perjalanan lalat hijau

LALAT HIJAU, sebuah catatan perjalanan untuk beberapa waktunya ke depan


manusia, memberi dan rasa bersalah

Sepengenalan saya, saya bukanlah seorang yang mudah terbawa perasaan (bukan berarti tidak punya perasaan) terlebih lagi perasaan empati pada orang yang tak dikenal. Namun perasaan itu tiba-tiba saja bisa muncul sedemikian besarnya pada warga pengungsi korban gempa kali ini, dan membawa saya mengikuti arusnya. Ketika datang kesana, apa yang saya lihat langsung di lapangan sebenarnya tidaklah berbeda dengan apa yang bisa kita lihat di televisi; bangunan yang runtuh, tenda-tenda yang dibangun di lapangan-lapangan dsb, tapi ada yang berbeda dan inilah yang paling penting dari sekedar reruntuhan bangunan yaitu MANUSIA! Manusia yang ditampilkan di televisi selalu berbeda dengan ketika kita menemui mereka langsung. Faktor manusia ini tentu saja bukan hal baru bagi Anda, tentunya para relawan, donatur, atau semua orang yang telah mengetahui apa yang sedang terjadi di Jogja dan sekitarnya juga bertindak atas dasar faktor yang satu ini. Dan melalui sikap mereka itulah, sedikit banyak kita kemudian bisa membaca bagaimana pendekatan dan pemahaman mereka akan manusia. Memang setiap orang memiliki pemahaman yang berbeda.

Beberapa orang berpikir perhatian adalah kebutuhan manusia yang paling pokok. Kesedihan akibat kehilangan sesuatu yang berharga (misalnya sanak keluarga atau harta benda) barangkali bisa disembuhkan dengan mengatakan pada mereka bahwa kita turut berbela sungkawa dan menaruh perhatian pada mereka. Ini memang bukan hal yang salah, yang menentukan adalah bagaimana perwujudan dan bagaimana konteksnya. Bagi segolongan orang, mereka mungkin masih sulit membayangkan rasanya mengalami kehilangan dalam waktu kurang dari 1 menit, dalam waktu sesingkat itupun kondisi mereka dipaksa berubah : tidak punya rumah, makanan, pakaian, pekerjaan, hidup dalam kondisi gelap, kotor, malu, tanpa rasa aman, jaminan, sementara di saat bersamaan kondisi kesehatan (ia dan keluarganya) mulai menurun, hanya beberapa waktu setelah ia mendapati orang yang disayangi telah tiada, semua terakumulasi menjadi satu. Bisa mencakup semuanya, bisa juga paling tidak sebagian besar dari kondisi itu. Kenyataannya memang masih ada sebagian orang yang bersimpati namun masih belum menyadari konteks yang sedang berlaku. Akibatnya, muncullah apa yang disebut sebagai turis-turis bencana. Mulai dari yang mengendarai mobil bersama keluarga, naik motor beriringan, bahkan menyewa bus pariwisata ber AC, mereka datang ‘memberi perhatian’ pada para pria, wanita, lansia, anak-anak yang harus berjejal-jejal di bawah terpal yang tidak begitu luas, yang lapar, mulai sakit, takut dan khawatir akan munculnya hujan deras yang masih sangat sering turun di malam hari yang mencekam karena penerangan belum ada, akan datangnya pencuri yang akan mengambil sisa-sisa milik mereka, akan anak-anak yang tidak punya baju, makanan dan tubuhnya melemah, mereka juga takut dengan gempa susulan yang masih setiap hari mereka rasakan, takut akan begitu banyak hal mengenai kemungkinan yang sangat mungkin terjadi di saat kesedihan masih membayang akibat meninggalnya saudara, suami/istri, anak, orang tua, sahabat mereka. Di suatu saat ada bis atau mobil lewat, kecepatannya melambat namun penumpang di dalamnya hanya membuka kaca dengan sebuah tatapan pada mereka, beberapa juga menunjuk-nunjuk reruntuhan rumah mereka. Dan setelah itu, berlalu. Di lain waktu, mobil-mobil atau kendaraan itu berhenti. Para penumpangnya turun (apakah ada yang mengeluh mual atau tentang AC mobil yang tidak bekerja baik?). Sebuah bungkusan atau sebuah kardus, entah apa isinya, mereka bawa dan segera saja mereka mencari ketua RT setempat. Beberapa yang lain sibuk memotret atau mengabadikan lewat handycam, terutama ketika bungkusan itu diserahkan kepala rombongan kepada ketua RT setempat. Sementara para bayi yang terbaring kedinginan di tanah itu diambil gambarnya. Untuk koleksi pribadi, untuk latihan menjadi fotografer atau untuk ditunjukkan kepada teman-temannya guna mengatakan bahwa ia sudah pernah pergi ke lokasi bencana. Sudahkah kalian melihat mereka? Belum pernah, aku sibuk, tak sempat datang, tapi kantorku/gerejaku/kampusku/partaiku sudah menyumbang 1 dus mie instant, yah jangan dilihat nilainya lah (lihatlah bahwa itu membuktikan kalau aku bukan orang atau golongan yang tidak memiliki rasa kemanusiaan). Lainnya menimpali: Aku sudah menghadiri sebuah konser amal yang hasil penjualan tiketnya akan disumbangkan kepada korban bencana, asik nih foto-fotonya, gila Element keren banget nggak sih.Yang lain lagi berkata: di posko katanya sudah menumpuk sumbangan, aku juga khawatir bantuan dikorupsi lagipula bisnis lagi sepi, kalau ada waktu aku akan datang sendiri menyerahkan sumbangannya. Ya sudah.

Pada perjalanan berangkat, saya menemui cukup banyak mobil dengan tempelan kertas "Keluarga Korban Bencana". Di kota Yogya sendiri malah nyaris setiap mobil terutama yang berplat nomor selain AB yang hanya membawa manusia (tanpa sesuatu yang mirip seperti bantuan) menempelkan kertas itu. Namun saya lupa menanyakan hal itu kepada kawan-kawan di Yogya. Mungkinkah gejala seperti tulisan "Pro Reformasi" "Pribumi Asli" di depan pintu waktu Mei 1998 juga berulang di Yogya kali ini?

Gempa kali ini memang tak sama dengan tsunami Aceh yang terletak jauh dari pulau di Indonesia yang menjadi pusat dan yang paling padat (dan banyak masalah): pulau Jawa, akses pun lebih mudah ditempuh. Mestinya ini bisa membuat kekurangan pangan, tenda, obat-obatan dsb dapat cepat diatasi, namun kenyataan yang terjadi tidaklah demikian, sebaliknya selain munculnya turis-turis bencana tadi, faktor keamanan kemudian menjadi masalah tersendiri. Kesulitan yang dialami para pengungsi bertambah, tidak hanya kesedihan, kekurangan dan kekuatiran, namun kesemuanya itu kini juga telah terakumulasi dalam bentuk kegeraman. Apalagi ketika adanya laporan tindakan pencurian/penjarahan dimana pelaku penjarahan menyamar sebagai turis bencana atau relawan. Mereka membawa mobil (bahkan ada juga yang melaporkan tindakan ini dilakukan staf ambulans) dan tim untuk menjarah dan mencuri sisa-sisa barang yang tak terlindung di antara reruntuhan, tenda atau posko-posko, di tengah suasana gelap. Betapa menakjubkan jika memikirkan bahwa kejahatan yang sangat sangat jahat ini bisa muncul di negara yang masyarakatnya begitu agamis, yang beberapa waktu lalu ratusan ribu rakyatnya menggelar demo anti kebejatan dan yang sangat menjunjung akhlak dan moralitas di atas segalanya ini. Presiden mengatakan tidak ada penjarahan, ada pula yang mengatakan penjarahan memang ada tapi tidak sistematis. Apapun kata mereka, bentuk kemarahan para pengungsi itu dapat dilihat di lokasi, mulai dari yang halus, misalnya lewat tulisan: "Kami bukan Tontonan", "Piknik ya?" dsb hingga pemeriksaan dan pelarangan masuknya mobil yang tidak membawa bantuan dan bukti jika mereka benar-benar relawan yang terpercaya. Suasana tidak aman juga tidak hanya terjadi di lokasi bencana. Beberapa preman yang mengaku sebagai penggalang bantuan juga menjalankan aksinya. Dengan memaksa orang-orang menyumbang dalam bentuk uang tunai, bahkan ditentukan jumlah minimalnya, bahkan ada yang menetapkan jumlah minimal 50 ribu. Apakah perilaku macam ini disebabkan karena sering melihat wanita pakai tank top dan rok mini? Sekali lagi bisa kita periksa otak kita masing-masing.

Lalu apa yang dilakukan oleh pemerintah dan para politikus? Ketika perjalanan berangkat, terutama melewati Klaten, bisa dilihat bagaimana para politikus memanfaatkan bencana ini sebagai jualan. Kibaran bendera parpol dan tenda-tenda yang penuh dengan atribut parpol (yang banyak a.l: PKS, Partai Demokrat, PAN, PKB) sepertinya sengaja didirikan dan dipasang di pinggir jalan-jalan raya, tentu dengan tulisan besar-besar: "Posko Partai.. Peduli Gempa". Pemandangan ‘lucu’ juga dilihat kawan saya dimana sebuah posko PKS (Partai KeADILan SEJAHTERA) dengan benderanya yang begitu besar berkibar di atas, ternyata dibawahnya hanya membagikan 4 dus mie instant untuk begitu banyak pengungsi yang lapar. Pemandangan itu boleh jadi menunjukkan apa yang menjadi prioritas mereka mendirikan posko. Memang benar, tidak ada pemberian yang benar-benar murni diberikan tanpa berharap balasan. Orang yang memberi paling tidak akan mengharapkan balasan berupa ucapan terima kasih atau agar tindakannya dicatat oleh malaikat di surga, atau untuk mendapatkan kepuasan pribadi melihat orang lain senang. Saya sendiri mungkin tidak akan menaruh perhatian begitu besar jika yang tertimpa bencana bukan Yogya, kota yang saya cintai dan telah memberikan saya banyak hal menyenangkan itu, jadi mungkin ini seperti keinginan membalas budi. Dan kita tahu apa yang diharapkan oleh partai tersebut, hanya saja menurut saya balasan yang mereka harapkan atas pemberian mereka tersebut sudah keterlaluan. Barangkali salah satu kunci keberhasilan dalam dunia politik memang adalah sifat oportunis, namun benarkah hanya itu? Bagaimana bisa mereka menganggap masa prihatin akibat bencana ini sama seperti masa kampanye pemilu? Lagipula apakah yang diperjuangkan para penyandang sifat oportunis selain kepentingan dan ambisi dirinya sendiri? Tentu saya tidak akan mau memasrahkan masa depan saya kepada mereka.

Yang dilakukan pemerintah juga tak jauh beda, bahkan jauh lebih buruk jika mengingat bahwa seharusnya merekalah yang memiliki kewajiban dan tanggung jawab terbesar dalam menangani masalah yang menimpa warganya. Saya tidak tahu apakah bantuan dari pemerintah yang dikumpulkan dari berbagai negara dan sumbangan rakyat lainnya itu sudah mulai didistribusikan atau belum. Atau mereka masih menunggu para pengungsi mencari KTP mereka yang hilang di antara reruntuhan serta sapuan aliran hujan dan menunggu ketua RT dan lurah (yang mungkin masih sering sibuk dan susah ditemui) membuatkan surat pengantar bagi warganya? Bagaimana dengan warga yang tidak disukai lurah atau RT setempat atas alasan pribadi? (seperti yang terjadi pada pemilihan penerima BLT). Laporan adanya RT yang tidak mau mendistribusikan bantuan yang telah dipasrahkan kepadanya inipun memang ada. Logistik pun menumpuk, mungkin busuk dan akhirnya dibuang karena para pengungsi yang muak oleh birokrasi macam itu memilih lebih percaya pada bantuan pihak non-pemerintah. Kelebihan dalam hal sumber daya (termasuk transportasi) juga tidak membuat pemerintah mampu mendistribusikan bantuan ke daerah-daerah terpencil yang masih belum dapat dijangkau bahan-bahan darurat macam makanan, pakaian dan tenda sama sekali, mungkin juga ada yang proses evakuasinya belum tuntas. Padahal dalam perhitungan para ahli (entah ahli apa), masa-masa ini (1 minggu setelah musibah) harusnya sudah dapat dikatakan telah melewati masa darurat sehingga kini lebih memerlukan bantuan macam obat-obatan (karena penyakit yang selalu menghinggapi para pengungsi), penerangan, trauma healing, dsb. Beberapa daerah memang malah sudah mulai mengalami surplus bantuan bahan makanan di wilayah mereka. Inilah kenyataannya. Dan para relawan penggalang dan pendistribusi bantuan non-pemerintah sendiri sepertinya sudah tak ambil pusing dengan bantuan dan langkah lambat Bakornas, para relawan dan donatur luar negeri nampaknya juga makin lebih percaya kepada koordinasi posko-posko bantuan non-pemerintah, dan entah apakah hal ini juga dirasakan oleh para warga pengungsi. Bagi beberapa pengungsi, kekecewaan pada birokrasi tanpa hasil tadi diluapkan dalam bentuk penjarahan yang dibawa para pengantar bantuan. Inilah dilemanya, pendataan dan catatan tentang apa yang dibutuhkan pengungsi, siapa yang menerima, dan perlunya aturan agar bantuan bisa dibagikan secara merata jelas sangat diperlukan agar tidak ada pengungsi pria mendapat bantuan pembalut, atau lansia mendapat susu bayi, agar tidak ada yang terkorupsi, agar bantuan dapat sesuai dengan apa yang dibutuhkan, dalam hal jumlah atau jenisnya. Namun contoh yang ditunjukkan birokrasi ruwet ala pemerintah itu telah menyebabkan pengungsi anti dengan tanda tangan di formulir dan pemusatan bantuan di satu titik.

Hanya 3 hari 2 malam saya datang ke Yogya, saya merasa bersalah dan sungguh berat ketika harus pulang kembali karena harus menghadiri acara yang jika tidak saya hadiri juga akan membuat saya merasa bersalah pula. Saya merasa kecil dan tidak berguna (kali ini dengan level berbeda dibanding perasaan tidak berguna yang saya rasakan sebelum ke Yogya). Setiap kali ada orang yang datang ke posko kami, mengatakan bahwa di daerah anu masih belum ada tenda, masih banyak bayi yang belum mendapatkan bantuan susu dan makanan, namun persediaan di posko saat itu sedang habis sehingga orang itu harus pergi dengan kecewa. Setiap kali ada keadaan dimana mobil pengangkut membutuhkan sopir, atau keadaan dimana bahan-bahan yang ada kekurangan mobil untuk mengangkutnya. Setiap kali hujan turun begitu deras menyelimuti hawa dingin malam di Yogya dan sekitarnya, setiap kali saya duduk tanpa ada sesuatu yang dilakukan atau tanpa tahu yang mesti dilakukan, ketika perjalanan pulang paling berat itu mengantarkan saya kembali kesini dan banyak lagi. Perasaan ketika tidak bisa memberi adalah lebih berat daripada ketika hendak mengorbankan milik kita untuk diberikan kepada orang lain. Jadi jika Anda ingin menghindari keduanya, tentu bisa, tapi itu tergantung pada pandangan pribadi Anda akan manusia itu tadi. Lihat saja pihak-pihak di atas dan pilihlah pendekatan mana yang lebih cocok untuk Anda, atau Anda memiliki pendekatan sendiri? Semuanya terserah Anda. Jika bergabung dengan posko pihak non-pemerintah menjadi pilihan Anda, atau malah ingin mendirikan posko sendiri karena Anda tidak percaya dengan orang lain selain diri sendiri, satu hal yang penting adalah koordinasi. Saling berhubungan dengan posko-posko lain, bertukar informasi sehingga bantuan yang diberikan bisa tepat sasaran (dari segi jenis, jumlah dll). Sedang untuk yang tidak memiliki kesempatan untuk terjun langsung ke lapangan seperti saya kini, keberadaan di lapangan juga bukanlah hal terpenting. Daripada seperti turis bencana atau malah penjarah, yang penting kini adalah apa yang bisa Anda dan saya lakukan disini untuk mereka? Saya harap akan ada banyak.

0 Responses to “manusia, memberi dan rasa bersalah”

Poskan Komentar


Web This Blog


XML

Powered by Blogger

make money online blogger templates




Free chat widget @ ShoutMix

Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign
Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign!



© 2006 perjalanan lalat hijau | Blogger Templates by GeckoandFly.
blog ini berisi catatan, kenangan, keluhan, caci maki, khayalan, pengakuan, tiruan, dan hasil kopi paste
blog ini tidak ada hubungannya dengan lalatx atau padepokan silat tertentu, pengelola sebenarnya tidak suka warna ijo!