perjalanan lalat hijau

LALAT HIJAU, sebuah catatan perjalanan untuk beberapa waktunya ke depan


Kantor Pos


pos
Originally uploaded by scandinavian_idiot.

Frekuensi kunjunganku ke kantor pos meningkat sejak lulus kuliah. Sebelum lulus kuliah, aku hanya beberapa kali ke kantor pos ketika disuruh bayar rekening listrik, telepon dsb. Setelah lulus, kau mungkin bisa menebak untuk apa aku sering ke kantor pos. Benar, mengirim lamaran kerja. Dan sekarang, sejak beberapa bulan terakhir ini aku juga harus berusaha untuk sebulan sekali ke kantor pos, kali ini untuk bayar cicilan motor. Dan sebentar lagi juga untuk kembali mengirim surat-surat lamaran kerja.

Aku kira kantor pos di Indonesia ini rata-rata sama, tak jauh beda antara satu dengan lainnya kecuali ukurannya saja. Waktu kecil, setahuku kantor pos hanyalah kantor untuk mengirim surat, paket, wesel dsb. Kini kantor itu telah dipakai untuk banyak hal; mengambil uang pensiun, mengambil dana kompensasi kenaikan BBM yang akan segera diakhiri, membayar rekening-rekening bulanan tadi, membayar kredit barang, untuk menaruh iklan dan banyak lagi. Tapi dari dulu kantor pos Indonesia selalu didominasi warna oranye, kenapa juga ya? dan siapa yang memilih warna itu. Menarik untuk dicari tahu. Mungkinkah ada hubungannya dengan peninggalan budaya Belanda? Willem van Orange?

Untukku, kesan dari kantor pos besar di tiap kota adalah sebuah bangunan yang penuh dengan sejarah. Yang mempengaruhi pendapatku ini mungkin adalah kantor pos besar di Semarang atau Bandung yang sebenarnya belum pernah kulihat langsung namun sering kubaca bahwa dulunya bangunan tersebut adalah bekas tempat bersejarah peninggalan Belanda. Namun sekalipun tidak menempati sebuah bangunan bersejarah, aku rasa kantor pos tetap lekat dengan sejarah. Bayangkan saja bagaimana ribuan atau jutaan surat yang pernah mampir di situ tentu membawa sejarahnya sendiri-sendiri. Apalagi di jaman sekarang, aku rasa nilai sebuah surat sendiri sudah sangat sarat dengan potensi untuk mengubah sejarah dan hidup pengirim maupun penerimanya. Aku pikir sebuah kantor pos tentu sudah pernah disinggahi ribuan surat yang mengabarkan berita-berita mahapenting dalam kehidupan seseorang. Surat berisi kabar duka, kabar suka, surat permohonan, surat penolakan, surat putus cinta, surat jatuh cinta, surat ancaman, surat pemberitahuan, surat rencana kejahatan, dan surat-surat lain bahkan yang isinya remeh seperti ucapan selamat atau yang sekadar berisi salam, semuanya dapat mempengaruhi kehidupan seseorang, dalam kadar yang berbeda-beda.

Omong-omong soal kantor pos aku jadi ingat kalau aku pernah mendownload sebuah file drama karya sastrawan Rabrindranath Tagore berjudul the Post Office, belum sempat kubaca karena agak malas membaca naskah drama, bahasa Inggris lagi. Jika kau sering membaca sastra poskolonial, kantor pos mungkin cukup banyak disebut. Tapi aku rasa apresiasi bangsa barat pada pos jauh lebih tinggi daripada yang diberikan oleh bangsa seperti Indonesia. Di film-film tentang revolusi Amerika atau perang dunia, kantor pos dan petugas pos (termasuk merpati pos) dipuja-puja sebagai pahlawan. Mereka (petugas pos) dikabarkan sebagai orang-orang yang rela menderita berpanas-panas, kedinginan atau melewati medan yang sulit demi mengantarkan sebuah surat yang seringkali sangat menentukan keberhasilan perjuangan. Pekerjaan pengantar pos adalah pengabdian nan tulus, seperti yang ditampilkan dalam salah satu album Donal Bebek. Ceritanya Donal suatu kali menjadi tukang pos, dengan penuh dedikasi ia rela berjalan menempuh medan yang sangat sulit, menerobos badai salju untuk mengantar satu surat tapi ternyata surat itu adalah sebuah surat tagihan, si penerima pun malah marah-marah pada Donal.

Di negara kita, masa kejayaan kantor pos sekarang sudah semakin lewat, SMS, e-mail, fax, telepon dan teknologi komunikasi yang lebih praktis lainnya telah menggusur keberadaan mereka. Walau yakin bahwa pos juga memiliki andil besar dalam sejarah berdirinya negara kita, aku rasa sudah semakin sedikit masyarakat yang memberi penghargaan atas peran mereka kini. Bangsa yang mengaku sudah 60 tahun lebih merdeka ini rupanya masih juga sulit menghargai sejarah, mereka lebih suka melihat ke 'masa kini' katanya. Lebih suka melihat segala sesuatu dalam kacamata prinsip ekonomi, yang praktis itulah yang kita butuhkan dalam membangun, mungkin maksudnya mengadopsi pikiran barat yang lebih maju, sayang hanya sebagian-sebagian. Kini kantor pos mungkin lebih banyak berkutat dalam pengiriman paket barang, namun lambat laun layanan itu juga terkikis dengan keberadaan jasa paket swasta (lokal maupun asing) yang seringkali lebih murah, lebih dipercaya dengan strategi promosi yang menarik seperti yang dilakukan FedEx, DHL dsb.

Suasana di kantor pos besar biasanya selalu ramai. Kantor pos di jalan Jemursari Surabaya, meski bukan kantor pos pusat tapi sudah cukup ramai terutama di siang hari. Meski begitu, waktu pertama kali melihatnya dari luar, jika bukan karena aktivitas manusianya, gedung itu hampir tidak nampak sebagai kantor pos ataupun bangunan yang masih dipakai. Banyak tanaman dan rumput liar membuatnya tampak tak terawat, daun-daun yang kering dan akar ilalang yang menjalar sebagian menutupi papan nama yang sudah berkarat di sana sini. Aku sebenarnya agak malas tiap kali datang kesana, bukan apa-apa tapi setiap memarkir motor sering aku didatangi tukang parkir atau entah siapa yang menawarkan barang-barang macam jam tangan (Rolex), atau kacamata hitam (merk Oakley). Tak usah kuberitahu kau mungkin sudah mahfum kalau bukan barang curian, maka itu adalah barang bermerk palsu. Menolaknya memang mudah, cukup menggelengkan kepala tapi aku tetap berharap aku dapat masuk ke dalam tanpa harus berhenti meladeni mereka dulu.

Bagaimana dengan kantor pos lain di kota itu? Aku tak tahu, tapi aku bisa menceritakan sedikit tentang 'kantor' pos kecil yang di kampusku. Yang di kampusku itu bukanlah kantor pos, lebih tepat disebut sebagai layanan pos. Hanya berupa satu ruangan sempit berukuran kurang lebih 4 x 2 meter, di dalamnya biasa ada sekitar 3 petugas yang melayani kami. Letaknya sangat terpencil, tertutupi wartel kampus dan petunjuknya pun tak mencolok apalagi jelas. Meski demikian aku rasa cukup banyak mahasiswa atau staf universitas yang mempergunakan jasa itu. Jam buka mereka juga tidak begitu lama, kalau tak salah jam 09.00 sampai 15.00 saja, seperti bank. Mengirim surat lewat mereka kata orang juga lebih lambat karena setelah terkumpul mereka baru akan membawanya ke kantor pos di Jemursari tadi baru ke kantor pusat dan baru ke kota tujuan.

Sementara itu, kantor pos di Solo lebih sering kukunjungi daripada yang di Surabaya. Ini wajar mengingat masa-masa menganggurku lebih banyak kulewatkan di Solo. Kantor pos pusat Solo ada di daerah Gladag, wilayah pusat kota yang paling sering masuk TV. Kantor itu lumayan besar, kau bisa masuk lewat depan maupun belakang (kalau tidak mau bayar parkir). Dari depan, bangunannya memang terlihat cukup bersih dan besar namun tidak demikian dengan bagian dalamnya. Di dalam, tak terlihat perawatan yang cukup dilakukan untuk memelihara gedung itu. Sarang laba-laba banyak terlihat di atas, catnya kusam, meja-meja untuk pengunjung banyak coretan dan bekas-bekas lem yang menggumpal seperti permen karet. Di bagian depan dekat pintu ada papan karir. Papan yang isinya informasi lowongan itu tak pernah kosong, namun sejauh ini baru sekali aku membaca apa yang ditulis disana, rasa gengsiku masih terlalu sukar ditaklukan. Tak seperti sikapku pada papan berfungsi sama yang ada di kampus almamater. Bau lem kertas yang terbuat dari kanji terasa menyengat namun aku suka bau itu, meskipun lem yang dipakai bukan aica aibon. Selain belasan kassa yang berjajar, di depannya ada tiga kios penjual benda-benda pos. Aku tak tahu berapa keuntungan yang diperoleh oleh para penjual benda pos itu kini tiap harinya, terutama lagi yang berjualan di luar, yang lebih tepat disebut pedagang asongan pos itu. Di saat kantor pos lebih semakin berfungsi bukan untuk mengirim surat lagi, akankah mereka bertahan? Padahal layanan-layanan seperti bayar kredit, ambil pensiun, bayar listrik, bahkan juga paket (barang berat) tentu tidak memerlukan benda-benda pos macam amplop, perangko, materai dll lagi. Ah, sekali lagi inilah paradoks dampak teknologi, membantu atau malah mengeliminasi manusia?

Kalau mau lihat yang dramatis atau bahkan inspiratif dari sebuah kantor pos, aku sarankan kau datang ke kantor pos cabang di dekat rumahku. Di kantor pos yang kecil dengan hanya satu kassa itu, kau akan menemui bapak Sudarsono (nama ini kudapat dari melihat cap stempel yang ia miliki). Di ruang berukuran sekitar lima kali lima meter itu ia bertugas seorang diri, bahkan seringkali benar-benar seorang diri dalam artian kantor pos itu memang tidak banyak yang mengunjungi. Aku selalu tertegun setiap datang dan melihat pak Sudarsono itu tetap duduk di balik jendela kaca, sendirian, kadang hanya ditemani sebuah radio kecil yang sering tidak dinyalakan dan sebuah kipas angin kecil. Wajah pria berusia kira-kira 40 tahun itu terlihat begitu bosan, matanya yang memang selalu seperti mengantuk itu semakin memperkuat kesan tersebut. Aku sendiri tak bisa membayangkan apa yang kira-kira akan kulakukan setiap hari dalam suasana pekerjaan seperti itu. Memang, ruangan itu cukup sejuk karena di depan ada pohon yang cukup rindang. Suasana di dalam juga relatif rapi. Ada beberapa pamflet-pamflet seperti undian berhadiah dari satu produk, sebuah poster kusam tentang motto petugas pos yang disingkat dengan BIR (Berani, Ikhlas, Ramah), beberapa fotokopian info lowongan kerja di dinding samping dan beberapa tempelan lain yang sepertinya sudah kadaluwarsa semua. Bagaimana jika pak Sudarsono berhalangan hadir, ini yang aku agak penasaran, kira-kira siapa yang menggantikannya ya? Meski menunjukkan raut bosan sendirian selama berjam-jam setiap hari di tempat sama, hal tersebut tidak membuat pria keriting berkumis yang selalu berseragam putih ini menjadi tidak ramah. Bagiku ia cukup ramah, meski juga tidak berlebihan. Keadaan kantor pos yang sejauh ini paling-paling hanya pernah membuatku mengantri satu orang juga membuatku merasa dilayani dengan cukup cepat. Sesungguhnya aku malah ingin sekali-sekali agak lama di kantor pos itu, karena aku begitu terilhami dengan situasi yang terjadi di situ. Aku ingin memperhatikan lebih seksama kegiatan petugas pos yang sangat mandiri itu, mungkin juga mengobrol dan mencoba bertanya bagaimana cara dia menghindari kebosanan. Lebih lagi apakah ada pengalaman yang sangat menarik pernah terjadi selama ia bekerja seorang diri di tempat itu.

Pada akhirnya, aku kini menjadi lebih sering berpikir, entah berapa lama lagi kantor pos mampu bertahan di zaman dimana orang makin malas keluar rumah selain untuk senang-senang ini. Lagipula sepertinya itu juga sudah mulai nampak sekarang, kantor pos saat ini telah hanya menjadi milik mereka yang tak memiliki akses kepada teknologi yang canggih-canggih itu, kantor pos milik orang miskin/susah. Dan kini akupun melihat adanya semacam sosok pahlawan baru, ia yang telah dengan setia melakukan banyak hal berjasa bagi banyak orang, namun sosoknya sering diabaikan, tak pernah kelihatan, diekspos apalagi menonjolkan diri. Petugas pos, pengantar pos, tak pernah memilih-milih mana surat yang akan ia antar, mana yang tidak, yang penting kiriman disampaikan dengan selamat, bahkan seringkali setelah surat sampai di kotak pos, ia segera pergi tanpa berharap terima kasih atau sambutan dari mereka yang memakai jasanya. Seandainya ada partai kantor eh petugas pos.

1 Responses to “Kantor Pos”

  1. # Anonymous echa

    maksih atrikel pos nya....btw masih ada ga ya org yg setia bgt pake jasa kantor pos???  

Poskan Komentar


Web This Blog


XML

Powered by Blogger

make money online blogger templates




Free chat widget @ ShoutMix

Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign
Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign!



© 2006 perjalanan lalat hijau | Blogger Templates by GeckoandFly.
blog ini berisi catatan, kenangan, keluhan, caci maki, khayalan, pengakuan, tiruan, dan hasil kopi paste
blog ini tidak ada hubungannya dengan lalatx atau padepokan silat tertentu, pengelola sebenarnya tidak suka warna ijo!