan begitu ketat. Namun, ayah saya tidak sabar menunggu. Ia ingin menonton di channel yang lain. Ia menuding skor di TV (ayah tidak bisa berbicara jelas karena strokenya). Kira-kira dia ingin berkata, "Buat apa ditonton lagi? Itu skornya saja sudah sangat jauh, menitnya juga sudah tinggal sedikit lagi. Ayo gantian Papa yang mau nonton channel lain." Tapi, saya tidak mau membiarkan dia mengganti channel. Saya menjawab, "Ya sebentar.." Lalu saya tambahkan, "Mbok sekali-sekali saya diperbolehkan nonton utuh Pa." Rupanya perkataan itu menyinggung ayah saya. Dia marah dan mematikan TV dengan remote di tangannya lalu membanting tubuhnya ke kasur, memunggungi saya. Saya kaget dengan reaksinya. Selain itu juga takut, karena saya dan ayah bukanlah tipe ayah anak yang akrab, hubungan kami lebih seperti sang godfather dan si kroco. Saya lalu berjalan ke ruang sebelah yang tidak dibatasi tembok, tapi kami tidak bisa saling melihat. Saya duduk di situ dengan nanar. Saya lihat semprot serangga. Saya yang waktu itu masih remaja labil sempat berpikir (atau tepatnya mengancam ayah) akan minum racun serangga itu. Meski tidak saya katakan, tapi saya tahu ayah tahu apa yang saya pegang. Ya, saking takutnya. Namun, tentu saja keinginan sekaligus ancaman itu tidak benar-benar saya lakukan. Meski demikian, selama beberapa jam itu, kami tetap di tempat kami masing-masing. Kebetulan pula, saat itu di rumah hanya ada kami berdua. Namun, setelah itu kakak saya pulang dan saat mengecek keadaan ayah, dia berseru. Ternyata ayah kencing di kasur. Rupanya ayah tidak berani memanggil saya meminta dibawakan pispot untuk kencing. Kakak menegur kenapa sampai saya tidak tahu, tapi ia mengira ayah mengompol tanpa sengaja. Saya jadi merasa bersalah sekali. Ketika sprei diganti dan tubuh ayah diangkat, saya melihatnya melirik ke arah saya dengan tatapan agak sedih tapi juga disertai senyum kecil. Saat itu, saya merasa ia hendak berkata, "Papa tidak akan menceritakan yang terjadi antara kita tadi, maaf ya, tapi lain kali jangan bilang begitu lagi." Dan memang tidak ada yang tahu tentang hal tersebut. Baiklah, ini seharusnya bercerita tentang saya dan TV, tapi menulis ini membuat saya kembali jadi sedih dan menyesal sekali. Maafkan anakmu ini, Papa..

Sepeninggal ayah di tahun 1998, saya makin tidak terlalu ingat apa yang saya tonton di TV. Yang jelas, saya mulai sering menonton tayangan berita. Acara TV juga makin variatif. Saya mulai nonton sepakbola juga (waktu ayah masih ada juga sudah mulai dink, bahkan nonton bersama). Acara kuis-kuis juga makin banyak. Lalu, saya kuliah di Surabaya. Di awal-awal, saya tinggal di rumah kakak dan karena awal-awal kuliah kegiatan saya masih kuliah lalu pulang begitu saja (tidak ada acara nongkrong, cangkruk, apalagi kegiatan mahasiswa), yang saya lakukan di rumah adalah nonton TV. MTV saat itu sedang booming, yaitu di generasinya Jamie, Sarah, Donita, KC. Sementara generasi Nadya, Rahul Khanna, dan yang namanya ajaib macam Annu Kottor dan Pretti Shetti (kalau ga salah spelling), saya menontonnya saat SMA. Sebenarnya nonton MTV itu seperti mendengarkan radio saja, tapi saya cukup rajin menontonnya, kecuali Getar Cinta dan MTV Ampuh (saat itu saya tidak suka lagu Indonesia) atau Salam Dangdut, yang produksi Indonesia sendiri gitulah. Sampai-sampai saya hafal kalau VJ nya si ini pasti lagu-lagunya lumayan, sedangkan kalau VJ-nya si itu pasti lagu-lagu boyband, tahu kalau yang Artist of the Month itu pasti artis yang kacrut (tapi beken) sementara yang Hot Seat biasanya agak lumayan. Ya, intinya TV di saat itu yang saya tonton paling MTV (alias ANTEVE).

Kemudian, saya ngekos karena kakak yang rumahnya saya tumpangi itu pindah ke Solo. Kos pertama saya sepi meski semua kamarnya ada penghuninya. Saya tidak bawa TV (tepatnya tidak punya). Bahkan komputer pun belum punya. Satu-satunya yang punya hanya radio tape tapi kaset juga hanya beberapa. Jadi, saya mulai harus membiasakan diri tidak menonton TV. Di kos memang ada TV untuk bersama di ruang tengah. TVnya kecil. Tapi, saya tidak biasa nonton TV bareng orang yang tidak saya kenal, seperti teman kos saya yang kebanyakan lebih tua (beberapa sudah bekerja, yang lain mahasiswa tingkat akhir). Saya memang bukan tipe orang yang mudah berakrab-akrab. Bisa dibilang kehidupan ngekos itu memang cukup mengagetkan. Saya mulai sering hanya mendengarkan radio di kamar. Bahkan saya lalu punya hobi baru yaitu merekam lagu di radio. Duh, so nineties tapi biarlah. Untungnya internet sudah mulai saya akrabi tapi sekali lagi saya masih gaptek soal komputer. Pelajaran saya berkomputer praktis dimulai dari komputer di warnet. Saya sangat jarang melihat TV di kos. Beberapa kali menonton TV saya menunggu kos sepi sehingga saya bisa nonton TV sendiri. Sekadar melihat video-video klip musik juga lagi-lagi. Selain internet, untungnya saya juga sudah mulai banyak teman. Dan mereka punya hobi cangkruk alias ngobrol, nongkrong selama berjam-jam. Tentu saja saya lebih banyak mendengarkan dan urun tersenyum dan sesekali menimpali dengan kata-kata pedas hahaha... Aneh sekali, tapi untungnya teman-teman saya bisa menerima. Jadi, biarpun tidak ada TV, ya tidak terlalu terasa. Bahkan di saat itulah, saya mulai merasa TV adalah pembodohan, acaranya sampah, hanya industri, tidak mengedukasi, corong kapitalisme, hehehehe.. ya semacam itulah. Meski demikian, teman-teman saya yang waktu itu sedang idealis-idealisnya (mungkin sampai sekarang beberapa masih juga sih, saya sudah lama tidak bertemu mereka) juga banyak yang hobinya nonton TV. Saya sendiri bagaimanapun masih kadang merindukan TV. Maka ketika saya pindah kos dan sempat beberapa waktu satu kos dengan teman saya yang menaruh TVnya ke kamar saya (atau kami), saya sangat gembira, apalagi komputer dan radio/tape/CDnya juga. Tapi, sekali lagi saya lupa apa yang saya tonton di masa-masa itu. Mungkin ya masih tidak jauh dari MTV yang mulai jelek. Saat itu juga, internet juga mulai menjadi bagian yang sulit saya pisahkan dari hidup saya. Beberapa kali saya bahkan di warnet sampai 5-6 jam. Di malam pertama ngekos di kos kedua, yang sepi, gelap, dan kamarnya meski besar tapi hanya diberi lampu bohlam 5 watt oleh si empunya kos, saya yang sendirian memutuskan untuk takut dan pergi ke warnet mungkin sekitar 6 jam, karena sampai hari beranjak terang. Aneh juga ya, punya uang buat sewa warnet selama itu (sewa warnet saat itu kalau tidak salah sekitar 2500-3000 rupiah) kenapa saya tidak beli lampu yang terang saja? TV di kos itu tidak lama. Saya kembali tidak ber-TV hingga pulang kembali ke kampung halaman karena gagal mendapat kerja di Surabaya.

Sempat menganggur selama beberapa bulan, kegiatan saya tentu saja cukup banyak menghabiskan waktu di depan TV dan pergi ke warnet. Acara yang berkesan waktu itu adalah MTV Bujang. Teman-teman saya pun banyak yang suka dan sering membahasnya. Sampai-sampai ketika dua host acara itu, Vincent dan Desta diberhentikan karena dianggap menghina Global TV, teman-teman saya itu membuat petisi campur surat terbuka (zaman itu belum ada change.org dan tren surat terbuka) yang disebarkan viral via email. Kita bisa menambahkan nama kita lalu mengirim email itu ke emailnya Global TV. Sampai segitunya ya supaya dibombardir komplain. Tapi, toh usaha itu tidak berdampak apa-apa. Setelah saya mendapat pekerjaan pertama, saya masih tinggal di rumah orang tua. Hanya saja, kegiatan jam kantor membuat saya tidak punya banyak waktu nonton TV. Saya lebih suka ke warnet ketimbang nonton TV di malam hari. Ketika saya kemudian pindah kerja ke Jogja, saya lagi-lagi harus ngekos. Di kos pertama, kondisi saya tidak jauh beda dengan saat ngekos masa kuliah. Hiburan di kos hanya discman dan kepingan CD/MP3 hasil mengkopi file-file lagu dari komputer banyak orang serta radio tape dengan kaset yang sudah lumayan banyak. Untuk mendengarkan discman itu pun saya memakai speaker aktif pemberian teman saya yang pernah ngekos bareng di atas. Bekerja selama sekitar 1,5 tahun sebelum ke Jogja memang belum memberi saya tabungan yang cukup untuk membeli perangkat elektronik selain juga karena saya tidak terlalu merasa perlu membeli barang-barang seperti itu. Namun, di Jogja gaji saya sudah mulai memungkinkan saya bisa membeli beberapa barang elektronik. Teman saya yang tadi, yang suka memberi itu, yang waktu itu juga tinggal di Jogja, baru membeli set komputer baru. Monitornya pun menganggur. Namun, kali ini dia tidak memberikan begitu saja. Ia pura-pura menjualnya kepada saya. Kenapa saya sebut pura-pura? Karena harganya sangat murah. Jadi, saya kemudian punya monitor komputer dan saya tinggal membeli TV tuner dan antena indoor. Saya bisa nonton TV! Acara yang sangat saya sukai waktu itu adalah Empat Mata. Hehehe... Itu sebelum KPI menyetrap Tukul, dkk. Sebelum punya TV, saya kadang sampai bela-belain pergi ke warung burjo untuk pesan burjo dan menonton Empat Mata. Tentu saja saya harus muter-muter mencari warung burjo yang TVnya kelihatan sedang menyetel acara tersebut. Selain itu, tentu saja tayangan sepakbola. Saya lalu mulai kuat membeli komputer dan juga speaker aktif yang lebih bagus dari sebelumnya. Monitor bekas teman saya jelas tidak lagi terpakai. Meja saya tidak muat untuk dua monitor plus CPU. TV tuner masih saya pakai tapi lebih sering saya memakai komputer untuk menyetel lagu-lagu atau memutar film yang kini bisa saya dapat dari mengkopi di warnet-warnet.

Saya kemudian pindah kerja, balik ke kampung halaman lagi. Keuangan saya makin baik. Saya sudah tidak memakai CPU tapi laptop. Di rumah, kakak saya memasang sambungan internet Speedy. TV pun makin jarang saya lihat. Persewaan DVD bajakan atau VCD ori pun mulai marak dan saya sering menyewanya. Sejak di Jogja, saya juga mulai bisa membeli buku-buku, bahkan saya sempat bergaya sebagai book hunter. Jadi, membaca, berinternet, mendengarkan musik, menonton DVD, dan tentu saja pacaran, hal-hal itu menjadi jauh lebih menarik dari nonton TV.

Saya kemudian menikah. Tapi, saya tidak perlu membeli TV karena istri saya sudah memiliki TV. Dia memang suka nonton TV. Ia pun pindah ke Solo juga untuk hidup bersama saya. TV-nya menjadi milik kami berdua. Masalahnya, di rumah kami, antena peninggalan pemilik rumah sebelumnya tidak bisa menangkap siaran TV dengan baik. Awalnya hanya beberapa channel saja bisa ditangkap, tapi lama-lama tidak ada sama sekali. Istri saya sering mengeluh, tapi lama-lama tidak lagi. Tapi, kadang mengeluh lagi. Saya sendiri sama sekali tidak merasa kehilangan dengan ketiadaan TV itu. Bahkan nonton bola pun saya sekarang tidak tertarik lagi. Saya memasang internet dan kecepatannya cukup untuk menonton video di Youtube tanpa terputus. Acara TV yang saya sukai, yaitu dua acara yang ditayangkan oleh Net TV (yang di kota saya siarannya belum bisa ditangkap oleh antena TV biasa maupun TV kabel), yaitu Tonight Show dan Berpacu dalam Melodi bahkan bisa saya ikuti cukup dengan mensubscribe saluran mereka di Youtube. Sadisnya, saya juga tidak punya DVD player sehingga praktis TV di ruang keluarga itu hanya menjadi pajangan selama lebih dari 2 tahun. Istri saya sampai meminta DVD player di rumah ibunya dikirim. Meski beberapa kali kami (atau juga dia) menonton film di laptop, rupanya itu tidak membuatnya puas. Ia tipe konvensional. Menonton itu harus di TV. Mungkin karena ia merasa sayang juga melihat TVnya tidak digunakan sama sekali. Ketika anak saya lahir, saya makin tidak tergerak untuk mempertontonkannya TV. Apalagi setelah saya mendengar salah satu anak saudara saya pernah diduga memiliki kecenderungan autisme karena waktu kecil selalu dipertontonkan TV oleh pengasuhnya. Anak saya kadang memang menonton TV tapi itu hanya saat di rumah neneknya (ibu saya) yang tinggal bersebelahan dengan saya. Saya sejujurnya justru merasa bersyukur karena tidak ada TV di rumah. Terlebih bersyukur karena saya tidak punya TV di masa-masa kampanye Pemilu lalu. Saya kadang malah bangga karena tidak mengetahui acara-acara yang sedang tren di TV. Apalagi jika melihat tayangan-tayangan kacau yang disetel di rumah ibu saya. Saya tidak merasa ketinggalan juga karena toh internet justru jauh lebih update daripada informasi dari TV.

Namun akhirnya di bulan April kemarin, saya menyerah. Desakan istri membuat saya memutuskan untuk kembali memfungsikan TV. Namun, kali ini berbeda. Saya bersedia karena TVnya adalah TV kabel. Setidaknya bukan tayangan TV lokal, itu pikir saya. Sudah sebulan kami sering menonton TV. Dan sepertinya saya cukup mudah menyesuaikan diri. Saya bahkan mungkin lebih sering nonton TV dibanding istri saya yang masih hanya suka nonton TV lokal saja. Saya juga mulai suka kecewa jika ketinggalan menonton sebuah film yang baru saya tonton setelah sudah separuh jalan cerita. Ya, sekarang memang sudah bukan musik lagi (karena memang tidak ada). Untuk musik bisa nonton di Youtube. Tapi, kini adalah film. TV adalah film, entah di HBO, Fox, Cinemax, Thrill, atau Celestial dan Star Chinese. Setidaknya itu kesan saya sebulan ini. Sebagai penutup mari dengarkan sebuah lagu yang liriknya menyinggung soal TV ini.


NB: Tulisan ini mestinya diposting bulan April kemarin. Dan saya memang sudah memulai kalimat pertama sejak pertengahan April lalu. Hanya saja, seperti biasa, saya sulit menyempatkan diri menulisnya sampai tuntas. Better late than neverlah yah. 



Web This Blog


XML

Powered by Blogger

make money online blogger templates




Free chat widget @ ShoutMix

Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign
Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign!



© 2006 perjalanan lalat hijau | Blogger Templates by GeckoandFly.
blog ini berisi catatan, kenangan, keluhan, caci maki, khayalan, pengakuan, tiruan, dan hasil kopi paste
blog ini tidak ada hubungannya dengan lalatx atau padepokan silat tertentu, pengelola sebenarnya tidak suka warna ijo!