perjalanan lalat hijau

LALAT HIJAU, sebuah catatan perjalanan untuk beberapa waktunya ke depan


Catatan Nyaris Seminggu #1


solo balapan
Originally uploaded by lalat hijau.

Balapan, 15 Desember 2006, sekitar 16.40

Cuaca mendung, pemandangan rutin seperti beberapa sore terakhir ini. Stasiun juga nampak sepi, apakah itu yang membuat harga tiket diturunkan sepuluh ribu. Kondisi sepi dalam hal kuantitas jumlah manusia itulah yang membuat barang-barang paketan yang akan dikirim terlihat banyak. Baik motor atau bungkusan, rata-rata dibungkus dalam karung atau kertas dan dus berwarna coklat.

Di dekat pintu masuk, seorang pria duduk di belakang meja dimana ada banyak tumpukan bakpia pathuk dalam dus-dus kecil dan makanan sejenis. Mungkin ia adalah penjualnya. Sedari tadi ia terus memainkan ukulele nya, menyanyikan lagu-lagu sedih meski liriknya kurang aku perhatikan. Seorang ibu penjual inthip menyapanya sambil menyinggung soal dagangan yang tidak laku.

Perasaan bahwa aku telah melupakan sesuatu masih selalu menghantui setiap menjelang melakukan perjalanan ke satu tempat. Jika percaya pada bualan tentang filsafat pelancong, hal itu disebabkan karena bagian-bagian jiwa yang telah kutinggalkan di berbagai tempat dan benda di Solo ini saat itu sedang memanggil dan membujukku agar tidak pergi. Mereka pun menciptakan perasaan bahwa aku lupa membawa sesuatu yang penting sehingga harus kembali pulang. Tapi jangan percaya pada bualan bikinan sendiri.

Di depan terlihat para kuli angkut yang keleleran, berbaring di lantai, main kartu atau ngobrol saja bersama dengan para tukang becak dan sopir ojek. Beberapa kali sejak di depan tadi, aku juga beberapa kali merasa mengenal satu sosok yang ada di dekatku, padahal ia bukan orang yang aku kira. Perasaan yang berulang setiap berada di stasiun atau pangkalan travel. Nampaknya memang akan lebih enak jika bisa melakukan perjalanan bersama orang yang kita kenal yang tak disangka akan bertemu. Namun, di beberapa kesempatan, jika memang ada seseorang yang benar-benar pernah cukup familiar denganku, terutama di masa lalu (misalnya teman sekolah) aku malah sering tidak berbuat apa-apa, bahkan menghindar untuk bertatapan dengan mereka. Masalahnya karena lebih sering wajah-wajah yang familiar itu juga bukan orang yang dekat atau akrab denganku di masa lalu. Hanya familiar saja.

Kereta nampaknya tidak begitu tepat waktu. Aku putuskan daripada menyesal aku membeli dulu sebuah pulpen sekedar untuk jaga-jaga agar tidak putus catatan ini. Kereta pertama lewat, tidak berhenti, hanya lewat saja. Lihat-lihat sebentar di kios yang menjual pulpen, beberapa novel picisan (belakangan baru kutahu bahasa Inggrisnya pulp fiction) sempat menarik perhatian meski aku berusaha tidak menunjukkannya terang-terangan. Fredy.S, Mira Asmara, serta nama-nama samaran lainnya (nama Mahardhika Asmara tentu juga tak kalah cocok kalau dipasang di buku-buku soal petualangan cinta, seks dan mistik itu), aku membayangkan bagaimana kira-kira wujud para penulis cerita itu, bagaimana mereka menulis dan bagaimana penerbitannya. Mungkin mereka malah menerbitkan sendiri. Mungkin para penulis cerita itu sudah tua atau malah sudah mati. Bagaimana pula dengan distribusi dan cara mereka mendapat uang? Sayangnya, aku terlalu gengsi untuk membeli barang sebuah saja. Hujan turun, namun tak begitu deras dan sebentar saja.

Mendadak aku jadi ingat dengan bagian terakhir novel seorang teman yang di buku yang kubeli di obralan, halamannya hilang, sehingga harus kubaca di Gramedia. Apakah aku yang memang tak pernah beruntung atau penulisnya hanya berimajinasi saja. Soalnya selama pengalamanku naik kereta, tak pernah rasanya aku duduk bersebelahan dengan seorang perempuan yang menarik seperti di novel itu. Tentu aku sangat mengharapkannya. Atau mungkin Sancaka kelas bisnis saja yang memang garing. Kereta kedua datang, masih bukan kereta yang kutunggu. Mesinnya sangat berisik ditambah masinisnya membunyikan klakson (?)nya berulang-ulang, sangat keras. Lamunanku buyar lagi.

Kereta itu telah lewat. Aku kembali mengamati sekeliling. Bilboard-bilboard yang kecil maupun besar, spanduk-spanduk iklan baik yang lokal atau nasional atau dari pemerintah terlihat banyak sekali. Bagaimana jika semua itu tak ada? Apakah stasiun ini terlihat sepi? Apakah stasiun di luar negeri juga banyak iklannya seperti ini? Aku merasa itu pertanyaan kecil yang klise.

Duduk di batangan besi dekat jalur lintasan, seorang pemuda bersila di dekatku. Kemudian aku sadar bahwa aku cukup mengenali wajahnya. Tidak, ia bukan temanku di masa lalu. Namun aku pernah mencoba membuat sebuah cerita setelah melihat dia. Jika aku ahli kejiwaan mungkin aku sudah bisa menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan kondisinya ketimbang menyebutnya ‘gila’ saja. Pemuda itu sudah lama tidak kujumpai. Kini ia nampak lebih dewasa, lebih bersih meski mungkin itu karena potongan rambutnya yang nampaknya habis dipangkas, selain itu sebuah borok di dekat matanya membuatnya terlihat agak kumuh.

0 Responses to “Catatan Nyaris Seminggu #1”

Posting Komentar


Web This Blog


XML

Powered by Blogger

make money online blogger templates




Free chat widget @ ShoutMix

Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign
Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign!



© 2006 perjalanan lalat hijau | Blogger Templates by GeckoandFly.
blog ini berisi catatan, kenangan, keluhan, caci maki, khayalan, pengakuan, tiruan, dan hasil kopi paste
blog ini tidak ada hubungannya dengan lalatx atau padepokan silat tertentu, pengelola sebenarnya tidak suka warna ijo!