perjalanan lalat hijau

LALAT HIJAU, sebuah catatan perjalanan untuk beberapa waktunya ke depan


hasil afdruk

Hanya ibukotalah yang tak pernah pantas menyandang sebutan ibu. Tetapi kawanku bilang seorang ibu memang akan nampak begitu kejam ketika tiba masa ia menyapih anaknya. Aku sendiri tak ingat apa yang ada di pikiranku saat aku disapih dulu karena walaupun suatu saat seorang balita menganggap ibunya sendiri telah berubah kejam, ia tak akan dapat lari kemana-mana selain menangis dan kembali ke pelukan ibunya yang selalu membuka tangannya lebar-lebar. Bagaimana pula dengan ibukota yang kusebut di atas? Benar, ia telah menutup rapat-rapat kehangatan buaian bagi anak-anak tirinya. Untuk setiap tetes keringat kami, si anak tiri yang hanya boleh melihat wajahnya saat ia berkenan memanggil kami dengan nama-nama julukan sesuai ciri-ciri fisik dan kebiasaan satu- satu dari kami.
Hari Senin, hari yang penuh kesibukan, kewajiban dan tugas pekerjaan yang mengendap di tiap-tiap meja dan tas kerja. Beberapa pria dengan kemeja resmi, celana kain dan dasi tak lagi punya waktu untuk menengok arloji mereka, suara-suara yang bergema di sudut-sudut stasiun itu kedengaran seperti sudah tak sabar dan lelah, sama seperti mereka juga. Sambil menjinjing tas kulit, sebagian lagi mengepitnya, mereka harus berlari dengan langkah sebesar mungkin, cepat, jika bisa melebihi cepatnya roda-roda kereta yang mulai mendesing dan mengaum itu. Sore hanya tinggal menyisakan bau keringat, mungkin ditambah bau asap rokok dan asap mesin kendaraan.
Tubuhnya hitam, dengan postur yang bisa disebut kurus dan pendek, dengan lincah ia bergelantungan, terkadang berlarian dan lalu melompat sambil meraih pegangan pintu kendaraan itu. Topi lusuh yang melindungi rambut setengah gondrongnya tak pernah lepas seakan-akan ia dilahirkan sudah dengan mengenakannya. Suaranya jelas, keras dan tegas, bahkan dengan nada datar sekalipun. Tadi aku mengira aku dapat memejamkan mataku di dalam bus ini, ternyata tidak, pria kecil itu terus saja berteriak, “Ya masih muat…, pak tolong ke belakang pak,.. ayo belakang diisi dulu, ya masih.. masih muat!”. Dan suara mendecit dan meraung silih berganti menantang suaranya, bau keringat semakin kuat, mendesak oksigen yang terasa semakin menipis.
Jangankan ngobrol, berteriak sekalipun, sang sopir masih merasa perlu untuk membaca gerak bibirku sambil mencondongkan telinganya. Televisi kembali menipuku, atau memang bajaj yang digunakan untuk syuting film Bajaj Bajuri itulah yang istimewa dan lembut suaranya sehingga Bajuri bisa dengan santai mengobrol dengan para penumpangnya sepanjang perjalanan seperti di taksi. Beberapa puluh menit kemudian kami telah sampai, tubuh kami tidak terasa bergetar, biasa saja seperti sehabis naik motor. Aku kembali merasa bodoh lagi, tak lebih bodoh saat banyak yang mentertawakan aku karena rela membayar ongkos bajaj seharga 25.000.
Ibu, baru sekali ini kujumpai ibu yang demikian membuat takut anak-anaknya. Tak tahu kenapa ia disebut sebagai ibu, aku kira bangsa ini masih lebih suka memuja para bapak. Ah ibu, aku lupa bagaimana rasanya dulu kau menggendongku.

0 Responses to “hasil afdruk”

Posting Komentar


Web This Blog


XML

Powered by Blogger

make money online blogger templates




Free chat widget @ ShoutMix

Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign
Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign!



© 2006 perjalanan lalat hijau | Blogger Templates by GeckoandFly.
blog ini berisi catatan, kenangan, keluhan, caci maki, khayalan, pengakuan, tiruan, dan hasil kopi paste
blog ini tidak ada hubungannya dengan lalatx atau padepokan silat tertentu, pengelola sebenarnya tidak suka warna ijo!