perjalanan lalat hijau

LALAT HIJAU, sebuah catatan perjalanan untuk beberapa waktunya ke depan


Bapak Penunggu Jam

Saya sudah lama ingin membahas hal ini. Setidaknya setiap pagi saat saya berangkat kantor dan melihat orang itu, keinginan menuliskan hal ini selalu muncul. Di jalan Gejayan, tepatnya berseberangan dengan minimarket Circle K, setiap pagi seorang bapak selalu duduk di atas sepeda motor Yamaha tuanya. Saya tidak tahu apa yang ia kerjakan, semula saya mengira ia membuka jasa tambal ban, namun selama berbulan-bulan saya lewat di depan situ, saya tidak pernah sama sekali melihatnya menambal ban motor satupun. Yang jelas, satu hal yang mencolok dari kehadirannya adalah adanya sebuah jam dinding. Tentu saja, untuk saya yang sering berangkat kerja dengan dibayangi ketakutan terlambat, kehadiran jam dinding itu sangat membantu untuk memutuskan, apakah saya harus lebih kencang memacu motor atau cukup santai-santai saja, untuk kemudian mampir membeli gorengan dulu, membeli kopi sachetan dulu, atau sekadar tidak perlu berusaha menyalip dengan tajam mobil bapak komisaris direktur yang sering kali juga hampir terlambat seperti saya.

Bapak ini tidak datang pada hari Minggu atau hari libur. Ia juga hanya ada di situ pada pagi hari entah sampai jam berapa. Yang ia bawa selain sepeda motor adalah sebuah tas kumal, mungkin untuk mewadahi jam dinding tersebut. Kadang memang saya melihat ada orang lain di sana yang bercakap-cakap dengannya, kadang orang itu juga mengutak-atik jam dinding itu, mungkin memastikan waktunya sudah benar. Beberapa bulan pertama saya bekerja di kantor yang sekarang, jam dinding itu selalu sama, berbentuk bundar berwarna putih dengan tidak banyak hiasan atau logo-logo mencolok yang sering kali malah membuat kita kesulitan melihat di mana jarumnya. Entah karena bentuknya yang bundar atau latarnya yang polos, jam itu bagi saya terkesan sporty, dinamis dan bisa dipasang di bank atau ruang tunggu dokter. Namun, setidaknya sebulan dua bulan terakhir ini jam yang ia bawa kadang berbeda-beda, ada kalanya berbentuk kotak segi delapan berwarna kuning. Jam yang terkesan lebih resmi sekaligus murahan, membuat saya membayangkan jam itu dipasang di dinding rumah seorang lurah di desa kecil yang biasa dipakai tempat KKN. Kadang juga jam lain yang saya lupa bentuknya.

Makin sering saya melewati jalan itu tiap pagi, saya makin penasaran apa yang sebenarnya dikerjakan bapak itu di sana. Apakah mungkin hanya itu yang dilakukannya, membantu orang-orang, para pekerja, dan mahasiswa yang terburu-buru karena akan terlambat agar tahu waktu? Saya curiga jika memang itu yang ia lakukan. Lalu, dari mana ia mendapatkan gagasan seperti itu? Ini memang makin menambah kesan keunikan kota ini untuk saya. Banyak orang yang ‘aneh-aneh’, yang memang aneh atau ingin menjadi aneh di samping tetap banyak yang takut dibilang aneh seperti umumnya.

Makin lama saya pun berpikir bahwa mungkin kegiatan seperti itu juga dapat menimbulkan kepuasan tersendiri bagi bapak itu. Bayangkan kamu menjadi penentu waktu. Bayangkan kamu memperoleh kesempatan untuk menjadi satu-satunya orang yang memiliki sesuatu yang dibutuhkan banyak orang lain. Paling tidak untuk mereka yang tidak memakai arloji atau tidak naik mobil yang ada jamnya, bapak itu memang akan seperti sang waktu itu sendiri. Mungkinkah bapak itu sendiri menyadari posisinya sehingga beberapa kali ia mungkin mencoba agak ‘main-main’ karena beberapa kali saya mendapati jam itu sama sekali tidak tepat (terlambat sekitar 10-15 menit). Bayangkan apa yang terjadi jika ada orang yang sudah terbiasa mempercayai jam yang dibawa bapak itu. Mungkin saja jika tempat tinggal saya jauh dari situ atau keterlambatan jam itu hanya 5 menit saja, saya tentu juga akan pernah menjadi korbannya. Tentunya saya juga tidak akan dapat menyalahkan bapak itu karena ia tidak punya kewajiban untuk melakukan hal itu. Salah sendiri percaya. Hm, bapak itu mungkin sedang mengajarkan sesuatu, bapak itu mungkin tidak memiliki tujuan apa-apa, atau bapak itu mungkin sebenarnya tidak ada, mungkin ia hanya bayangan saya saja. Meski tiap hari melihatnya, saya sendiri sekarang lupa wajah bapak itu karena yang saya perhatikan dalam sekian detik itu hanya jam yang ia bawa saja. Akan sangat menarik jika ternyata dia memang tidak pernah ada. Dan karena saya belum memiliki kamera, bagi yang membaca tulisan ini tapi belum pernah melewati jalan Gejayan di pagi hari, memang tidak ada bukti yang dapat menunjukkan bahwa bapak itu memang ada dan bukan imajinasi saya saja.

Label: , ,

3 Responses to “Bapak Penunggu Jam”

  1. # Anonymous mina

    jam berapa sampai jam berapa dia di sana ry? jadi tertarik juga pengen lihat. rata2 orang sekarang gak punya arloji karena mengandalkan jam di hape.

    jangan2 tu orang jualan jam dinding?  

  2. # Blogger Die Seite 13

    that's what i think also...kale dia jualan jam???  

  3. # Blogger ary

    kalo dia jualan jam brarti dia jualan jam bekas dan ga laku dong. jamnya lebih sering sudah agak butut dan pergantiannya juga lama. lagipula dia ga keliatan bawa barang banyak tuh. hayoo.. eh na, dia nongkrong disana biasanya pagi sih, aku pulang jam 3an sudah ga ada.  

Poskan Komentar


Web This Blog


XML

Powered by Blogger

make money online blogger templates




Free chat widget @ ShoutMix

Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign
Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign!



© 2006 perjalanan lalat hijau | Blogger Templates by GeckoandFly.
blog ini berisi catatan, kenangan, keluhan, caci maki, khayalan, pengakuan, tiruan, dan hasil kopi paste
blog ini tidak ada hubungannya dengan lalatx atau padepokan silat tertentu, pengelola sebenarnya tidak suka warna ijo!