Menulis buku yang diangkat dari sebuah buku mungkin cukup sulit. Tapi, membaca buku yang diangkat dari sebuah buku yang juga pernah dibaca ternyata saya rasa tidak terlalu beda jauh dengan melihat film yang diangkat dari sebuah buku yang pernah dibaca. Itulah perasaan yang saya rasakan waktu membaca buku ini. Sebenarnya saya agak ragu untuk membaca, apalagi membeli buku ini setelah agak kecewa dengan buku Walter Wangerin sebelumnya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Kanisius juga. Apalagi harganya terbilang cukup mahal. Entah kenapa begitu. Menurut pengamatan saya, rasanya buku rohani berbahasa Indonesia itu masih banyak yang kualitasnya masih belum terlalu istimewa, tapi tidak sedikit yang dijual dengan harga yang terbilang tidak murah. Tanpa bermaksud merendahkan, tapi kalau dibandingkan dengan buku-buku yang lebih "penting" (menurut saya), masih banyak buku rohani yang mungkin bukan mahal, tapi kemahalan (alias harga tidak sesuai isi). Tapi, mungkin itu cuma karena masalah selera saja. Mungkin karena penulis buku rohani Kristen sendiri memang masih belum terlalu banyak. Mungkin sebenarnya itu juga bagus karena setidaknya para penulis buku rohani bisa jadi lebih cepet kaya karena royaltinya lebih gede (meski sepertinya banyak juga buku rohani yang kemudian berakhir di obralan di pameran). Wah, maaf kok jadi ngelantur begini ya...
Kenapa saya kecewa dengan buku pertama Wangerin yang diterbitkan Kanisius? Sebenarnya belum pasti karena buku yang berjudul "Paulus, Rabi Yahudi" itu jelek. Saya bilang begini karena memang baru baca separuh. Tapi, saya kecewa akibat buku itu bikin saya capek membacanya. Terjemahannya (dan penyuntingannya) masih kurang baik dan lay outnya juga tidak mengenakkan (tulisannya saja tidak rata kanan dan hurufnya kurang nyaman). Tapi, waktu saya lihat-lihat buku novel kedua Wangerin yang berjudul "Yesus" ini, saya merasa sepertinya beda. Biasanya, waktu saya mau beli buku terjemahan yang tebal, saya baca halaman ke tiga atau empat setelah subjudul, dua pertiga, dan beberapa belas halaman sebelum halaman terakhir. Kenapa demikian? Karena saya membayangkan bahwa stamina seorang penerjemah dan editor (mungkin) bisa menurun di dua pertiga naskah dan mungkin juga bisa menurun begitu deadline sudah mepet sehingga bagian-bagian menjelang akhir agak terlalu teliti, sedangkan bagian awal adalah untuk mengecek kualitas "sebenarnya" (karena di awal mungkin masih semangat, kan?). Dan novel berjudul "Yesus" ini memakai lay out, font, bahkan kertas yang sangat beda dengan buku "Paulus". Kalau buku tebal saya pribadi lebih suka kertas isinya tipis atau buram karena lebih enteng dibawa. Itu semua dengan catatan, buku itu tidak dishrink (dibungkus plastik bening nan ketat). Kalau sudah dishrink sih.. saya akan tunggu ada yang sudah dibuka, atau kalau plastiknya agak robek, ya dirobek sekalian.
Buku yang termasuk tebal ini termasuk cukup cepat saya baca. Bahkan, kalau biasanya saya suka gonta-ganti meski satu buku belum selesai dibaca, tapi buku ini bikin saya cukup betah buat membaca sampai tuntas. Saya sempat melihat bagian halaman "credit title" buku itu dan membandingkan dengan yang "Paulus". Penerjemahnya sama, tapi kali ini ternyata ada dua penerjemah. Dan untuk yang "Yesus" ini, ditulis juga nama editornya. Hmm, kenapa yang "Paulus" tidak ditulis? Atau jangan-jangan tidak disunting? Wah!
Sebenarnya rumus si Wangerin ini memang sama. Ia tetap menceritakan si sosok utama dengan berbagai sudut pandang. Kali ini dari sudut pandang Maria dan Yohanes. Mungkin saya cukup betah karena seperti sudah saya singgung di atas, karena saya sudah "kenal" tokoh-tokohnya. Karena keempat Injil di Alkitab sendiri sudah berbentuk cerita, maka dalam beberapa bagian, Wangerin seperti hanya menyalin (atau mungkin si penerjemah yang menyalin?) dari Alkitab TB. Makanya, kadang bahasanya masih ada beberapa (sedikit) yang tidak konsisten. Kadang gaya kuno seperti Alkitab TB, kadang gaya modern yaitu gaya si penerjemah. Dan seperti sudah saya singgung lagi di atas. Tentu ada juga ketidakpuasan atau lebih tepatnya saya menjadi bertanya-tanya, kenapa bagian ini tidak diceritakan, kenapa bagian itu ceritanya hanya sedikit, dll. Memang, untuk mukjizat kesembuhan atau lainnya saya bisa memaklumi kalau tidak diceritakan (karena katanya kan, seluruh dunia tidak akan cukup kalau buat menulis semua perbuatan Yesus selama hidup). Tapi, satu hal yang masih membuat saya bertanya-tanya adalah kenapa kejadian ketika Yesus menjungkir balikkan meja penukar uang di Bait Allah tidak diceritakan dan hanya disinggung sedikit sekali waktu sidang menjelang penyaliban. Seolah hal itu tidak terlalu penting saja. Tapi, di luar itu, saya cukup senang membaca novel ini. Hal-hal menarik seperti deskripsi Yesus yang punya ciri khas rambut kriting, Maria Magdalena yang seperti gadis kecil, Petrus yang seperti Little John (dan Yesus Robin Hoodnya?), Maria ibu Yesus yang selalu ikut dalam perjalanan pelayanan Yesus, cukup membuat imajinasi ikut terpuaskan. Dan di akhir halaman, saya justru merasa novel ini terlalu tipis untuk menceritakan sedemikian banyak cerita dari dua sudut pandang pula. Menurut saya, mungkin akan lebih maksimal jika hanya memakai sudut pandang Maria saja (misalnya). Meski saya kurang terlalu suka juga dengan penggalian karakter Maria yang menurut saya masih kurang berani dan justru dia kadang seperti orang yang tidak jelas. Ya, saya anggap mungkin karena penulisnya juga takut kalau dianggap menghujat. Ya, bagaimana lagi penulisnya juga pendeta. Maka, sebagai alternatif saya sekarang sedang mencari novel "Gospel According Jesus Christ" karya Jose Saramago yang dikritik habis gereja Katolik. Pastinya buku itu lebih menarik. Sayang, belum ketemu yang jual atau donlot hehe...
Dan pada akhirnya..
Selamat Natal dan Tahun Baru
Label: buku, kanisius, natal, walter wangerin, yesus
Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...Dan inilah.. dengan bangga.. kami persembahkan: perpustakaan Alexandria!!!
Sebelum dihina, saya umumkan dulu bahwa daftar ini dipublish terutama biar kesannya saya ini intelek :P padahal mungkin baru 5% yang benar-benar sudah selesai dibaca hehe... Ya, saya cuma mau merayakan hadirnya koleksi ke 1000. Meski lebih dari 80% koleksi ini adalah ebook, saya tetap merasa senang karena seolah memiliki perpustakaan pribadi (itu salah satu impian saya kalau sudah punya rumah sendiri nanti). Lagipula saya juga membayangkan, besok mungkin semua buku akan berbentuk digital sehingga koleksi ebook saya ini juga akan bisa berharga (semoga). Tidak ada buku yang langka atau agak langka seperti yang diceritakan di "The Man Who Loved Books Too Much" karena kebanyakan juga buku digital (NB: "The Man Who Loved..." adalah buku yang bikin saya makin rakus mengoleksi, bahkan meski koleksi itu tidak benar-benar dibaca). Bukannya mengecilkan ebook. Pengorbanan waktu, tenaga, kesabaran, space harddisk, dan tentunya juga uang yang saya keluarkan untuk mendapatkan ebook-ebook ini juga memang tidak kecil, tapi nyatanya ebook hasil donlotan memang tidak ada yang layak disebut langka kok.
Mungkin, buku berbahasa Indonesia yang paling jadul yang saya punya adalah "Pengakuan Pariyem" yang saya beli di Shopping, Jogja. Buku itu cetakan tahun 1981 dan tampangnya sudah lecek. Sementara untuk buku berbahasa Inggris, ada "Jailbird" karya Kurt Vonnegut yang cetakan tahun 1979 (tapi terlihat masih kokoh). Buku terakhir adalah hasil "nemu" di Jusuf Agency. Buku cetak yang lain kebanyakan terbitan tahun 2000an. Buku paling unik adalah "Les Francais et Indonesie." Unik, karena buku yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan KPG sebagai "Orang Prancis dan Orang Indonesia" itu belum juga bisa saya baca sampai saat ini (meski edisi bahasa Indonesianya sudah pernah baca sebagian). Saya membeli buku itu karena rencananya mau saya beri ke seorang teman lama yang suka dan bisa bahasa Prancis, tapi apa daya sampai sekarang saya belum pernah bertemu dengannya. Saya juga masih menyimpan ebook "Vivir Para Contarla" (Living to Tell the Tale), sebuah otobiografi Gabriel Marquez yang tidak saya masukkan di daftar ini karena saya kesal sebab sama sekali tidak bisa baca.
Untuk buku paling berharga, sejauh ini tidak lain adalah "Tales from Djakarta." Bukan saja karena buku itu adalah buku bahan skripsi saya, tapi karena buku itu dibeli di Boston dan pernah ditandatangani alm. Pram sendiri! (meski saya akui saya kurang merawatnya sehingga sekarang agak berdebu). Buku-buku di daftar ini beraneka ragam temanya, tergantung selera saya saat itu atau tergantung judulnya menarik atau tidak. Beberapa buku memang saya akui adalah buku sampah, seperti misalnya "Make Her Chase You", "How to Live 24 Hours a Day" atau karya-karya David Icke, tapi tetap saya simpan karena lucu. Hal yang sama juga terjadi pada buku-buku bertema filsafat esoterik, saya kadang donlot buku seperti itu karena judul dan deskripsinya unik-unik. Ada juga beberapa buku grammar dan buku yang judulnya sepintas seperti buku tutorial. Buku jenis ini (jumlahnya sedikit) sengaja saya masukkan karena buku itu menarik (menurut saya) sehingga saya anggap mereka lebih dari sekadar buku tutorial, dummies atau how to biasa. Kalau yang serius, buku yang saya koleksi kebanyakan adalah karya fiksi (sastra), sejarah, ensiklopedia, bahasa, serta filsafat, mitologi, dan psikologi juga agak banyak. Secara khusus, memang ada beberapa tema yang jadi favorit saya, misalnya: sejarah Indonesia, kekerasan (oleh massa atau oleh negara), dunia literasi, Tionghoa Indonesia, komunisme di Asia (khususnya komunis Indonesia), agama (terutama berkaitan dengan budaya, sejarah dan politik agama Kristen serta Islam), nasionalisme, politik media massa, serta belakangan tentang (budaya) makanan dan dunia kriminal (khususnya psikologi kriminal). Mengenai bahasa, sejauh ini ada 212 buku berbahasa Indonesia, 1 bahasa Perancis, dan 790 dalam bahasa Inggris. Untuk top scorer, sebagaimana bisa dilihat urutan nomor satu untuk sementara ini ditempati Paulo Coelho. Saya bukan penggemar berat karya Coelho, tapi karena si Coelho sendiri mempersilakan buku-bukunya didonlot di blognya, maka saya rasa bukunya layak dikoleksi (dan bagi saya, membaca Coelho sebenarnya memang menghibur).
Di sini, buku yang saya masukkan dalam koleksi adalah buku yang memang saya niat untuk memiliki atau buku lain yang cukup berkesan, misalnya yang merupakan pemberian/kado (bukan jatah) atau buku yang saya pinjam dan tidak saya kembalikan (tenang, yang jenis ini jumlahnya sangat sedikit). Buku-buku yang saya dapat karena pekerjaan (jatah editor) tidak saya masukkan. Demikian juga buku-buku yang (terpaksa) saya beli demi untuk mendukung pekerjaan juga tidak saya masukkan. 3 buah buku tutorial komputer juga tidak saya masukkan. Buku yang terlalu tipis juga tidak saya masukkan (mis: "The Manual of the Warrior of Light" karya Coelho, "Right to Be Lazy" dari Lafargue, dan buku kumpulan puisinya Jim Morrison, Pablo Neruda, dan Fernando Pessoa). Beberapa buku yang tidak jelas kelengkapannya (mis: kliping tulisan Andreas Marwoto tentang pangan yang kini sudah dibukukan, tapi saya belum yakin apa kliping dan kumpulan tulisan yang dibukukan itu sama lengkapnya) serta ebook yang mencurigakan apakah buku itu memang benar-benar sudah pernah diterbitkan, juga tidak saya masukkan. Beberapa excerpts alias cuplikan buku (ebook) juga tidak saya masukkan (meski sebagian besar cuplikan itu sudah mencakup lebih dari 50% isi keseluruhan). Bukannya karena saya malu atau tidak suka dengan buku-buku itu, tapi karena kalau dimasukkan maka jumlahnya akan membengkak dan angkanya tidak 1000 atau 1001 lagi. Selain itu, menurut saya buku-buku yang jatah editor atau yang demi pekerjaan juga rasanya saya dapat bukan karena memang saya berminat, tapi karena itu memang hak saya.
Mungkin ada juga yang janggal, yaitu kenapa dua buku Gavin Menzies ("1434" dan 1421") atau buku "Veronica Decides To Die" dan "Veronika Memutuskan Mati" semua dimasukkan? Bukankah itu judul yang sama? Jawabnya, itu karena saya punya baik buku cetak dan ebooknya (yang ebook bahasa Inggris, yang cetak bahasa Indonesia). Lalu, kenapa "Sejarah Tuhan" dan "History of God" serta "Darkness At Noon" + "Gerhana Tengah Hari" yang sama-sama ebook dimasukkan keduanya? Itu juga karena saya rasa karena yang satu bahasa Indonesia dan satunya bahasa Inggris, maka sah saja kan dimasukkan. Meski demikian, sejujurnya bukan itu juga alasan kuatnya hehehe... Sekali lagi itu hanya untuk mempertahankan supaya angka tidak beranjak jauh-jauh dari 1000. Soalnya, seperti kasus buku Menzies, saya sebenarnya juga punya "The World Without Us" dan "The Man Who Loved Books Too Much" dalam versi cetak (bahasa Indonesia) maupun versi ebook (bahasa Inggris), tapi toh yang saya masukkan di daftar ini cuma yang versi cetak saja. Akhirnya, meski ini temanya merayakan buku ke 1000 dan seperti bisa dilihat, saya sudah berusaha mengakali supaya jumlahnya tetap 1000, jumlah buku di daftar ini tetap saja 1003. Ini terjadi karena ternyata setelah saya teliti lagi kemarin, ada beberapa buku cetak yang masih belum masuk daftar sehingga jumlahnya ketambahan 3. Tapi, karena saat ini posisi "Engineers of Happy Land" masih dalam perjalanan (shipping) sementara "Gadis Pantai" dan "Perjalanan Waktu" ada di Jogja (dipinjam), jadi tetap bisa dibilang yang sudah ada di tangan saat ini adalah 1000! Namun, saya harap terutama yang masih shipping bisa segera bergabung. Target saya selanjutnya adalah menyaingi koleksi buku SBY yang katanya puluhan ribu (?), tapi selain itu juga tentu saja saya inginnya juga jadi orang yang lebih tegas, lebih pintar, lebih berani, dan lebih baik dari doi.
Inilah daftarnya (ket: E = e-Book, P = printed books):
- A. Alpheus - Complete Hypnotism, Mesmerism, Mind-Reading and Spritualism (E)
- A.R Narayanan - Truth and the Myth (E)
- A.S.A Briggs & Lawrence Burke - Sejarah Sosial Media (P)
- Aaron Copland - Music and Imagination (E)
- Abraham Maslow - Religions, Values, Peak Experience (E)
- Adam Roberts - Fredric Jameson (E)
- Adele King - Camus (E)
- Adrian Vickers - History of Modern Indonesia (E)
- Aesop - Fabels (E)
- Ahmad Tohari - Bekisar Merah (E)
- Ahmad Tohari - Di Kaki Gunung Cibalak (E)
- Ahmad Tohari - Jentera Bianglala (E)
- Ahmad Tohari - Kubah (E)
- Ahmad Tohari - Lintang Kemukus (E)
- Ahmad Tohari - Ronggeng Dukuh Paruk (E)
- Ajay Rai - All You Want to Know About Yourself (P)
- Akhmad Setiawan - Perilaku Birokrasi dalam Pengaruh Budaya Jawa (P)
- Al & Laura Reis - Fall of Advertising & Rise of PR (E)
- Al & Laura Reis - Immutable Laws of Branding (E)
- Al & Laura Reis - War in the Boardroom (E)
- Alan Watts - Book On The Taboo Against Knowing Who You Are (E)
- Alan Weisman - The World Without Us (P)
- Alan Woods & Ted Grant - Reason in Revolt (P)
- Alasdair Gray - Lanark; A Life in Four Novels (E)
- Alastair Hannay - On the Public (E)
- Albert Camus - An Absurd Reasoning (E)
- Albert Camus - The Fall (E)
- Albert Camus - The Just (E)
- Albert Camus - The Plague (E)
- Albert Camus - The Stranger (E)
- Aldous Huxley - Ape and Essence (E)
- Aldous Huxley - Brave New World (E)
- Aldous Huxley - Brave New World Revisited (E)
- Aldous Huxley - Collected Essays (E)
- Aldous Huxley - Island (E)
- Aldous Huxley - The Doors of Perception (E)
- Aldous Huxley - Those Barren Leaves (E)
- Alexander Solzhenitsyn - Gulag Archipelago (E)
- Alexander Solzhenitsyn - The First Circle (E)
- Alexander Solzhenitsyn - We Never Make Mistakes (E)
- Alexander Werth - Russia At War - 1941-1945 (E)
- Alexandre Dumas - Count of Monte Cristo (E)
- Alfred Edesheim - The Life and Time of Jesus the Messiah (E)
- Alice Walker - The Color Purple (E)
- Alif Danya Munsyi - Bahasa Menunjukkan Bangsa (P)
- Alison Hoover Bartlett - The Man Who Loved Books Too Much (P)
- Alvin Toffler - Future Shock (E)
- Amin Maalouf - Balthasars Oddysey (E)
- Amy Tan - The Bonesetter Daughter (E)
- Amy Tan - The Kitchen God's Wife (E)
- Amy Tan - Opposite of Fate (P)
- Amy Tan - Saving Fish from Drowning (P)
- Anchee Min - Empress Orchid (E)
- Andre Levefere - Translation - History - Culture (E)
- Andre Tocme - Jesus and Non Violent Revolution (E)
- Andrea Hirata - Laskar Pelangi (E)
- Andrei S Markovits & Lars Rensmann - Gaming World (E)
- Andrew Millie - Applying Psychology to Everyday Life: Anti Social (E)
- Andrew Robinson - The Last Man Who Knew Everything (E)
- Angela Burt - A-Z of Correct English (E)
- Angela Carter - Bloody Chambers and Other Stories (E)
- Angela Carter - Shaking a Leg (E)
- Anita Desai - Clear Light of the Day (E)
- Anita Desai - Fasting Feasting (E)
- Anita Desai - In Custody (E)
- Ann L Weber - Introduction to Psychology (P)
- Anna Motz - The Psychology of Female Violence (E)
- Anthony Beevor - Berlin, the Downfall 1945 (E)
- Anthony Beevor - Stalingrad (E)
- Anthony Beevor - D Day - The Battle for Normandy (E)
- Anthony Brewer - Marxist Theories of Imperialism (E)
- Anthony Burgess - 99 Best Novels (E)
- Anthony Burgess - Clockwork Orange (E)
- Anthony Burgess - Enemy in the Blanket (E)
- Anthony Burgess - Re-Joyce (E)
- Anthony Burgess - The Kingdom of the Wicked (E)
- Anthony de Jasay - Against Politics (E)
- Antoine de Saint Exupery - The Little Prince (E)
- Antoine de Saint Exupery - Wind, Sand, and Stars (E)
- Anton Checkhov - Uncle Vanya (E)
- Anton Checkhov - Ruang Inap no 11 (P)
- Anton Chekhov - The Witch and Other Stories (E)
- Anton E Lucas - One Soul One Struggle (P)
- Arnold Bennett - How to Live on Twenty-Four Hours a Day (E)
- Arnold Teeuw - Citra Manusia Indonesia Dalam Karya Pramoedya Ananta Toer (P)
- Arswendo Atmowiloto - Senopati Pamungkas (E)
- Artemis Cooper & Anthony Beevor - Paris After the Liberation (P)
- Arthur Cotterell - Encyclopedia of Mythology (E)
- Arthur Koestler - Darkness at Noon (E)
- Arthur Koestler - The Thirtenth Tribe (E)
- Arthur Koestler - Gerhana Tengah Hari (E)
- Arthur Schopenhauer - Collected Essays (E)
- Arundhati Roy - God of Small Things (E)
- Asahan Aidit - Perang dan Kembang (P)
- Aubertine Woodward Moore - For Every Music Lover A Series of Practical Essays on Music (E)
- Audrey Niffeneger - Time Traveler's Wife (E)
- Augustine Casiday & Frederick W Norris (ed) - Cambridge History of Christianity vol 2 (Constantine to 600) (E)
- Austin Craig - Life and Labours of Jose Rizal (E)
- Awalil Rizky & Nasyith Majidi - Neoliberalisme Mencengkeram Indonesia (E)
- Ayn Rand - Atlas Shrugged (E)
- Azar Nafisi - Reading Lolita in Teheran (E)
- B Rasuanto - YB Mangunwijaya: Karya dan Dunianya (P)
- B.F Skinner - Beyond Freedom and Dignity (E)
- Barbara Kingsolver - Poisonwood Bible (E)
- Bart Ehrman - Misquoting Jesus (E)
- Bartolome de Las Casas - Brief Account of Destruction of Indes (E)
- Basil Hatim & Ian Mason - Translator as Communicator (E)
- Ben Okri - Famished Road (E)
- Benedict Anderson - Under Three Flags (E)
- Benedict Anderson - Imagined Communities (P)
- Benny G Setiono - Tionghoa Dalam Pusaran Politik (E)
- Bernard Dorleans - Les Francais Et Indonesie (P)
- Bernard Lazare - Anti Semitism - Its History and Causes (E)
- Bernard Shaw - Man and Superman (E)
- Bertrand Russel - A History of Western Philosophy (E)
- Bertrand Russel - Sceptical Essays (E)
- Bertrand Russel - Various Works (E)
- Bhiku Parekh - Rethinking Multiculturalism (E)
- Bill Ashcroft & Pal Ahluwalia - Edward Said (E)
- Bill Ashcroft, Gareth Griffiths, Helen Tiffin (ed) - Post Colonial Studies Reader (E)
- Bill Brohaugh - Everything You Know About English is Wrong (E)
- Bill Bryson - Short History Nearly Everything (E)
- BJ Habibie - Detik-Detik yang Menentukan (E)
- BK Ridley - On Science (E)
- Blanchard Yoritomo-Tashi - Common Sense, How To Exercise It (E)
- Bob Walsh - Clear Blogging (E)
- Bob Woodward & Charles Bernstein - All the President's Men (E)
- Boris Pasternak - Doctor Zhivago (E)
- Brad Meltzer - Book of Lies (E)
- Bram Stroker - Dracula (E)
- Brian Morris - Religion and Anthropology (E)
- Calvin Thomas - Anthology of German Literature (E)
- Carl Sagan - Contact (E)
- Carlos Castaneda - Complete Stories (E)
- Carlos Castaneda - Magical Passes (E)
- Carlos Castaneda - The Wheel of Time (E)
- Carol Turkington & Albert Tzeel - Encyclopedia of Children Health & Wellness Vol. 1 (E)
- Carole Counihan & Steven Kaplan (ed) - Food and Gender (E)
- Charles A Copell (ed) - Violent Conflicts in Indonesia (E)
- Charles Bukowsky - Ham on Rye (E)
- Charles E Fahardian - Christianity, Islam, and Nationalism in Indonesia (E)
- Charles Mackay - Memoirs of Extraordinary Popular Delusions (E)
- Charles Oliver - ABC of Science (E)
- Charles Van Doren - The Joy of Reading (E)
- Chas. A. Tyrrell - Royal Road to Health (E)
- Chinua Achebe - A Man of the People (E)
- Chinua Achebe - Arrow of God (E)
- Chinua Achebe - Girls in War and Other Stories (E)
- Chongyun Liu, Angela Tseng, Sue Yang - Chinese Herbal Medicine Modern Application (E)
- Christina Howells (ed) - The Cambridge Companion to Sartre (E)
- Christine Dobbin - Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Padri (P)
- Christopher Kee - The Art of Argument (E)
- Chuck Palahniuk - Fight Club (E)
- Cindy Adams - Sukarno, Penjambung Lidah Rakjat (E)
- Claire Colebrook - Understanding Deleuze (E)
- Clifford Geertz - Local Knowledge (E)
- Clifford Geertz - Thick Description and Other Works (E)
- Clifford Geertz - After the Facts (E)
- Clive Barker - Books of Blood (E)
- Clive Barker - Abarat (E)
- Colette Daiute - Human Development & Political Violence (E)
- Colette Soler - What Lacan Says About Woman (E)
- Colin Brown - A Short History of Indonesia (E)
- Colin Wilson - A Criminal History Of Mankind (E)
- Colin Wilson - From Atlantis to Sphinx (E)
- Confucius - Analect (E)
- Cora Vreede-De Stuers - Sejarah Perempuan Indonesia (P)
- Cormac McCarthy - All the Pretty Horses (E)
- Cormac McCarthy - No Country for Old Men (E)
- Cormac McCarthy - The Road (E)
- Cormac McCarthy - Child of God (E)
- Cornelia Funke - Inkdeath (E)
- Cornelia Funke - Inkheart (E)
- Cornelia Funke - Inkspell (E)
- Craig Calhoun - Why Nations Matter (E)
- Cynta Wirantaprawira - Menguak Tragedi 1 Oktober 1965 (E)
- Dai Sijie - Balzac and the Little Chinese Seamstress (P)
- Dale Carnegie - How to Stop Worrying and Start Living (E)
- Dale Carnegie - How to Win Friends and Influence People (E)
- Dale Carnegie - The Art of Public Speaking (E)
- Dan Ariely - Predictably Irrational (E)
- Dana Richards Villa - Politics, Philosophy, Terror (E)
- Dana Richards Villa (ed) - Cambridge Companion to Hannah Arendt (E)
- Dani Cavallaro - Critical and Cultural Theory (P)
- Daniel Keyes - Flowers of Algernon (E)
- Daniel Stout (ed) - Encyclopedia of Religion, Communication, and Media (E)
- Dante Alighieri - Divine Comedy (E)
- Daphne du Maurier - Not After Midnight and Other Stories (E)
- Daphne Du Maurier - Apple Tree and Other Stories (E)
- Dario Azzelini & Boris Kanzleiter (ed) - La Empressa Guerra (P)
- David Alan Herzog - Webster Essential Vocabulary (E)
- David B Givens - Nonverbal Dictionary (E)
- David Cogswell - Chomsky untuk Pemula (P)
- David Crystal - Encyclopedia of The English Language (E)
- David Gutterson - Snow Falling of Cedar (E)
- David Harvey - Brief History of Neoliberalism (E)
- David Hawkes - Ideology (New Critical Idiom) (E)
- David Hoffman - Oklahoma City Bombing and Politics of Terror (E)
- David Icke - Barack Obama - the Naked Emperor (E)
- David Icke - The Biggest Secrets (E)
- David Jenkins - Soeharto dan Barisan Jenderal Orba (P)
- David Lieberman - How to Get the Truth from Anyone (E)
- David Morell - First Blood (E)
- David Oswell - Culture and Society (E)
- David Starr Jordan (ed) - A Book of Natural History (E)
- David W Moore - Opinion Makers (E)
- David Walker & Daniel Gray - Historical Dictionary of Marxism (E)
- David Welch - Propaganda and German Cinema (E)
- David Wengrow - What Makes Civilization (E)
- Deborah Rotman - Historical Archeology of Gendered Lives (E)
- Deepak Chopra - How to Know God (E)
- Deepak Chopra - The 7 Laws of Success (E)
- Deepak Chopra - The Book of Secrets (E)
- Denys Lombard - Nusa Jawa Silang Budaya - 1 (P)
- Denys Lombard - Nusa Jawa Silang Budaya - 2 (P)
- Denys Lombard - Nusa Jawa Silang Budaya - 3 (P)
- Derek Melser - The Act of Thinking (E)
- Dermont Moran (ed) - Routledge Companion to 20th Century Philosophy (E)
- Des Dearlove - Richard Branson Way (E)
- Dewi Lestari - Supernova Akar (E)
- Diane Purkiss - The Witch in History (E)
- Dom Helder Camara - Spiral Kekerasan (P)
- Dominic Strinati - Popular Culture (P)
- Don DeLillo - Mao II (E)
- Don Fleming & Mark Rits - Mam, I Hate You (P)
- Donald Laming - Understanding Human Motivation (E)
- Doris Flexner & Stuart Berg Flexner - The Pessimist Guide to History (E)
- Doris Lessing - Golden Notebook (E)
- Doris Lessing - Good Terrorist (E)
- Doris Lessing - Syrian Experiment (E)
- Doris Lessing - Mara Dann (E)
- Doris Lessing - The Grandmothers (E)
- Dr. Roger Vittoz - How to Control Your Brain at Will (E)
- Duong Thu Huong - Surga Bagi Si Buta (P)
- Dylan Morgan - Hypnosis for Beginners (E)
- E.A. Bennett - Journalism for Women (E)
- E.M Berens - Myth and Legends of Ancient Greece and Rome (E)
- E.M Forster - A Passage to India (E)
- Eckhart Tolle - A New Earth (E)
- Eckhart Tolle - The Power of Now (E)
- Edgar Allan Poe - Collected Short Stories (E)
- Edi Cahyono - Jaman Bergerak (E)
- Eduard du Perron - Country of Origin (P)
- Eduardo Galeano - Open Veins of Latin America (E)
- Edward Moore - Outline of the History of Christian Thought Since Kant (E)
- Edward Said - Culture and Imperialism (E)
- Edward Said - Orientalism (E)
- Edward Said - Representation of Intellectual (E)
- Edward Sapir - Language An Introduction to the Study of Speech (E)
- Edwin L Battistella - Bad Language (E)
- EH Kartanegara (ed) - Musisiku2 (P)
- Eiji Yoshikawa - Musashi (E)
- Eka Darmaputera - 365 Anak Tangga Menuju Hidup Berkemenangan (P)
- Eka Kurniawan - Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis (P)
- El Fisgon - Menghadapi Globalisasi (P)
- Elaine Pagels - Gnostic Gospels (E)
- Elisabeth Barille - Naked Under the Mask (P)
- Elisabeth Pisani - Kearifan Pelacur (P)
- Elizabeth Kostova - The Historian (E)
- Elizabeth Kubler-Ross - On Death and Dying (E)
- Ellen Thackery & Madeline Harris (ed) - Encyclopaedia of Mental Disorder 1& 2 (E)
- Ellisa Elliott - Hawa (P)
- Emil W Aulia - Berjuta-juta dari Deli (P)
- Emma Goldman - Anarchism and Other Essays (E)
- Enrico Ferri - Criminal Sociology (E)
- Erich Fromm - Art of Loving (E)
- Erich Fromm - Fear of Freedom (E)
- Erich Fromm - To Have or To Be (E)
- Erich Fromm - The Sane Society (E)
- Erle Montaigue - Internal Gung Fu (E)
- Ernest Hemingway - First 49 Stories (E)
- Ernest Hemingway - For Whom the Bells Tolls (E)
- Ernest Hemingway - Green Hills of Africa (E)
- Ernest Hemingway - Moveable Feast (E)
- Ernest Hemingway - Old Man and The Sea (E)
- Ernest Hemingway - Pertempuran Penghabisan (Farewell to Arms) (P)
- Ernesto Laclau & Chantal Mouffe - Hegemony Socialist Strategy (E)
- Ethel. D. Puffer - Psychology of Beauty (E)
- Evelyn Fishburn & Psiche Hughes - A Dictionary of Jorge Luis Borges (E)
- Evelyn Underhill - Practical Mysticism (E)
- Ezra Pound - ABC of Reading (E)
- Fachri Ali - Refleksi Kekuasaan Jawa dalam Indonesia Modern (P)
- Feliks Mikhailov - Riddle of the Self (E)
- Firdaus M Yunus - Pendidikan Berbasis Realitas (P)
- Florence Daniel - Food Remedies Facts About Foods And Their Medicinal Uses (E)
- Francine Prose - Reading Like A Writer (E)
- Francis Wahono & I Wibowo (ed) - Neoliberalisme (P)
- Francis Wahono Nitiprawiro - Teologi Pembebasan (P)
- Frank Jackson - Language, Names, and Information (E)
- Frank McCourt - Angela's Ashes (E)
- Franz Boas - Anthropology and Modern Life (E)
- Franz Kafka - Complete Stories of Franz Kafka (E)
- Franz Kafka - Short Stories (P)
- Franz Kafka - The Trial (E)
- Franz Kafka - Metamorphosis (E)
- Frederick Noad - Complete Idiot Guide to Playing the Guitar (2nd Edition) (E)
- Frederiek Djarra Wellem - Amir Sjarifoedin (P)
- Freek Colombijn dkk (ed) - Kota Lama Kota Baru (P)
- Frida Kahlo - The Diary of Frida Kahlo (E)
- Friedrich Nietzsche - Beyond Good and Evil (E)
- Fyodor Dostoyevsky - Brother Karamozov (E)
- Fyodor Dostoyevsky - Crime and Punishment (E)
- Fyodor Dostoyevsky - Notes from Underground (E)
- Fyodor Dostoyevsky - The Idiot (E)
- Fyodor Dostoyevsky - Orang-orang Malang (Poor People) (P)
- Gabriel Garcia Marquez - Chronicle of Death Foretold (E)
- Gabriel Garcia Marquez - In Evil Hour (E)
- Gabriel Garcia Marquez - Love in the Time of Cholera (E)
- Gabriel Garcia Marquez - Memories of Melancholy Whores (E)
- Gabriel Garcia Marquez - Autumn of the Patriarch (P)
- Gabriel Garcia Marquez - Sang Jenderal dalam Labirinnya (P)
- Gabriel Garcia Marquez - Seratus Tahun Kesunyian (P)
- Gabriel Garcia Marquez - No One Writes to the Colonel (E)
- Gaetan Brulotte & John Phillips (ed) - Encyclopaedia of Erotic Literature (E)
- Gao Xingjian - One Man's Bible (E)
- Gary L. Wenk - Your Brain on Food (E)
- Gavin Menzies - 1434, The Year Magnificent Chinese Fleet Sailed to Italy and Ignited Rennaisance (E)
- Gavin Menzies - 1421, The Year China Discovered the World (E)
- Gavin Menzies - 1434, Saat Armada China Berlayar ke Italia dan Mengobarkan Renaissance (P)
- Gavin Menzies - 1412, Ketika China Menemukan Dunia (P)
- Geoffrey D Falk - Stripping the Gurus (E)
- Georg Lukacs - History of Class Consciousness (E)
- Georg Lukacs - The Theory of Novel (E)
- Georg Simmel - Philosophy of Money (E)
- George Eliot - Middlemarch (E)
- George Junus Aditjondro - Membongkar Gurita Cikeas (E)
- George Novack - Understanding History (E)
- George Orwell - Animal Farm (E)
- George Orwell - Down and Out in Paris and London (E)
- George Orwell - Fifty Essays (E)
- George Orwell - Homage to Catalonia (E)
- George Orwell - Nineteen eighty Four (E)
- George Orwell - The Collected Essays vol. 2 (E)
- George Orwell - Burmese Days (E)
- Gerard Chaliand & Arnaud Blin (ed) - History of Terrorism (E)
- Gerhard L Weinberg - A World at Arms, A Global History of World War II (E)
- Gerry van Klinken - 5 Penggerak Bangsa yang Terlupa (P)
- Giacomo Casanova - History of My Life (vol 5&6) (E)
- Giles Gunn - Culture of Criticism (E)
- Giles MacDonogh - After the Reich (E)
- Gissly A Gudjohnnson - Psychology of Interogation and Confession (E)
- Gore Vidal - Creation (E)
- Graham Allen - Roland Barthes (E)
- Graham Davey & Adrian Wells (ed) - Worry and Its Psychological Disorders (E)
- Graham Greene - 21 Stories (E)
- Graham Hancock - Supernatural (E)
- Graham Hancock - The Sign & The Seal (E)
- Graham Ward - Cities of God (E)
- Grant Evans - A Short History of Laos (E)
- Gregory Forth - Images of Wildman in Southeast Asia (E)
- Gunter Grass - Cat and Mouse 1 (E)
- Gunter Grass - Dog Years (E)
- Gunter Grass - Tin Drum (P)
- Gustave Le Bon - The Crowd (E)
- Gustavus Hindman Miller - 10,000 Dreams Interpreted (E)
- Guy Debord - Society of Spectacle (E)
- Guy de Maupassant - Collected Works (E)
- H.G. Wells - A Short History of the World (E)
- Hannah Arendt - The Human Condition (E)
- Hannah Arendt - Eichmann in Jerusalem (E)
- Hannah Arendt - Origins of Totalitarianism (E)
- Haris Firdaus - Misteri-misteri Terbesar Indonesia (P)
- Harold Bloom - The Anxiety of Influence (E)
- Harold Pinter - The Caretaker (E)
- Harold Pinter - The New World Order (E)
- Harold Pinter - One for the Road (E)
- Harold Pinter - The Lover (E)
- Harper Lee - To Kill A Mockingbird (E)
- Haruki Murakami - After Dark (E)
- Haruki Murakami - Kafka on the Shore (E)
- Haruki Murakami - Norwegian Wood (E)
- Haruki Murakami - The Wind Up Bird Chronicle (E)
- Hatib Abdul Kadir - Tangan Kuasa dalam Kelamin (P)
- Hatib Abdul Kadir - Tato (P)
- Heinrich Harrer - Seven Years in Tibet (E)
- Henri Chambert Loir (ed) - Sadur (P)
- Henry Chambert Loir & Anthony Reid (ed) - The Potent Dead (E)
- Henry H Calero - The Power of Non Verbal Communication (E)
- Henry Poincare - Relativity of Space (E)
- Heri Latief, dkk - Sastra Pembebasan (P)
- Herman Hesse - Siddharta (E)
- Herman Hesse - The Journey to the East (E)
- Herman Hesse - Demian (E)
- Hermawan Kertajaya - Siasat Bisnis (E)
- Hervey Cleckley - The Mask of Sanity (E)
- Homer - Iliad (E)
- Honore de Balzac - Study of Woman (E)
- Honore de Balzac - Ursula (E)
- Hu Siu Ing - Perjalanan Waktu (P)
- Hugh Dalziel Duncan - Sosiologi Uang (P)
- Hugh McLeod (ed) - Cambridge History of Christianity vol 9 (1914-2000) (E)
- Iain Chambers & Lidia Curti (ed) - Post Colonial Question (E)
- Ian Buchanan - Gilles Deleuze (Routledge Critical Thinkers) (E)
- Ian Buchanan & Patricia MacCormack (ed) - Deleuze and the Schizoanalysis of Cinema (E)
- Ibaruri Putra Alam - Putri DN Aidit (P)
- Ignas Kleden - Sastra Indonesia Dalam 6 Pertanyaan (P)
- Ignatius Haryanto - Aku Selebriti Maka Aku Penting (P)
- Ira Levin - Boys for Brazil (E)
- Isaac Asimov - I, Robot (E)
- Isaac Asimov - The Complete Stories Vol 1 (E)
- Isabelle A. Moser - How and When to Be Your Own Doctor (E)
- Isabelle Delforge - Dusta Industri Pangan (E)
- Israel Shahak - Jewish History, Jewish Religion (E)
- Italo Calvino - If on a Night Winter a Traveler (E)
- Italo Calvino - Invisible Cities (E)
- Italo Calvino - Number in the Dark and Other Stories (E)
- Italo Calvino - T Zero (E)
- Ivan Illich - Deschooling Society (E)
- Ivan Wibowo (ed) - Cokin, So What Gitu Loh? (P)
- J Hillis Miller - On Literature (E)
- J. Fabian Junge - Kesempatan yang Hilang (E)
- Jack David Eller - Introducing Anthropology of Religion (E)
- Jack Kerouac - Big Sur (E)
- Jack Kerouac - On The Road (E)
- Jack Mclver Weatherford - Indian Givers (E)
- Jack Morgan - Biology of Horror (E)
- Jacob and Wilhelm Grimm - Fairy Tales (E)
- Jacob Levison - Studies of Trees (E)
- Jacques Barzun - From Dawn to Decadence (E)
- Jacques Derrida - Acts of Religion (E)
- Jacques van Ruiten (ed) - Land of Israel in Bible, History and Theology (E)
- Jad Adams - Hideous Absinthe (E)
- James Danandjaja - Folklore Amerika (P)
- James Dodd - Violence and Phenomenology (E)
- James Fieser (ed) - Internet Encyclopaedia of Philosophy (E)
- James Gleick - Chaos, Making A New Science (E)
- James J Bloom - Jewish Revolt Against Rome (E)
- James Joyce - A Portrait of An Artist As A Young Man (E)
- James Joyce - Dubliners (E)
- James Joyce - Ullyses (E)
- James M Cain - The Postman Always Rings Twice (E)
- James Petras - The Power of Israel in the United States (E)
- James Procter - Stuart Hall (Routledge Critical Thinkers) (E)
- Jan Sihar Aritonang & Karel Steenbrink (ed) - History of Christianity in Indonesia (E)
- Janet Steele - Wars Within (P)
- Janwillem van de Wetering - The Empty Mirror (E)
- Jayne Gackenbach (ed) - Psychology and the Internet (E)
- JC Robertson - Sketches of Church History (E)
- JD Salinger - Nine Stories (E)
- JD Salinger - Out of Print (E)
- JD Salinger - Catcher in the Rye (E)
- Jean Baudrillard - Selected Writings (E)
- Jean Baudrillard - Simulation (E)
- Jean Gelman Taylor - Indonesian People and Histories (E)
- Jean Gelman Taylor - Social World of Batavia (E)
- Jean Paul Sartre - Intimacy (E)
- Jean Paul Sartre - Iron in the Soul (E)
- Jean Paul Sartre - Nausea (E)
- Jean Paul Sartre - The Age of Reason (E)
- Jean Paul Sartre - The Reprieve (E)
- Jean Paul Sartre - What is Literature (E)
- Jean Paul Sartre - Kata-kata (P)
- Jean Rhys - Wide Sargasso Sea (E)
- Jeffrey Archer - Kane and Abel (E)
- Jeffrey Eugenides - Middlesex (E)
- Jeffrey M Pilcher - Food in World History (E)
- Jennifer Brinkerhoff - Digital Diaspora (E)
- Jennifer Niederst - Web Design in Nutshell (E)
- Jennifer Seidl - Oxford Exercises on Idiom (E)
- Jerome Tadie - Wilayah Kekerasan di Jakarta (P)
- Jerrold E Hoggle (ed) - Cambridge Companion to Gothic Fiction (E)
- Jhumpa Lahiri - Unaccustomed Earth (E)
- JJ Kusni - Membela Martabat Diri dan Indonesia (P)
- JM Coetzee - Disgrace (E)
- JM Coetzee - In the Heart of the Country (E)
- JM Coetzee - Life and Times of Michael K (E)
- JM Coetzee - Elizabeth Costello (P)
- Joane Harris - Chocolat (P)
- Joanna Bourke - The Second World War - A People History (E)
- Joe Haldeman - Hemingway Hoax (E)
- Joel Levy - Lost Histories (E)
- Johann Wolfgang Von Goethe - The Sorrows of Young Werther (E)
- John & Valerie Brainwhaite - Anomie and Violence (E)
- John Allyn - 47 Kisah Ronin (E)
- John Anthony West - Serpents in the Sky (The High Wisdom of Ancient Egypt) (E)
- John Barendt - Midnight in the Garden of Good and Evil (E)
- John Barth - Chimera (E)
- John Bartlett (ed) - Familiar Quotations (E)
- John Cheever - 13 Uncollected Stories (E)
- John Eastwood - Oxford Practice Grammar (E)
- John Elder Robison - Look Me in the Eyes (P)
- John F McCoy (ed) - The World Geographical Encyclopedia (E)
- John Holloway - Change the World Without Taking Power (E)
- John Kennedy Toole - Confederancy of Dunces (E)
- John Le Carre - Tailor of Panama (E)
- John M Allegro - The Sacred Mushroom and the Cross version 1-2 (E)
- John Man - The Great Wall (E)
- John Man - Terracota Army (E)
- John Miller Dow Meiklejohn - A Brief History of the English Language and Literature (E)
- John Perkins - Confession of an Economic Hitman (P)
- John Pilger - Hidden Agendas (E)
- John Roosa - Dalih Pembunuhan Massal (P)
- John Roosa (ed) - Tahun yang Tak Pernah Berakhir (E)
- John Steinbeck - Grapes of Wrath (E)
- John Steinbeck - The Moon is Down (E)
- John Steinbeck - Tortilla Flat (E)
- John Steinbeck - Tikus dan Manusia (Of Mice and Man) (P)
- John Steinbeck - Winter of Discontent (P)
- John Super & Brian Turley - Religion in World History (E)
- Jon Elster - Explaining Social Behaviour (E)
- Jonathan Culler - A Very Short Introduction of Literary Theory (E)
- Jonathan Kirsch - The Grand Inquisitor's Manual (E)
- Jonathan Straud - Ptolemy's Gate (E)
- Jonathan Straud - The Amulet of Samarkand (E)
- Jonathan Straud - The Golem's Eye (E)
- Jonathan Woodier - Media and Political Change in Southeast Asia (E)
- Jonru - Menerbitkan Buku itu Gampang (P)
- Joost Smiers - Art Under Pressure (P)
- Joost Smiers - Imagine There's No Copyright (E)
- Jorge Luis Borges - Autobiografia (E)
- Jorge Luis Borges - Collected Fictions (E)
- Jorge Luis Borges - Labyrinths (E)
- Jose Rizal - Social Cancer (E)
- Jose Saramago - Seeing (E)
- Jose Saramago - All the Names (E)
- Jose Saramago - Blindness (E)
- Joseph Campbell - Occidental Mythology (E)
- Joseph Heller - Catch 22 (E)
- Joseph Pierre Proudhon - Philosophy of Misery (E)
- Joseph Triemens - The Handy Cyclopedia of Things Worth Knowing (E)
- Josey Bass - English Brainstormers (E)
- JSKK - Saatnya Korban Bicara (E)
- Jules Verne - Around the World in 80 Days (E)
- Julia Kristeva - Powers of Horror (E)
- Julian Barnes - Sejarah Dunia dalam 10 1/2 Bab (P)
- Julian Preece (ed) - Cambridge Companion to Franz Kafka (E)
- Kaiser Fung - Numbers Rule Your World (E)
- Karen Armstrong - Battle of God (E)
- Karen Armstrong - History of God (E)
- Karen Armstrong - Sejarah Tuhan (E)
- Karen Armstrong - Islam, Short History (E)
- Karen Armstrong - Buddha (E)
- Karl Liebknecht - Militarism and Antimiltarism (E)
- Karl Marx - Das Kapital Vol II (E)
- Karl Marx - Das Kapital Vol III (E)
- Karl Marx - Das Kapital Vol. I (E)
- Karl Marx - Das Kapital Vol. IV (E)
- Karl Marx - Eighteen Brumaire of Louis Bonaparte (E)
- Karl Marx - German Ideology (E)
- Kate Sanborn - Memories and Anecdotes (E)
- Kath Woodward - Questioning Identity (E)
- Kazuo Ishiguro - Never Let Me Go (E)
- Kazuo Ishiguro - The Remains of the Day (E)
- Ken Kesey - One Flew Over the Cuckoo's Nest (E)
- Kenneth Curtis, etc - 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen (E)
- Kenneth F Kipple & Kriemhild Conee Ornelas (ed) - Cambridge World History of Food Vol 1 & 2 (E)
- Kenzaburo Oe - Somersault (E)
- Kenzaburo Oe - The Pinch Runner Memorandum (E)
- Kevin Hogan - How to Read Anyone in 3 Seconds or Less (E)
- Kevin S Sandler - The Naked Truth (E)
- Khaled Husaini - A Thousand Splendid Suns (E)
- Khaled Husaini - Kite Runner (E)
- Khrisna Sen - Kuasa Dalam Sinema (P)
- Kishore Mahbubani - Can Asians Think? (E)
- Knut Hamsun - Hunger (E)
- Knut Hamsun - Pan (E)
- Koesalah Subagyo Toer - Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali (P)
- Kris Budiman - Semiotika Visual (P)
- Kuntowijoyo - Mantra Penjinak Ular (E)
- Kuntowijoyo - Hampir Sebuah Subversi (P)
- Kurt Vonnegut, Jr - Slaughterhouse Five (E)
- Kurt Vonnegut, Jr - Jailbird (P)
- Kusuma Snitwongse & W. Scott Thompson (ed) - Ethnic Conflict in Southeast Asia (E)
- L Rozakis - English Grammar for Utterly Confused (E)
- L.S. Vygotsky - Soviet Psychology (E)
- Labibah Zein - Addicted to Weblog (P)
- Langit Kresna Hariadi - Gajah Mada (buku 1) (E)
- Larissa M Efimova - Dari Moskow ke Madiun? (P)
- Lawrence Joseph - Kiamat 2012 (P)
- Lawrence Lesig - Codev2 (E)
- Lee Spinks - Friedrich Nietzsche (Routledge Critical Thinkers) (E)
- Lee Yeounsuk - The Ideology of Kokugo (E)
- Leo de Hartog - Gengis Khan (E)
- Leo Tolstoy - Anna Karenina (E)
- Leo Tolstoy - The Kingdom of God is Within You (E)
- Leo Tolstoy - Walk in the Light (E)
- Leon Trotsky - From October to Brest (E)
- LG Alexander - Longman English Grammar (E)
- Lib4All - Ilusi Negara Islam (E)
- Linda Civitello - Cuisine and Culture (E)
- Linus Suryadi - Pengakuan Pariyem (P)
- Lion Kimbro - How to Make a Complete Map of Every Thought You Think (E)
- Logan Marshall (ed) - Myth and Legends of All Nations (E)
- Louis Althusser - Lenin and Philosophy and Other Essays (E)
- Louise L Hay - Heal Your Body (E)
- Lu Hsun - Diary of the Madman & Other Stories (E)
- Luo Guanzhong - Sam Kok (Romance of Three Kingdoms) (E)
- M. Cameron Hay - Remembering to Live (E)
- M.C Ricklefs - Sejarah Indonesia Modern 1300-2004 (P)
- M.J Hyland - Carry Me Down (E)
- Madeleine Van Hecke - Blind Spot (E)
- Mahardika Asmara, dkk - Dian Sastro for President #2 (P)
- Mahatma Gandhi - Autobiography (E)
- Maksim Gorky - 26 and 1 Other Stories (E)
- Maksim Gorky - Mother (E)
- Malcolm Gladwell - Blink (E)
- Malcolm Gladwell - Outliers (E)
- Malcolm Gladwell - Tipping Point (E)
- Malcolm Gladwell - What the Dog Saw (E)
- Malcolm Lowry - Under the Volcano (E)
- Malin Wahlberg - Documentary Time Film and Phenomenology (E)
- Manai Sophiaan - Kehormatan Bagi yang Berhak (E)
- Mansour Fakih (ed) - Pendidikan Popular (E)
- Mao Tse Tung - Quotes (Little Red Book) (E)
- Marcell Mauss - General Theory of Magic (E)
- Marco Polo - Travels of Marco Polo (E)
- Margaret Atwood - Dancing Girls and Other Stories (E)
- Margaret Drabble (ed) - Oxford Companionship to English Literature vol 6 (E)
- Margaret Mitchell & Frances M Young (ed) - Cambridge History of Christianity vol 1 (Beginning to Constantine) (E)
- Margaret Yourcenar - Memoirs of Hadrian (E)
- Marguerite Guzman Bouvard - Revolutionizing Motherhood (E)
- Maria Montessori - Montessori Method (E)
- Mario Puzo - The Godfather (E)
- Mario Puzo - The Sicilian (E)
- Mario Puzo - Omerta (E)
- Mark Currie - Postmodern Narrative Theory (E)
- Mark Evan Furman & Fred P Gallo - Neurophysics of Human Behaviour (E)
- Markus Bockmuehl (ed) - Cambridge Companion to Jesus (E)
- Marshall McLuhan - Understanding Media (E)
- Martin Amis - London Fields (E)
- Martin Amis - Money (E)
- Martin Amis - The Information (E)
- Martin Clarke - Hysterical and Useless (P)
- Martin Heidegger - Poetry, Language, Thought (E)
- Martin McQuillan - Paul de Man (E)
- Martin Stefan, Mike Travis, Robin M Murray - An Atlas of Schyzophrenia (E)
- Mary A. Lathbury - Child's Story of the Bible (E)
- Mary Gardner (ed) - Encyclopedia of Women in the Ancient World (E)
- Mary McCaskill - Grammar, Punctuation, Capitalization (E)
- Mary Roach - Stiff (P)
- Masaru Emoto - Message from Water (E)
- Masharto Alfathi - Layang-layang Putus (P)
- Matthew Pearl - Misteri Kematian Poe (P)
- Max Weber - Politics as Vocation (E)
- Max Weber - Protestant Ethics and Spirit of Capitalism (E)
- Max Weber - Sociology of Religion (E)
- Melvin Powers - Practical Guide to Self Hypnosis (E)
- Merril C Tenney - Survey Perjanjian Baru (P)
- Meryl Runion - How to Use Power Phrases (E)
- Michael Albert - Parecon (E)
- Michael Angold (ed) - Cambridge History of Christianity vol 5 (Eastern Christianity) (E)
- Michael Argyle - Psychology and Religion: An Introduction (E)
- Michael Billig - Laughter and Ridicule (E)
- Michael Clark - Paradoxes from A to Z (E)
- Michael Dummett - On Imigration Refugee (E)
- Michael Hart - Brief History of Internet (E)
- Michael Lipka - Roman Gods, Conceptual Approach (E)
- Michael Misita - How To Believe In Nothing And Set Yourself Free (E)
- Michael Moore - Stupid White Men (E)
- Michael Newton - Encyclopedia of Conspiracies dan Conspiracy Theory (E)
- Michael Ondaatje - English Patient (E)
- Michael Ondaatje - In the Skin of Lion (E)
- Michael Parenti - Blackshirts and Reds (E)
- Michael Swan - Basic English Usage (E)
- Michel Foucault - Madness and Civilization (E)
- Michel Foucault - The Birth of the Clinics (E)
- Miguel de Cervantes - Don Quixote (E)
- Mike Wayne - Marxism and Media Studies (E)
- Mikhail Bakunin - God and the State (E)
- Mikihiro Moriyama & Manneke Budiman (ed) - Geliat Bahasa Selaras Zaman (P)
- Mikkel Birkegaard - The Library of Shadows (Libri de Luca) (E)
- Milan Kundera - Laughable Loves (E)
- Milan Kundera - Life is Elsewhere (E)
- Milan Kundera - The Joke (E)
- Milan Kundera - Unbearable Lightness of Being (E)
- Miracle Distribution Center - Introduction to Miracles (E)
- Mitch Alborn - Five People You Meets in Heaven (E)
- Mitch Alborn - Tuesdays with Morries (E)
- Mortimer J Adler & Charles Van Doren - How to Read A Book (P)
- Moshe Susser - Foucault untuk Pemula (P)
- Mudji Sutrisno & Hendar Putranto (ed) - Teori-teori Kebudayaan (P)
- Mudjijono - Judi Buntut, Mengapa Selalu Ada? (P)
- Muhidin M Dahlan, Rhoma Dwi Aria - Lekra Tidak Membakar Buku (P)
- Muriel Spark - The Prime of Miss Jean Brodie (E)
- Musso - Djalan Baru Untuk Republik Indonesia (E)
- N. G Chernyschevsky - Hubungan Seni dan Realitas (E)
- Nadine Gordimer - Burger's Daughter (E)
- Naguib Mahfouz - Midaq Alley (E)
- Naguib Mahfouz - Palace of Desire (E)
- Naguib Mahfouz - Palace Walk (E)
- Naguib Mahfouz - Sugar Street (E)
- Naguib Mahfouz - The Day the Leader was Killed (E)
- Naguib Mahfouz - The Thief and the Dogs (E)
- Naoki Yoshihara & Raphaella Dewantari Dwianto (ed) - Grass Roots and the Neighbourhood Association (P)
- Naomi Klein - No Logo (E)
- Naomi Klein - Shock Doctrine (E)
- Nassim Nicholas Taleb - The Black Swan (E)
- Neil Gaiman - American Gods (E)
- Neil Gaiman - Anansi Boys (E)
- Neil Gaiman - Don’t Panic (E)
- Neil Gaiman - Enilaroc (E)
- Neil Gaiman - Neverwhere (E)
- Neil Gaiman - Stardust (E)
- Neil Gaiman - The Graveyard Book (E)
- Neil Gaiman & Terry Pratchett - Good Omens (E)
- Nicholas J Karolides - Banned Books (E)
- Nicholas Saunders. - E for Ecstasy (E)
- Nicholas Tarling (ed) - Cambridge History of Southeast Asia vol 1 (Early Times - 1800) (E)
- Nicholas Tarling (ed) - Cambridge History of Southeast Asia vol 2 (19th-20th century) (E)
- Nick Hornby - High Fidelity (E)
- Nicolay Gogol - Dead Souls (E)
- Nicolay Gogol - The Inspector (E)
- Nigel West - Historical Dictionary of Intelligence (E)
- Nikos Kazantsakis - Last Tempation of Christ (E)
- Noah St John - Secret Code of Success (E)
- Noam Chomsky - From Terror to Agression (E)
- Noam Chomsky - Hegemony or Survival (E)
- Noam Chomsky - Media Control (E)
- Noam Chomsky - Rethinking Camelot (E)
- Noam Chomsky - Memeras Rakyat; Neoliberalisme dan Tatanan Dunia Baru (P)
- Noelle McAffee - Julia Kristeva (E)
- Norman Fairclough - Language and Power (P)
- Nurhady Sirimorok - Laskar Pemimpi (P)
- NY Times - Current History The European War, March 1915 (E)
- Nyoman Pendit - Mahabharata (E)
- Ong Hok Ham - Anti Cina, Kapitalisme Cina dan Gerakan Cina (P)
- Orhan Pamuk - My Name is Red (E)
- Orhan Pamuk - Snow (E)
- Orhan Pamuk - The White Castle (E)
- Ornella Corazza - Near Death Experience (E)
- Oscar Romero - Violence of Love (E)
- Oscar Wilde - The Picture of Dorian Gray (E)
- Pamela Stewart & Andrew Strathern - Witchcraft, Sorcery, Rumors (E)
- Pamela Thurschwell - Sigmund Freud (Routledge Critical Thinkers) (E)
- Pamusuk Erneste - Buku Pintar Penyuntingan Naskah (P)
- Panikos Panayi - Spicing Up Britain (E)
- Park Honan - Christopher Marlowe: Poets and Spy (E)
- Patricia Wilcox Peterson - Changing Times Changing Tenses (E)
- Paul Carus - The History of Devil (E)
- Paul Grainge (ed) - Memory and Popular Film (E)
- Paul Ricoeur - Memory, History, Forgetting (E)
- Paul Theroux - Riding the Iron Rooster (E)
- Paulo Coelho - Brida (E)
- Paulo Coelho - By The River Piedra I Sat Down and Wept (E)
- Paulo Coelho - Eleven Minutes (E)
- Paulo Coelho - The Alchemists (E)
- Paulo Coelho - The Devil and Miss Prym (E)
- Paulo Coelho - The Valkyries (E)
- Paulo Coelho - The Witch of Portobello (E)
- Paulo Coelho - The Zahir (E)
- Paulo Coelho - Veronica Decides To Die (E)
- Paulo Coelho - The Pilgrimage (E)
- Paulo Coelho - Stories for Parents, Children, and Grandchildren (E)
- Paulo Coelho - Veronika Memutuskan Mati (P)
- Peer Holm Jorgensen - Forgotten Massacre (P)
- Penny van Esterik - Food Culture in Southeast Asia (E)
- Per Personn - Understanding Cinema (E)
- Percy Bysshe Shelley - A Defence of Poetry and Other Essays (E)
- Peter Goldie - On Personality (E)
- Peter Lowe - Contending with Nationalism and Communism (E)
- Peter Nowak - Sex, Bombs, and Burgers (E)
- Phil Hutchinson - Shame and Philosophy (E)
- Philip Goldstein - Introduction to Post Marxist Theory (E)
- Phillip Ball - The Music Instinct (E)
- Phillip Pullman - Northern Lights (E)
- Phillip Pullman - The Amber Spyglass (E)
- Phillip Pullman - The Subtle Knife (E)
- Phillip Roth - Human Stain (E)
- Phillip Roth - Portnoy's Complaint (E)
- Phillip Taylor - Munitions of the Mind (A History of Propaganda) (E)
- Pierro Scaruffi - History of Rock Music (E)
- Pramoedya Ananta Toer - Arok Dedes (E)
- Pramoedya Ananta Toer - Perburuan (E)
- Pramoedya Ananta Toer - Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (E)
- Pramoedya Ananta Toer - Bukan Pasar Malam (E)
- Pramoedya Ananta Toer - Gadis Pantai (P)
- Pramoedya Ananta Toer - Jalan Raya Pos, Jalan Daendels (P)
- Pramoedya Ananta Toer - Panggil Aku Kartini Saja (P)
- Pramoedya Ananta Toer - Rumah Kaca (P)
- Pramoedya Ananta Toer - Saya Terbakar Amarah Sendirian (P)
- Pramoedya Ananta Toer - Tales from Djakarta (P)
- Pramoedya Ananta Toer - Jejak Langkah (P)
- Puthut EA - Cinta Tak Pernah Tepat Waktu (P)
- Puthut EA - Isyarat Cinta yang Keras Kepala (P)
- Puthut EA - Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali (P)
- Puthut EA (ed) - Oposisi Maya (P)
- R. K Narayan - Man Eater of Malgudi (E)
- R. K Narayan - Ramayana & Mahabharata (P)
- R. Lee - Anecdotes of the Habits and Instinct of Animals (E)
- R. Po Chia-Hsia (ed) - Cambridge History of Christianity vol 6 (Reform and Expansion) (E)
- Rabindranath Tagore - The Post Office (E)
- Rachel Bowlby - Freudian Mythology (E)
- Rawdon Wyatt - Check Your Vocabulary English for IELTS (E)
- Ray Bradbury - Farenheit 451 (E)
- Ray Bradbury - Zen in the Art of Writing (E)
- Ray Bull, etc - Criminal Psychology (E)
- Renata Salecl - On Anxiety (E)
- Rhonda Bryne - The Secret (E)
- Richard A Gabriel - Military History of Ancient History (E)
- Richard Dawkins - The Selfish Gene (E)
- Richard J Lane - Jean Baudrillard (Routledge Critical Thinkers) (E)
- Richard King - Orientalism and Religion (E)
- Richard Lloyd Parry - Zaman Edan (P)
- Rick Cornish - 5 Menit Teologi (P)
- Rick Cornish - 5 Menit Apologetika (P)
- Rick Cornish - 5 Menit Sejarah Gereja (P)
- Ritchie Robertson (ed) - Cambridge Companion to Thomas Mann (E)
- Roald Dahl - Beware of the Dog (E)
- Roald Dahl - Completed Stories vol 1 (E)
- Roald Dahl - Completed Stories vol 2 (E)
- Rob Marett - Anthropology (E)
- Rob Melton - News Writer Handbook (E)
- Robert D Keppel & William J Birnes - Serial Violence (E)
- Robert Dick Read - Penjelajah Bahari (P)
- Robert Graves - I, Claudius (E)
- Robert Harris - Pompeii (E)
- Robert Hassan & Julian Thomas (ed) - The New Media Theory (E)
- Robert Louis Stevenson - Art of Writing (E)
- Robert Louis Stevenson - Familiar Studies of Men & Books (E)
- Robert M. Pirsig - Zen and the Art of Motorcycle Maintenance (E)
- Robert W Hefner - Civil Islam (E)
- Roem Topatimasang - Sekolah itu Candu (P)
- Roger Penrose - Road to Reality (E)
- Roger Simon - Gagasan-gagasan Politik Gramsci (Gramsci's Political Thoughts) (P)
- Roland B Dixon - Oceanic Mythology (E)
- Roland Barthes - Mythologies (E)
- Roland Huntford - The New Totalitarians (E)
- Ross Wilson - Theodor Adorno (E)
- Rudolf Mrazek - Engineers of Happy Land (P)
- Rudolf Rocker - Introduction of Daily Life (E)
- Rudolf Steiner - Road to Self Knowledge (E)
- Russ Kick - 50 Things Youre Not Supposed To Know (E)
- Russ Kick (ed) - You Are Being Lied to - Disinformation Guide (E)
- Rustopo - Menjadi Jawa (P)
- Ruth B Bottigheimer - Fairy Tales : A New History (E)
- Ruth McVey - Kemunculan Komunisme Indonesia (P)
- S. Acharya - The Christ Conspiracy (E)
- Salahen Moentaha - Bahasa dan Terjemahan (P)
- Salman Rushdie - Fury (E)
- Salman Rushdie - Midnight Children (E)
- Salman Rushdie - Moor's Last Sigh (E)
- Salman Rushdie - Satanic Verses (E)
- Salman Rushdie - Shame (E)
- Samuel Beckett - Endgame (E)
- Samuel Beckett - Malone Dies (E)
- Samuel Beckett - Waiting for Godot (E)
- Sandra Cisneros - Caramelo (P)
- Sara Mills - Michel Foucault (Routledge Critical Thinkers) (E)
- Saul Bellow - Henderson the Rain King (E)
- Saut Situmorang (ed) - Cybergraffity (P)
- Sean Homer - Jacques Lacan (Routledge Critical Thinkers) (E)
- Seymour M. Hersh - My Lai 4 - A Report on the Massacre and Its Aftermath (E)
- Shelley Emling - Fossil Hunter (E)
- Shelley Walia - Edward Said dan Penulisan Sejarah (P)
- Sheridan Gilley & Brian Stanley (ed) - Cambridge History of Christianity vol 8 (World Christianities 1815-1914) (E)
- Shin Nakagawa - Musik dan Kosmos (P)
- Sigit Susanto - Menyusuri Lorong-lorong Dunia 1 (P)
- Sigit Susanto - Menyusuri Lorong-lorong Dunia 2 (P)
- Sigit Susanto - Sosialisme di Kuba (P)
- Sigmund Freud - Book of Dream Psychology (E)
- Sigmund Freud - Interpretation of Dream (E)
- Sigmund Freud - Psikopatologi dalam Kehidupan Sehari-hari (P)
- Sihar Ramses Simatupang - Lorca (P)
- Simon During - Foucault and Literature (E)
- Simon Malpas - Jean Francois Lyotard (E)
- Simon Swift - Hannah Arendt (E)
- Simon Winchester - The Meaning of Everything (A)
- Simon Winchester - Krakatau (P)
- Simon Winchester - Professor and the Madman (P)
- Simone de Beauvoir - The Second Sex 1 (E)
- Sindhunata - Kambing Hitam (P)
- Sindhunata - Putri Cina (P)
- Slavoj Zizek - How to Read Lacan (E)
- Slavoj Zizek - On Belief (E)
- Snouck Hurgronje - Mohammedanism (E)
- Soe Hok Gie - Di Bawah Lentera Merah (E)
- Solomon H Katz (ed) - Encyclopedia of Food and Culture (E)
- Spider Robinson - The Crazy Years (E)
- Sriwidjono - Pendekar Penebar Maut 1 (E)
- Stephen Hawking - Brief History of Time (E)
- Stephen King - Danse Macabre (E)
- Stephen King - On Writing (E)
- Stephen Morton - Gayatri Spivak (Routledge Critical Thinkers) (E)
- Stephen Mulhall - On Film (E)
- Steve Chandler - 100 Ways to Motivate Others (E)
- Steve Jones - Antonio Gramsci (E)
- Steven B Karch - A Brief History of Cocaine (E)
- Steven Covey - 7th Habit Families (E)
- Steven Hiatt (ed) - A Game as Old as Empire (E)
- Steven Runciman - A History of the Crusades, Volume 1-3 (E)
- Stewart J Brown & Timothy Tackett (ed) - Cambridge History of Christianity vol 7 (1660-1815) (E)
- Stewart M Hoover - Religion in the Media Age (E)
- Stieg Larsson - The Girl With Dragon Tattoo (E)
- Stieg Larsson - The Girl Who Played With Fire (E)
- Stuart Sim - Post Marxism (E)
- Stuart Taberner - Cambridge Companion to Gunter Grass (E)
- Sue Grafton - C is for the Corpse (E)
- Sue Grafton (ed) - Writing Mysteries - A Handbook (E)
- Sue Grafton, etc - Chicken Soup for the Writers Souls (P)
- Sun Tzu - Art of War (E)
- Susan Frank Parsons (ed) - Cambridge Companion to Feminist Theology (E)
- Susan George - Pangan untuk Pemula (P)
- Susan Sontag - On Photography (E)
- Tan Malaka - Gerpolek (E)
- Tan Malaka - Madilog (E)
- Teilhard de Chardin - Gejala Manusia
- Ted Honderich (ed) - Oxford Companion to Philosophy (E)
- Terence McKenna - Food of Gods (E)
- Thierry Boucquey (ed) - Encyclopedia of World Writers (E)
- Thomas C Foster - How to Read Literature Like A Professor (E)
- Thomas L Friedman - The World is Flat (E)
- Thomas Leitch - Crime Films (E)
- Thomas Mann - Buddenbrooks (E)
- Thomas Mann - Death in Venice and Other Stories (E)
- Thomas Mann - Doctor Faustus (E)
- Thomas Mann - Mario and the Magician & Other Stories (E)
- Thomas Paine - Age of Reason (E)
- Thomas S Kane - Oxford Esential Guide to Writing (E)
- Thomas Stamford Raffles - History of Java 1-2 (E)
- Thomas Wolfe - You Can't Go Home Again (E)
- Thomas Wolfe - The Web and The Rock (E)
- Thomas Wood - Practical Grammar and Composition (E)
- Tim Lahaye - Babylon Rising (E)
- Tim Penelusur Sejarah Sidoarjo - Jejak Sidoarjo (E)
- Tim Weiner - Legacy of Ashes (History of CIA) (E)
- Timothy Brennan - Wars of Position (E)
- Timothy Clark - Martin Heidegger (E)
- Todd May - Gilles Deleuze, An Introduction (E)
- Tom & Sara Pendergast - St James Encyclopedia of Popular Culture Vol. 1-5 (E)
- Tom Harpur - Pagan Christ (E)
- Tom Sharpe - Vintage Stuff (E)
- Tom Wolfe - Bonfire of Vanities (E)
- Tom Wolfe - Electric Kool Aid Acid Test (E)
- Tom Wolfe - I am Charlotte Simmons (E)
- Tom Wolfe - The Right Stuff (E)
- Toni Morrison - Beloved (E)
- Toni Morrison - Bluest Eye (E)
- Toni Morrison - Sula (E)
- Toni Morrison (ed) - Burn this Book (E)
- Tony Augarde (ed) - The Oxford Dictionary of Modern Quotations (E)
- Tony Augarde (ed) - The Oxford Dictionary of Quotations (E)
- Tony Buzan - Speed Memory (E)
- Tony Buzan - Use Your Perfect Memory (P)
- Tony Judt - A History of Europe Since 1945 (E)
- Totok Djuroto - Manajemen Penerbitan Pers (P)
- Truman Capote - Answered Prayers (E)
- Truman Capote - Breakfast at Tiffany (E)
- Truman Capote - Other Voices Other Rooms (E)
- Truman Capote - The Grass Harp (E)
- Truman Capote - In Cold Blood (P)
- Tynan - Make Her Chase You (E)
- Umberto Eco - Baudalino (E)
- Umberto Eco - Foucault Pendulum (E)
- Umberto Eco - Mysterious Flame of Queen Loana (E)
- Umberto Eco - Serendepities; Language and Lunacy (E)
- Umberto Eco - The Island of the Day Before (E)
- Umberto Eco - The Name of the Rose (E)
- Umberto Eco - Tamasya Menuju Hiperealitas (P)
- Ursula Tidd - Simone de Beauvoir (E)
- Victor E Frankl - Man's Search For Meaning (E)
- Virginia Woolf - Mrs. Dalloway (E)
- Vladimir Illich Lenin - Apa yang Harus Dikerjakan? (What is to be Done?) (E)
- Vladimir Nabokov - Laughter in the Dark (E)
- Vladimir Nabokov - Lolita (E)
- Vladimir Nabokov - Look at the Harlequins! (E)
- Vladimir Nabokov - Pale Fire (E)
- Vladimir Nabokov - The Stories of Nabokov (E)
- Vladimir Nabokov - Bend Sinister (E)
- VS Naipaul - Sepetak Rumah untuk Tuan Biswas (P)
- W Somerset Waugham - Collected Short Stories (E)
- W. A. Clouston - Book of Wise Sayings Selected Largely from Eastern Sources (E)
- W. Scott-Elliot - Story of Atlantis and the Lost Lemuria (E)
- W.Robert Nay - Mengelola Kemarahan (P)
- Walker Percy - Moviegoer (E)
- Walter Wangerin - Paulus, Rabi Yahudi (P)
- Walter Wangerin - Yesus (P)
- Wasino - Wong Jawa Wong Cina (P)
- Webster G Tarpley - Obama - The Postmodern Coup (E)
- Wilhelm Reich - The Mass Psychology of Fascism (E)
- William Blades - Enemies of Books (E)
- William Faulkner - Collected Stories (E)
- William Gibson - Neuromancer (E)
- William James - The Varieties of Religious Experience (E)
- William L Hamilton - Saints and Psychopaths (E)
- William Smith - A Smaller History of Rome (E)
- William Styron - Darkness Visible (E)
- William Styron - The Long March (E)
- William Thackeray - Book of Snob (E)
- Wim Wertheim - Dunia Ketiga, Dari dan Ke Mana?
- Winston Groom - Forrest Gump (E)
- Wiwien Widyowati. R - Ensiklopedi Wayang (P)
- Wolfgang Iser - The Act of Reading (E)
- Wolfram Eberhard - A History of China (E)
- Xialu Guo - Village of Stone (P)
- Xinru Liu - The Silk Road in World History (E)
- Xu Wenying - Eating Identities (E)
- Y Tri Subagja - Menanti Ajal : Etnografi Masyarakat Jawa tentang Kematian (P)
- Yann Martel - Life of Pi (E)
- Yannick Murphy - Signed Mata Hari (E)
- Yannis Stavrakakis - Lacan and the Political (E)
- Yasunari Kawabata - Beauty and Sadness (E)
- YB Mangunwijaya - Rumah Bambu (P)
- YB Mangunwijaya - Roro Mendut (Trilogi) (P)
- Yon Machmudi - Islamizing Indonesia (E)
- Yudit K Greenberg (ed) - Encyclopedia of Love in World Religions (E)
- Zecharia Sitchin - Genesis Revisited (E)
- Zolar - Encyclopedia of Ancient and Forbidden Secrets (E)
- Unknown - Bhagavad Gita (E)
- Unknown - Encyclopaedia Britannica, 11th Edition, Volume 2, Part 1, Slice 1 (E)
- Unknown - Encyclopaedia Britannica, 11th Edition, Volume 4, Part 3 (E)
- Unknown - Mati Ketawa daripada Soeharto (E)
- Unknown - Routledge Encyclopedia of Philosophy (E)
- Unknown - Urantia Papers (E)
TOP SCORER:
12: Paulo Coelho
11: Pramoedya Ananta Toer
8: Gabriel Garcia Marquez, Neil Gaiman
7: George Orwell, Umberto Eco, Jean Paul Sartre, Aldous Huxley
6: Ahmad Tohari, Ernest Hemingway, Karl Marx, Vladimir Nabokov, Naguib Mahfouz
5: Anthony Burgess, Albert Camus, Doris Lessing, Fyodor Dosteyovsky, John Steinbeck, Karen Armstrong, Noam Chomsky, Salman Rushdie
4: Amy Tan, Cormac McCarthy, Erich Fromm, Franz Kafka, Haruki Murakami, Italo Calvino, JM Coetzee, Malcolm Gladwell, Milan Kundera, Puthut EA, Thomas Mann, Tom Wolfe, Toni Morrison, Anthony Beevor
Catatan Tentang Kumpul-Mengumpulkan
5 Comments Published by ary on Rabu, 30 September 2009 at 11:44 PM.Barangkali karena aku adalah anak rumahan. Barangkali karena aku ini anak bungsu sehingga terbiasa tidak perlu memberi lungsuran kepada saudara yang lain. Barangkali karena semua saudaraku adalah perempuan, maka sejak kecil barang-barang dan mainanku memang hanya milikku dan aku terbiasa menyimpannya untuk diriku sendiri. Barangkali karena di pekerjaan pertama, salah satu tugasku adalah mengumpulkan dan mensortir berbagai artikel. Entah apa alasannya, aku hanya ingin bilang bahwa yang namanya mengumpulkan sesuatu adalah salah satu kegiatan yang paling kunikmati.
Tapi mungkin aku salah soal masa kecilku. Seingatku, untuk mainan aku tidak terlalu punya banyak. Demikian pula benda-benda lain. Itu waktu kecil. Namun, kira-kira ketika pertengahan masa SD (oh, apa ini masih termasuk kecil?), aku mulai suka mengumpulkan sesuatu. Yang kuingat, awalnya aku mengumpulkan batu. Ya, batu. Setelah diterangkan tentang zaman purba, aku tertarik pada batu. Guruku menjelaskan bahwa batu yang ada di sekeliling kita bisa jadi umurnya sudah sangat tua. Ketika diterangkan tentang candi dan berkesempatan mengunjungi Borobudur, aku makin tertarik lagi. Terlebih kakakku juga bilang bahwa batu-batu yang ada ini juga bisa berasal dari gunung. Gunung itu sudah ada sejak zaman purba. Lebih tua dari candi. Dan sekalipun satu saat batu bisa menjadi pasir, tapi beberapa waktu kemudian, pasir itu bisa bersatu menjadi batu lagi. Dan aku makin terperangah saat diterangkan mengenai fosil. Sebuah batu bisa jadi punya banyak cerita. Kalau batu punya mata, maka batu pasti sudah melihat berbagai hal, dinosaurus, diinjak derap langkah pasukan Majapahit, atau terkena bom tentara Belanda.
Aku pun mengumpulkan batu yang bentuknya menurutku bagus. Batu yang licin dan hitam, aku bayangkan ini mungkin pernah menjadi kapak perimbas yang digunakan manusia purba. Aku juga ingat cerita tentang Daud melawan raksasa Goliat. Apa batu seperti ini yang bisa membunuh raksasa? Saat menemukan batu yang kasar tapi tampak sangat kukuh, kubayangkan mungkin itu bekas cuilan sebuah bangunan istana Majapahit. Namun, aku tidak terlalu tertarik dengan setumpuk batu yang dipakai untuk bahan material bangunan di samping rumahku. Aku lebih tertarik pada batu yang ada di jalan, yang tak sengaja kutemukan. Maka, sering kali di kantong celana pendek merah itu, ada beberapa batu, kecil-kecil saja. Kalau aku kelupaan dan ditemukan Mama, maka tentu saja segera ia buang. Namun, aku tidak berani menyimpan batu-batu itu di dalam rumah. Aku menempatkannya di sudut bangunan tempat bekerja para tukang, masih di area rumahku.
Itulah koleksi pertamaku. Batu. Aku tidak terlalu lama mengumpulkannya, karena batu-batu itu sering hilang setelah kusimpan. Aku juga tidak terlalu sayang waktu batu itu hilang, karena toh di mana-mana aku tetap dikelilingi batu-batu. Setelah batu. Aku sempat sebentar mengumpulkan silet. Namun, kali ini, aku mengumpulkannya bukan karena silet-silet itu indah. Ini adalah caraku agar dapat merasa aman. Waktu itu, jika berangkat dan pulang sekolah aku harus naik angkot. Tapi, sebelumnya menyetop angkot, aku perlu berjalan sekitar 250 meter dulu. Terutama saat perjalanan pulang itulah, aku sering berpapasan dengan seorang anak. Belakangan baru kuketahui bahwa ia adalah anaknya pak RT. Yang jelas, usia dan tubuhnya lebih besar dariku, meski tidak besar sekali. Aku kadang dikompas di situ. Aku selalu langsung merasa lemas dan gemetar saat melihatnya dari jauh, entah waktu dia sedang berjalan atau bermain. Ia pun tampak bersemangat jika melihatku. Biasanya aku lalu memperlambat langkahku, tapi ia tahu dan menunggu. Atau kalau tidak ia yang menghampiriku. Seratus perak atau lima puluh perak melayang. Atau kalau aku tidak punya uang sama sekali, maka ia yang memberiku.. pisuh-pisuhan. Tidak pernah ada kekerasan fisik memang, tapi itu cukup membuatku takut.
Singkat kata, hal itu membuatku merasa perlu mempersenjatai diri. Aku tidak ingat dari mana saja aku bisa mendapatkan belasan silet. Silet itu kebanyakan adalah silet lipat yang biasanya dipakai untuk anak SD mengerjakan prakarya. Kadang aku mengambil punya kakakku, atau dari Mama dan Papa, atau aku membelinya. Ke mana-mana, bahkan di rumah waktu tidur pun, kantungku penuh dengan silet. Namun, silet itu tidak pernah benar-benar kugunakan untuk menyilet kulit siapa-siapa. Beberapa minggu aku mulai mengumpulkan silet. Tapi, selama itu, aku tidak berpapasan dengan anak pak RT itu. Sampai akhirnya kakakku memergoki silet-silet tersebut. Ia melaporkannya pada Mama dan silet tersebut diambil. Kakakku bertanya apa tujuanku membawa belasan silet. Aku hanya berkata, buat jaga-jaga. "Jaga-jaga dari apa? Apa kamu mau berkelahi?" "Tidak." jawabku. Aku jelaskan bahwa aku hanya ingin jaga-jaga kalau dicegat anak-anak kampung. Kakak hanya mentertawakan. Tapi masalah itu tidak diperpanjang.
Setelah silet-siletku diambil, saat aku sedang berjalan dengan seorang temanku, Han Cang sialnya aku bertemu lagi dengannya! Anak itu terlihat sedang bermain layang-layang dengan teman-temannya di lapangan pinggir jalan. Dan dadaku kembali berdebar-debar. Aku rasa jika aku masih membawa silet pun, aku tetap sama takutnya. Anak itu berteriak memanggilku. Aku terus berjalan tapi ia memanggil lagi sambil mengepalkan tinjunya. Han Cang pun tampak sama takut denganku. Tiba-tiba dari belakangku, terdengar suara yang kukenal. Rupanya Mama kebetulan sedang lewat. Hari itu naas bagi anak itu. Mama tidak berhenti dengan memarahi anak tersebut. Tapi, ia juga melaporkannya pada orang tuanya yang ternyata adalah pak RT. Sore hari, bu RT dan anak itu datang ke rumahku. Anak itu tampak sangat murung. Kata ibunya, ia habis dihajar ayahnya dan kini disuruh datang ke rumahku. "Terserah, biar silakan mau diapakan saja." kata bu RT menirukan ucapan suaminya. Mungkin itu hanya basa-basi. Tapi, kami kemudian bersalaman. Di hari-hari selanjutnya, beberapa kali aku sempat berpapasan lagi dengannya. Meski aku masih agak deg-degan, tapi kemudian lega karena kini dia tersenyum dan menyapa, "Pulang?". Aku hanya balas tersenyum.
Hal selanjutnya yang kukoleksi adalah sekrup. Karena keluargaku tinggal di rumah milik bosnya Papa, seorang pengusaha alat komunikasi dan elektronik, maka ada banyak sekrup bisa ditemukan di area rumahku. Bagian belakang rumah yang cukup luas itu difungsikan sebagai gudang. Sementara di bagian lebih belakang lagi, ada sebuah tanah lapang tapi dikelilingi tembok tinggi yang dipakai sebagai tempat mengelas, cor, dll. Di situ, aku sering bermain atau sekadar menyepi. Ketika melihat di sana berserakan banyak sekrup bekas, aku mulai berimajinasi. Kali ini aku bayangkan cerita fiksi ilmiah. Sekrup-sekrup beraneka ukuran yang sebagian sudah berkarat itu aku bayangkan sebagai pesawat. Yang bentuknya memang bagus aku kumpulkan.
Mungkin Papa mengetahui kesukaanku itu, mungkin juga tidak. Tapi, Papa tiba-tiba punya ide memberikan banyak sekrup dan besi-besi berbentuk aneh yang merupakan salah satu bagian dari spare part antena parabola. Papa mencontohkan, besi-besi itu bisa dirangkai menjadi bangunan, pesawat, robot dll. Meski bentuknya aneh, tapi aku suka juga. Namun, secara khusus aku membayangkan sekrup-sekrup itu (kali ini sekrup bersih) sebagai tentara atau manusianya. Aku kumpulkan sekrup tersebut dalam sebuah toples. Aku bahkan bisa membedakan sekrup yang satu dengan yang lainnya. Meski secara sekilas semuanya tampak sama. Kadang kala, aku juga membawa sekrup-sekrup bersih itu ke belakang, ke tanah lapang itu, untuk bermain dengan sekrup kotor, trafo berkarat, dan beberapa rongsokan yang ada di sana. Demikianlah, di masa SD sesungguhnya aku memang tidak punya mainan yang sebenarnya. Namun, aku tetap bisa bermain dengan benda-benda tersebut.
Menginjak usia remaja, tepatnya SMP, aku sudah tidak lagi bermain seperti itu. Aku kini lebih suka bersama teman-teman. Ketika itu yang sedang ngetren adalah kartu-kartu basket (yang sebenarnya stiker) dari Panini, meski ada juga kartu basket betulan. Jika saja aku punya kemampuan, maka pasti ada masa aku mengkoleksinya. Tapi, karena uang saku cekak, maka aku hanya ikut nimbrung saja dengan teman-teman mengagumi kartu-kartu itu. Kebetulan waktu itu, aku juga mulai ikut latihan basket di sebuah klub sehingga teman sepermainanku banyak yang suka basket. Pokoknya, basket, terutama NBA, memang sedang top-topnya saat itu. Arie Sudarsono, Helmi Yahya, Reinhard Tawas, Agus Mauro sering muncul di TV. Aku pernah meminjam segepok kartu milik dua temanku, Yofran dan Rachmad, dan selama beberapa hari terus berurusan dengannya. Kadang aku pura-pura menyusun formasi. Permainan yang beberapa tahun kemudian dinikmati orang melalui games Championship Manager.
Satu kali, guru olahragaku memberi tugas membuat kliping berjudul: Olahraga Bola Besar. Kliping ini minimal memuat tiga cabang: sepak bola, basket, dan voli. Bersama temanku, Yofran aku pun mencari berbagai koran dan terutama tabloid Bola. Beruntung, ada Ronald yang kalau tidak salah ayahnya seorang agen koran. Kami mendapat banyak bahan melimpah di sana. Aku juga meminta bantuan dari siapa saja. Puncaknya, dari Papa aku mendapatkan satu edisi tabloid Bola yang memuat daftar lengkap pemain dari semua klub NBA musim kompetisi 1994-1995. Untuk beberapa tahun berikutnya, guntingan 5 lembar kertas itu menjadi hartaku yang sangat berharga. Aku juga terus mengikuti perkembangan kompetisi NBA. Setiap ada berita perpindahan pemain atau pemain pensiun, aku merevisinya di kertas yang makin lama makin lusuh itu. Ya, bisa dibilang kali ini koleksiku bukan benda betulan. Tapi, koleksiku adalah data-data para pemain NBA. Aku mendedikasikan sebuah buku tulis yang berisi catatan tanggal lahir para pemain NBA tersebut. Halaman 1 dan 2 berisi daftar pemain yang lahir pada bulan Januari. Lalu, ada kolom-kolom yang berisi data-data lainnya, seperti asal klub, tinggi/berat, dan posisi. Halaman 2 dan 4 berisi daftar pemain yang lahir pada Februari, demikian selanjutnya. Ketika sudah mulai bosan, aku mengambil buku tulis yang lain. Di situ kutuliskan data pemain-pemain berdasarkan kategori lainnya.
Jika saja waktu itu aku sudah kenal internet atau setidaknya komputer, maka yang kulakukan mungkin hanya browsing, print, atau membuatnya di Excel. Tapi, untungnya belum. Setelah membuat berbagai data dan catatan di buku tulis, selanjutnya yang kulakukan adalah bermain manajer-manajer-an tadi. Membuat berbagai formasi yang sebenarnya lebih tentang nama-nama, karena aku tidak mengerti soal strategi basket. Beberapa waktu kemudian, gegap gempita siaran basket meredup. Maka, aku mengganti data itu dengan pemain sepakbola. Kali ini tampaknya lebih asyik dan aku menjadi lebih sibuk. Tentu saja karena pemain bola jumlahnya jauh lebih banyak dan sifatnya lebih global. Sampai sekarang aku belum pernah bermain games Championship Manager yang ngetren waktu aku SMA itu. Meski demikian, aku sudah pernah merasakan nikmatnya memainkan versi primitifnya, jauh sebelum teman-temanku.
Kumpul-mengumpul atau koleksi yang agak pantas disebut koleksi baru kulakukan saat kuliah. Waktu itu, aku mengumpulkan kaset pita. Kaset-kaset itu semuanya masih ada hingga kini. Mengapa kaset? Mengapa bukan CD atau MP3? Karena waktu itu aku belum punya komputer. Namun, meski aku mulai mengumpulkan kaset-kaset, aku sama sekali tidak ingin memiliki sebuah walkman. Sebenarnya, jika walkman, aku masih mampu mengusahakannya. Tapi, walkman saat itu juga sudah mulai ketinggalan zaman. Jadi, aku bertahan mendengarkan kaset itu hanya saat di kos, dengan tape saja. Berburu kaset ini adalah pengalaman mengasyikkan yang kalau saja ada waktu, mungkin masih akan kunikmati hingga kini. Tentu saja, berburu kaset tidak cukup dilakukan dengan membeli di DiscTarra, Aquarius, distro, atau toko kaset. Yang lebih mengasyikkan adalah berburu kaset bekas.
Dari Onie dan Djohan, aku mengetahui tempat-tempat penjualan (dan pembelian) kaset bekas. Harganya bisa lebih dari separuh dari harga kaset biasa. Kalau bisa menawar, bisa mendapat harga 7 ribu, bahkan 5 ribu, tapi kalau tidak, 10 ribu pun dapat. Beberapa kaset yang sudah susah didapat di toko kaset kadang bisa kutemukan. Jika tidak, kaset yang masih ada di toko pun juga bisa kutemukan dengan harga jauh lebih murah. Selain cara di atas, kadang koleksiku kudapat dengan cara yang agak nakal. Misalnya: meminjam dan lama tidak dikembalikan, hingga pemiliknya kemudian lupa. Koleksiku pun bertambah. Tapi, kadang aku juga melakukan barter. Kaset yang kumiliki mungkin bukan termasuk kaset yang langka sekali, tapi setidaknya banyak yang sepengetahuanku sudah agak susah didapat. Tapi, mungkin saja kenikmatan mengkoleksi sebenarnya adalah lebih pada prosesnya, perburuannya, pengorbanannya, dll.
Aku mulai surut mengkoleksi kaset setelah memiliki sebuah MP3 player. Penggantinya, aku mengkoleksi MP3, tentu saja. MP3 jelas lebih murah dan membuatku punya lebih banyak lagu. Untuk MP3 ini, boleh dikata aku masih melakukannya hingga saat ini. Hanya saja, caranya sudah berubah-ubah. Awalnya, karena aku hanya bisa mendengarkannya melalui MP3 player, yang kucari adalah MP3 dalam bentuk fisik, kepingan CD. Ada banyak cara mendapatkan ini. Yang pertama adalah cara biasa. Yaitu membeli dari lapak-lapak penjual MP3. Di Surabaya, mulai dari lapak tunggal yang ada di depan minimarket, pasar, atau lainnya hingga pusat penjualan MP3 dan CD bajakan di Tunjungan Center adalah tempat kunjungan rutin. Di Tunjungan Center (TC) aku bisa berjam-jam menghabiskan waktu menyusuri deretan lapak yang berada di lantai 3 bangunan yang dulu bernama Harmoni itu.
Kadang memang ada perlakuan tidak mengenakkan. Beberapa pedagang merasa tidak suka jika aku berlama-lama dan mengaduk-aduk dagangannya tapi tidak kunjung membeli. Lagipula, jika aku ditanya, "mau cari apa?" Aku biasanya hanya menjawab, "mau lihat-lihat dulu." Itu memang jawaban jujur. Namun, kadang aku tidak mau menjawab seperti itu. Kadang aku hanya diam dan membuat mereka marah. Kadang saat aku menjawab dengan menyebut nama seorang artis atau band yang 'tidak terkenal' maka mereka langsung bilang tidak ada. Dan aku terpaksa menyingkir sementara (untuk kemudian kembali lagi, berharap dia sudah lupa denganku). Tapi, bagaimana lagi? Jika tidak berlama-lama mengaduk-aduk, maka kita akan sulit menemukan satu CD MP3 yang berisi banyak album yang benar-benar bagus dan 'langka'. Dalam setiap MP3 yang merupakan kompilasi semau pembuatnya, kadang aku bisa temukan ada 1 album bagus dan 1 yang lumayan. Tapi, di kompilasi lain, ada 3 album bagus atau 2 bagus tapi 2 lumayan. Nah, yang bikin lama adalah membanding-bandingkan seperti itu. Ada kalanya aku bisa membeli hingga 5 keping, tapi kadang juga tidak beli sama sekali.
Beberapa kali TC menjadi korban razia polisi. Jika sudah demikian, mereka bisa tutup sekitar seminggu. Aku pun sebal. Namun, yang cukup berkesan dengan TC itu adalah satu hal. Hal ini kadang bikin geli. Ini terjadi jika aku hendak masuk dan keluar ke gedung itu. Di parkiran atau di depan pintu masuk, biasanya akan ada beberapa mas-mas. Mereka kadang sok akrab, kadang sok menyapa, bahkan kadang sok merangkul dan berbisik-bisik, atau sekadar membuat tanda isyarat, baik dengan gerak mata atau tangan. Mereka penjual bokep. Aku tidak pernah tertarik membeli dagangan mereka. Sebagai anak kos, kalau memang ingin nonton bokep, meminjam saja sangat mudah dan pilihannya jauh lebih banyak. Apalagi, menurut beberapa teman yang pernah membeli bokep di TC, ternyata dagangan mereka memang tidak istimewa atau kadang juga jelek. Meski demikian, 'sambutan' mereka itu selalu membuatku tersenyum.
Mengenai koleksi kepingan MP3(kadang juga CD), ada satu waktu ketika aku selalu tidak pernah melewatkan setiap kesempatan pun untuk mendapatkannya. Ketika menghadiri interview kerja di Jakarta, dua kali aku sempat ke Glodog. Meski menurutku untuk MP3 masih lebih ramai di TC, tapi di Glodog tampaknya lebih variatif walaupun di sana lebih lengkap untuk DVDnya. Ketika lulus kuliah dan kembali ke Solo, kadang aku pergi ke Jogja, terutama di jalan Mataram di mana berderet lapak-lapak penjual MP3 dan CD bajakan. Namun, untuk tempat asalku sendiri, yaitu Solo, aku malah kurang bersemangat. Di Solo, tidak ada tempat macam TC, Glodog, atau Jalan Mataram. Dulu ketika masih kuliah dan sedang pulang untuk liburan, aku memang menyempatkan mendatangi mal atau pertokoan yang menjual MP3. Namun, aku jarang beli karena harganya memang lebih mahal.
Menurutku, tiap kota memang ada ciri khasnya. Di Surabaya, menurutku lebih banyak MP3 musik Barat (Mandarin juga banyak, tapi aku tidak suka lagu Mandarin). Di Glodog, sebenarnya bisa dibilang seimbang. Tapi, koleksinya lebih baru. Di Jogja, lebih banyak musik lokal, tapi bagusnya lokalnya juga termasuk musik independen. Sementara di Solo, koleksinya kurang update (tapi kadang juga menemukan yang jadul dan cukup 'langka'), tapi di Solo yang menonjol adalah cukup banyak album rohani. Sayangnya aku tidak mengkoleksi MP3 lagu rohani. Itulah beberapa perbedaan menurut sepengetahuanku. Tentu saja bisa jadi aku salah karena aku sudah tidak pernah mencari kepingan MP3 lagi sejak sekitar 3 tahun ini.
Sewaktu teman sekamarku, Onie, membawa komputernya. Aku menambah cara baru mencari MP3. Yang ini jauh lebih kusukai dari membeli di lapak. Lebih murah, bisa dicoba, dan isinya pasti lebih sesuai seleraku. Caranya adalah dengan mengaduk-aduk koleksi teman. Ada beberapa teman yang suka mengoleksi lagu-lagu, entah di komputernya atau dalam kepingan MP3 juga. Bahkan kalaupun ia tidak suka, asal ia punya komputer aku yakin pasti ada folder musiknya. Nah, sudah merupakan kewajiban untuk memeriksanya. Untuk yang ini, karena waktu itu belum ada yang namanya flash disk, aku pun harus membawa CD kosong dan memastikan komputer temanku itu memiliki CD Writer. Dari komputer satu ke komputer lain, aku sering mendapatkan banyak lagu bagus. Bahkan, ada juga yang sampai membuatku beberapa kali bolak-balik, seperti koleksinya Djohan, misalnya. Jika koleksi temanku itu masih ada di kepingan MP3, aku bujuk dia agar aku diizinkan mencoba di komputernya. Kadang hingga subuh aku begadang memilih dan memastikan setiap space di CD itu dipenuhi lagu yang memang aku belum punya. Dan jangan remehkan ingatanku untuk ini. Aku cukup hafal puluhan atau mungkin ratusan ribu lagu yang ada di ratusan keping MP3 dan bergiga-giga file MP3 yang ada di komputerku hingga saat ini. Tapi, belakangan memang sering lupa juga sih.
Ketika kemudian aku bekerja di Jogja, sebenarnya aku sudah agak meredup dalam mengkoleksi MP3. Tapi, di kota itu, ada cara yang lebih ekonomis dan tak kalah efektif dari mengkopi koleksi MP3 teman. Aku sungguh senang dengan warnet-warnet di Jogja. Di sana, koleksi MP3nya biasanya sangat banyak, selalu update (bahkan bisa request), dan bervariasi. Meski di Solo pun ada warnet yang menshare folder MP3nya, tapi koleksinya kalah jauh dibanding warnet di Jogja. Yang mengasyikkan, beberapa warnet aku lihat cukup idealis. Maksudnya, mereka tidak hanya menyediakan lagu-lagu yang sedang populer di TV, tapi juga berbagai jenis musik dan artis yang tidak semua orang tahu. Kadang, beberapa artis lokal juga sepertinya sengaja menitipkan track rekaman mereka di warnet-warnet agar musik mereka lebih dikenal. Sebelum itu, saat aku masih belum bekerja di Jogja dan karena kapasitas flash disk masih kecil-kecil, maka ada kalanya aku terpaksa membeli CD kosong di warnet itu (biasanya mereka jual). Memang cukup mahal, harga burningnya juga mahal, tapi tidak apa-apa karena aku sudah berpenghasilan. Setelah aku sempat bekerja di Jogja dan kapasitas flash disk mulai besar-besar, maka aku lebih bebas. Bisa kembali kapan saja. Bahkan beberapa kali aku ke warnet tanpa browsing sama sekali, hanya memilih-milih MP3.
Ada enam tas dan dua wadah CD yang ada padaku saat ini. Semua berisi MP3 dan beberapa CD. Beberapa memang ada yang jamuran, tergores, dan tidak bisa terbaca, baik di komputer maupun player lagi. Dulu, caraku menyelamatkannya mau tidak mau adalah mengkopinya ke kepingan yang baru. Tapi setelah aku punya komputer, aku bisa sedikit lebih tenang. Cara selanjutnya untuk mendapatkan MP3 adalah mendownload. Ketika situs filesharing masih belum populer, aku menggunakan software limewire yang ada di beberapa warnet tertentu. Cara tersebut sudah terasa sangat canggih waktu itu. Pertama kali mencoba limewire, aku langsung menginap di warnet dan paginya membawa pulang dua keping MP3 yang diburn di sana. Sekarang, dengan adanya kebebasan koneksi internet, aku hanya sesekali saja mendownload di berbagai tempat, seperti situs filesharing, situs resmi band atau artis tertentu yang memang menyediakan download gratis, atau mendownload dari video untuk kemudian diubah bentuk menjadi MP3. Memang, sepertinya kesetiaanku dengan format MP3 akan masih bertahan cukup lama.
Seperti sudah kubilang, semangatku berburu MP3 saat ini sudah jauh berkurang dibanding waktu kuliah. Satu penyebab utamanya adalah karena aku punya bahan koleksi lain. Koleksi ini adalah koleksi tulisan. Buku, ebook, artikel, beberapa majalah, jurnal, paper, hingga rekaman diskusi kini menjadi tampak sama bahkan kadang lebih seksi dari alunan musik. Untuk artikel, mungkin Mamalah yang memberi contoh. Hingga beberapa tahun lalu, ia masih suka menggunting-gunting resep masakan serta resep obat-obatan tradisional. Kakakku mungkin bilang itu nyusuh, seperti pemulung. Tapi, Mama tidak ambil pusing dan tetap dengan telaten ia tempelkan setiap guntingan kertas itu di buku yang beraneka bentuknya. Cukup banyak bukunya dan cukup tebal-tebal. Dulu aku tidak terlalu tertarik, tapi sekarang aku justru berusaha mencari di mana semua buku-bukunya itu.
Meski demikian, aku juga agak beda dengan Mama. Bentuk kliping artikelku bukanlah dalam bentuk fisik, melainkan file (sekalipun sebenarnya ingin juga mengkliping kertas). Kesukaan ini mungkin juga dipengaruhi oleh pekerjaan pertamaku. Waktu itu, Bos pernah memberi tugas memilah-milah artikel dan mensortir mana yang bagus. Meski artikel yang kusortir bukan artikel dengan topik favoritku, tapi aku cukup menikmati tugas itu. Aku juga terdorong oleh kebiasaan satu tokoh idolaku, Pramoedya Ananta Toer. Sebagaimana mungkin sudah banyak yang tahu, selain HB Jassin, Pram adalah tokoh yang setia dengan pendokumentasian. Hanya karena kebiadaban rezim tentara, koleksi dalam perpustakaannya tersebut telah dirampas dan dibakar. Satu hal ini masih terus membuatnya dendam hingga akhir hayat. Kabar bahwa setelah keluar penjara Pram bekerja mengumpulkan kliping yang tebalnya hingga bermeter-meter juga membuatku terkesima. Jangan meremehkan kliping. Bahkan Pram pernah bilang bahwa ia tahu sesuatu bukan karena pintar, tapi hanya karena ia suka mengkliping. Pernyataannya tersebut membuatku yakin bahwa kliping itu berguna. Pendokumentasian adalah pekerjaan mulia. Apalagi kita berada di negara yang punya sejarah suka menghancurkan, negara yang sering dikangkangi para penguasa yang tidak tahu menghargai apalagi belajar dari masa lalu.
Untuk mengkoleksi buku cetak, aku masih memakai cara konvensional. Kalau tidak membeli yang baru ya yang bekas. Aku masih tidak terlalu tertarik untuk memfotokopi. Sejauh ini, bukuku yang hasil fotokopi hanya ada satu; sebuah buku asing, biografi salah satu band favoritku. Buku itupun pemberian (atau pinjaman yang direlakan?) dari Onie. Dan yang kini kadang kusesali adalah, keputusanku menjual berkilo-kilo buku fotokopian di masa kuliah kepada tukang rombeng demi menghemat biaya pemaketan barang-barangku. Uang yang kudapat hanya 23 ribu. Semula Onie mengusulkan uang itu dibelikan sebuah kaset sebagai pengingat. Tapi, ternyata uang itu kemudian melayang untuk membeli bensin mobilnya.
Menurutku, jika bicara soal membeli buku, rasanya lebih mantap jika bekas. Untuk buku bekas lokal, masalah banyaknya penerbit yang tutup, banyaknya buku yang meski ditulis dengan bagus tapi tidak laris dan tidak dicetak ulang, hingga masalah hak cipta yang belum jelas aturannya, membuat sebuah buku bekas kadang bisa menjadi sangat berharga. Yang sangat menarik dari buku bekas adalah jika menemukan selipan atau coretan-coretan di dalamnya. Kadang aku bisa mendapatkan selipan buku yang bagus. Tapi, kadang juga kertas pengingat atau surat kecil. Aku juga menikmati yang namanya coret-coretan di buku bekas, asal itu tidak mengganggu teksnya. Mungkin itu coretan tulisan nama si pemilik buku. Mungkin nama pemberi buku. Mungkin alamat atau nomor telepon seseorang yang kebetulan harus ia catat, tapi ketika itu ia tidak punya kertas. Mungkin tanggal dan tempat membeli buku itu. Mungkin catatan tambahan di sela-sela pembahasan. Apapun itu, semuanya itu adalah satu goresan sejarah. Menurutku, sejarah minor memang sering kali lebih menarik dari sejarah-sejarah besar, selain tentunya bisa saling melengkapi. Demikian pula, goresan di halaman buku bekas itu sering kali bisa melengkapi apa yang tertulis di sana.
Tapi, aku juga suka dengan buku baru. Bukan baru dalam artian tahun terbitnya. Tapi, maksudnya adalah yang kudapat sebagai tangan pertama, biarpun itu obralan. Aku memang belum terlalu telaten dan tahu soal cara merawat buku agar tidak rusak. Untungnya, bukuku yang ada kebanyakan belum rusak. Paling ada beberapa yang hanya terkena noda atau kertasnya mengeras akibat pernah terkena air dan dijemur. Karena itulah, dengan membeli buku baru aku merasa lebih aman bahwa umur buku itu setidaknya bisa lebih panjang dari buku bekas. Namun, yang memberatkan memang harganya. Yang paling aku suka dari buku cetak adalah aromanya. Oleh karena itulah, tempat membaca yang paling kusukai adalah yang dekat dengan banyak buku lainnya.
Meski buku cetak lebih enak dilihat, tapi koleksi bukuku yang dalam bentuk ebook masih lebih banyak ketimbang yang kertas. Kebanyakan memang berbahasa Inggris, dan kebanyakan juga belum sempat dibaca. Tapi, aku bayangkan jika memang kelak ebook akan menggeser kedudukan buku kertas, aku tidak perlu khawatir. Demikian juga dengan artikel. Semoga Tuhan memberkati hard diskku sehingga berbagai artikel yang ada tidak akan pernah yang namanya hilang. Aku membayangkan, apa yang kulakukan saat ini, suatu hari nanti akan bisa kuperlihatkan kepada anak hingga cucuku dan seterusnya. Dengan begitu, generasi mendatang tidak akan mudah ditipu seperti generasi-generasi sebelumnya. Tidak peduli bagaimana sejarah nantinya dibengkak-bengkokkan, setidaknya aku berharap bisa memberi pandangan dan masukan melalui catatan tulisan yang kukumpulkan dari berbagai sumber yang menurutku kompeten.
Dalam mengkoleksi tulisan, godaannya adalah menjadi tidak fokus. Aku mungkin juga kadang asal comot. Asal tulisannya bagus dan menarik. Meski kadang aku berdalih itu bisa kugunakan untuk pekerjaanku, tapi aku sadar bahwa kadang itu bisa membuatku mengumpulkan hal tak berguna. Tapi, makin lama aku juga mulai belajar untuk lebih fokus. Beberapa bidang lebih kuutamakan dan lebih gemuk koleksinya ketimbang bidang lain. Makin lama, kadang juga makin menyempit. Misalnya, tidak hanya mengoleksi buku dan tulisan tentang sejarah, tapi sejarah yang lebih spesifik yaitu sejarah kekerasan. Lalu menyempit lagi ke sejarah kekerasan di Indonesia, lalu di pulau Jawa, lalu khusus kekerasan antar warga saja, dst. Namun, ada kalanya aku juga tergoda untuk melebar lagi. Tiba-tiba aku ingin tahu tentang bagaimana kekerasan bisa seolah menjadi budaya, lalu melebar mengamati mitologi, filsafat, bahkan psikologi, dll.
Kebebasan mengakses internet saat ini sangat mendukungku melakukan kegiatan ini. Seperti halnya MP3, aku masih mengandalkan mendownload ebook melalui situs filesharing. Tapi, karena ini tulisan, bahannya tentu saja jauh lebih melimpah. Senang rasanya kalau menemukan situs yang menyediakan jurnal atau paper yang bisa didownload gratis serta legal. Dan kalau memang sangat tertarik dan koneksi sedang bagus, maka kadang aku juga mendownload satu website atau blog utuh. Jeleknya, kebebasan akses internet juga membuatku hanya mencari dan mengumpulkan terus menerus. Yang sudah dikumpulkan kadang belum dibaca, diolah, atau masih hanya diskimming saja, eh aku sudah mencari yang lain. Tapi menurutku, itulah hebatnya internet. Tidak heran jika sampai ada seorang artis yang mengaku punya 4 Terabyte file hasil mendownload dari internet saja! Bisa tidak ya aku seperti dia?
Di sela-sela mengumpulkan artikel-artikel di internet, dulu sempat terbersit keinginan mengumpulkan foto-foto bersejarah. Namun, rupanya aku belum cukup telaten untuk itu. Sempat mengumpulkan daftar foto tokoh-tokoh yang berseberangan pandangan yang tertangkap dalam satu frame. Sempat juga mengumpulkan foto tokoh dunia saat saling bertemu. Atau foto bersejarah lainnya. Tapi, kadang aku lebih terbawa menikmati artikel karena caraku mencari foto juga masih belum seberapa canggih. Mungkin kegiatan itu bisa dilakukan lagi nanti.
Label: batu, buku, data, gambar, hobi, koleksi, masa kecil, masa lalu, mp3, sekrup, silet
Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...Aku tidak terlalu akrab dengan nama Truman Capote sebelumnya. Dulu, di kampus memang pernah diadakan pementasan teater berjudul Breakfast At Tiffany. Itu terjadi pada saat aku masih menjadi mahasiswa baru. Di masa itu, yang kutahu adalah teater merupakan salah satu mata kuliah atau kegiatan ekstra para mahasiswa di jurusanku. Tidak terlalu berminat. Aku tidak menonton pementasan tersebut. Jika kemudian aku memilih menonton film tersebut, yang membuatku tertarik adalah review dan penghargaan Oscar yang diterima Phillip Seymour Hoffman. Ya, dalam memilih sebuah film, aku memang kadang terlalu menghamba pada gambar piala atau tulisan-tulisan di depan sampul VCD/DVD seperti itu. Sebuah kebiasaan yang meski bikin aku jijik, tapi sejauh ini jarang membuatku kecewa.
****
Sebenarnya, aku sudah kenal Puthut cukup lama. Ketika Onie membawanya ke kampus, aku belum kenal dia selain sebagai temannya Onie (temannya memang banyak yang aneh). Kenal sudah cukup lama tapi terbilang jarang bertemu. Sementara aku biasanya baru bisa akrab dengan seseorang jika sering ketemu dan berinteraksi. Itu sebabnya susah menjelaskan kenal yang bagaimanakah itu. Terlebih, ia memang jenis orang yang seperti sangat siap untuk mengakrabi ribuan orang, yang sebagian besar aku lihat mengaguminya. Saat ia mulai sering dikisahkan oleh mulut-mulut dan kemudian juga media-media sastra dan perbukuan, lambat laun aku baru sadar bahwa aku sudah mengenal seorang yang cukup bisa dijadikan referensi dalam bidangnya.
****
Trailer film. Penghargaan. Kover yang menarik karena misterius. Hanya menampilkan sosok Phillip Seymour Hoffman berdiri dengan ekspresi yang seakan berkata, "mau nonton atau atau tidak, terserah, aku tetap tidak akan rugi." Sebelum ini, aku hanya mengingat aktor itu ketika bermain dalam film Red Dragon. Meski aktingnya waktu itu lumayan bagus. Tapi, aku masih tidak terlalu yakin filmnya kali ini bakal bagus. Namun, aku ambil juga kotak CD itu dari rak di rental video yang baru buka itu. Bersama beberapa film lainnya yang aku tidak ingat, aku putuskan untuk menghabiskan malam akhir pekan dengan film-film lagi. Terima kasih untuk masa kuliah yang membuatku bisa menghargai acara nonton film (dan mendengarkan musik serta membaca buku) sebagai sebuah kegiatan yang terhormat, bahkan ada kalanya sakral.
****
Mereferensikan atau merekomendasikan sesuatu adalah kebiasaan yang wajar dalam sebuah obrolan. Waktu kuliah, aku dan Onie sering saling merekomendasikan lagu atau film. Untuk buku, terus terang sebelum skripsi, aku termasuk tidak banyak baca, apalagi beli buku. Jadi, hanya jika temanku itu punya dan rela, maka ia akan meminjamkan (atau lebih tepatnya menyuruh) aku untuk membaca. Untung dia memang termasuk orang yang murah hati. Dunia Sophie dan Bumi Manusia, misalnya, adalah dua buku yang pernah ia pinjamkan padaku untuk dibawa pulang selama liburan semester, dan sejak saat itu aku mulai cinta buku. Sedangkan buku-buku lain, maksudnya yang nonfiksi tapi sangat memengaruhiku, juga kebanyakan adalah bukunya. Setelah aku mengerjakan skripsi dan meminjam komputernya terus, aku banyak meminta referensi buku darinya.
Dengan Puthut, pertama kali ia merekomendasikan sebuah buku kepadaku (dan sepertinya juga pada banyak orang lain yang ia temui) adalah ketika aku berkunjung ke posko gempa di Tandabaca. Bukunya adalah Professor and the Madman karangan Simon Winchester. Buku yang memang bagus menurutku (kalau sempat, mau bikin tulisan kayak giniannya juga ah..). Sejak itu, jika bertemu dengan dia, aku selalu menanti saat ia mereferensikan buku-buku yang menurutnya bagus lainnya. Buku-buku rekomendasinya yang akhirnya kubaca dan kubeli lainnya adalah Zaman Edan (Richard Lloyd Parry), Kiamat 2012 (Lawrence Joseph), dan terakhir World Without Us (Alan Weisman). Oh ya, Heavier than Heaven (Charles R Cross) juga bisa dimasukkan sebagai buku rekomendasi si EA, meski aku tidak membelinya. Buku karangan Truman Capote, In Cold Blood ini adalah buku yang ia sebut saat mengobrol tentang jurnalisme sastrawi. Saat itu Onie menunjukkan buku Jurnalisme Sastrawi, karya jurnalis-jurnalis Pantau. Lalu, dalam obrolan itu, Puthut mengatakan bahwa ia yakin gaya penulisan Linda Christanty dalam artikel berjudul Hikayat Kebo itu meniru gaya penulisan Capote dalam buku ini. "Baca saja. Bukunya yang bahasa Inggris ada di perpusnya TB. Yang dalam bahasa Indonesia sudah diterbitkan Bentang, di Togamas sudah ada. Terjemahannya lumayan kok." katanya.
****
Aku tidak mengharapkan apa-apa dari sebuah film yang meski diangkat dari kisah nyata dan menang Oscar tapi background sejarahnya belum aku ketahui. Yang kuharapkan hanyalah tidak ada yang klise. Aku baru tertarik saat film itu menyebut-nyebut tentang dua judul buku: Breakfast At Tiffany dan To Kill A Mockingbird. Jika judul pertama mengingatkanku pada pementasan teater awal kuliah. Judul yang terakhir ini adalah buku fenomenal. Pernah tercatat sebagai buku paling inspiratif (mengalahkan Alkitab) dan paling banyak dibaca oleh masyarakat Amerika. Namun, sempat muncul juga isu bahwa sebagian besar isi buku ini ditulis atau dirombak total saat disunting oleh Capote. Entah itu hanya karena sentimen gender atau memang kenyataannya Capote penulis yang sangat hebat, aku tidak tahu. Yang jelas, fakta di film itu bahwa Truman Capote adalah sahabat dekat Harper Lee cukup membuatku kembali sadar bahwa ini memang tentang kisah nyata.
Lalu, dengan cukup cepat, film mulai bergulir dengan kisah dua bandit itu, Richard 'Dick' Hickock dan Perry Smith, setelah ditangkap. Cerita dalam film itu memang lebih berfokus pada Perry, pemuda keturunan Indian yang pintar menggambar. Nuansa hubungan asmara sesama jenis antara Capote dan Perry cukup terasa di film itu (sedangkan di bukunya, nuansa itu ditampilkan antara Dick dan Perry). Aku tidak mempermasalahkan karena film tersebut memang judulnya Capote (bukan In Cold Blood) dan bumbu tema itu memang sedang populer (tahun itu ada Brokeback Mountain juga). Dari film itulah aku mulai tahu tentang kasus tersebut. Tapi, aku lebih tertarik pada Capote yang dikatakan kemudian depresi sejak menulis buku yang judulnya tidak disetujui oleh Perry Smith ini. Dan bagaimanapun, aku kagum dengan keberanian serta ketekunan jurnalis yang juga sastrawan itu dalam mencari info, melakukan berbagai wawancara dan penelitian serta menulis sebuah buku yang kemudian mengukir sejarah.
****
Entah sejak kapan Puthut menjadi tergila-gila dengan model penulisan ala jurnalisme sastrawi ini. Sebelum ini, cerpen-cerpennya bagiku lebih banyak bermain dengan kata-kata dan bentuk ketimbang cerita. Karena itulah, saat pertama kali kubaca dulu, aku pun tidak biasa, mengernyitkan dahi, dan bingung. Konon, aku bingung karena hanya berusaha mengerti dan melupakan menikmati. Aku tidak tahu gaya apa itu namanya. Yang jelas, gaya seperti itu sempat menjadi tren, bahkan mungkin hingga sekarang. Tapi, dalam buku kumpulan cerpen terbarunya, sudah banyak bedanya. Salah satu karyanya, tentang telinga Pramoedya, bahkan lebih seperti laporan jurnalisme investigasi yang menegangkan. Ia bahkan kini punya buku kumpulan essay. Secara pribadi, menurutku itu lebih bagus karena saat membaca aku jadi lebih mengerti.
****
Jurnalisme sastrawi, istilah itu baru aku dengar dari judul buku karya jurnalis Pantau itu. Andreas Harsono dan teman-temannya sampai saat ini masih terus berkeliling mengadakan pelatihan dan kursus genre jurnalisme yang antara lain diterapkan di model liputan majalah The New Yorker, Rolling Stone, atau di Indonesia di majalah macam Pantau (yang dengar-dengar hanya hidup sebagai majalah kertas sekitar 3 tahun) dan Panyingkul. Istilah lain dalam bahasa Inggris ada macam-macam, dan sebenarnya sudah sejak tahun 60an dilakukan di Amerika. New journalism movement, nonfiction novel, in-depth reporting, narrative reporting, passionate journalism, dll. adalah istilah yang sama-sama mengacu pada apa yang di Indonesia dikenal sebagai jurnalisme sastrawi. Jurnalisme sastrawi adalah sebuah gaya atau genre atau style dalam menulis reportase. Biasanya, tulisannya memang lebih mendetail (sebagaimana terlihat di buku ini juga). Jadi, wajar kalau jenis reportase macam ini jarang ditemukan di koran yang ruangnya cukup terbatas, melainkan lebih banyak ditemui di majalah atau buku sekalian. Entah dinikmati dalam bentuk majalah atau buku, kesanku adalah beda keduanya hanya seperti menikmati cerpen dan novel.
Salah satu nama yang sering dibicarakan jika bicara topik ini adalah Tom Wolfe. Dialah tokoh utama dalam gerakan new journalism, yang menulis beberapa buku terkenal seperti Electric Kool Aid dan Bonfire in Vanities serta membidani sebuah buku antologi reportase berjudul The New Journalism (yang ditiru oleh Andreas Harsono dengan buku Jurnalisme Sastrawinya). Sementara Truman Capote, disebut di backcover buku terbitan Bentang Pustaka Yogyakarta ini sebagai penulis yang memelopori genre novel non fiksi melalui buku In Cold Blood ini.
Sebagai pembaca, aku akui gaya reportase seperti itu memang nikmat dibaca, meski tentu saja tulisan jadi lebih panjang. Jika reportase model lama mungkin sekadar memenuhi unsur 5W 1H, kini dalam genre ini penyajian fakta dibuat makin manusiawi karena penulis juga mengajak pembaca menyelami sisi psikologis objek dan narasumber. Kata Andreas Harsono, jurnalisme sastrawi bukan berarti tulisannya lantas harus mendayu-dayu, berima, dst. tapi yang penting adalah tulisannya cantik dan memikat. Memang sastra itu cantik, tapi cantik tidak harus berarti kemayu. Kalau menurutku, sastra adalah cara manusia bercerita tentang manusia dan segala kompleksitas hidup dan dirinya sendiri. Jadi bukan narsisme, apalagi industrialisme.
Jika masih ada sebagian orang merasa membaca karya fiksi adalah menghabiskan waktu, gaya penulisan model seperti ini mestinya bisa mengubah pandangan sempit itu. Tentu saja, tetap ada kritik yang muncul untuk gaya ini. Beberapa pengarangnya dituduh suka menyajikan gambaran imajinasinya sendiri. Dalam buku Heavier than Heaven, misalnya, ada yang mengkritik bagian ketika Charles R. Cross menggambarkan detik-detik sebelum Cobain menembak dirinya sendiri. Tentu saja, apa yang terjadi di detik-detik kematian Cobain itu hanyalah kira-kira dari si pengarang, mungkin berdasarkan bukti-bukti yang ditemukan di TKP. Tapi, aku rasa itu tidak membuat kisah di dalamnya menjadi tidak akurat. Dalam In Cold Blood inipun, kritik seperti itu juga muncul. Ada yang menuduh beberapa dialog adalah imajinasi Capote belaka. Kurasa itu memang risiko. Tapi, sebenarnya hal itu tidak lantas membuat buku ini menjadi karya fiksi yang sekadar terinspirasi kisah nyata. Menurutku, kalau orang memotret saja bisa memasukkan persepsi pribadinya, apalagi dalam menulis, sekalipun yang ditulis itu fakta. Sebagai orang yang salah satu tugasnya di tempat kerja adalah menulis, aku sadar bahwa menulis sebuah reportase model ini sangat tidak mudah. Riset, wawancara, analisa, dan tentu saja teknik menulis yang ciamik harus dimiliki penulisnya. Aku rasa, hanya orang-orang cerdas yang sekaligus tekun dan pemberani yang bisa menuliskannya dengan baik.
****
Aku memang sudah melihat buku tersebut di perpusnya Tandabaca. Tapi, aku masih belum terlalu yakin untuk meminjam dan membawa pulang buku itu dari sana. Bukan apa-apa, hanya saja di tengah kesibukan, aku tidak yakin aku bisa menyelesaikan membaca buku itu dalam waktu yang tidak lama. Maka, aku ingin memilikinya saja. Di Togamas, sebelum mendengar rekomendasi Puthut, aku sudah pernah lihat buku itu. Seperti biasa, meski setiap kali aku berangkat aku sudah punya hasrat ingin membeli. Tapi, setelah berputar ke berbagai rak lainnya, tiba-tiba aku merasa tidak ingin lagi membeli buku itu. Harganya masih cukup mahal bagi kantongku saat itu. Aku sempat membaca halaman-halaman awalnya saja. Benarkah terjemahannya bagus? Itu pertanyaan pertama yang biasa kutanyakan sebelum membeli buku terjemahan. Sejauh ini, buku yang terjemahannya paling berkesan adalah Professor and the Madman. Seperti sudah kusebut, buku itu juga direkomendasikan oleh orang yang sama. Maka, pikirku pasti terjemahannya tidak jauh beda bagusnya. Aku hanya membaca sekilas dan langsung merasa terjemahannya bagus. Lebih karena terpengaruh ucapan Puthut. Tapi karena masih sayang dengan harga, selama beberapa minggu aku mengurungkan niat membelinya. Aku memang tidak berdoa agar bisa memiliki buku itu, tapi kemudian tampaknya doaku lalu terjawab melalui seorang teman.
****
Bang Napi mengatakan "kejahatan tidak hanya terjadi karena ada niat pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan". Tapi, duo penjahat, Hickock dan Smith ini seolah melakukan sebuah pembunuhan tanpa motif yang jelas. Perampokannya memang terjadi karena niat. Tapi, pembunuhannya tidak terlalu jelas, bukan karena kesempatan maupun niat. Empat orang, sebuah keluarga, ditemukan tewas dalam keadaan mengenaskan. Tidak ada yang hilang kecuali 30 dolar karena memang uang keluarga itu ada di bank. Tapi, mereka tetap dibunuh, meski tidak ada perlawanan atau ancaman terhadap kedua perampok. Kisah pembuka dalam buku ini bercerita banyak tentang latar belakang keluarga dan lingkungan Holcomb, tempat keluarga Clutter yang mereka bantai itu tinggal. Selanjutnya, kita diperkenalkan ke bermacam-macam orang dan kebiasaan di daerah desa itu. Berselang-seling dengan narasi mengenai petualangan dua penjahat yang sama-sama pernah masuk militer dan masuk penjara itu.
Karena berasal dari hal nyata, detail yang dipaparkan di buku ini menurutku lebih kaya dari karya fiksi biasa. Bagian awal, yang banyak bercerita tentang keluarga Clutter sebagai keluarga yang sangat biasa-biasa saja itu, menurutku agak membosankan. Cerita baru mulai menarik setelah menginjak narasi tentang dua penjahat itu dan tentunya juga ketika mereka melakukan pembunuhan. Makin menegangkan adalah mengenai bagaimana polisi mengadakan penyelidikan serta perburuan. Aku sendiri selama ini juga sering heran, bagaimana cara polisi bisa menemukan pelaku sebuah kejahatan, jika bukti yang ada sangat sedikit, dan dalam kasus ini sangat minim (hanya jejak sepatu). Mungkinkah kadang kala polisi (terutama polisi Indonesia, yang cara kerjanya sering diolok sebagai metode intel melayu) memang memakai cara seperti di humor interogasi beruang* itu? Selama ini, itulah yang aku kira dan masih sering kukira. Tapi, saat membaca buku ini, tidak disangka jika kisah terbongkarnya kejahatan di dunia nyata memang ada kalanya bisa seperti kisah film. Namun, ini bukanlah sebuah novel detektif, di mana kalau penjahatnya tertangkap, maka cerita selesai. Justru makin ke belakang, setelah kedua penjahat ditangkap, cerita justru makin menyentuh. Narasi tentang apa yang dialami Hickock dan Perry sudah tertangkap, diadili sampai dijatuhi hukuman mati cukup menarik untuk analisa psikologi sederhana. Jika pertanyaan awalnya adalah: apa motif yang membuat keduanya melakukan pembunuhan kejam? Tapi, lama kelamaan alasan itu justru makin tidak diperlukan. Makin membaca, kita justru seolah merasakan menjadi Hickock dan Perry. Dan jika sudah bisa menyelami karakter kedua orang itu, di satu titik, kita tidak butuh alasan lagi. Tapi, pencarian alasan itu malah berubah menjadi secercah simpati, sebongkah penyesalan, dan secarik kemarahan terhadap dunia mereka.
****
Ketika kantorku sedang ramai membicarakan rencana kepindahan manajerku, Dyna tiba-tiba menyatakan bahwa ia sudah akan pindah lebih dulu karena sudah diterima di penerbitan lain. Hanya beberapa hari sebelum manajerku pindah, acara perpisahan sudah diadakan untuk teman yang kini sedang hamil anak pertamanya itu. Dyna pindah ke sebuah penerbitan yang namanya sedang membumbung tinggi berkat seri novel karya Andrea Hirata, tetralogi Laskar Pelangi. Bentang Pustaka yang dulu dikenal sering menerbitkan terjemahan Indonesia buku-buku sastra dan filsafat dunia dengan kover kebanyakan karya seniman top, Ong Hary Wahyu, itu memang sudah sejak lama diakuisi oleh Mizan. Dengan tangan kuat itulah, Bentang muncul lagi dengan gaya yang baru dan buku-buku yang lebih variatif. Terjemahan karya sastra dunia tampaknya masih menjadi andalannya. Salah satu buku yang diterbitkan tentu saja adalah In Cold Blood (karena sudah terkenal, judulnya sengaja tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, sebuah tren yang makin banyak dilakukan penerbit-penerbit saat ini). Karena di perusahaan penerbit tempat aku bekerja sebelum ini, karyawan yang membeli buku terbitan sendiri akan mendapat diskon 50%, maka aku coba menanyakannya pada Dyna. Ternyata sama. Sekalipun stok di kantornya saat itu sudah hampir habis, tapi akhirnya aku bisa mendapatkan buku itu juga, dengan setengah harga toko. Kebetulan saat itu, aku juga mulai diajak menjadi penyunting paruh waktu di sana. Dobel keuntungan, sudah dapat buku murah, juga dapat kerjaan tambahan. Sebelum dua minggu kemudian, sesuatu yang belum akan aku ceritakan di sini, terjadi.
****
Aku menimang buku dengan kover hitam bergambar raut wajah pria yang tampak ketakutan itu. Aku membayangkan itu wajah Perry Smith. Harga yang kudapat kalau tidak salah ingat hanya sekitar 30 ribuan. Aku baru saja pulang kantor dan baru kali itu datang ke kantor Bentang. Kantor itu berbentuk sebuah rumah mungil, bersih, asri, dan cukup sejuk. Setelah membayar, giliran aku bertemu Mbak Dewi, salah satu editor di situ, mantan teman satu kantor juga. Dialah yang bertanggung jawab dalam memberi job menyunting sebuah novel thriller. Dalam hati, waktu itu aku agak kecewa karena berarti aku belum bisa langsung membaca buku yang baru kubeli, karena aku malah mendapat tambahan pekerjaan. Tapi, itu bisa diatur nanti. Toh, di kemudian hari, aku pun sadar kalau tambahan kerjaan itu justru membuat ketagihan.
Setelah urusan selesai, aku pun pulang ke tempat kos. Sambil tiduran di kasur, aku mulai membaca dengan semangat ingin menemukan bacaan yang sama menakjubkan seperti buku yang direkomendasikan Puthut sebelumnya. Terjemahannya di awal-awal yang tidak sebagus Professor and the Madman (terbitan Serambi), sempat membuatku kecewa. Beberapa catatan kaki, dari penyunting atau penerjemah, lebih sering mengganggu ketimbang membantu. Itulah kesan pertamaku waktu membaca. Alhasil, aku sempat berhenti di tengah jalan membaca buku itu. Selama berbulan-bulan, bahkan mungkin setahun, aku berhenti membacanya meski baru sampai di beberapa bab awal. Ya, memang tidak melulu karena masalah terjemahan, tapi karena memang banyak kesibukan pekerjaan dan keinginan membaca buku-buku lain, entah yang disewa atau yang baru dibeli yang lebih kuat.
Namun, setelah pindah kota dan tidak bisa lagi menyewa buku-buku di Homerian, Jogja, maka aku memutuskan melanjutkan kembali pembacaan buku itu. Beruntung, aku kini punya jam eksklusif membaca buku selama kurang lebih 2 jam, hampir tiap minggu. Jam eksklusif itu aku dapatkan di kereta api. Kegiatan rutin di tiap hari Minggu, yaitu ke Jogja dengan menggunakan kereta komuter Prameks, menjadi kegiatan menyenangkan salah satunya karena selama perjalanan aku bisa bebas membaca tanpa gangguan. Tentu saja jika Prameks tidak sepadat waktu liburan sekolah kemarin itu. Setelah beberapa hari Minggu dilalui, aku akhirnya bisa menyelesaikan buku itu. Puas rasanya.
****
Setelah membaca beberapa tulisan yang katanya digolongkan sebagai new journalism atau jurnalisme sastrawi, aku pun bertanya-tanya. Apa mungkin gaya reportase macam ini juga sudah coba dilakukan oleh TV? Mungkinkah ini sudah muncul melalui acara Kick Andy yang menghadirkan tokoh untuk diwawancarai dari segala aspek, termasuk kehidupan pribadi. Atau mungkin juga ini coba dimunculkan di acara seperti Interpol (Interview Politik, entah masih ada atau tidak acara itu), di mana kameranya kadang sengaja menzoom bagian-bagian yang biasanya dibaca sebagai perwakilan isi hati (misal: gerakan tangan, mata, dll). Meski sejauh ini, apa yang ditampilkan di TV itu (terutama dalam hal gerak kamera), kadang masih terasa dibawakan dengan kurang luwes. Tapi, itu mungkin saja, dan sejauh ini aku juga cukup menikmatinya.
* Satu kali, intel dari Amerika (CIA), Israel (Mossad), dan Indonesia (BIN) berkumpul. Mereka saling membanggakan cara kerja dinas rahasia masing-masing negara. Maka, untuk membuktikan omongannya, dibuatlah lomba menangkap. Tiga kelinci dilepas di tiga hutan berbeda dan tugas masing-masing agen adalah menangkapnya kembali. Agen CIA masuk ke hutan dan dengan kelengkapan teknologinya, mereka melakukan penyelidikan dan jebakan yang canggih. Tiga minggu kemudian, kelinci itu pun tertangkap. Giliran agen Mossad beraksi. Ia membakar hutan itu sampai habis sehingga tiga hari kemudian, kelinci yang dicari-cari keluar dengan sendirinya dan dengan mudah ditangkap. Lalu, giliran anggota BIN masuk hutan. Ternyata, hanya dalam 3 jam, ia sudah keluar dengan membawa seekor beruang yang sudah babak belur. Sambil diseret, beruang itu berteriak merintih, "Ampun, iya deh, saya ini kelinci.."
Label: andreas harsono, buku, jurnalisme sastrawi, meidynna arrisandi, new journalism, onny wiranda, phillip seymour hoffman, puthut ea, tom wolfe, truman capote
Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...

