perjalanan lalat hijau

LALAT HIJAU, sebuah catatan perjalanan untuk beberapa waktunya ke depan


Juni 2008

Bulan ini masih pertengahan, tapi jelas ini adalah bulan yang cukup berat, atau mungkin paling berat sepanjang aku di Jogja, atau malah sejak aku bekerja. Tidak ada tanda-tanda istimewa yang mengiringi permulaan bulan ini. Aku mengawali dengan bayar kos. Memang rasa eman-eman selalu ada setiap dua bulan sekali aku ambil uang empat ratus delapan puluh ribu untuk kemudian diserahkan pada ibu kos yang sekarang jika menagih menggunakan isyarat yang sangat menjijikkan; menggesekkan jempol dan jari telunjuk ke atas sambil tersenyum dengan kepala menyamping, sebuah ekspresi licik. Wuaduh, bukannya apa. Aku hanya merasa hal itu makin menunjukkan bahwa dia melihat anak-anak kos sebagai karung uang berjalan saja. Untung aku masih belum bernasib seperti beberapa anak kos lain yang kadang disuruh mengantarkan dia ke sana kemari. Memang dulu aku pernah disuruh membelikan obat di apotik tapi itu cuma sekali. Itulah salah satu alasan aku selalu berusaha tidak mau berlama-lama mengobrol dengan ibu kos, supaya tidak menjadi akrab (atau setidaknya dia merasa sudah akrab) sehingga kemudian dia merasa berhak menyuruh-nyuruh aku untuk ini itu. Bahkan sekalipun aku sering sudah sangat ingin komplain karena listrik kos yang sering kelebihan daya dan padam. Aku memutuskan tidak mengatakannya. Aku tidak mau dia merasa sudah berjasa padaku jika kemudian dia mengambil tindakan dengan memperingatkan klan mahasiswa ngapak-ngapak itu supaya tidak menyalakan alat listrik yang berdaya banyak, atau supaya tidak ribut di waktu malam. Aku membiarkan saja listrik yang dulu bahkan sempat setiap malam, di jam 6-9an selalu njeglek sampai-sampai memori komputerku jebol (untung masih garansi). Sabar.. sabar.. Menggotong-gotong CPU yang memorinya rusak itu dengan naik motor sendirian ke Babarsari terjadi di bulan ini juga.

Lalu terjadi juga. Hal-hal lain yang lebih besar dari sekadar ketidaknyamanan di kos. Yang pertama adalah pembagian waktu. Bulan ini aku menerima empat pekerjaan sampingan dari dua perusahaan berbeda. Dua tugas menulis dan dua tugas menyunting. Dua di antaranya sudah aku pertimbangkan sejak bulan lalu. Satu lagi, menulis dua topik dalam 28 lembar, adalah kerjaan rutin sejak lama. Dan yang satu lagi, menulis 3 buah artikel pendek, diajukan mendadak. Untung saja, yang terakhir cukup memakan waktu satu malam. Meski untuk bulan depan tidak lagi cukup semalam karena jumlahnya ditingkatkan menjadi 10. Tapi, aku tidak mengira kalau membagi waktu bisa sangat sulit. Lebih-lebih lagi karena satu dari dua buku yang kusunting ternyata lebih tebal dari yang kubayangkan. Untungnya lagi, kemarin aku dikabari kalau deadlinenya diperpanjang seminggu.

Hidupku tentu bukan hanya untuk bekerja saja dong. Aku harus membagi waktu dengan yang lain. Menonton Euro adalah yang paling sering kukorbankan. Sampai berlangsungnya dua pertandingan perempat final, aku baru sekali saja melihat siaran langsungnya, itupun hanya 80an menit. Untung pertandingan Belanda vs Italia itu bagus. Beberapa pertandingan lain hanya sempat aku tonton lewat siaran tunda yang sudah dipotong-potong itu. Siaran tunda yang kulihat sampai selesai cuma Belanda vs Perancis. Yang lain Jerman vs Portugal cuma 30an menit. Jerman vs Polandia dan Jerman vs Austria cuma sempat lihat sebentar, tapi lumayan karena nontonnya pas gol. Mungkin yang niat kutonton memang cuma dua tim itu, Belanda dan Jerman. Moga-moga aja keduanya sampai final. Menonton pertandingan seperti Euro atau Piala Dunia pun sebenarnya yang kucari hanya tiga hal; proses terciptanya gol (dan ekspresi di bangku cadangan saat timnya mencetak gol), passing cantik atau solo run, dan momen ketika pemain yang sedang atau pernah berada dalam satu klub saling melanggar (seperti Cristiano Ronaldo vs Wayne Rooney di PD 2006) atau ketika mereka bersalaman, rangkulan maupun ngobrol akrab di awal dan akhir pertandingan. Dan kalau ada yang keempat, itu adalah momen saat ada kartu merah atau pemain berantem seperti Zidane vs Materrazi. Yang lainnya tidak terlalu penting. Selain Euro, tentu saja harus bisa membagi waktu ngapel. Ternyata ini juga tak mudah. Bulan inipun akhirnya sempat ada sedikit ketegangan yang sekarang sudah teratasi. Acara lain bisa disebut perkawinannya Anwar dan Nita, besok. Oya, masih harus ngeblog dan posting sana sini juga? Sebenarnya miris juga melihat blog ini sekarang makin sekadar jadi bilik pengakuan dosa. Tapi bulan depan mestinya tidak akan seperti bulan ini lagi.

Masalah membagi waktu tidak akan cukup membuat bulan ini kusebut sulit. Masih ada hal lain. Kali ini di kantor. Tidak hanya karena kerjaan yang kutangani bulan ini memang cukup sulit dan komputer yang lelet. Pengaruh suasana yang sedang terjadi juga tak bisa diabaikan begitu saja. Semua orang mungkin tahu, di mana-mana aku ini bukan termasuk yang sering bikin ramai-ramai, termasuk di kantor. Tapi di bulan ini juga, ramai-ramai itu terjadi. Aku sebenarnya tidak terlibat, tapi karena ada dalam barisan yang sama, aku toh ikut terkena lemparan juga. Boleh disebut ini office politics yang menjijikkan. Meski aku merasa ini sepertinya adalah awal terjadinya kegoncangan yang akan cukup hebat di kantorku yang sekarang. Aku tidak akan berkomentar soal kemunafikan karena itupun ada di banyak tempat lainnya. Di masalah ini, yang lebih menyolok bagiku adalah kebodohan. Seperti orang yang kebanyakan makan junk food, perusahaan ini seperti seorang gemuk karena diisi sampah dan zat-zat beracun. Akibatnya adalah kemampuan otak menurun, ototlah yang lebih banyak dipakai. Sebenarnya, kemampuan otak yang tidak istimewa sih memang sudah sejak dulu. Ya, apa yang bisa dikatakan tentang otak yang jarang menggunakan logika, lebih suka yang mistis. Aku juga sudah lama heran dengan perusahaan ini. Bagaimana mereka bisa survive, bahkan bertambah besar, selama puluhan tahun sampai saat ini jika personil dan produknya hanya begitu-begitu saja. Dari mana dananya? Nah, baru kemarin aku sedikit mendapat titik cerah. Jadi, kemungkinannya ada dua. Pertama, hasil korupsi. Kedua, dananya didapat dari memanfaatkan kebodohan orang lain. Aku rasa sih dua-duanya.

Ya, bensin memang naik, harga-harga naik. Itu juga mulai sangat kurasakan bulan ini. Perusahaan ini jelas juga merasakannya. Kalau sudah begitu, apa yang dilakukan pikiran pebisnis yang seperti itu? Langkah klisenya adalah isu perampingan yang makin jelas. Yang lain adalah pelampiasan. Otot bicara. Upaya mencari-cari kesalahan, usaha untuk menjilat dan saling menjatuhkan terjadi antar pentolan, tentu supaya kedudukannya aman. Dewan direksi dan mayoritas kepala-kepala lain di perusahaan ini otaknya memang tidak terlalu istimewa. Agaknya, itulah ciri perusahaan ini. Cepat memberi gelar-gelar mentereng pada semua orang. Sebelum di sini, kesanku saat mendengar orang memiliki jabatan presiden direktur, direktur, kepala cabang, kepala bagian, editor, dll. sangat tinggi, tapi kini tidak lagi. Pertanyaannya, apakah mereka itu bisa survive di luar atau mendapat posisi yang sama tingginya seperti di sini? Aku tidak yakin. Meski di CV akan meyakinkan, tapi kalau melihat kinerjanya, sepertinya kalau di tempat lain yang setara saja, posisi itu akan sulit mereka pertahankan. Gaji mereka mungkin tidak seberapa (aku memang tidak tahu jumlahnya, tapi rasanya masih kalah dengan anggota direksi di perusahaan yang sama besar) tapi posisi mentereng itu jelas harus dipertahankan. Apalagi tak sedikit yang makin berumur tapi masih tidak pintar-pintar. Jenis yang seperti ini bisa bertahan karena memanfaatkan kepercayaan seperti itu tadi. Dan office politics kali ini juga mengusung penegasan soal hierarki. Semua tahu kalau pemujaan akan hal itu memang adalah hal yang sangat khas seperti dalam lingkungan yang percaya hal-hal mistis. Tentang kepemimpinan yang seakan takdir dari dewa-dewa, tentang hormat yang mutlak diperlukan dan harus dilakukan apapun yang terjadi, dst.

Aku tidak sedang meratapi apapun selain keloyoan yang kini dirasakan beberapa teman. Tapi, sebenarnya kasihan juga kalau melihat orang-orang yang terlalu berharap banyak dalam sedemikian banyak kamuflase di kantorku. Untukku sendiri, sejak awal aku memang merasa bahwa perusahaan tempatku bekerja tidak layak dibanggakan. Bahkan, sejak dulu dan apalagi sekarang, aku selalu malu memberitahu orang lain di mana aku bekerja. Seperti kemarin saat ada teman yang bertanya, "dengar-dengar di sana kalau pagi ada apa tuh namanya?" Untung dia lupa istilahnya, sehingga aku memperhalusnya dengan mengatakan "Maksudmu ada doanya?" Hehehe... Kalau aku terdengar sombong, itu memang sengaja. Bagiku, salah satu cara untuk tidak menjadi budak adalah dengan memelihara sedikit keangkuhan. Aku tahu langkah itu memang berisiko karena bisa-bisa aku hidup dalam ilusi; bahwa aku bukan budak, bahwa aku lebih pintar, padahal sebenarnya dengan diam tanpa melawan selain dalam pikiran, aku sedang menjadikan diri sebagai budak dan orang bodoh tanpa kusadari. Tapi yang jelas, aku hanya tak mau terlalu berharap banyak pada apapun yang ada di negara ini, atau mungkin di dunia ini (tidak ada dewa seperti Google di dunia nyata ini).

Di kantor ini, niatku hanya belajar dan sejak awal aku sudah menetapkan bahwa masa kerjaku di sini akan kuakhiri beberapa bulan lagi, meski bulan ini aku merasa harus mempersingkatnya lagi. Praktis aku hanya menunggu THR yang sialnya dibagikan bulan Desember, setidaknya demikian nasihat yang kuterima. Memang benar, aku juga belum pernah mendapat THR yang berupa kelipatan gaji karena selalu sudah keluar sebelum menerimanya. Sebelum ini, yang ingin kudapat juga adalah track record di CV. Itu yang sering kukatakan karena bagaimanapun perusahaan ini termasuk perusahaan yang cukup besar dan punya nama. Tapi, di sini jelas tidak terlalu ada banyak peluang untuk mendukung cita-citaku. Karena itulah motifku sekarang lebih ke mencari uang. Dan justru di pekerjaan-pekerjaan sampinganlah, selain tentu menambah penghasilan (yang nilainya lebih besar dibanding gajiku), sepertinya semua itu juga lebih memberi peluang (atau lebih tepatnya kebebasan) bagiku guna mendukung cita-citaku yang sesungguhnya.

Sekarang, meski banyak proyek pribadi yang terbengkalai, di kerja sampinganku aku sering bisa menulis dengan bebas untuk pembaca yang jumlahnya lebih banyak dibanding kebanyakan buku yang kuedit di kantor. Memang itu belum seberapa dibandingkan banyak orang lainnya. Tapi, hal itu jelas tidak kubayangkan akan terjadi saat aku masih di awal-awal bangku kuliah. Itulah... bulan ini memang berat karena untuk pertama kalinya masalah kantor bisa mengusikku sampai sebegitunya. Mungkin karena semua ini saling terkait. Aku bahkan sampai sempat mengalami sesak nafas dan beberapa kali pusing dan masuk angin akibat lembur sampai subuh hampir tiap hari. Tapi, meski begitu, dalam hati sebenarnya aku kadang merasa agak bangga juga. Ya begitulah.

Label: , , , ,

1 Responses to “Juni 2008”

  1. # Anonymous Anonim

    hi, bro....lalat hijau
    rencanamu setelah ini akan ke sampah mana lagi?
    cobalah merubah image lalat hijau tidak hanya berkubang di sampah!
    kecuali kalo sampahnya bisa didaur ulang menjadi emas dan berlian...hehehehe
    semangat bro!!!!!

    beeman  

Poskan Komentar


Web This Blog


XML

Powered by Blogger

make money online blogger templates




Free chat widget @ ShoutMix

Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign
Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign!



© 2006 perjalanan lalat hijau | Blogger Templates by GeckoandFly.
blog ini berisi catatan, kenangan, keluhan, caci maki, khayalan, pengakuan, tiruan, dan hasil kopi paste
blog ini tidak ada hubungannya dengan lalatx atau padepokan silat tertentu, pengelola sebenarnya tidak suka warna ijo!