perjalanan lalat hijau

LALAT HIJAU, sebuah catatan perjalanan untuk beberapa waktunya ke depan


Catatan Nyaris Seminggu #6

17 Desember 2006


Bangun di jam biasa (sekitar pukul 9). Kali ini musik yang disetel entah kenapa kok Britpop.
Siang hari satu bunyi halilintar yang menyambar diikuti oleh listrik yang mati. Beberapa jam lewat sebelum Djohan mengajakku ke BG Junction sebab katanya ada semacam ‘freak show’. Jalan kaki menuju mal baru yang lebih sering disebut Carrefour, ternyata memang dekat sekali. Dengan pakaian biasa saja, bahkan Djohan sering diperhatikan banyak pengunjung dengan tatapan aneh karena dia memakai kaos junkie, sweater dan celana pendek (bukan ¾ atau semacamnya, celana pendek biasa) bercorak pantai yang sudah lusuh. Terutama karena celananya itu. Kunjungan ke ‘freak show’ yang HTM nya sebesar lima ribu rupiah itu hanya beberapa menit saja karena Djohan merasakan ‘suasana yang berat secara spiritual’ di dalam ruangan kecil yang didominasi warna hitam itu. Dan yang ditunjukkan memang tidak banyak (selain aku pribadi ada yang merasa tidak tega melihatnya), Jagur, raksasa yang tingginya 2,5 meter, gadis kecil berwajah monyet, anak kecil setinggi botol aqua dan binatang langka yang sebenarnya tidak langka dan tukang ramal dan jasa memasang susuk.

Sore harinya, ke acara perpisahan atau surprise party nya Carol, giliran aku yang saltum. Di perjalanan berangkat dan pulang aku pun kembali melihat jalanan yang penuh gemerlap, baliho-baliho iklan, beberapa bangunan mal baru dan calon bangunan mal baru lainnya. Sepertinya itu ‘freak show’ yang lain, atau mungkin kamilah obyek ‘freak show’ itu? Tiba di sana sudah hampir pukul 19.00 padahal di SMS nya Utik sudah diperingatkan agar datang tepat sebelum jam 18.00. Sempat kesasar di tempat lain (walau ternyata bukan hanya aku yang kesasar mendatangi pesta lain di dekat kolam renang Agis), konfirmasi ke Utik yang tidak datang karena ternyata sedang ada masalah keluarga. Di dalam banyak teman yang tidak datang, begitu yang kudapat dari Aulia Reza. Uyab, Malonda dan Nenny, Utik, Dwi, dan yang sepertinya kelupaan macam Victor dan Sondit. Bangku yang telah disiapkan banyak yang kosong. Sementara beberapa yang datang mungkin bukan yang cukup akrab denganku, bahkan ada yang sampai sudah lupa namanya. Jadi Reza banyak wira-wiri dan ia juga mengaku kecewa karena banyak yang tidak datang. Aku juga agak kecewa meski untungnya Reza cukup banyak membawa cerita dan gosip seputar teman-teman lama serta keluh kesah dan kenyataan yang harus ia terima sebagai dosen di Petra. Dan info-info baru itu beberapa nyaris memudarkan semangatku untuk kota ini. Pulang dari situ, lagi-lagi capek dan sudah ngantuk seperti kemarin.

0 Responses to “Catatan Nyaris Seminggu #6”

Poskan Komentar


Web This Blog


XML

Powered by Blogger

make money online blogger templates




Free chat widget @ ShoutMix

Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign
Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign!



© 2006 perjalanan lalat hijau | Blogger Templates by GeckoandFly.
blog ini berisi catatan, kenangan, keluhan, caci maki, khayalan, pengakuan, tiruan, dan hasil kopi paste
blog ini tidak ada hubungannya dengan lalatx atau padepokan silat tertentu, pengelola sebenarnya tidak suka warna ijo!