perjalanan lalat hijau

LALAT HIJAU, sebuah catatan perjalanan untuk beberapa waktunya ke depan


masih tengah hari.

Hari-hari ini, tiba-tiba sinar matahari membuatku merasa sangat tua, guyuran hujan membuatku begitu letih sementara angin malam tersenyum sinis sambil melirik bulan yang tinggal tersisa separuh setelah ditelan monster yang kali ini berhasil mengalahkan Voltus V dan Goggle V.
Masih pagi benar, tapi aku sudah menunggu panggilan telepon. Malam kemarin ia tidak pulang lagi, tak ada surat atau pesan yang ditinggalkan, aku sendiri tak yakin kali ini ia akan kembali ke sini, namun aku juga tak yakin jika ia tak akan kembali lagi selamanya.

Kemarin, tak kusangka aku melihatnya di tempat yang sama aku selalu berdiri mencoba mencari jejaknya, ia tampak sangat sedih, gurat-gurat wajahnya sudah mulai muncul di usia yang begitu muda. Waktu itu, sudah sekitar 3 tahun sejak aku melihat ke mata itu, mata yang tak pernah memantulkan bayangan sinar mataku kembali, dan mata itu kini mungkin tidak lebih dari sekedar alat penglihatan, mata itu nampak begitu sedih dan penuh beban.
Tak lama aku berpikir untuk memutuskan meninggalkan tempat itu segera. Sinar matahari waktu itu begitu menyengat, aku berlari sebelum tiba-tiba aku sadar bahwa bayanganku tak terlihat lagi, dan rambutku ini telah memutih begitu cepat. Ia masih disana, memandang ke arah jalan raya yang begitu ramai.
Sejak hari itu, aku memutuskan untuk mengambil jalan lain, jalan yang lebih sepi yang mungkin tak akan dilalui orang lain. Aku memutuskan mengikuti seekor cacing yang sedang menggali sebidang tanah. Perut bumi ternyata tak segelap yang kukira, namun tentu saja aku tetap tak bisa bernafas dengan lapang di sana. Pakaianku kotor oleh tanah, tapi aku senang, tak ada orang yang melihatku keluar dari dalam tanah dengan bimbingan seekor cacing buta. Namun aku tetap tak mau melakukannya lagi.

Kali ini, aku melihatnya lagi. Ia sedang duduk di sebuah batu di depan bangunan bekas toko manisan Cina, memangku sebuah buku yang terbuka, tangan kanannya memegang pensil, sepertinya ia sedang serius membaca, namun aku menyangsikan hal itu, aku tahu ia paling tak suka membaca.
Aku tetap tak ingin mendekatinya lagi, tapi tetap ingin melihatnya lagi, tetap ingin menduga-duga apa yang sedang ia pikirkan lagi. Dan dari bibirnya yang kering dan pecah-pecah itu, ia menggumamkan sesuatu. Ia bersenandung, aku tak percaya ia bersenandung, aku tahu ia paling membenci musik. Angin malam hari itu terasa bertiup lebih kencang dari biasanya, dan aku takut, aku takut dan merasa ada yang salah dengan penglihatanku. Namun semuanya sangat tidak beralasan. Ia masih duduk di situ, sejujurnya aku ingin mendekatinya, aku ingin menyuruhnya diam dan pergi dari situ, tapi aku masih menikmati kehadirannya.

Sudah tahun ke empat sejak ia meninggalkan rumah. Aku merindukannya setiap saat aku bangun, namun perasaan itu segera hilang setelah aku selesai menggosok gigi. Hari ini begitu dingin, kemarin malam hujan turun bersamaan dengan jeritan tangis dunia yang menangisi kematian anak-anak mereka, wabah telah semakin menggila, dan para bayi tak tahan lagi, mereka memilih untuk kembali. Aku rasa mata-mata yang semakin tak bercahaya, dan guratan-guratan ketuaan akan semakin banyak kujumpai dimana-mana mulai hari ini. Dan aku dengar ia juga telah mempunyai seorang anak kini, dan aku dengar ia telah melahirkan seorang bayi yang begitu besar, semua orang mengira ia pasti begitu kesakitan waktu melahirkannya, namun kata dokter ia melahirkan dengan tertawa, meski terdengar terpaksa.

Aku mencoba berusaha sekuat tenaga membuka pintu depan, namun seperti ada yang telah mengganjalnya. Gagangnya begitu dingin, aku kira pintu itu macet karena beku. Beberapa jam kuhabiskan mencoba membuka pintu itu, tetap tak terbuka. Aku memutuskan mencoba mengikuti seekor tikus yang berlari-lari kecil masuk ke sebuah lobang di balik lemari. Tikus itu ternyata tak suka kuikuti, ia marah dan mencoba menakutiku dengan gigi-giginya yang tajam, aku sesegera mungkin berlari dan yang terpenting bisa keluar dari pintu rumahku yang beku itu. Tikus itu tak berusaha mengejar, namun kakiku tak bisa berhenti berlari, kaki-kaki itu telah sangat lelah, namun aku tak bisa berhenti berlari, kaki-kaki itu akhirnya berhenti begitu aku sampai ke ujung lorong si tikus itu.

Matahari ternyata tak ada di luar, hanya mataku seperti tertutup cahaya yang bukan dari matahari. Aku mencoba memaksa membuka mata, aku lihat dia telah berdiri di depanku, menggendong anaknya yang telah menjadi mayat, matanya begitu sedih, rambutnya telah banyak memutih, ia nampak lelah, dan beberapa tetes air mata mulai lari dari sarangnya, dari kilauan air mata itu, kulihat bayanganku, tak beda jauh dengan dirinya. Aku ingin membalikkan badan dan meninggalkannya, namun belum sempat aku melangkah, baru kusadari apa yang terjadi, rumahku telah tertutup dan hampir terkubur sebuah gunung es. Gunung es yang besar dan berkilauan, dan dari situ, kami bisa melihat bayangan kami berdua, begitu letih, pucat, tua dan sedih.

0 Responses to “masih tengah hari.”

Poskan Komentar


Web This Blog


XML

Powered by Blogger

make money online blogger templates




Free chat widget @ ShoutMix

Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign
Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign!



© 2006 perjalanan lalat hijau | Blogger Templates by GeckoandFly.
blog ini berisi catatan, kenangan, keluhan, caci maki, khayalan, pengakuan, tiruan, dan hasil kopi paste
blog ini tidak ada hubungannya dengan lalatx atau padepokan silat tertentu, pengelola sebenarnya tidak suka warna ijo!