perjalanan lalat hijau

LALAT HIJAU, sebuah catatan perjalanan untuk beberapa waktunya ke depan


Catatan Nyaris Seminggu #8

Perpus 18 Desember 2006, sekitar jam 14.00 ke atas

Perpus adalah satu yang masih selalu kurindukan dari Petra. Sedari tadi aku berputar-putar, jongkok berdiri, mencari entah apa. Dari rak buku sosiologi, filsafat, sejarah, sastra, biografi, popular fiction hingga rak buku tandon yang aku tak tahu artinya. Sebelumnya, tentu aku melihat-lihat koran dulu untuk melihat lowongan di media yang tidak diedarkan di Solo, tapi hasilnya masih nihil.

Saat ini, di deretan meja di dekat rak buku-buku sastra aku melihat seorang gadis kecil. Tidak benar-benar kecil mengingat ia adalah mahasiswi, namun daripada memakai istilah gadis muda aku lebih memilih gadis kecil untuk menghindari kesan ketertarikan secara seksual. Gadis kecil itu sedari tadi duduk diam sendirian di kursinya. Dua buah buku ada di depannya (salah satunya aku kenali sebagai Cala Ibi karya Nukila Amal). Ia nampak sangat menikmati waktu-waktunya bersama buku-buku itu. Dan saat aku memutuskan membawa duduk “Country of Origin” karya Edgar Du Perron, (sebuah novel lumayan tebal yang jelas tidak akan selesai aku baca dalam waktu seminggu sekalipun), ia sudah selesai dengan Cala Ibid an tengah membaca yang satunya.


booklib
Originally uploaded by lalat hijau.

Apakah gadis kecil dengan mata serupa orang yang habis menangis itu anak sastra juga? Andai kata jurusan sastra berhasil memperoleh mahasiswi yang mau merelakan waktunya hingga seharian untuk menyendiri bersama buku-buku, aku rasa tentu ia bukan golongan mahasiswa yang diceritakan Reza, golongan mahasiswa yang pernah mendapat kiriman surat penawaran dari Petra untuk masuk dan menginap saja di ‘kandang ternak yang kosong’ yaitu jurusan sastra Inggris.

Ia ke belakang sambil mengusap hidungnya yang sepertinya mencair. Entah apakah ia terharu membaca kisah dalam buku yang ia pegang. Aku pun sempat-sempatnya berjalan ke mejanya hanya untuk menengok buku apa yang sedang ia baca. Aku lihat judulnya “Detik Terakhir”. Aku tak tahu buku karangan siapa, yang jelas aku yakin buku itu telah difilmkan dengan pemeran Cornelia Agatha. Hal itu tiba-tiba sempat membuatku kecewa. Namun aku memang belum pernah membaca kedua buku yang dipilih gadis kecil itu, sehingga aku bingung juga kenapa aku merasa kecewa? Lagipula apa enaknya membaca buku-buku sastra nobel atau yang revolusioner, di perpustakaan sore-sore begini? Aku kira untuk mengisi waktu, itu sudah lebih dari cukup dan tentu dia lebih daripada aku yang makin lama hanya jadi fetish buku saja.

Waktu berjalan lumayan cepat di sini. Tadi baru aku sadar jika ternyata buku-buku sastra bagus (tapi bukan yang kategori sastra klasik) seperti bukunya Du Perron tadi atau Gao Xing Jian, dll kebanyakan adalah sumbangan Pak Step dan Bu Anita. Nampaknya aku masih akan mengurungkan niat membawa ‘souvenir’ dari perpus Petra ini. Jujur, semula aku benar-benar ingin menjadi klepto, tentu saja untuk buku-buku yang sudah banyak kembarannya. Mungkin nunggu koleksinya tambah banyak lagi dulu.

0 Responses to “Catatan Nyaris Seminggu #8”

Posting Komentar


Web This Blog


XML

Powered by Blogger

make money online blogger templates




Free chat widget @ ShoutMix

Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign
Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign!



© 2006 perjalanan lalat hijau | Blogger Templates by GeckoandFly.
blog ini berisi catatan, kenangan, keluhan, caci maki, khayalan, pengakuan, tiruan, dan hasil kopi paste
blog ini tidak ada hubungannya dengan lalatx atau padepokan silat tertentu, pengelola sebenarnya tidak suka warna ijo!