perjalanan lalat hijau

LALAT HIJAU, sebuah catatan perjalanan untuk beberapa waktunya ke depan


RocknRolla vs Inglourious Basterds

Sebelumnya saya mau ngomel-ngomel dulu. Saya sudah makin jarang nonton film, apalagi film-film aneh. Sekarang, selain tidak punya referensi untuk film-film seperti itu, saya juga paling hanya bisa menyewa film-film Hollywood di rental VCD original seperti Movietime, Ezzy, dan sejenisnya. Kadang memang ada yang bagus, tapi toh tetap saja cenderung telat, sudah disensor, dan tidak semua film ada. Rental DVD bajakan? Di kota ini setahu saya hanya satu. Itupun sekarang makin parah karena yang disewakan lebih banyak DVD film seri dan film-film semi. Kemarin coba melihat-lihat sepertinya rental itu sudah tidak niat lagi menyewakan film-film terbaru. Yang penting laku, mungkin begitu pikiran mereka. Dan yang laku sepertinya adalah film-film Asia atau film semi. Atau mungkin karena akses ke film-film bajakan yang bagus makin berkurang sehingga mereka koleksi mereka seakan terhenti begitu saja. Memang, sekarang selain rental juga ada cara lain: download. Nah, untuk yang ini saya masih belum pernah mencoba. Paling-paling saya hanya mengopi koleksi seorang teman yang mau berbaik hati menshare file film hasil unduhannya di kantor. Tapi, karena selera beda, jadinya saya kadang-kadang saja mengopinya.
Dua film berikut adalah dua film yang didapat dengan cara berbeda yang saya pikir mungkin juga memengaruhi isinya (maksudnya, yang satu sudah melalui gunting sensor sedangkan yang lain tidak). Film pertama adalah Rocknrolla, saya dapat dari menyewa di sebuah rental VCD ori. Yang kedua, Inglourious Basterds adalah film yang saya kopi dari teman saya tadi yang dia dapat dari mendownload di internet. Yang kedua ini tentu saja bebas sensor (saya kira). Satu hal yang membuat saya tertarik pada kedua film ini tentu saja adalah karena sutradaranya. Keduanya, meski pernah membikin film yang serupa, tapi film-film masterpiece mereka sama bagusnya. Sutradara pertama berasal dari Inggris, mantan suami dari seorang penyanyi paling terkenal di dunia, Madonna. Dia Guy Ritchie, sangat dikenal oleh karya monumentalnya, Lock Stock and Two Smoking Barrels dan Snatch. Keduanya sudah pernah saya tonton. Sutradara kedua saya pikir lebih terkenal lagi di sini karena dia berasal dari Amerika. Quentin Tarantino yang selalu dihubungkan dengan karyanya, Pulp Fiction, selain juga beberapa lainnya seperti Reservoir Dogs, Kill Bill (vol 1&2), dan ikut berperan juga dalam Sin City serta Natural Born Killers. Kecuali Sin City, semua film di atas sudah pernah saya tonton. Memang, ada beberapa lagi film terkenal dari kedua sutradara itu. Guy Ritchie setidaknya pernah membuat beberapa film yang berbeda dengan jenis Lock Stock. Kemarin saya lihat di rental tapi saya lupa judulnya, sedangkan yang satu adalah Swept Away yang dibintangi istrinya sendiri waktu itu, Madonna, dan disebut gagal. Sedangkan Tarantino juga pernah membuat beberapa film lagi yang saya juga lupa. Tapi, kedua nama itu tetap tidak bisa dilepaskan dari dua karya utama mereka, Lock Stock and Two Smoking Barrels serta Pulp Fiction.
Nah, kalau tidak salah, Rocknrolla dan Inglourious Basterds adalah dua karya terbaru mereka, yang juga sangat khas mereka (kalau tidak bisa dibilang repetisi yang mungkin tidak selalu mereka harapkan tapi toh diharapkan penonton, termasuk saya). Saya tidak akan membandingkan keduanya. Saya juga belum jelas ingin menyampaikan apa tentang kedua film ini. Tapi, saya hanya ingin menulis kesan saya saja.
ROCKNROLLA
Rocknrolla adalah film yang serupa dengan Lock Stock dan Snatch. Berkisah tentang dunia mafia di Inggris. Tentang dunia gangster besar dan kecil. Pertikaiannya adalah tentang dua kubu besar, gangster Inggris dan mafia Russia. Mafia Russia yang sangat jelas diilhami dari sosok Roman Abramovich, taipan minyak yang memiliki klub sepakbola Chelsea FC, ingin membangun bisnisnya di Inggris. Namun mereka terhambat birokrasi. Maka, adalah gangster Inggris yang juga punya kekuasaan terhadap para pejabat negara itu yang mereka manfaatkan jasanya. Semestinya tidak ada yang bermasalah. Hanya saja ada pelanduk yang masuk ke dalam hubungan dua gajah itu. Seorang wanita, istri pengacara yang terlibat dalam pengaturan bisnis si Russia itu (wanita ini juga membuat si mafia Russia jatuh hati bahkan kemudian ingin melamarnya), mengetahui rencana tersebut dan memanfaatkan informasi yang ia dapat. Ia memakai jasa kelompok bandit kelas teri untuk merampok uang si Russia yang sedianya akan digunakan untuk membayar si gangster Inggris. Dua kali aksi itu berhasil dilakukan. Si Russia mulai curiga dengan si Inggris. Sementara si Inggris ternyata juga kebingungan setelah lukisan kesayaangan si Russia yang dipinjamkan kepadanya ternyata hilang dicuri putranya sendiri yang sangat ia benci. Tokoh putra si gangster Inggris yang juga adalah seorang penyanyi rock itu kemudian mulai masuk.
Maka, ada beberapa kubu di sini. Ada mafia internasional Russia. Ada gangster penguasa Inggris. Ada kelompok bandit. Ada si femme fatale. Ada rocker yang dihormati di kalangan junkies. Dan seperti tampak dalam film Snatch dan Lock Stock, endingnya pun sama. Si pelanduk yang selamat saat si gajah saling bunuh. Dengan beberapa kelucuan gaya Inggris, yang kali ini antara lain tentang isu gay. Film ini memang pengulangan, tapi ceritanya juga tetap menarik bagi saya. Selain tema dan alur cerita, pengulangan eh ciri khas yang juga dipakai antara lain: narasi di awal cerita, tokoh kepercayaan para bos yang digambarkan sangat tangguh, berbagai macam penyiksaan yang aneh (di Lock Stock ada yang dimakan babi, kini ada digigiti ketam sampai mati), budaya yang berbeda (dulu ada Yunani, Skotlandia, kini ada Russia), dan satu yang saya tunggu, lagu-lagu bagus. Kita bahas yang terakhir ini sebentar, soal lagu. Satu hal yang tetap menjadi nilai plus saya di film-film Ritchie adalah lagu-lagunya. Lagunya band-band dan penyanyi Inggris. Tapi, dari segi genre selalu ada berikut ini: kalau tidak punk era 70an, reaggae, soul, juga instrumental dengan alat musik petik (entah apa itu namanya).
INGLORIOUS BASTERDS
Quentin Tarantino memang pecinta kekerasan. Dalam film berlatarbelakang perang dunia II ini, adegan kekerasan meski tidak selalu ada, tapi kalau ada pun sadis. Tarantino mungkin saya pikir agak beruntung dibandingkan Ritchie. Setidaknya, saya lihat ia masih lebih bisa bebas berkreasi dan menikmati tanpa kritik penonton yang selalu menuntut ini itu. Apa mungkin Tarantino memang lebih kreatif dari Ritchie atau publik Amerika lebih terbuka dengan karya yang berbeda dari masterpiece seorang sutradaradi masa sebelumnya, atau karena penerimaan dunia atas film Amerika lebih terbuka daripada film produksi Inggris, saya tidak tahu yang mana. Oh ya, film Inglourious Basterds ini juga sedang (atau segera?) ditayangkan di bioskop Indonesia saat ini, hanya saja tidak terlalu terdengar gemanya, kalah dibandingkan 2012.
Mengenai cerita, film ini berkisah tentang satu pasukan anti Nazi yang disebut dengan nama Inglourious Basterds. Pasukan, atau laskar ini berisi personel-personel kejam yang meski kewarganegaraannya berbeda-beda (ada yang asal Amerika, ada yang dari Jerman, dan tentu saja ada yang etnis Yahudi), tapi punya kesamaan: sama-sama benci setengah mati dengan Nazi. Mereka sering menyergap pasukan Nazi untuk kemudian dibunuh dan disiksa habis-habisan. Dan bagi yang telah mati, kulit kepalanya dikerat dengan pisau. Mereka juga menyisakan satu anggota Nazi yang jidatnya kemudian ditoreh lambang swastika. Terang saja, tindakan ini membikin teror di kalangan anggota Nazi. Sementara di lain pihak, di pasukan Nazi, ada seorang jenderal mereka yang sangat kejam dan pintar. Kekejaman dan kepintaran si jenderal ini terus ditampilkan di 3/4 film sebelum kemudian tiba-tiba dia jadi sangat bodoh di akhir cerita. Memang agak ngedrop, tapi lumayanlah. Oh ya, tentu saja ceritanya juga bukan tentang dua kubu kuat ini saja. Di tengah-tengah mereka, ada tokoh seorang wanita Yahudi yang selamat dari sebuah pembantaian keluarganya oleh si jenderal Nazi cerdik tadi. Perempuan ini kemudian menyamar menjadi orang Perancis yang mengelola sebuah gedung bioskop. Puncaknya, ia kemudian mendapat kesempatan untuk balas dendam pada Nazi akibat seorang pahlawan perang Nazi yang juga membintangi sebuah film propaganda, yang jatuh cinta padanya. Dalam satu kesempatan launching film yang dihadiri keempat petinggi Nazi, termasuk Hitler dan Goebbels, ia merencanakan untuk membakar gedung yang dihadari ratusan petinggi Nazi itu. Tapi, ternyata kelompok inglourious basterd tanpa sepengetahuannya juga memiliki tujuan sama. Ingin memanfaatkan momen itu untuk menghabisi para petinggi Nazi. Sempat kedua rencana itu hampir gagal, tapi akhirnya berhasil meski banyak korban jatuh akibat kecelakaan-kecelakaan kecil.
Di sini, Inglourious Basterds lebih mirip filmnya Guy Ritchie, meski kejamnya tetap khas Tarantino. Yang jelas, Tarantino tampaknya suka dengan tema di mana tokoh-tokoh pembangkang yang hebat bersatu melawan tokoh hebat lainnya yang didukung organisasi kekuasaan yang rapi. Seperti cerita komik, sehingga kekejaman yang ditampilkan juga tidak membuat kita bergidik ngeri, tapi malah menganggapnya hal ringan. Itu tentunya tidak mudah, dibutuhkan kemampuan membangun cerita dan nuansa yang benar-benar membius untuk membuat penonton jadi seperti itu. Satu lagi yang agak membedakan antara Tarantino dan Ritchie adalah dalam hal selipan-selipan pengetahuan atau obrolan ringan tentang filosofi seni dalam film. Kalau dalam Reservoir Dogs kita dengar tentang pembahasan Madonna dan Like A Virgin. Dalam Kill Bill kita dengar pembicaraan tentang Superman dan Clark Kent. Di film ini, ada pembicaraan tentang film Eropa. Tapi, yang agak berbeda dalam film ini tampaknya adalah soundtrack yang kurang banyak, dan lebih banyak yang instrumental dengan (lagi-lagi) adalah karya Ennio Morricone.
BRAD PITT
Tarantino dan Ritchie memang jaminan, tapi dalam memilih film, saya juga makin percaya akan jaminan nama Brad Pitt. Meski sering disebut cowok manis, tapi film-film yang ia bintangi harus diakui memang bagus-bagus, bukan yang manis-manis. Seingat saya, pilihan film yang dibintangi suami Angelina Jolie ini makin keren saja. Kalau menyebut film yang pernah saya tonton tapi kurang saya suka mungkin hanya Mr and Mrs Smith. Film-film yang ia bintangi selain Inglourious Basterds yang pernah saya tonton rata-rata saya suka semuanya. Sebut saja, Snatch, Ocean Eleven sampai Thirteen, Twelve Monkeys, Burn After Reading, Se7en, Fight Club, Seven Years in Tibet, Babel, Curious Case of Benjamin Button, True Romance, dll. Memang setidaknya ada enam film Pitt lain yang belum pernah atau hanya pernah separuh saya tonton, yaitu: Legends of the Fall, Meet Joe Black, Interview with A Vampire, Troy, Assasination of Jesse James, dan The Mexican. Sebagian dari antaranya adalah film lawas. Tapi, andaikan keenamnya jelek pun, semestinya tidak akan membuat saya ragu dengan kapasitasnya. Tapi, kapan-kapan mungkin saya coba akan tonton film-film itu. Relatif jarang saya menjadikan bintang film sebagai alasan utama saya percaya pada kualitas sebuah film. Selain Pitt, mungkin hanya Audrey Tautou yang saya pakai referensi.
Itulah beberapa kesan saya tentang dua film yang saya tonton dua bulan ini. Dua film yang agak mirip, tapi tetap ada ciri khas kedua sutradaranya. Kalau dibandingkan, untuk soundtrack saya pilih Rocknrolla. Untuk penggarapan saya pilih Inglorious. Untuk akhir cerita saya pilih Rocknrolla. Untuk akting saya tidak bisa memilih, hmm mungkin lebih memilih Inglorious. Untuk karakter, saya pilih Inglorious. Untuk dibikin sekuel? Hmm.. mungkin Rocknrolla. Biar bisa sebosan-bosannya sama film Ritchie...

Label: , , , , , , ,

0 Responses to “RocknRolla vs Inglourious Basterds”

Poskan Komentar


Web This Blog


XML

Powered by Blogger

make money online blogger templates




Free chat widget @ ShoutMix

Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign
Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign!



© 2006 perjalanan lalat hijau | Blogger Templates by GeckoandFly.
blog ini berisi catatan, kenangan, keluhan, caci maki, khayalan, pengakuan, tiruan, dan hasil kopi paste
blog ini tidak ada hubungannya dengan lalatx atau padepokan silat tertentu, pengelola sebenarnya tidak suka warna ijo!