perjalanan lalat hijau

LALAT HIJAU, sebuah catatan perjalanan untuk beberapa waktunya ke depan


Warnet


warnet
Originally uploaded by scandinavian_idiot.

Inilah salah satu tempat yang kini cukup rajin kukunjungi. Tahun berapa warnet mulai bermunculan di kota atau negeri ini? Jika menurut awal mula datangnya pengenalan masyarakat Indonesia akan internet barangkali bisa disebut sekitar tahun 1996-1998. Yang jelas tahun 1998 aku sudah mulai mendengar banyak orang membicarakan tentang internet, chatting dan bagaimana kita bisa mendapatkan akses luas kepada gambar porno lewat teknologi itu.

Kunjungan pertamaku ke sebuah warnet atau warung internet (istilah yang nampaknya dipakai sebagai kelanjutan dari istilah warung telkom/telekomunikasi/telepon alias wartel) terjadi pada sekitar tahun 1998. Bersama Marten, seorang teman yang tiba-tiba sering mengajakku pergi, walau ternyata itu ia lakukan hanya karena ia sedang tidak punya akses kepada sepeda motor. Kunjungan itu terjadi di warnet Aloha yang masih buka sampai sekarang. Situasi ruangan warnet sama sekali tak menarik bagiku waktu itu. Bagaimana tidak? Ruangan warnet itu hanya berisikan komputer-komputer dan benda itupun adalah benda yang terbilang masih sangat asing dengan diriku saat itu. Akupun praktis hanya melihat Marten melakukan aktivitasnya. Memang ia sempat berusaha mengajari namun tanpa memberiku kesempatan memegang mouse atau keyboard, jadi aku memang sama sekali tidak memahami apa yang ia ketik dan kenapa ia mengetikkan huruf-huruf itu, dsb. Atau mungkin Marten pun tidak dapat menjelaskannya karena ia hanya mengetahui bahwa itu adalah prosedur, aku juga tak tahu. Aku sendiri masih ingat bahwa yang teman sekolah dan juga tetanggaku itu lakukan adalah mengecek email (kalau tidak salah memakai domain astaga.com), sempat juga ia membuka mirc dan chatting dengan nickname chinesemale (walau masih buta internet tapi waktu itu aku sudah menganggap nama itu norak). Selanjutnya aku tak begitu ingat, tapi sepertinya ia menghabiskan sekitar 1-1,5 jam tenggelam dalam dunia maya sementara aku hanya duduk di belakang punggungnya menunggu, mencoba untuk memahami teknologi baru itu. Setelah itu kami pulang, Marten ternyata tidak membawa uang cukup untuk membayar ongkos sewa jadi ia pun meminjam uangku sekitar 5 ribu rupiah tanpa pernah mengembalikannya lagi. Memang aku masih cukup bodoh waktu itu sehingga pengalaman pertamaku ke warnet pun jadi kurang begitu indah.

Lupakan kelakuan Marten dan kebodohanku tadi, kunjungan-kunjunganku ke warnet pada waktu-waktu berikutnya relatif lebih baik karena aku biasanya ditemani temanku yang memang benar-benar seorang teman dan akrab. Dari temanku, si Yofran yang kini bermukim di Belanda itu, akupun semakin mengenal sampai akhirnya bisa melakukan kegiatan yang berhubungan dengan internet sendirian. Kini bisa dibilang aku tak akan tahan bila katakanlah seminggu tidak pergi ke warnet atau mengakses internet sama sekali.

Aku tak akan bisa menghitung sudah berapa juta aku habiskan untuk membayar sewa warnet sampai sekarang, aku juga tak akan mampu memperkirakan atau menilai berapa banyak pengetahuan yang telah kudapatkan dari jutaan rupiah yang telah dikeluarkan itu. Apakah jumlah itu sebanding dengan penambahan pengetahuan dan keterampilan yang kudapat, aku tak begitu tertarik membayangkannya karena akan sangat mengerikan jika semua bisa diukur dengan uang. Warnet bagiku memang adalah layaknya satu lorong ke sebuah dunia imaji; dunia maya. Tapi lain kali saja aku bicara lebih banyak soal ini agar tidak melebar ke topik lain di luar warnet.

Menghitung berapa banyak warnet yang pernah kukunjungi adalah sama sulitnya dengan menghitung berapa banyak dana yang telah kukeluarkan untuk membayar sewanya tadi. Namun demikian, sebagaimana manusia modern tidak lagi suka hidup nomaden, aku selalu memiliki warnet langganan di tiap tempat yang aku tinggali. Ketika di Surabaya misalnya, di kota itu aku sempat tinggal di 3 tempat berbeda. Ketika masih di wilayah Rungkut awalnya aku memilih warnet kecil dan lambat yang bercampur dengan rumah tinggal yang letaknya hanya di gang sebelah rumah yang kutinggali waktu itu. Setelah warnet itu tutup, aku sempat pindah ke warnet yang lebih jauh (sekitar 400meter dari rumah), atau tepatnya di kampung sebelah. Warnet yang juga campur rumah tinggal itu lebih profesional dari yang pertama tadi, selain warnet ia juga membuka wartel, koneksi juga lebih cepat meski harga sewanya lebih mahal. Kekurangan lain hanya privasinya karena warnet yang baru ini monitornya menghadap ke luar, namun aku cukup senang karena di situ aku bisa mendengarkan musik lewat headset selain ada file-file MP3nya. Tak berapa lama warnet itu mulai sering tutup ketika jam-jam strategis dan setelah itu ternyata ia tutup selamanya, beberapa bulan menjelang aku pindah untuk kost.

Di kost pertama di wilayah Kutisari, aku sempat sering ke warnet di daerah Jemursari, dekat supermarket Sinar bernama Magnet. Warnet itu cukup mahal, privasi juga kurang, namun akses dan fasilitasnya lengkap. Tak hanya internet, disitu aku juga bisa mendengarkan musik, menonton film-film dan main game. Awalnya aku sangat senang dengan fasilitas musiknya, setelah itu aku juga sempat kecanduan memainkan game sepakbola EA Sport yang membuatku rata-rata membayar biaya sewa 20 ribu lebih setiap kali main 2 hari sekali. Akupun sempat menonton beberapa film disana, meski kadang banyak mengklik tombol fastforward dan kadang juga hanya mencari adegan bugilnya dulu. Di warnet itu, Muhaimin juga sering ngenet di warnet yang disponsori Lipton Ice Tea itu, bahkan dialah yang mula-mula memberitahuku, ada warnet yang koneksinya sangat cepat di dekat rumahnya. Mungkin karena begitu nyamannya warnet itu, aku juga sering melihat seorang bapak (om om tepatnya) sering sekali datang kesana, sambil membawa camilan-camilan untuk menemani kegiatannya (entah apa yang ia lakukan disana). Namun setelah sempat beberapa waktu absen, suatu hari ketika aku hendak main ke warnet itu, tiba-tiba bangunan itu sudah berganti pemilik, menjadi kantor sebuah institusi perdagangan atau sejenisnya. Ia lenyap tak berbekas.

Ya, aku memang sempat mengurangi pergi ke Magnet yang memang sering begitu kuat menarikku untuk berlama-lama duduk lengket di kursi bak besi dan magnet itu tadi karena biaya sewanya yang lumayan mahal. Akupun sempat beralih ke warnet di jalan Siwalankerto (lagi-lagi aku lupa namanya, kalau tidak salah Indonet), jika harga sewa Magnet lima ribu rupiah, maka warnet yang ini hanya tiga ribu perjam. Privasi tidak banyak beda kecuali jika bisa mendapat tempat duduk paling belakang. Di situ, aku sempat menghabiskan waktu semalaman, ngenet sampai subuh. Bahkan di malam pertama aku pindah ke rumah kos Hasibuan di Siwalankerto Timur, karena tiba-tiba aku tak bisa tidur dan berpikir aneh-aneh akibat suasana sunyi dan remang-remangnya suasana kamarku, akupun memutuskan untuk pergi menghabiskan semalaman di warnet itu.

Di warnet yang sama, aku juga sempat menyaksikan satu pemandangan lucu. Ceritanya begini, seperti di warnet-warnet lain, di situ juga ada pengunjung-pengunjung yang hampir selalu kutemui setiap datang di situ, nah salah satunya adalah seorang pria yang usianya mungkin sekitar 27-an tahun. Pria itu badannya besar, pakaian selalu tidak rapi, kulit agak gosong, dengan wajah tidak pernah segar, pipinya banyak bekas lobang jerawat dipadu dengan mata yang sipit. Suatu malam, seperti biasa aku melihat dia yang nampaknya sudah akrab dengan penjaga warnet itu bercakap-cakap keras, dari komentar-komentar dan dari monitornya yang sempat kuintip, aku tahu bahwa ternyata dia sedang mendownload film porno dari internet. Beberapa saat setelah itu, tiba-tiba seorang wanita yang ternyata kekasihnya datang. Si pria yang tidak menyadari kehadiran gadisnya itu langsung tergagap dan tidak bisa berkata apa-apa ketika si wanita menerobos masuk dan melihat monitor yang ia hadapi sedang menampilkan film porno. “Nonton apa kamu?” katanya dengan nada tajam. “Ng..nggak.. cuma ini aja kok” pria itu tergagap, “Nonton apa kamu!!” nada si wanita lebih keras dan tajam, sedetik kemudian, wanita yang usianya juga sekitar 26-an tahun itu segera lari pergi keluar. Si pria langsung bingung, sempat meraih tangan gadisnya namun segera dikibaskan dan terlepas. Si pria segera mengejar keluar, namun beberapa waktu kemudian dia kembali lagi dengan raut bingung, rupanya ia ingat harus membayar, setelah membayar ia segera pergi lagi meninggalkan penjaga warnet yang juga agak bingung. Aku hanya geli melihat pemandangan itu, mungkin si pria itu selalu bersandiwara di hadapan gadisnya yang rupanya gadis alim itu. Entah apa mungkin film porno bisa mempengaruhi kelanjutan hubungan mereka, tentu aku tak tahu.

Warnet di Siwalankerto yang buka 24 jam itu juga tutup beberapa waktu kemudian. Aku terpaksa harus pindah lagi, aku sempat mencoba Kimbos yang favorit anak-anak Petra (terutama yang wanita) tapi bagiku pelayanan dan aksesnya sangat buruk, juga sempat di wilayah Siwalankerto Tengah, langganan bapak Stephanus yang juga tutup setelah itu. Lalu atas info dari Oni sempat berlangganan di warnet 24 jam lainnya di wilayah Kebun Bibit, warnet itu agak kotor namun lumayan murah dan aksesnya lumayan. Tapi lama-lama aku agak malas kesana karena jarak yang lumayan jauh. Karena itu, setelah mensurvey di wilayah dekat-dekat kost, aku pun menemui yang lumayan bagus di Siwalankerto Permai. Ada 2 buah, jarak keduanya hanya sekitar 100 meter. Yang agak di depan adalah yang mula-mula ketemukan dan kujadikan langganan. Yang pertama ini cukup bersih, akses lumayan cepat, namun lambat laun seperti yang banyak terjadi di warnet-warnet lain. Akses disitu sering lambat, belum lagi listrik sering tiba-tiba mati, sering tidak kebagian tempat, dan komputer sering hang. Aku menemukan yang baru lagi, letaknya agak ke dalam perumahan bernama Marvel-net. Ternyata warnet itu dikelola oleh beberapa kakak kelasku waktu SMU, meski aku tak mengenal mereka. Sampai sebelum aku pindah kembali ke Solo, warnet itu masih jadi favoritku karena bersih (alas kaki bahkan harus dilepas di luar), akses cepat (aku bahkan bisa mendownload video klip disitu), ada headset dan music playlist, dan jarang penuh.

Beberapa warnet di Surabaya lain yang lebih dari lima kali kukunjungi ada di Mulyosari, cukup murah, buka 24 jam dan akses tak begitu lelet. Terakhir, ada satu warnet yang baru satu kali kukunjungi namun langsung membuatku jatuh cinta dan bahkan mungkin adalah warnet terbaik yang pernah kukunjungi selama ini. Berlokasi di Nginden, aku menghabiskan semalam di sana, dengan Djohan, lebih banyak bukan untuk mengakses internet namun untuk mendownload lagu-lagu yang selama ini susah dicari dengan software bernama limewire. Warnet yang sangat nyaman, dengan kursi empuk, peralatan baru, monitor slim, penjaga enak dilihat inilah yang pasti akan menjadi agendaku setiap datang ke Surabaya, entah kapan, semoga warnet dan fasilitasnya itu berumur panjang.

Cukuplah untuk Surabaya, bagaimana dengan warnet di Solo? Meski ini adalah tempat dimana aku mula-mula mengenal internet dan kota yang kutinggali saat ini, aku rasa warnet yang sering kukunjungi disini tidak sebanyak yang kukunjungi di Surabaya. Aku telah menyebut Aloha sebagai warnet pertama yang kukunjungi. Warnet kedua barangkali adalah warnet Valentine. Hanya sekitar 4-5 kali saja aku berkunjung di sana, karena sesudah itu warnet tersebut beralih menjadi sebuah persewaan VCD (ketika VCD sedang booming) dan kemudian menjadi sebuah rumah makan yang sekarang nampaknya juga telah tutup. Selanjutnya adalah Mesen net, masih buka hingga saat ini. Ketika masih SMU, aku merasa warnet itu adalah warnet yang bersih, dan murah (hanya 2500 perjam) tapi hanya beberapa kali saja aku kesana karena akses sering lambat bahkan terputus, meski aku hanya memakainya untuk chat di mirc dan buka email di yahoo.

Lalu setelah aku mulai sangat akrab dengan internet, aku sempat mencoba beberapa warnet lagi. Ada warnet di wilayah Kandang Sapi yang campur dengan rumah/salon milik keluarga temanku waktu SD, cukup murah untuk ukuran Solo (sewa warnet di kota ini termasuk mahal) , akses lumayan tapi kondisi kotor, ACnya tidak jelas hidup atau tidak, komputernya juga belum ada yang XP, sering membuat disket terkena virus dan, ini yang aneh, ada filternya. Bahkan membuka situs imdb.com pun tidak bisa. Tentu warnet macam itu dengan cepat membuatku jengah, apalagi kebanyakan pengunjung warnet yang ruangannya berukuran sekitar 5 x 4 meter itu juga kebanyakan hanya main games saja. Akupun kembali ke Solonet yang terletak di Kepatihan, dan cabang di ujung jalan Slamet Riyadi. Warnet ini sebenarnya sudah cukup lama kukenal punya pelayanan baik namun harganya masih aku rasakan kurang murah. Tapi lama kelamaan akupun tidak punya pilihan. Solonet sendiri memiliki program pemberian voucher 5 jam gratis memakai internet bagi mereka yang mampu mengumpulkan bon-bon pembayaran dengan nama sama dan membuktikan bahwa user pernah ngenet disana selama 25 jam (biaya sewa Rp.112.500) dalam waktu maksimal 6 bulan terakhir. Sudah berkali-kali aku menukarkan dan mendapat voucher gratis tersebut, bahkan aku tidak perlu menunggu 6 bulan, karena biasanya cukup 2-2,5 bulan saja aku sudah bisa mengumpulkan bon berjumlah total 112.500 rupiah itu. Privasi di Solonet juga bagus, atau setidaknya cukup karena tiap komputer dibatasi oleh 3,5 sekat seperti kamar mandi di desa yang tanpa pintu. Solonet di Kepatihan dalam hal kecepatan akses juga lebih bagus daripada cabangnya yang ada di Slamet Riyadi (meski yang di Slamet Riyadi memberikan kopi gratis kepada pengunjung setiap sorenya). Ketika masih menganggur, warnet Solonet, baik yang di Kepatihan maupun di Slamet Riyadi (warnet teman SDku tadi juga) sempat menjadi tempat dimana aku melampiaskan kerinduanku akan nikotin. Jika di Kepatihan pengunjung boleh merokok di atas jam 18.00, yang di Slamet Riyadi tersedia smoking area. Itulah harga yang harus kubayar dari kepura-puraan. Namun kini aku sudah tak mungkin melakukannya karena sudah makin sering aku berjumpa teman kantor dan kenalan lain di Solonet, ditambah lagi aku sudah bisa dikatakan semakin jarang punya keinginan merokok lagi selain sebagai sarana sosialisasi.

Solonet mungkin masih lumayan bagus, namun karena kebutuhan. Aku mulai sering beralih ke cabang warnet Yahoo yang masih baru dibangun di wilayah jalan Gajah Mada. Flash back sedikit, warnet Yahoo yang pusat ada di wilayah Kalitan, lumayan jauh dari rumahku. Dulu sempat sering kukunjungi, namun akibat koneksi sering tiba-tiba putus di tengah jalan, aku berhenti dan beralih ke Solonet tadi. Kini Yahoo yang baru itu, meski mahal (6000 per jam) namun sebanding dengan kecepatan aksesnya, apalagi jika semakin larut malam. Akupun sering menggunakan jam-jam itu untuk mendownload musik-musik, kalau sedang baik hati juga mengupload beberapa untuk dishare ke multiply. Paling tidak sudah ada seratus lebih lagu yang pernah kudownload dari internet, dimana semuanya itu mungkin berawal ketika menjelang Natal 2005 lalu (saat itu aku ingin mencari lagu Happy Christmas dari John Lennon). Privasi di Yahoo juga bagus, di belakang kita hanya ada tembok dan di samping ada sekat, komputernya juga lumayan baru-baru. Warnet yang banyak dikunjungi bule-bule yang nampaknya menginap di Novotel itu kadang memang mengecewakan. Komputer kadang hang, justru saat hasil download sudah banyak dan belum sempat kupindah di flash disk. Pernah juga listrik mati sebentar, dan penjaganya juga agak menyebalkan, kurang berempati dan agak kurang profesional. Terbukti ketika satu waktu ada kejadian dimana listrik tiba-tiba mati sebentar (istilah Jawanya njeglek alias anjlok akibat daya melebihi kapasitas), wajar jika seorang customer, seorang gadis yang sepertinya belum tahu kebiasaan disitu, marah dan menanyakan apa data yang ia simpan bisa diselamatkan. Nampaknya si penjaga kembali menjawab dengan kurang menunjukkan rasa empati, jawabannya tentu adalah data yang disimpan sudah hilang semua. Aku sendiri pernah mengalaminya (ketika itu komputernya hang), bahkan beberapa dataku juga hilang waktu itu (untungnya masih sedikit) dan akupun bisa membayangkan bagaimana perasaan si customer; lemas, jengkel, betapa sia-sia harga dan waktu yang telah dikeluarkan. Aku memang tidak pernah marah-marah dengan si penjaga, namun si gadis itu tampaknya begitu kesal, apalagi mengingat ia tetap harus membayar. Jadi, ketika si penjaga masih berusaha menjelaskan apa yang terjadi dengan listrik di tempat itu, gadis itu segera membanting uang pembayaran dan meninggalkan meja kasir untuk keluar dengan wajah sangat kesal. Mas penjaga itupun masih merasa harus membela harga dirinya dengan terus membicarakan kelakuan gadis tadi dengan teman-temannya yang baru datang, dan bahwa ia sudah berusaha menjelaskan duduk persoalannya namun gadis itu membalasnya dengan kelakuan tidak sopan. Jika dibandingkan di Surabaya, aku pernah dengar dari Djohan bahwa kejadian serupa (listrik anjlok dan data hilang) itu juga pernah menimpa warnet yang ada Limewirenya itu tadi, dan kebijakan dari si pemilik (yang kebetulan sedang menjaga) adalah menggantinya dengan menggratiskan biaya akses Djohan dan mempersilakan ia memulai dari harga nol lagi. Tentu aku tak bisa mengharapkan semua warnet melakukan hal serupa (meski sangat bagus jika bisa), namun penjaga warnet Yahoo sepertinya harus belajar dari para penjaga di Solonet yang semuanya ramah dan ringan tangan mau membantu. Atau mungkin mas penjaga Yahoo tadi tidak tahu bahwa orang kesitu bukan hanya browsing tapi juga banyak yang download?

Benar, jika membicarakan masalah pelayanan, Solonet barangkali termasuk yang baik. Meski penjaga di situ tentu bukanlah pemilik warnet tersebut, namun mereka tidak seperti penjaga upahan yang tugasnya cuma sekedar memberikan bon, menerima uang atau merestart komputer jika hang (yang sedikit kurang ramah mungkin adalah satu penjaga yang juga kakak kelasku waktu SD). Saat akses lambat, kadang pengunjung di Solonet juga mengeluhkannya pada si penjaga. Aku rasa akses lambat tidak selalu dapat diatasi, namun toh penjaga di situ tetap mau bangkit dari tempat duduknya, berjalan mengecek, membandingkannya dengan pengguna lain, pokoknya berusaha menunjukkan bahwa keluhan customer ditanggapi dengan serius. Mimik muka yang menunjukkan rasa simpati juga ditampakkan para penjaga jika ada pengunjung mengeluh aksesnya lambat, komputernya hang, datanya hilang, dsb. Sebaliknya mereka juga berusaha ramah dengan menyapa atau paling tidak tersenyum dengan pengunjung, termasuk dengan pelanggan yang sudah sering datang tapi tidak banyak bicara seperti aku.

Di luar beberapa warnet yang telah aku sebut di atas, ada lagi satu warnet di Solo yang beberapa kali kukunjungi hanya karena penasaran melihat salah satu berita tentangnya di koran. Warnet itu bernama Masxun net letaknya di wilayah Tipes, lumayan jauh dari rumahku. Pertama kali aku mendengar nama warnet itu adalah di sebuah feature di Jawapos. Warnet Masxun yang berada satu halaman dengan sebuah kafe anak muda yang sempat menjadi lokasi acara Katakan Cinta di RCTI itu masuk Jawapos karena warnet tersebut pernah menjadi langganannya Imam Samudera. Aku tak tahu alasan kunyuk berjenggot itu memilih warnet tersebut dalam mengkoordinasi rencana-rencana biadabnya, yang jelas wilayah Tipes memang termasuk daerah Solo Utara yang relatif dekat dengan wilayah Ngruki, perkampungan Arab dan wilayah orang-orang aneh sejenisnya. Nama Masxun sendiri kurang jelas artinya, apa mungkin itu nama arab ataukah nama pemiliknya mas Kuncoro, aku belum dapat jawabannya. Warnet itu sebenarnya tergolong biasa saja, akses lumayan namun juga tidak cepat, komputer agak lama-lama, tapi ada lumayan banyak dan privasi bagus. Mungkin privasi itu yang dibutuhkan si bangsat dan teman-temannya itu, mengingat kata Jawapos ketika ngenet dia selalu membawa laptop sendiri.

Aku banyak mendengar bahwa warnet di Jogja aksesnya cepat-cepat dan murah, bahwa itu disebabkan karena kekreatifan mereka dan bahwa kecepatan akses itu juga ditentukan oleh peraturan daerah. Ketika ke Jogja untuk melihat acara musik di UPN beberapa waktu lalu, untuk pertama kalinya aku coba mampir ke sebuah warnet untuk mengecek jadwal acara yang benar. Apes bener, warnet pertama yang kukunjungi yang kupilih karena nampaknya sedang sepi, ternyata ia memang sepi karena tidak laku. Membuka sebuah situs saja telah membuatku tidak betah. Setelah sekitar 5 menit aku tunggu tidak ada tanda-tanda ada halaman web yang tampak di monitor, akupun memutuskan pergi saja. Untunglah si penjaga (atau si pemilik?), seorang ibu-ibu berjilbab mengetahui bahwa aku sama sekali belum tersambung kemana-mana, biayapun digratiskan. Aku pindah di wilayah sekitar Gejayan dan menemukan sebuah warnet yang kotor namun ternyata aksesnya lumayan cepat, dan murah. Ada juga file-file MP3 yang membuatku ingin mengambilnya, namun aku urung, khawatir jika kondisi warnet yang kotor tersebut membuat hard disk nya juga banyak virus. Agak tidak nyambung bukan? Tapi itulah yang kupikirkan waktu itu dan bahkan setiap kali melihat komputer model lama seperti yang ada di rental-rental. Tua dan kotor sama dengan banyak virus. Warnet Jogja ketiga aku kunjungi awal bulan lalu, lumayan bersih namun tidak begitu cepat aksesnya, harganya biasa saja. Waktu itu sempat dengar juga dari Astrid bahwa ada warnet di Jogja yang bisa download (atau upload?) 1 GB (atau 1 MB?) hanya dalam satu menit! Sungguh sampai kini aku masih agak susah mempercayainya meski ngapain juga dia bohong. Sayang aku belum sempat berkunjung ke warnet tersebut waktu itu, mungkin lain kali kalau ke Jogja lagi aku pasti akan mengagendakan ke sana.

Kecepatan akses, privasi, pelayanan dan keramahan, kondisi komputer, kebersihan lokasi, harga, jumlah komputer sudah banyak kubahas. Dan terakhir ada satu lagi yang sangat menggodaku namun juga selalu dengan mudah bisa kutangkis godaannya itu. Itu adalah makanan dan minuman yang dijual di warnet. Walau bisa berjam-jam bahkan hampir seharian duduk di depan komputer warnet, aku terbilang cukup jarang membeli minuman atau makanan di warnet, meski juga selalu ingin. Biasanya aku cenderung baru akan membeli jika bersama teman. Paling tidak minuman. Di warnet Kebun Bibit barangkali yang paling sering, disana selain minuman (fruit tea atau teh botol) aku juga sering beli rokok yang juga dijual eceran. Atau mungkin demikianlah hubungannya, aku memang tak akan tahan jika merokok tanpa diselingi minum. Roti-roti basah yang dijual di warnet, bagaimanapun biasanya memang enak-enak, tapi tak begitu murah. Roti-roti isi pisang, coklat, nanas dsb. itu biasanya baru akan kubeli saat perut memang sudah tak bisa kompromi lagi, dan jika sudah beli roti pastilah beli minuman juga. Hanya sudah semakin jarang, apalagi di Solo ini aku makan dan minum sambil ngenet. Rasanya sayang karena harga satu buah roti bisa dipakai untuk akses setengah sampai satu jam.

Demikianlah panjang lebar soal warnet yang pernah kukunjungi. Heran juga kenapa aku bisa menulis sepanjang ini soal warnet, bahkan sebenarnya aku rasa semua ini masih belum cukup untuk menuangkan semua yang kupikirkan tentang warnet. Boleh jadi ini juga ada hubungannya dengan pengaruh warnet (internet), yakni komunikasi ku yang semakin hari semakin menjadi non-verbal. Kenapa aku malah merasa ini akan agak menakutkan jika benar?

2 Responses to “Warnet”

  1. # Anonymous Anonim

    keren juga penjelesannya tentang warnet2 yang telah sampeyan kujungi,. jadi ingin ngomentari ttg kejadian di yahoo tadi. karena sampeyan cuma ngeliat dari sisi custumer saja. coba kita liat dari sisi si penjaga warnet alias operator warnet. saat keadaan diluar kendali, dan benar2 bukan suatu kesengajaan. kaya saat listrik mati, data hilang, tetep harus bayar lagi. pas kejadian di surabaya dengan tokoh teman anda digratiskan biayanya. mungkin yang menggratiskan yang punya. lha nek yang di yahoo tadi, yang saya yakin cm pekerja upahan. bisa apa dia selain meminta maaf. mungkin si operator juga bingung harus gimana. kalo data bisa diselamatkan, billing bisa di nol kan lagi, tanpa ketahuan sang pemilik. saya yakin, si operator lebih memilih menggratiskan, dan menyelamatkan data daripada diomelin mbak2 yang gak pengertian seperti yang di yahoo tadi. mbok ya pada saling berempati gitu loh,. tapi sebenernya saya punya usul, seharusnya saat listrik tiba2 mati kaya gitu, untuk mengurangi kekecewaan customer, lebih baik, biaya hanya dibebankan sebanyak 50% saja. gimana? hehe,.  

  2. # Anonymous Anonim

    Yang ngerasa dah bosen karena koneksi inet lambat, entah di warnet, mau pake spidi, xl gprs, dialup, dll. ga usah khawatir kena serangan jantung dan tekanan darah tinggi lagi (karena stress). Unduh madeFaster aja disini : http://www.ziddu.com/download.php?uid=bbKflpWtcK6bmJittayZlJyiZ66WlZyr7

    Dijamin deh, ga bakalan lemot lagi. Itu trial. Yang tertarik beli, silakan klik http://toserba.indo.cc
    or email me : cybertech_kbm@yahoo.co.id

    COBA DULU, BARU KOMEN  

Poskan Komentar


Web This Blog


XML

Powered by Blogger

make money online blogger templates




Free chat widget @ ShoutMix

Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign
Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign!



© 2006 perjalanan lalat hijau | Blogger Templates by GeckoandFly.
blog ini berisi catatan, kenangan, keluhan, caci maki, khayalan, pengakuan, tiruan, dan hasil kopi paste
blog ini tidak ada hubungannya dengan lalatx atau padepokan silat tertentu, pengelola sebenarnya tidak suka warna ijo!