perjalanan lalat hijau

LALAT HIJAU, sebuah catatan perjalanan untuk beberapa waktunya ke depan


Turis di (hanya) Surabaya

Kunjunganku ke Surabaya kali memang membuatku dalam keadaan serupa komputer yang habis dilakukan disk clean up. Sepengertianku, setelah dilakukan disk clean up, berkas-berkas kegiatan yang menempel tanpa kita sadari, sebagai konsekuensi dari aktifitas yang kita lakukan (tapi belum tentu pula tidak kita sukai) akan bersih. Inilah kunjungan pertamaku ke Surabaya tahun ini, dan baru pertama kali pula ditempuh dengan mobil, dengan keluarga pula. Meski banyak yang serba pertama kali dilakukan, sesungguhnya aku tak begitu bersemangat menyambutnya. Salah satu alasannya adalah capek. Tiga akhir pekan berurutan dihabiskan ke luar kota, meski yang satu (Jogja) tidak sampai menginap atau mengambil cuti. Namun sisi menyenangkannya adalah aku bisa mengambil cuti, tidak usah menghabiskan seharian di kantor yang aku harap dapat kutinggalkan sesegera mungkin. Jadi, sewaktu berangkat, aku berusaha menyumpal pikiranku dengan bayangan-bayangan optimis; bahwa aku nanti bisa punya kesempatan mengunjungi kawan-kawan, bahwa waktu jalan-jalan nanti aku bisa bertemu kawan atau seseorang yang lainnya. Aku membayangkan masih ada shortcut-shortcut dan masih ada data recovery yang bisa aku buka langsung setelah tiba di sana.

Ternyata tidak ada yang jadi. Kali ini seseorang ternyata sudah menghapus semua personal history list, juga shortcut-shortcut sedangkan kendali atas mouse atau keyboard juga tidak pernah mampir ke tanganku. Aku hanya navigator yang duduk di samping mereka yang tak sabar ingin menggunakan fasilitas yang ada. Lagi-lagi kelemahanku dalam hal relasi antara sikap dan mood masih mengganggu. Moodku langsung anjlok saat harapan tak kesampaian atau malah sama sekali berlawanan. Apalagi kalau semua hal yang terjadi juga di luar perkiraan, plan A, B, C dst tak ada yang bisa dijalankan.

Makin jelas bagiku bahwa Surabaya sudah makin menjauh. Kota itu makin tak bisa aku katakan sebagai milikku lagi. Ya sudahlah. Aku harus mulai menerima keberadaanku sebagai turis domestik saja. Kelebihanku cuma masih lumayan hapal arah jalan.

MENJADI NAVIGATOR

Masalah pengenalan arah jalan ini memang salah satu beban tersendiri. Di luar perkiraan, ternyata selain aku, semua yang ada di mobil itu benar-benar tidak tahu jalan. Ini harusnya bukan hal aneh, hanya aku saja yang baru menyadarinya. Aku baru sadar jika ini adalah benar-benar perjalanan yang berbeda. Sekali lagi, aku masih bukan navigator yang cukup baik, apalagi untuk mengarahkan mobil (kendaraan yang tak kukuasai) dan menyesuaikan dengan peraturan lalu lintas. Seperti pengalaman sebelumnya -- waktu mengarahkan teman-teman yang berkunjung ke Solo -- kali ini aku juga masih gagap di rute pertama. Walau rute-rute selanjutnya cukup lancar.

Yang agak mengesalkanku mungkin permintaan navigasi arah selain di jalanan. Memang dibanding yang lain, aku tentu yang paling sering datang ke tempat-tempat seperti TP, PTC, Atum (ya itulah pilihan tempat-tempat kunjungan kali ini), namun tempat-tempat itu bukanlah yang sering kukunjungi selama 6 tahun. Tempat-tempat itu masih selalu menimbulkan semacam perasaan canggung dan asing, sama halnya kalau aku ke SGM. Aku tak tahu, mungkin karena licin ubinnya, karena pendingin ruangannya, karena suara-suaranya, karena aromanya, karena wujud, bentuk dan perilaku orang-orangnya, entahlah. Alasan kenapa aku agak kesal adalah karena aku rasa, tempat-tempat di atas sudah cukup banyak rambu-rambu dan penunjuk jalan yang bisa mengarahkan orang yang baru pertama kali datang sekalipun ke tempat yang mereka inginkan. Atau jika tidak, tentu kita semua punya naluri kan? Hanya anak kecil yang bisa tersesat di mal. Apalagi desain arsitektur mal atau pusat perbelanjaan aku rasa tidak terlalu beda satu dengan yang lainnya. Food court selalu di atas, toilet dan pintu ke parkiran basement selalu sembunyi di pinggir, dll.

MENJADI TURIS

Menjadi turis ternyata bukan hal yang terlalu menyenangkan. Dengan menjadi turis, kita memang lebih banyak melihat hal menyenangkan.. tapi itu bukan kenyataan. Kota yang gemerlap, kata-kata ramah, dan banyak permakluman? Mengingat ini bukan kunjungan pertama bagi semuanya (dua yang lain selain aku bahkan pernah tinggal cukup lama di Surabaya), jadi memang tidak seekstrim itu sih, tapi tetap saja realitas tidak bisa dinilai dalam jangka waktu singkat. Tapi siapa tahu juga, setelah hampir dua tahun ini absen mengikuti perkembangannya, bahkan aku pun mungkin sudah tidak bisa mengklaim kenal Surabaya lagi. Aku tetap sudah masuk kategori turis.

Bagi turis, jalan kaki mungkin adalah satu ciri khasnya. Benar, banyak juga penduduk asli yang kemana-mana jalan kaki, cuma ini memang bukan usaha mengkontradiksikan sesuatu. Hanya pernyataan satu arah saja. Aku tak tahu berapa kilometer yang ditempuh kakiku ini selama di Surabaya kemarin (juga selama di Jakarta minggu sebelumnya). Barangkali kegiatan itu menyehatkan, tapi banyak berjalan kaki sama sekali bukan hal yang menyenangkan untuk dilakukan di tempat yang sudah dikenal (beda dengan kegiatanku berjalan kaki, berputar-putar tak karuan dan sampai hampir tersesat di Jakarta). Kalau di Surabaya ini, yang tersisa tak lebih dari capek.

Ciri khas umum kedua dari turis mungkin adalah konsumsi. Beli, beli, beli, dan pertukaran uang terjadi begitu cepat. Sekali lagi, ketidaknyamananku melihat kegiatan konsumtif ibu dan kakak-kakakku lagi-lagi karena aku masih juga belum sadar kalau aku ini turis di Surabaya.

Tinggal di penginapan juga membawa kesan tersendiri. Di batinku, hal itu masih agak aneh. Di depan aku lihat jalan dan bangunan-bangunan yang masih sangat aku akrabi, namun saat berbalik badan, justru kamar tidurnya yang asing. Waktu berangkat aku sempat punya harapan bisa bermalam di rumah teman, paling tidak satu malam saja. Nyatanya, mengunjungi pun aku tak sempat. Sekali lagi, kini aku sudah mulai bisa memakluminya. Aku hampir sudah tak punya apapun yang menunjukkan berkas keberadaanku di kota itu.

SENDIRI

Saat semua sedang sibuk berbelanja di satu outlet, biasanya aku memilih menunggu atau jalan-jalan di luar. Tentu tidak bisa jauh-jauh karena susah juga kalau terpisah. Di depan aku berharap bisa bertemu seseorang, yang tidak begitu spesial pun tak apalah. Entah pada kemana orang-orang yang aku kenal waktu itu. Jadinya tiga hari aku cuma sempat bertemu dua wajah adik kelas yang aku tahu tapi sama sekali tidak kenal, selain juga tidak istimewa dan tidak ada menariknya, bahkan salah satunya termasuk wajah yang tidak aku harapkan akan lihat.

Yang ada malah kejadian kurang ajar. Saat aku sedang berjalan-jalan sendiri di lorong Ps Atum, menunggu yang lain belanja, tiba-tiba ada seseorang datang, "Ko mau brosur?" sambil menyodorkan sepotong kertas. Spontan aku terima, dia langsung pergi, ternyata kertas kecil itu isinya iklan "Cupid Club, khusus untuk eksekutif muda usia 20-40 tahun, Jalan Diponegoro..." Sialan, batinku. Apa mungkin berjalan sendirian itu keadaan yang sudah dipandang menyedihkan? Tapi apa sisi positifnya dari kejadian itu adalah bahwa penampilanku sekarang sudah seperti eksekutif muda? Mungkin karena kacamata ini? Atau wajah yang menua? Ini juga terjadi waktu di TP. Kali ini ada penjaga stan alat pijat menawariku. Padahal dulu, sangat jarang SPG atau pembagi brosur apapun yang menawariku apa-apa. Aku menebak itu karena penampilanku tidak seperti calon pembeli potensial. Ketidakberminatan mereka memang kusyukuri, namun ada saatnya aku juga ingin menjadi sedikit 'superior' kalau bisa punya kesempatan menolak tawaran mereka. Sedang di lain kesempatan, kalau kebetulan SPG nya cantik, ketidak berminatan mereka jelas membuatku merasa kesal.

Apakah aku tak suka dengan perjalanan ke Surabaya kemarin? Hmm, sebenarnya aku cukup senang (senang beda dengan suka) bisa mengunjungi dan melihat lagi kota yang kata seorang kawan 'industrialis, pas-pasan, dan ndeso' itu. Hanya saja karena banyak harapan (bukan rencana) yang tak terjadi, aku jadi cukup sedih. Kalau menyebut Surabaya, yang ada di pikiran bukanlah kota, bangunan, makanan atau benda-benda lainnya, tapi orang-orangnya, aku pikir itu pasti juga yang ada di benak banyak orang yang pernah tinggal lumayan lama di satu tempat. Ini juga alasan kenapa untuk beberapa alasan sepertinya aku lebih menikmati duduk di bangku belakang mobil dari Solo-Krian (karena mulai dari Krian inilah navigasiku mulai dibutuhkan) dan dari Sepanjang-Solo, melihat gelap di luar yang bercampur lampu-lampu dengan earphone menyalurkan ke telingaku suara cantik berbisik milik Siobhan De Mare (Mono) dan puluhan artis lainnya. Katarsis yang terasa sejuk di tengah kecewa dan kerinduan.

0 Responses to “Turis di (hanya) Surabaya”

Posting Komentar


Web This Blog


XML

Powered by Blogger

make money online blogger templates




Free chat widget @ ShoutMix

Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign
Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign!



© 2006 perjalanan lalat hijau | Blogger Templates by GeckoandFly.
blog ini berisi catatan, kenangan, keluhan, caci maki, khayalan, pengakuan, tiruan, dan hasil kopi paste
blog ini tidak ada hubungannya dengan lalatx atau padepokan silat tertentu, pengelola sebenarnya tidak suka warna ijo!