perjalanan lalat hijau

LALAT HIJAU, sebuah catatan perjalanan untuk beberapa waktunya ke depan


Jalan Raya Pos & Shadow Play

Siapa sangka ternyata film-film ini bisa lengkap ditemukan di Youtube!!!

Jalan Raya Pos
Jalan Raya Pos adalah film tentang jalan pos yang dibangun oleh Daendels pada awal abad 20. Kisah tentang jalan ini sudah ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer yang di film ini menjadi narator dengan cara membacakan tulisan di bukunya tersebut. Tapi, selain itu, film ini pada dasarnya mengangkat dua tema: kisah hidup keseharian seorang Pramoedya dan gambaran kehidupan rakyat di bawah Orde Baru. Gambar-gambar yang banyak bercerita sendiri tentang petani, buruh, eksekutif muda, orang desa yang terpaksa mencari makan di kota besar, militer, petugas layanan masyarakat, etnis-etnis, agama-agama, dan banyak lagi. Memang yang paling menjadi alasan saya mengumpulkan 40 video yang dipecah-pecah di Youtube ini adalah karena sosok Pram, tapi selain itu gambaran-gambaran kehidupan nyata dari manusia-manusia yang hidup dan mengais rezeki di sepanjang Jalan Raya Pos ini jelas sangat menarik. Berikut video pertamanya (video-video selanjutnya bisa disearch cukup dengan mengganti angkanya, dari 1 sampai 40):
Shadow Play
Untuk film ini, saya sudah pernah mendengarnya sewaktu masih kuliah. Saya bahkan hampir menontonnya seandainya saja pihak rektorat kampus memberikan izin untuk pemutaran film tersebut. Film berdurasi sekitar 1 jam yang mengangkat kisah korban genosida Orde Baru terhadap mereka yang dituduh orang komunis ini saya dengar beberapa tahun lalu juga pernah diputar di Gedung Cak Durasim Surabaya, tapi kemudian didatangi oleh FPI dan Forum Anti Komunis yang merampas VCDnya (tentu saja diberi yang kopian hahaha...). Nah, kini dengan bisa dinikmati di Youtube, mau apa itu para monyet bersorban. Mungkin mereka akan melapor ke Tifatul hehehe.. Padahal film dan tulisan seperti ini banyak sekali di Youtube atau internet. Tidak bisalah terus berusaha menyembunyikan kebusukannya, hai para penguasa negeri ini dan para begundalnya. Film ini juga saya rasa tidaklah memberikan info yang baru, sebenarnya. Ada banyak buku yang bahkan jauh lebih detail atau (kalau mau cari) provokatif dari film ini. Justru film ini adalah sebuah film yang menyedihkan tentang bagaimana orang-orang yang sudah tua itu tidak bisa membela diri hingga sekarang dan terpaksa menerima hidup yang begitu tidak adil, entah sampai kapan. Dan satu quotes paling saya suka di film ini adalah ini, "The army, they are very stupid.. they are very very stupid." :D Inilah cuplikannya (oya, yang ini cuma 9 klip aja kok):

Label: , , , , , , ,

Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...

Film-film yang Saya Tonton Bulan Ini

1. Mr. Nobody
Mirip dengan: The Science of Sleep, Run Lola Run, Total Recall, Titanic, Inception

Sebenarnya film ini lumayan juga. Hanya saja, ada beberapa hal yang agak mengganggu menurut saya. Yang pertama adalah pemilihan castingnya. Jared Leto, entah kenapa, saya rasa malah jadi seperti Clark Kent dengan dandanannya di film ini. Tampang culun, sangat penyabar, dan eh.. rasa-rasanya karakter dia kok tanpa cela gitu ya? Lalu, awalnya saya akui agak ragu apakah film ini bagus karena settingnya yang seperti film Total Recall. Ayolah, apa Anda-Anda yakin kalo di masa-masa tahun 2060-2070 atau 2050 ke atas pasti bumi akan jadi sedmikian bersih, serba computerized, banyak mobil terbang, hubungan antar manusia hilang, dll. Gambaran seperti itu rasanya hanya dimiliki film-film.. let's say selain Total Recall, ada juga Judge Dredd, Back to the Future, Doraemon hehe.. Cerita tentang orang tertua di dunia yang masih hidup rasanya tak terlalu menjanjikan. Tapi, setelah saya ikuti ya ternyata lumayan juga. Yang cukup menarik (mungkin karena saya setengah gak mudeng juga, biasa kan.. kalo kita tidak mudeng, lalu kita bilang aja bagus) adalah waktu penjelasan-penjelasan tentang waktu tadi. Lumayan menarik, saya pikir lebih menarik dari hal serupa yang diperagakan di Science of Sleep. Dan penjelasan-penjelasan itu memang adalah cara yang agak kasar untuk menjelaskan kepada penonton tentang sebenarnya film apa ini hahaha.. maklum entah durasi atau tuntutan biar filmnya masih bisa laku.
Kemudian, mulailah si pak tua itu menceritakan pengalamannya (makanya saya bilang mirip dengan Titanic) tentang mulai dari orang tuanya dan terutama kisah-kisah cintanya. Kisah-kisah? Ya, yang ini kita harus ingat Run Lola Run. Ada beberapa versi dari cerita pengalaman hidupnya. Semua diceritakan tapi tanpa diberitahu mana yang benar sampai-sampai si pewawancara jadi bingung. Tapi, menurut saya yang benar adalah cerita cinta dengan (mantan) saudara tirinya itu. Oya, pewawancara ini karakter yang menurut saya agak mengada-ada, apalagi lengkap dengan mesin "kuno"nya yaitu sebuah alat perekam yang katanya dipinjam dari museum kampus (buat apa? kenapa dia harus pake alat seperti itu untuk wawancara dengan manusia tertua yang lahir tahun 1976? entahlah..). Lalu, di akhir cerita juga ada agak-agak Inception begitu dengan dunia yang aneh, lalu si Mr. Nobody muda melihat video dirinya di masa depan. Hingga akhir cerita, jadi seperti Titanic lagi hehehe.. Nilai saya untuk film ini adalah dua setengah dari 5 bintang.

2. 21 Grams
Mirip dengan: Traffic, The Eye, Babel
Yang membuat saya memasukkan Traffic pada dasarnya hanya Benicio del Toro dan gambar-gambarnya yang menurut saya khas film Southern gitu deh. Sejujurnya, di awal (lagi-lagi) saya agak pesimis karena melihat setting filmnya kok di rumah sakit (ya, salah satu setting yang tidak terlalu saya suka adalah rumah sakit). Tapi, untungnya di awal-awal sudah diperlihatkan bahwa plot film ini akan diacak-acak. Ya, lagi-lagi cara seperti itu. Tapi toh saya masih cukup suka dengan film-film seperti itu kok. Saya rasa itu memang trik sutradara untuk membuat film yang sebenarnya membosankan agar jadi lebih menarik, meski kali ini masih belum sebagus Babel. Sean Penn lagi-lagi bermain dengan baik. Dia menjadi orang sakit jantung yang mendapat cangkok jantung seorang pria yang bersama dua putrinya mati akibat tabrak lari yang dilakukan seorang residivis yang sudah tobat (del Toro). Sebenarnya saya rasanya pernah menonton film yang ada karakternya mirip dengan yang dimainkan del Toro di film ini, tapi saya lupa. Pria yang ditabrak itu meninggalkan seorang istri. Sean Penn yang kembali tidak akur dengan mantan istrinya meski mereka juga hampir rujuk lagi, lalu ingin berterima kasih dengan si istri pria yang jantungnya ia pakai itu. Akhirnya mereka malah pacaran, dan si istri itu ingin balas dendam pada del Toro, meski yang terakhir ini sudah menyerahkan diri ke kantor polisi, dipenjara lagi, dan mulai kecewa dengan Tuhan dan agama Kristen yang sebelumnya ia anut secara ketat demi supaya ia tidak lagi terlibat masalah. Sean Penn ini pun setuju untuk membalas dendam dan ingin membunuh del Toro. Tapi, ternyata malah situasi jadi serba kacau. Untuk film ini, saya merasa castingnya cukup pas. Tapi, melihat karakter Sean Penn, yang jantungnya rusak di film ini, saya malah jadi pingin merokok lagi. Waduh. Nilai saya untuk film ini adalah 4 dari 5 bintang.

3. The American

Mirip dengan: James Bond, No Country for an Old Man, Jackal
James Bond yang manusiawi. Itulah deskripsi saya tentang film ini. Di awal film, nuansa James Bond memang lumayan terasa, setidanya menurut saya. Gambar pertama sudah menunjukkan karakter utama yang dimainkan George Clooney berduaan di pinggir tempat tidur dengan seorang gadis bugil. Sejujurnya, adegan pertama ini mirip dengan film murahan karena tidak ada dialog, terlalu lama, sementara si cewek cuma senyum-senyum, bisik-bisik dengan suaranya yang agak gede, dan Clooney juga tak menampakkan ekspresi jelas. Untung saya menonton film ini karena seorang teman bilang film ini bagus, jadi saya bisa abaikan adegan pertama itu. Lalu, mulai tembak-tembakan. Lalu, mulai telpon-telponan dengan "bos"nya Clooney. Rupanya, Clooney ini pedagang senjata sekaligus pembunuh bayaran. Lalu, setting berpindah ke Italia di mana Clooney bersembunyi di sana karena dikejar-kejar pihak tertentu (apa masalahnya, tidak dijelaskan). Di sana, ia juga mengerjakan pesanan senjata dari seorang wanita muda. Tentang kegiatan si Clooney dalam merakit senjata ini menurut saya sangat menarik karena pelan-pelan. Jauh lebih keren daripada yang di Jackal (bukan Jalan Kaliurang, tapi film yang dibintangi Bruce Willis di mana di sana ada juga pemesanan dan percobaan memakai senjata dengan target manusia). Banyak hal lain yang juga pantas membuat film ini dibilang James Bond manusiawi. Misalnya, mobilnya Clooney adalah mobil butut, dia juga jatuh cinta dengan cewe, tapi kali ini adalah seorang PSK langganannya (gak seperti Bond yang seolah-olah ganteng sekali sampai cewe-cewe pasti mau tidur dengannya kan?), sebagai pembunuh bayaran, dia juga sering ketakutan, terutama karena dikejar-kejar pihak yang ingin membunuhnya tadi (jadi inget No Country for an Old Man), dan dia adalah orang kesepian (terutama karena settingnya memang di desa di Italia sana). Soal karakter yang agak "mengganggu" menurut saya adalah karakter pendeta yang kesannya hanya tempelan untuk memperkuat pergulatan batin si pembunuh bayaran. Ending cerita, meski tidak mengejutkan tapi lumayan juga. Oya, satu lagi, meski manusiawi, nuansa Bond masih tetap dipertahankan dengan begitu jitunya Clooney menembak hehehe... Nilai saya untuk film ini adalah tiga setengah dari 5 bintang.. Pelit ey

Label: , , , , , , ,

Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...

Panduan Saya Kalau Akan Memilih Film

Sudah lama tidak nonton film karena berbagai alasan bikin saya memang agak ketinggalan dengan info-info, apalagi pengalaman nonton. Tapi, sebenarnya selain karena kendala waktu dan sumber daya, saya juga sudah beberapa bulan agak malas nonton film karena jujur saja agak bosan dengan tema film yang saya tahu dan bisa saya akses (lewat rental atau lewat temen yang mendownload dan mensharenya di kantornya). Terakhir kali saya nonton film adalah.. err.. kemarin malam :P Saya nonton dua film yg sudah lama ngendon di laptop saya, yaitu Book of Eli dan Shutter Island. Kesan saya adalah kedua film itu masih kurang memuaskan. Yang agak terpuaskan justru adalah aksi Eli yang tidak kunjung terkalahkan (hehe.. kenapa saya justru suka, nanti penjelasannya). Tapi, twist ending dari kedua film itu agak.. ya begitulah. Yang Book of Eli tidak masuk akal, sedangkan yang Shutter Island sudah jadi klise. Nah, apa yang bikin saya bersemangat dan tidak bersemangat nonton film ada beberapa, di antaranya adalah berikut ini.
18 JENIS FILM YANG TERTARIK SAYA LIHAT
1. Saya tidak tahu bagaimana mendefinisikan film-film drama macam Before Sunrise, Before Sunset, Lost in Translation, Great Expectation. Tapi, intinya filmnya adalah jenis drama romance tapi agak keeropa-eropaan, realistis (mungkin GE agak tidak realistis, tapi tetap saja saya masukkan ke sini), dan pemerannya "menggemaskan" (tapi yang dewasa kayak Gwyneth Paltrow, Julie Delpy, Scarlett Johansonn, bukan yang macam Megan Fox begitu), ada seni-seninya (siapa yang tidak suka dengan karya gambar di GE?) dan setting gambarnya bagus.
2. Film gangster ala Quentin Tarantino dan Guy Ritchie. Tema film-film macam Pulp Fiction, Rocknrolla, Snatch, Lock Stock Two Smoking Barrells, Reservoir Dogs, True Romance, adalah sama: pelanduk di tengah pertarungan dua gajah, dan pelanduknya yang menang. Meski kadang agak bosan, tapi kalau ada yang begituan lagi saya tetap mau menonton. Tapi, beberapa film ganster meski bukan karya kedua sutradara itu juga ada yang lumayan bagus, misalnya Scarface.
3. Film tentang alam pikiran. Seperti misalnya Being John Malkovich, Eternal Sunshine in Spotless Mind, Adaptation, semuanya Charlie Kauffman ya? Kalau begitu saya tambahi The Machinist, The Jacket. Kalau Inception saya belum nonton sih.
4. Film yang diangkat dari karya sastra (terutama yang sastrawan kiri). Meski saya agak ngantuk waktu nonton Love in Time of Cholera (alasannya nanti saya beritahu), tapi kalau film seperti Unbearable Lightness of Being, Kite Runner (yang ini tidak tahu kiri, kanan, timur, utaranya), Clockwork Orange, In the Name of Rose saya jelas suka. Saya sekarang menunggu Blindness.
5. Film perang Vietnam. Bukan Rambo tentu saja, tapi perang Vietnam yang dibuat oleh orang yang anti perang. Kalau soal ini tidak bisa lepas dari nama Oliver Stone. Platoon, Full Metal Jacket, Apocalypse Now, atau juga Born ifn Forth of July adalah film yang semua pasti setuju kalau bagus.
6. Film mafia Hongkong tahun 80-90an. Kalau ada yang dibikin baru-barusan saya tidak akan terlalu tertarik rasanya. Inilah yang harusnya pantas disebut film nonton Cino Ngamuk hehehe... Yang termasuk di sini adalah macam A Better Tommorow dan Young and Dangerous beserta sekuel-sekuelnya, atau film-film yang dibintangi Chow Yun Fat, Ti Lung, Shing Fui-On, Ng Chi Hung, Roy Cheung, Kenneth Tsang yang ceritanya biasanya tentang mafia yang mau tobat tapi terpaksa balik jadi mafia lagi, balas dendam, dan terakhir pasti ada banyak-banyakan pengikut selalu bikin saya suka. Buktinya Tarantino pun sampai meniru. Dan inilah salah satu alasan saya suka si Eli yang tak terkalahkan, menurut saya dia mafia Hong Kong banget gitu.
7. Film tentang orang gila. Misalnya Fight Club, He Loves Me He Loves Me Not atau boleh juga I Am Sam (bukan gila). Nah, seharusnya Shutter Island saya suka kan? Tapi, penjelasan saya kurang suka ada di bagian nanti.
8. Film tentang sosok atau komunitas yang keren. Capote, Basquiat, The Doors, The Hours, 24 Hours Party People, Motorcycle Diaries, American Splendor, bikin saya semangat karena saya juga suka dengan tokoh yang diangkat itu. Sedangkan yang komunitas misalnya This is England, Trainspotting, dll.
9. Film yang alur atau sinematografinya diacak-acak. Ya, kalau yang alur tentu sudah tahu, film macam Memento, Irreversible, atau yang alurnya sambung menyambung macam Amelie, sedangkan yang sinematografi misalnya Natural Born Killers dan Kill Bill.
10. Film yang tidak masuk akal sekalian (tapi serius). Film tentang perjalanan waktu (mis: Time Traveller's Wife, 12 Monkeys) atau tentang waktu lainnya, macam Run Lola Run dan Curious Case of Benjamin Button atau yang seperti Inglorious Basterds adalah contohnya.
11. Film sehari dua hari. Mungkin termasuk di sini road movie (Y Tu Mama Tambien, Little Miss Sunshine), atau juga termasuk Sideways dan Dog Day Afternoon. Lebih bagus lagi kalau seperti Before Sunset. Asal yang drama loh.
12. Film yang terpisah-pisah. Paris Je'T Aime dan New York I Love U mungkin ekstremnya. Tapi, yang lain misalnya Babel, Crash, atau juga Love Actually.
13. Film komedi yang bukan tentang percintaan dan slapstick. Death in a Funeral (yang versi Inggris) Forrest Gump, dan Life is Beautiful, contohnya. Slapstick pengecualiannya adalah A Fish Called Wanda.
14. Film tentang kematian. Entah film tentang orang yang mau mati (Bucketlist, yang lain lupa) atau yang tentang kehidupan sesudah kematian (Sixth Sense, The Others) yang mungkin bagi sebagian orang disebut film hantu, tapi bagi saya tidak juga.
15. Film tentang penjara. Shawshank Redemption, Prison on Fire (film Hong Kong) bahkan Undisputed pun saya menikmatinya.
16. Film tentang akal-akalan. Ocean Eleven (Twelve masih oke, tapi Thirteen sudah membosankan), Catch Me if You Can, Burn after Reading, termasuk juga No Country for Old Men, Fugitive, dan semacam itu juga cukup menghibur. Beberapa film tentang pengadilan (asal bukan yang karya Grisham) saya juga cukup menikmatinya.
17. Film sejarah politik modern. Yang ini bukan film perang dan bedakan juga dengan film propaganda macam The Year of Living Dangerously. Film yang termasuk bagus seperti Last Emperor dan JFK.
18. Film dengan jajaran award di kovernya. Meski sekarang penilaian seperti ini sudah agak saya kurangi karena sering kali yang dijajar adalah termasuk karena film itu masuk nominasi (bukan juara) di festival yang kurang terdengar gaungnya. Kalau nominasi apalagi juaranya di Cannes, Toronto atau Sundance atau (kadang) Oscar itu yang poinnya besar.
10 JENIS FILM YANG TIDAK TERTARIK SAYA LIHAT
1. Film bersetting zaman Victorian. Dengan pria memakai wig dan perempuan memakai gaun besar-besar, saya terus terang sudah mengantuk duluan. Ini salah satunya ya Love in the Time of Cholera, sekalipun itu diangkat dari karya Marquez.
2. Film tentara perang dunia. Entah kenapa kalau tentang tentara, saya tidak suka yang setting di Perang Dunia II atau I. Saya tegaskan lagi, ini khusus untuk yang tentang tentara (mis: Saving Private Ryan, Band of Brothers) dan bukan dari segi rakyatnya (mis: Pianist, Malena, The Reader). Kalo yang jenis terakhir saya masih suka meski tidak saya masukkan ke daftar jenis yang saya suka.
3. Film futuristik. Macam the Matrix, Johnny Mnemonic, bikin saya bosan seperti halnya film Victorian.
4. Film post-apocalypse. Dalam hal ini adalah yang settingnya di padang gurun tandus (Mad Max) atau tempat-tempat membosankan lainnya (di laut: Waterworld). Book of Eli dan 12 Monkeys masih bisa lolos karena beberapa hal.
5. Film tentang bom. Kisah tentang para penjinak bom, seperti Speed, Die Hard, tidak tahu kenapa saya merasa bom itu kurang seru saja.
6. Film olahraga. Memang, ada juga yang suka seperti Any Given Sunday. Tapi, karena menurut saya menyaksikan pertandingan olahraga yang sebenarnya (bukn film) sudah seperti ada drama tersendiri, maka film tentang olahraga sering kali kalah.
7. Film tentang gay. Saya bukannya homophobic, tapi film-film pengadvokasi kaum homoseksual rasanya sudah terlalu banyak meski saya suka Boys Dont Cry, atau juga Capote.
8. Film alien. Yang jenisnya seperti Alien (meski film ini juga sangat berpengaruh karena orang sekarang jadi menyebut makhluk luar angkasa sebagai alien) terutama adalah yang tidak saya suka karena settingnya cuma di pesawat. Yang lain, misalnya Knowing atau The Sign, masih mendinganlah. Kalau yang komedi macam Evolution dan Koi Mil Gaya, dan Men In Black? No Comment!
9. Film yang kovernya bergambar orang membawa/mengacungkan pistol. Kalau di rental saya lihat kover seperti ini saya sudah ilfil dulu, padahal kadang ada juga yang bagus.
10. Film yang dari awal ke belakang yang berbicara cuma dua atau tiga orang. Pengecualian mungkin Before Sunset. Sedangkan contoh yang tidak suka adalah Antichrist dan yang lain lupa.
11 NAMA PEMERAN YANG BIKIN SAYA TERTARIK
1. Brad Pitt. Sudah pernah saya kemukakan sebelumnya. Rupanya selera yang dipilih Brad Pitt cukup sesuai dengan selera saya.
2. Michael Madsen. Ini dia spesialis orang jahat tapi juga ada sisi baik hatinya. Kebetulan juga ia langganan bermain di filmnya Tarantino sehingga saya agak bias dan menganggapnya salah satu jaminan meski sepertinya ia jarang jadi pemeran utama.
3. Bruce Willis. Yeah, memang Die Hard dan Armageddon itu penuh klise, Expendables juga tak jelas, tapi film-film Willis sebagian bagus. Ekspresi wajahnya yang seperti orang menderita bahkan agak kayak orang stroke (bukan wajah menantang seperti Stallone dan Arnold) itu yang bikin Willis tidak seperti bintang film action ledak-ledakan.
4. Morgan Freeman. Sebenarnya yang satu ini karakternya juga begitu-begitu saja, orang tua yang banyak makan asam garam, atau yang sudah mau pensiun, tapi nada suaranya yang mantap itu bikin senang mendengarkannya.
5. Uma Thurman. Yang ini juga kadang bermain di film pasaran macam Batman atau My Super Ex Girlfriend, tapi wajah dinginnya bikin penasaran melihat dia bermain jadi apa lagi kali ini.
6. Audrey Tautou. Sejak nonton Amelie, saya lalu melihat A Very Long Engagement, He Loves Me He Loves Me Not, Dirty Pretty Things, God is Great I Am Not, dan Russian Dolls, dan saya tidak pernah kecewa. Tapi, saya mulai takut juga kalau kecewa.
7. Ng Chi Hung. Sebenarnya nama ini cuma salah satu contoh saja. Yang paling menarik dari film mafia Hongkong memang bagi saya adalah karakter penjahatnya. Rasanya mereka benar-benar jahat. Ng Chi Hung ini adalah salah satu yang selalu jadi penjahat (tapi belum tentu dia jahat, karena kadang dia juga membantu protagonisnya). Entah tatonya betulan atau bukan, tapi wajahnya memang seperti bos judi buntut.
8. Gary Oldman. Orang ini wajahnya sebenarnya tidak terlalu saya hafal. Wajahnya sering berubah-ubah. Tapi namanya kondang sebagai penjahat yang bagus meski beberapa filmnya juga ada yang jelek. Selain dia, Benicio del Toro, Anthony Hopkins atau Jack Nicholson juga mirip (wajah penjahat) meski kadang juga memainkan peran protagonis.
9. Gael Garcia Bernal. Nah, kalo soal film-film berbau Amerika Latin (tapi ada juga film Prancis yang dibintanginya, Science of Sleep), saya selalu menjumpai nama ini. Yah, bagaimana lagi?
10. Sean Penn. Biasanya, aktor yang bisa jadi sutradara itu jenius. Apalagi kalau dia terjun di politik dan menyuarakan yang benar. Salah satunya Sean Penn ini. Waktu sebagai aktor dia beberapa kali memilih film yang bagus (I Am Sam, Mystic River) yang membedakan dia (mungkin) dengan Clint Eastwood (yang lebih saya sukai karyanya sebagai sutradara), dan sebagai sutradara dia juga mengarahkan film yang bagus (Into the Wild).
11. Monica Belluci. Hmm..
11 NAMA PEMERAN YANG BIKIN SAYA TIDAK TERTARIK
1. Leonardo di Caprio. Inilah alasan saya tidak terlalu suka dengan Shutter Island dan kurang semangat melihat Inception. Meski dia sekarang sudah makin tua dan film-filmnya sebenarnya juga bagus (The Beach dan Catch Me if U Can bagus), tapi saya masih selalu terbayang si Leo di Growing Pains dan Titanic yang seperti teenage idol.
2. Sigourney Weaver. Yang ini juga. Saya masih selalu ingat dia sebagai pemeran film yang tidak saya suka (Alien). Jadilah dia terstigmakan dengan semena-mena.
3. Jack Black. Enuff said. Konyol dan kebanyakan main di film tidak bermutu (meski saya suka High Fidelity dan King Kong).
4. Angelina Jolie. Sejauh ini, film-film Jolie kebanyakan tidak masuk kualifikasi saya, dan itu secara nanggung (maksudnya bukan karena jelek-jelek banget). Jadi, maafkan mungkin kamu harus meniru Brad Pitt.
5. Robin Williams. Dead Poets Society itu sebenarnya bagus, tapi kalau saja aktornya bukan Williams mungkin saya bisa lebih menganggapnya serius. Meski demikian, One Hour Photos cukup baik tapi sekali lagi dia tidak bisa menghilangkan wajah nyengir yang saya benci itu.
6. Tom Cruise. Si cebol ini meski pernah main di film bagus seperti Vannila Sky dan Born in Fourth of July tapi bagi saya gerak-geriknya tidak enak dilihat. Kalau saja dia dari dulu tidak main di film action, mungkin saja dia bisa masuk ke daftar di atas.
7. Ashton Kutcher. Oh, rasanya akan selalu sulit tertarik menonton film yang ada nama orang ini (biarpun judul Butterfly Effect sepertinya menarik, tapi gara-gara yang main dia maka saya yakin filmnya jelek)
8. Matt Damon. Film-film Bourne dan tampangnya yang seperti Wayne Rooney bikin saya selalu berpikir beberapa kali dan mengecek beberapa situs film dulu sebelum memutuskan memilih menonton film yang dibintanginya.
9. Cameron Diaz. Dia main di Any Given Sunday, Being John Malkovich dan Vanilla Sky, tapi yang saya ingat dia lebih identik dengan There's Something about Mary dan the Mask
10. Sandra Bullock. Saya belum juga tertarik nonton Blindside karena dia. Memang kabarnya Bullock sendiri mengeluh dia selalu cuma main di film-film hiburan dangkal, tapi saya termasuk yang masih mengidentikkan dia seperti itu. Cuma satu film tidak cukup buat pembuktian ya Bu San.
11. Will Smith. Tidak suka kecuali dia memainkan peran yang jauh berbeda dari biasanya (good try di film Ali, misalnya) dan tidak berpasangan dengan orang-orang negro yang selalu ceritanya begitu-begitu saja.
Memang masih banyak nama pemeran lain yang saat ini saya tidak ingat. Beberapa mungkin juga bisa jadi jaminan saya bakal memilih atau tidak memilih film yang dibintanginya. Tapi, beberapa hal di atas adalah yang biasanya jadi pertimbangan saya, taruh kata kalau sedang memilih-milih film di rental.

Label:

Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...

Sing Out Again

Film dan musik mestinya punya hubungan seperti layaknya saudara. Rasanya saya tidak ingat pernah menonton sebuah film yang tanpa musik sama sekali (atau pernah ya?). Sebaliknya, di zaman ketika indera penglihatan menjadi raja (atau malah budak yang paling menderita) seperti sekarang ini, musik juga sulit dilepaskan dari visualisasi. Demikian halnya dengan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Musik jelek bisa terkenal hanya karena bikin video klip yang berbiaya mahal, lebih mahal dari biaya membuat film malah. Itu sudah biasa.
Di sisi lain, bukankah ini juga zaman ketika tampaknya makin jarang ada orang yang bisa puas memiliki satu keahlian saja? Mereka yang dikenal sebagai penulis, tiba-tiba pada pingin jadi fotografer. Mereka yang dikenal sebagai politikus, tiba-tiba bisa jadi presenter TV. Mereka yang dikenal sebagai atlet atau programmer, tiba-tiba menulis buku. Maka dari itu, sama sekali tidak mengagetkan tentunya kalau penyanyi/musisi main film atau pemain film menyanyi/main musik. Itu sangat biasa. Mungkin sebiasa pengusaha jadi politikus/pejabat dan sebaliknya. Apa kalau begitu mungkin bisa diambil kesimpulan: jangan terlalu bangga dengan pekerjaanmu, karena banyak orang lain pun bisa melakukannya? Tidak usah dibahas. Saya tidak terlalu merasa senang memikirkan hal seperti itu.
Kali ini lagi-lagi saya mau pasang video klip saja. Kebetulan karena baru saja ada kasus koneksi internet di rumah mati hampir 2 minggu, makanya begitu nyala lagi saya langsung merayakan dengan browsing-browsing Youtube. Kebetulan juga, waktu internet mati saya sempat ke warnet dan mengkopi beberapa mp3, salah satunya album musik dari artis menggemaskan yang main di Lost in Translation, Scarlett Johansson. Lalu, setelah mendengarkannya, saya menulis di status FB kira-kira begini: Scarlett Johansson, Milla Jovovich, Julie Delpy, dan Juliette Lewis kalau menyanyi kira-kira bagusan mana? Tanggapannya seperti biasa, biasa-biasa saja. Saya memang tidak selalu ingin menulis status untuk ditanggapi, apalagi kalau cuma sekadar dijempol. Bagusan mana? Semua orang tentu bisa nyanyi. Cuma kalau sudah bikin album rekaman, itu tidak semua orang bisa. Sekali lagi, artis nyanyi itu sih sangat biasa. Tapi, apakah bagus? Itu pertanyaannya. Hayah, sudahlah daripada berbelit-belit, mari kita bandingkan langsung saja.
Scarlett Johansson
Ini adalah yang paling muda dibanding 3 nama lainnya. Kalau di album yang saya temukan di warnet dekat rumah saya itu, Scarlett nyanyinya secara minor (istilah saya sendiri), baik dari jenis musik maupun suaranya. Tapi, saya kaget waktu browsing di Youtube, rupanya suaranya beda. Suaranya lebih sesuai wajahnya. Yang di bawah ini adalah yang saya bilang versi minor. Saya pikir ini adalah salah satu dari lagu di albumnya. Judulnya, Yesterday is Here:



Lagu kedua ini banyak bertebaran di Youtube. Ternyata Scarlett pernah duet dalam sebuah proyek album bersama Pete Yorn. Video live nya di Youtube cukup membuat saya makin gemas dan membayangkan saya jadi Pete Yorn.



Juliette Lewis
Kalau melihat di Natural Born Killers, Juliette Lewis ini sempat menyanyi. Waktu dia dikurung dan terpisah dari Woody Harrelson, dia menyanyi macam adegan di film King Kong Lives saat king kong cewe terpisah dari king kong cowo. Hahaha... Yang jelas waktu ngeliat itu saya suka suaranya. Ealah, ternyata dia memang punya band yang namanya the Licks. Waktu mendengar band ini, entah kenapa saya tidak bisa suka. Mau rock n roll tapi kok nanggung, mau alternatif juga jauh, mau country juga bukan. Suaranya, kata pengagumnya, kayak Janis Joplin, tapi kayaknya juga beda kalau menurut saya. Kali ini dia menyanyikan lagunya PJ Harvey (oyaaa.. memang mirip-mirip dua orang ini) yang judulnya Hardly Wait.



Yang ini adalah penampilan live bandnya dengan lagunya Search and Destroy. Melihat video ini memang gila juga si Juliette Lewis. Tapi kok waktu vokalnya diambil alih sama gitarisnya, malah lebih bagus. Sepertinya Juliette ini salah milih genre musik kali ya? Terlalu maksain ngerock malah capek telinga ini dengarnya.



Milla Jovovich
Film-film Milla Jovovich mungkin jelek. Tapi, waktu nyanyi saya pikir ia lebih bagus. Musiknya masih berbau-bau Russia, karena ia sendiri kelahiran Ukraina. Dulu saya tidak yakin waktu mendengar lagu In A Glade, yang masuk di kompilasi album Inspirational Moment yang macam-macam serinya itu. Saya pikir itu Milla Jovovich yang lain, bukan yang artis itu. Ternyata saya memang salah. Milla rupanya memang menyanyi. Kalau dibandingkan tiga artis lain yang saya bahas di sini, saya pikir suaranya yang paling mantap. Dia bernyanyi dengan lebih mantap dari yang lainnya. Nah, yang ini judulnya Alien Song. Saya punya beberapa lagu dari Milla, sebenarnya bukan ini yang paling saya suka, tapi this is oke jugalah.



Dalam video yang ini, Milla Jovovich duet dengan band namanya Puscifer. Band yang ini adalah bikinan Keenan Maynard Jones yang adalah vokalis Tool, yang juga bikin side project A Perfect Circle. Kalo ibarat sales, pastinya orang ini pastinya ikut berbagai MLM dan tiap ketemu orang selalu tidak jemu-jemu berganti-ganti menawarkan bisnisnya. Hehehee... Sebenarnya malah bagus sih kalo ada musisi punya side project banyak. Biasanya musisi yang seperti itu justru yang bagus atau yang sangat kreatif. Selain video ini, kita bisa cari di Youtube penampilan live mereka, di mana Milla pake baju suster yang seksi dan mukanya dicoreng-coreng kayak kucing. Sayang gambarnya hanya rekaman amatir sehingga tidak enak ditampilkan di blog ini. Weisss.



Julie Delpy
Before Sunset dan Before Sunrise, dua film yang tentu disukai modelan para mahasiswa sastra termasuk saya. Dan kayaknya memang dua film itulah yang paling sukses dibintanginya sampai sekarang. Ada sih film yang judulnya 2 Days in Paris yang bukan cuma dibintangi, tapi juga disutradarai dan musiknya dikomposeri oleh dia sendiri. Tapi, saya belum nonton yang itu. Dalam film Before Sunset yang gambarnya diambil tanpa jeda itu, Julie ini sempat nyanyi main gitar dengan bagus sekali. Memang, dua film itu meski isinya cuma ngomong-ngomong tapi sangat berkesan dan menggemaskan. Ah, mau nyewa dan dikopi aja deh kapan-kapan. Lagu di bawah ini kabarnya diambil dari album debutnya yang sampai sekarang masih sulit saya cari tempat downloadnya. Judulnya Mr. Unhappy. Klip lirik di bawah ini juga lucu dan liriknya bisa membuat tersenyum. Nice job Julie!



Yang di bawah ini, saya tidak tahu apakah memang video klip resminya atau cuma editan orang di Youtube. Julie Delpy menyanyi bersama Nouvelle Vague dalam lagu yang intronya seperti lagunya Changcuters. Halah, bagusan ini dobel-dobellah! Makin dengar lagu-lagunya artis satu ini bikin saya makin kesengsem dengannya. Bukan hanya lagunya bagus dan cocok dengan selera saya, tapi waktu pilih rekan kolaborasi pun pilihnya pinter, Nouvelle Vague.



Nah, bagusan mana? Kalau saya, secara musikalitas saya pilih Julie Delpy. Kalau mantapnya saya pilih Milla Jovovich. Kalau penampilan orangnya saya pilih Scarlett Johansson. Kalau Julliete Lewis? Mungkin karena beberapa filmnya bagus atau karena energinya memang harus dihargai. Apakah Anda setuju? Silakan bandingkan sendiri.

Label: , , , , , , ,

Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...

RocknRolla vs Inglourious Basterds

Sebelumnya saya mau ngomel-ngomel dulu. Saya sudah makin jarang nonton film, apalagi film-film aneh. Sekarang, selain tidak punya referensi untuk film-film seperti itu, saya juga paling hanya bisa menyewa film-film Hollywood di rental VCD original seperti Movietime, Ezzy, dan sejenisnya. Kadang memang ada yang bagus, tapi toh tetap saja cenderung telat, sudah disensor, dan tidak semua film ada. Rental DVD bajakan? Di kota ini setahu saya hanya satu. Itupun sekarang makin parah karena yang disewakan lebih banyak DVD film seri dan film-film semi. Kemarin coba melihat-lihat sepertinya rental itu sudah tidak niat lagi menyewakan film-film terbaru. Yang penting laku, mungkin begitu pikiran mereka. Dan yang laku sepertinya adalah film-film Asia atau film semi. Atau mungkin karena akses ke film-film bajakan yang bagus makin berkurang sehingga mereka koleksi mereka seakan terhenti begitu saja. Memang, sekarang selain rental juga ada cara lain: download. Nah, untuk yang ini saya masih belum pernah mencoba. Paling-paling saya hanya mengopi koleksi seorang teman yang mau berbaik hati menshare file film hasil unduhannya di kantor. Tapi, karena selera beda, jadinya saya kadang-kadang saja mengopinya.
Dua film berikut adalah dua film yang didapat dengan cara berbeda yang saya pikir mungkin juga memengaruhi isinya (maksudnya, yang satu sudah melalui gunting sensor sedangkan yang lain tidak). Film pertama adalah Rocknrolla, saya dapat dari menyewa di sebuah rental VCD ori. Yang kedua, Inglourious Basterds adalah film yang saya kopi dari teman saya tadi yang dia dapat dari mendownload di internet. Yang kedua ini tentu saja bebas sensor (saya kira). Satu hal yang membuat saya tertarik pada kedua film ini tentu saja adalah karena sutradaranya. Keduanya, meski pernah membikin film yang serupa, tapi film-film masterpiece mereka sama bagusnya. Sutradara pertama berasal dari Inggris, mantan suami dari seorang penyanyi paling terkenal di dunia, Madonna. Dia Guy Ritchie, sangat dikenal oleh karya monumentalnya, Lock Stock and Two Smoking Barrels dan Snatch. Keduanya sudah pernah saya tonton. Sutradara kedua saya pikir lebih terkenal lagi di sini karena dia berasal dari Amerika. Quentin Tarantino yang selalu dihubungkan dengan karyanya, Pulp Fiction, selain juga beberapa lainnya seperti Reservoir Dogs, Kill Bill (vol 1&2), dan ikut berperan juga dalam Sin City serta Natural Born Killers. Kecuali Sin City, semua film di atas sudah pernah saya tonton. Memang, ada beberapa lagi film terkenal dari kedua sutradara itu. Guy Ritchie setidaknya pernah membuat beberapa film yang berbeda dengan jenis Lock Stock. Kemarin saya lihat di rental tapi saya lupa judulnya, sedangkan yang satu adalah Swept Away yang dibintangi istrinya sendiri waktu itu, Madonna, dan disebut gagal. Sedangkan Tarantino juga pernah membuat beberapa film lagi yang saya juga lupa. Tapi, kedua nama itu tetap tidak bisa dilepaskan dari dua karya utama mereka, Lock Stock and Two Smoking Barrels serta Pulp Fiction.
Nah, kalau tidak salah, Rocknrolla dan Inglourious Basterds adalah dua karya terbaru mereka, yang juga sangat khas mereka (kalau tidak bisa dibilang repetisi yang mungkin tidak selalu mereka harapkan tapi toh diharapkan penonton, termasuk saya). Saya tidak akan membandingkan keduanya. Saya juga belum jelas ingin menyampaikan apa tentang kedua film ini. Tapi, saya hanya ingin menulis kesan saya saja.
ROCKNROLLA
Rocknrolla adalah film yang serupa dengan Lock Stock dan Snatch. Berkisah tentang dunia mafia di Inggris. Tentang dunia gangster besar dan kecil. Pertikaiannya adalah tentang dua kubu besar, gangster Inggris dan mafia Russia. Mafia Russia yang sangat jelas diilhami dari sosok Roman Abramovich, taipan minyak yang memiliki klub sepakbola Chelsea FC, ingin membangun bisnisnya di Inggris. Namun mereka terhambat birokrasi. Maka, adalah gangster Inggris yang juga punya kekuasaan terhadap para pejabat negara itu yang mereka manfaatkan jasanya. Semestinya tidak ada yang bermasalah. Hanya saja ada pelanduk yang masuk ke dalam hubungan dua gajah itu. Seorang wanita, istri pengacara yang terlibat dalam pengaturan bisnis si Russia itu (wanita ini juga membuat si mafia Russia jatuh hati bahkan kemudian ingin melamarnya), mengetahui rencana tersebut dan memanfaatkan informasi yang ia dapat. Ia memakai jasa kelompok bandit kelas teri untuk merampok uang si Russia yang sedianya akan digunakan untuk membayar si gangster Inggris. Dua kali aksi itu berhasil dilakukan. Si Russia mulai curiga dengan si Inggris. Sementara si Inggris ternyata juga kebingungan setelah lukisan kesayaangan si Russia yang dipinjamkan kepadanya ternyata hilang dicuri putranya sendiri yang sangat ia benci. Tokoh putra si gangster Inggris yang juga adalah seorang penyanyi rock itu kemudian mulai masuk.
Maka, ada beberapa kubu di sini. Ada mafia internasional Russia. Ada gangster penguasa Inggris. Ada kelompok bandit. Ada si femme fatale. Ada rocker yang dihormati di kalangan junkies. Dan seperti tampak dalam film Snatch dan Lock Stock, endingnya pun sama. Si pelanduk yang selamat saat si gajah saling bunuh. Dengan beberapa kelucuan gaya Inggris, yang kali ini antara lain tentang isu gay. Film ini memang pengulangan, tapi ceritanya juga tetap menarik bagi saya. Selain tema dan alur cerita, pengulangan eh ciri khas yang juga dipakai antara lain: narasi di awal cerita, tokoh kepercayaan para bos yang digambarkan sangat tangguh, berbagai macam penyiksaan yang aneh (di Lock Stock ada yang dimakan babi, kini ada digigiti ketam sampai mati), budaya yang berbeda (dulu ada Yunani, Skotlandia, kini ada Russia), dan satu yang saya tunggu, lagu-lagu bagus. Kita bahas yang terakhir ini sebentar, soal lagu. Satu hal yang tetap menjadi nilai plus saya di film-film Ritchie adalah lagu-lagunya. Lagunya band-band dan penyanyi Inggris. Tapi, dari segi genre selalu ada berikut ini: kalau tidak punk era 70an, reaggae, soul, juga instrumental dengan alat musik petik (entah apa itu namanya).
INGLORIOUS BASTERDS
Quentin Tarantino memang pecinta kekerasan. Dalam film berlatarbelakang perang dunia II ini, adegan kekerasan meski tidak selalu ada, tapi kalau ada pun sadis. Tarantino mungkin saya pikir agak beruntung dibandingkan Ritchie. Setidaknya, saya lihat ia masih lebih bisa bebas berkreasi dan menikmati tanpa kritik penonton yang selalu menuntut ini itu. Apa mungkin Tarantino memang lebih kreatif dari Ritchie atau publik Amerika lebih terbuka dengan karya yang berbeda dari masterpiece seorang sutradaradi masa sebelumnya, atau karena penerimaan dunia atas film Amerika lebih terbuka daripada film produksi Inggris, saya tidak tahu yang mana. Oh ya, film Inglourious Basterds ini juga sedang (atau segera?) ditayangkan di bioskop Indonesia saat ini, hanya saja tidak terlalu terdengar gemanya, kalah dibandingkan 2012.
Mengenai cerita, film ini berkisah tentang satu pasukan anti Nazi yang disebut dengan nama Inglourious Basterds. Pasukan, atau laskar ini berisi personel-personel kejam yang meski kewarganegaraannya berbeda-beda (ada yang asal Amerika, ada yang dari Jerman, dan tentu saja ada yang etnis Yahudi), tapi punya kesamaan: sama-sama benci setengah mati dengan Nazi. Mereka sering menyergap pasukan Nazi untuk kemudian dibunuh dan disiksa habis-habisan. Dan bagi yang telah mati, kulit kepalanya dikerat dengan pisau. Mereka juga menyisakan satu anggota Nazi yang jidatnya kemudian ditoreh lambang swastika. Terang saja, tindakan ini membikin teror di kalangan anggota Nazi. Sementara di lain pihak, di pasukan Nazi, ada seorang jenderal mereka yang sangat kejam dan pintar. Kekejaman dan kepintaran si jenderal ini terus ditampilkan di 3/4 film sebelum kemudian tiba-tiba dia jadi sangat bodoh di akhir cerita. Memang agak ngedrop, tapi lumayanlah. Oh ya, tentu saja ceritanya juga bukan tentang dua kubu kuat ini saja. Di tengah-tengah mereka, ada tokoh seorang wanita Yahudi yang selamat dari sebuah pembantaian keluarganya oleh si jenderal Nazi cerdik tadi. Perempuan ini kemudian menyamar menjadi orang Perancis yang mengelola sebuah gedung bioskop. Puncaknya, ia kemudian mendapat kesempatan untuk balas dendam pada Nazi akibat seorang pahlawan perang Nazi yang juga membintangi sebuah film propaganda, yang jatuh cinta padanya. Dalam satu kesempatan launching film yang dihadiri keempat petinggi Nazi, termasuk Hitler dan Goebbels, ia merencanakan untuk membakar gedung yang dihadari ratusan petinggi Nazi itu. Tapi, ternyata kelompok inglourious basterd tanpa sepengetahuannya juga memiliki tujuan sama. Ingin memanfaatkan momen itu untuk menghabisi para petinggi Nazi. Sempat kedua rencana itu hampir gagal, tapi akhirnya berhasil meski banyak korban jatuh akibat kecelakaan-kecelakaan kecil.
Di sini, Inglourious Basterds lebih mirip filmnya Guy Ritchie, meski kejamnya tetap khas Tarantino. Yang jelas, Tarantino tampaknya suka dengan tema di mana tokoh-tokoh pembangkang yang hebat bersatu melawan tokoh hebat lainnya yang didukung organisasi kekuasaan yang rapi. Seperti cerita komik, sehingga kekejaman yang ditampilkan juga tidak membuat kita bergidik ngeri, tapi malah menganggapnya hal ringan. Itu tentunya tidak mudah, dibutuhkan kemampuan membangun cerita dan nuansa yang benar-benar membius untuk membuat penonton jadi seperti itu. Satu lagi yang agak membedakan antara Tarantino dan Ritchie adalah dalam hal selipan-selipan pengetahuan atau obrolan ringan tentang filosofi seni dalam film. Kalau dalam Reservoir Dogs kita dengar tentang pembahasan Madonna dan Like A Virgin. Dalam Kill Bill kita dengar pembicaraan tentang Superman dan Clark Kent. Di film ini, ada pembicaraan tentang film Eropa. Tapi, yang agak berbeda dalam film ini tampaknya adalah soundtrack yang kurang banyak, dan lebih banyak yang instrumental dengan (lagi-lagi) adalah karya Ennio Morricone.
BRAD PITT
Tarantino dan Ritchie memang jaminan, tapi dalam memilih film, saya juga makin percaya akan jaminan nama Brad Pitt. Meski sering disebut cowok manis, tapi film-film yang ia bintangi harus diakui memang bagus-bagus, bukan yang manis-manis. Seingat saya, pilihan film yang dibintangi suami Angelina Jolie ini makin keren saja. Kalau menyebut film yang pernah saya tonton tapi kurang saya suka mungkin hanya Mr and Mrs Smith. Film-film yang ia bintangi selain Inglourious Basterds yang pernah saya tonton rata-rata saya suka semuanya. Sebut saja, Snatch, Ocean Eleven sampai Thirteen, Twelve Monkeys, Burn After Reading, Se7en, Fight Club, Seven Years in Tibet, Babel, Curious Case of Benjamin Button, True Romance, dll. Memang setidaknya ada enam film Pitt lain yang belum pernah atau hanya pernah separuh saya tonton, yaitu: Legends of the Fall, Meet Joe Black, Interview with A Vampire, Troy, Assasination of Jesse James, dan The Mexican. Sebagian dari antaranya adalah film lawas. Tapi, andaikan keenamnya jelek pun, semestinya tidak akan membuat saya ragu dengan kapasitasnya. Tapi, kapan-kapan mungkin saya coba akan tonton film-film itu. Relatif jarang saya menjadikan bintang film sebagai alasan utama saya percaya pada kualitas sebuah film. Selain Pitt, mungkin hanya Audrey Tautou yang saya pakai referensi.
Itulah beberapa kesan saya tentang dua film yang saya tonton dua bulan ini. Dua film yang agak mirip, tapi tetap ada ciri khas kedua sutradaranya. Kalau dibandingkan, untuk soundtrack saya pilih Rocknrolla. Untuk penggarapan saya pilih Inglorious. Untuk akhir cerita saya pilih Rocknrolla. Untuk akting saya tidak bisa memilih, hmm mungkin lebih memilih Inglorious. Untuk karakter, saya pilih Inglorious. Untuk dibikin sekuel? Hmm.. mungkin Rocknrolla. Biar bisa sebosan-bosannya sama film Ritchie...

Label: , , , , , , ,

Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...


Web This Blog


XML

Powered by Blogger

make money online blogger templates




Free chat widget @ ShoutMix

Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign
Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign!



© 2006 perjalanan lalat hijau | Blogger Templates by GeckoandFly.
blog ini berisi catatan, kenangan, keluhan, caci maki, khayalan, pengakuan, tiruan, dan hasil kopi paste
blog ini tidak ada hubungannya dengan lalatx atau padepokan silat tertentu, pengelola sebenarnya tidak suka warna ijo!