perjalanan lalat hijau

LALAT HIJAU, sebuah catatan perjalanan untuk beberapa waktunya ke depan


12 Hal tentang Dunia Musik di Bulan Mei yang Belum Pasti Anda Tahu

1. Ronny James Dio, ex vokalis Rainbow dan Black Sabbath adalah yang mempopulerkan simbol metal dua jari.
Ronny James Dio alias Dio yang meninggal pada bulan ini disebut sebagai salah satu yang mempopulerkan simbol metal dua jari. Menurut Wikipedia, memang bukan hanya Dio seorang. Ada beberapa musisi lain. Tapi, karena Dio yang meninggal bulan ini, maka saya putuskan dia eh Diolah yang layak jadi pionirnya. Lalu, kenapa dua jari? Kita tahu ada juga yang pake tiga jari, yaitu jempol ikut nongol. The Beatleslah yang katanya mempopulerkan simbol tiga jari itu dalam kover albumnya. Tapi, yang tiga jari itu katanya berarti lambang Cinta. Sedangkan yang dua jari, sering disebut ada hubungannya dengan simbol iblis dengan dua tanduknya. Nah, setelah menelusuri Wiki sedikit lagi, saya temukan bahwa gambaran iblis bertanduk itu sebenarnya bukanlah dari Alkitab, tapi pengaruh mitologi Yunani. Meski memang dalam kitab Wahyu ada disinggung soal penggambaran kekuatan jahat dalam bentuk hewan bertanduk. Tapi, sepertinya tidak semua yang bertanduk itu pasti iblis. Lebih jelasnya, tanduk itu lebih menggambarkan kekuatan karena ada istilah "tanduk keselamatan" tapi juga ada istilah "meninggikan tanduk" yang artinya sombong, atau bisa juga seperti dalam bahasa Jawa, kalau kita masih kuat makan maka kita akan 'tanduk' hahaha... Ah, kok jadi ngomongin tanduk.
2. Gesang adalah anggota Lekra.
Gesang yang meninggal beberapa hari setelah Dio pernah bergabung dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat alias Lekra. Lekra yang dihancurkan setelah peristiwa Gestok adalah sebuah organisasi seniman besar di masa Orde Lama. Anggota-anggotanya banyak yang meraih reputasi internasional, seperti Pramoedya Ananta Toer di bidang sastra, Affandi di bidang seni lukis, dan Gesang sendiri di bidang seni musik. Salah satu program Lekra yang terkenal adalah turba, yaitu bergabung dengan masyarakat kecil, hidup bersama petani, buruh, dll, agar seniman dapat benar-benar merasakan kehidupan rakyat dan kemudian menghasilkan karya yang bicara untuk rakyat dan bukan hanya hiburan yang dinikmati orang-orang kelas menengah ke atas saja. Dalam buku Lekra Tak Membakar Buku yang kemarin dilarang Kejagung, disebut juga program bagi para seniman Lekra untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya segala macam kesenian rakyat (lagu rakyat, cerita rakyat, alat-alat kesenian daerah, dst). Dalam buku yang sama itu jugalah disinggung peran Gesang dalam Lekra, yang salah satunya pernah menjadi anggota presidium dalam Konferensi Nasional I Lembaga Musik Indonesia yang adalah cabangnya Lekra. Fakta ini sekaligus menunjukkan bahwa Lekra memang bukanlah PKI dan juga bukan antek komunis yang anggotanya para ateis kejam tukang bikin onar yang harus dibinasakan seperti yang diajarkan pihak-pihak yang pro-Orde Baru dan yang punya dendam kesumat dengan golongan kiri. Justru dari kelompok yang disingkirkan muncul orang-orang yang mengharumkan nama Indonesia di mata dunia.
3. Ki Hajar Dewantoro adalah yang membuat versi terjemahan bahasa Indonesia dari Mars Internasionale, lagu wajib Komintern.
2 Mei adalah hari lahir Suwardi Suryaningrat alias Ki Hajar Dewantara yang kemudian diperingati sebagai hari Pendidikan Nasional mengingat jasanya dalam mendirikan Taman Siswa, sekolah untuk kaum pribumi yang bukan priyayi. Tidak ada yang menyangsikan jasa Ki Hajar Dewantara yang juga terkenal dengan Tiga Serangkai bersama Ernest Douwes Dekker alias Dr. Setiabudi (dia juga cucu ponakan Eduard Douwes Dekker alias Multatuli) dan Dr. Tjipto Mangunkusumo. Nah, tapi tidak banyak yang tahu bahwa Ki Hajar Dewantara juga pernah menerjemahkan lirik dari sebuah lagu yang sangat terkenal di tahun 60an, Internasionale karya Eugene Pottier. Ini bukan lagu pop, tapi lagu mars Partai Komunis Internasional (Komintern) atau ada juga yang bilang sudah menjadi mars gerakan buruh sedunia (tidak selalu komunis). "Bangunlah kaum jang terhina, Bangunlah kaum jang lapar..." Demikian dua kalimat pertama terjemahan lagu Mars Internasionale yang diterjemahkan Ki Hajar. Tentu bisa diartikan di sini bahwa Ki Hajar pun bersimpati dan mendukung kekuatan sayap kiri di Indonesia. Tokoh-tokoh terkenal lain seperti Jenderal Sudirman pun jika ditilik pandangan-pandangannya menunjukkan bahwa dia adalah seorang sosialis, bukan jenderal mistis seperti yang digambarkan Orde Baru dalam film propaganda, Janur Kuning. Internationale versi Ki Hajar Dewantoro ini memang lebih pendek dari aslinya. Ini sebabnya, terjemahannya sempat dicela oleh Komunis Internasional.
4. Penyanyi theme song kaset Megaloman dari Sanggar Cerita adalah Krisdayanti.
Krisdayanti yang sedang jadi berita utama infotainment sejak beberapa bulan ini mengawali kariernya dari menyanyi untuk kaset Sanggar Cerita. Bagi yang berusia kira-kira 25 tahun ke atas, tentu masih ingat dengan masa ketika kaset audio begitu menyenangkan. Kalau sekarang anak-anak melihat VCD atau DVD Ben-10, Naruto, atau Spongebob yang diterjemahkan, maka pada masa saya kecil, selain video beta (menonton film-film robot Jepang), hiburan yang tak kalah seru dan lebih terjangkau adalah mendengarkan kaset. Salah satu (atau satu-satunya?) produsen kaset anak terkenal adalah Sanggar Cerita. Mungkin inilah awal cara didik yang membuat anak malas membaca. Sanggar Cerita menampilkan cerita-cerita mulai dari cerita rakyat (yang saya ingat punya: Joko Kendil), dongeng (Aladin, Putik Abu, Pinokio), hingga cerita robot yang ada di video beta tadi. Cerita jagoan robot Jepang yang terkenal saat itu adalah seperti Sharivan, Gaban, Google Five, God Sigma, GoShogun, Zabogar, dan tentu saja Megaloman. Megaloman yang penampilannya seperti Gene Simmons, dkk dari band Kiss ini punya senjata andalan yaitu rambut api. Saya masih ingat punya salah satu kasetnya. Tapi, sayang saya tidak ingat suara Krisdayanti di theme songnya. Yang pasti, si KD masih kecil dan wajahnya belum pasang ekspresi kaget terus seperti sekarang. Mungkin saja ia satu angkatan dengan bintang cilik andalan Sanggar Cerita waktu itu: Hanna Pertiwi. Meski begitu, saya masih ingat perasaan waktu mendengarkan kaset-kaset robot bikinan Sanggar Cerita itu: geregetan karena seperti sengaja dipanjang-panjangkan ceritanya, tidak buru-buru action (padahal juga tidak bisa melihat actionnya waktu menumpas monster seperti apa, namanya juga audio).
5. Sid Vicious yang menciptakan gerakan tari pogo.
Atau setidaknya, begitulah pengakuannya. Sid Vicious yang punya nama asli John Simon Ritchie, adalah basis dari grup musik punk, Sex Pistols dan sebelumnya pernah menjadi drummer Siouxie and the Banshees. Dia memang basis, tapi dia bisa disebut lebih terkenal dari vokalisnya, Johnny Rotten. Tampaknya, hal itu memang disengaja. Bahkan, Malcolm McLaren, manajer Sex Pistols mengaku kalau saja dia lebih dulu bertemu Vicious sebelum Johnny Rotten, maka pasti ia akan menjadikan Vicious sebagai vokalis band tersebut. Maka Sid Vicious bisa dibilang adalah icon dari Pistols. Ia memang tidak terlalu penting dalam musikalitas grup itu dalam hal memainkan bas. Konon, Vicious sebenarnya bahkan tidak bisa memainkan bas. Jadi, jika manggung, dia hanya memegang dan 'memainkan' bas yang dimatikan, sementara suara bas yang terdengar dimainkan oleh orang lain di belakang panggung. Tapi, Vicious punya karisma yang memang layak jadi icon. Karakter dan penampilannya liar, gaya hidupnya penuh pemberontakan, benar-benar seperti gambaran anak punk di mata masyarakat, meski ada yang bilang dia itu poser (banci gaya) saja. Gerakan pogo adalah gerakan tarian yang memang menjadi milik komunitas punk dan ska. Sekitar sepuluh tahun lalu, kita mungkin tahu banyak anak muda menari pogo di konser-konser musik ska yang booming waktu itu. Vicious mengaku dia orang yang melakukannya pertama kali. Kejadiannya waktu itu adalah di sebuah konser Sex Pistols ketika Sid belum bergabung dengan band dan hanya menjadi penonton. Waktu itu, Vicious yang tidak bisa menari ingin menari. Maka, jadilah dia melompat-lompat dan orang mengikutinya dan mulai tercipta tari pogo. Kisah Sid juga terkenal dari hubungannya dengan Nancy Spungeon, kekasihnya yang ia gorok hingga mati. Sid Vicious sendiri mati karena overdosis heroin tak lama setelah ia 'membunuh' Nancy yang ia akui sebagai kecelakaan itu.
6. Gitaris Evanescence pernah kena stroke gara-gara headbanging.
Yang ini kabar konyol. Terry Balsamo yang bermain gitar di band Evanescence pernah kena stroke gara-gara headbanging. Balsamo yang berambut gimbal ini mengalami pembekuan darah di leher akibat terlalu banyak headbanging, yaitu gerakan menghentak-hentakkan kepala secara keras sampai menunduk, yang jadi salah satu ciri khas penggemar musik metal. Setelah sembuh dari stroke, Balsamo hanya menggerak-gerakkan kepala sedikit saja.
7. Lagu dari Suzanne Vega yang berjudul Tom's Dinner adalah lagu pertama yang dijadikan format MP3.
Karena itulah, Suzanne Vega kadang disebut ibunya MP3. Waktu itu, Karlheinz Brandenburg, salah satu pengembang teknologi MP3 mendengar lagu Tom's Dinner yang awalnya berupa acapella du.. du.. du.. dan baru diikuti suara drum dan elektronik itu di radio. Saat itu, ia tertantang memakai lagu itu untuk menguji kualitas kompresi MP3 untuk suara-suara yang hampir monoponik itu. Mengenai bagian acapela itu, Vega sebenarnya ingin agar bagian itu dimainkan dengan piano. Tapi, karena dia tidak bisa bermain piano, maka dia hanya bersenandung dengan mulut saja. Lagu Tom's Dinner beserta Luka yang ada di album Solitude Standing (1987) adalah dua hits paling terkenal dari penyanyi asal Amerika ini.
8. Hits paling terkenal Nirvana, Smells Like Teen Spirit, judulnya diambil dari kata-kata Kathleen Hanna (Bikini Kill/Le Tigre)
Menurut Charles R. Cross dalam "Heavier Than Heaven", Kurt Cobain pernah pacaran dengan feminis dan anggota band punk Bikini Kill, Tobi Vail. Kathleen Hanna adalah teman Tobi Vail. Salah satu momen dalam hubungan Kurt dan Tobi adalah ketika Kathleen suatu pagi menulis dengan cat semprot di rumah Kurt "Kurt Smells Like Teen Spirit." Teen Spirit sendiri adalah merek parfum remaja putri yang dipakai Tobi. Kurt yang lugu, yang waktu itu sedang semangat-semangatnya ngomong soal anarkisme, punk, dan feminisme dengan Tobi, dkk mengira tulisan itu adalah slogan yang mengandung makna dalam, pemberontakan, dsb. Maka, sebagaimana lagu-lagu Nirvana memang kebanyakan diberi judul yang tidak nyambung dengan lirik lagunya, Kurt memakai kalimat Smells Like Teen Spirit sebagai judul lagu yang kemudian jadi hits paling terkenal mereka.
9. Dua penulis tenar Amerika, Amy Tan dan Stephen King, bergabung dalam satu band yang namanya The Rock Bottom Remainders.
Sebenarnya bukan cuma dua itu. Penulis-penulis beken lain seperti Maya Angelou, Barbara Kingsolver, Mitch Alborn, Ridley Pearson, hingga Dave Barry dan Greg Iles juga bergabung dengan grup rock semi main-main itu. Dave Barry dalam salah satu komentarnya mendeskripsikan bandnya begini: "Permainan musik kami sama bagusnya dengan kalau Metallica menulis novel." Kalau lihat penampilan mereka di Youtube, band ini memang hanya untuk senang-senang saja. Keroyokan, ada yang gayanya lebay, ada yang masih pakai kemeja biasa. Rasanya seperti menyaksikan penampilan band direksi perusahaan di sebuah acara ulang tahun kantor. Yaaa.. tapi masih bagusan mereka dikitlah.
10. Across The Universe, lagu karya The Beatles pernah dipancarkan ke luar angkasa untuk memberi salam kepada alien.
Untuk memperingati 40 tahun lagu itu, NASA mengirimkan sinyal yang berisi 'pesan perdamaian' dalam bentuk lagu Across the Universe kepada alien. Lagu yang cukup mudah diingat karena kata "Jai Guru Deva Om, Nothings Gonna Change My World.." ini ditulis oleh John Lennon. Sudah dinyanyikan ulang oleh banyak penyanyi. Saya saja punya 3 versi yang dinyanyikan Fiona Apple, Rufus Wainwright, dan Suede.
11. Dr. Kevorkian yang kontroversial dan pernah dihukum karena melakukan praktik euthanasia, adalah musisi Jazz dan sudah punya satu album.
Dr. Jack Kevorkian disebut dokter kematian. Ia pernah mencicipi hukuman gara-gara terbukti membantu proses euthanasia seorang pasiennya. Padahal, menurut dokter itu sendiri, ia sudah membantu melakukan proses euthanasia atas permintaan pasiennya sendiri sebanyak lebih dari 130 kali. Setelah kasusnya itu, maka kontroversi mengenai euthanasia menjadi mengemuka hingga kini. Pro dan kontra muncul. Banyak orang mendeskripsikan Kevorkian sebagai pembunuh berdarah dingin. Tapi, siapa sangka ternyata dokter ini punya jiwa seni tinggi. Ia adalah musisi Jazz berbakat dan pernah merilis satu album berjudul "The Kevorkian Suite: A Very Still Life" pada 1997 dan diedarkan secara terbatas di mana ia bermain flute dengan manis. Ia juga pelukis. Untuk yang ini, bayangan orang mungkin agak terpenuhi. Lukisannya lebih bernuansa gothik bahkan konon kadang ia melukis dengan membubuhkan darahnya sendiri.
12. Baru bulan ini saya kenal Nena meskipun lagunya sepertinya cukup akrab.
Yang ini mungkin saya saja yang baru tahu. Bulan ini saya baru dapat kiriman MP3 dari Otong, vokalis Koil. Bukan berarti saya kenal. Saya cuma add dia di FB sudah agak cukup lama meski tidak pernah berkomunikasi. Dan satu kali ada seorang bernama Rudolf Dethu yang punya sebuah blog musik meminta si Otong menulis playlist favoritnya. Link ke blog itu dipasang di FB Fanpagenya Koil. Lalu si Otong di akun FB pribadinya juga memasang link tersebut dan menawari siapa yang mau dikirimi MP3 lagu-lagu dalam playlistnya bisa menuliskan email. Maka, saya langsung ikut menuliskan email bersama dua puluhan orang lain. Paginya, ternyata dia benar-benar mengirimkan sekitar dua puluhan MP3. Link dan tawaran yang ada di FBnya sudah dihapus. How lucky I am! Di salah satu MP3nya ada lagu Irgendwi, Irgendwo, Irgendwan dari Nena. Itulah lagu pertama yang saya suka dari playlist si Otong. Saya lalu baru tahu kalau Nena juga punya hits 99Luftbaloons dan Wunder Geschein yang ternyata juga sering saya dengar waktu kecil dulu. Lagu Irgendwi, Irgendwo, Irgendwan juga ternyata sudah pernah dirilis ulang pada sekitar 2003 dalam bahasa Inggris dengan judul Anywhere, Anyplace, Anytime bersama icon tahun 80an lain, Kim Wilde. Di versi yang seperti lagunya Tatu ini, mereka berdua duet dengan Nena menyanyi bahasa Jerman dan Wilde menyanyi lirik bahasa Inggris. Siapa sangka, ternyata Kim Wilde dan terutama Nena itu kini sudah umur 50 tahun. Padahal di videonya yang baru dibuat 7 tahun lalu tersebut, terutama Nena masih tampak sangat muda. Kalau dilihat di Youtube, penampilan Nena di tahun inipun masih tampak seperti baru umur 30an. Beda sama misalnya, Madonna atau yang cowok Bono dan Michael Stipe hahaha...

Label: , , , , , , , , , , , , ,

Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...

Menikmati Lagu, Menghayati Kehidupan

Saya memiliki beberapa lagu yang sering saya putar beberapa tahun yang lalu. Lagu-lagu itu beberapa masih saya simpan di komputer, walaupun agak jarang saya putar. Kemarin atau tepatnya dua hari lalu saya iseng memutar kembali lagu-lagu yang saya sukai ketika masih menjadi mahasiswa. Mestinya mahasiswa itu penuh gejolak, idealis, dsb. Tapi, ternyata waktu sekarang saya putar lagi, saya justru terharu dan ingin menangis. Teringat masa-masa susah, tidak punya apa-apa, tidak percaya diri, sering gagal, sering membayangkan akan kematian di masa muda, dan tentu saja kepura-puraan, emosi, dan sering kali juga penuh tawa dan canda. Terharu karena sedih atau bahagia atau malah kangen? Mungkin yang dua dan tiga. Berikut beberapa di antaranya (beberapa lagu memang tidak ada video klipnya, tapi saya cari seadanya di youtube):


























































Label: , , ,

Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...

Kami Percaya Kaupun Terbakar Juga


Setahu saya, tidak banyak artis atau band musik Indonesia yang dibuatkan tribute. Kalaupun ada, itu baru belakangan ini. Mencoba mengingat-ingat, yang saya tahu dan pernah dengar antara lain adalah Koes Plus, Naif, Fariz RM, Titiek Puspa, dan mungkin juga Chrisye. Oh ya, ada juga album tribute to Munir. Tapi, itu beda. Beberapa bulan lalu, tanpa sengaja saya pun menemukan sebuah blog yang rupanya sengaja dibuat untuk sebuah proyek pembuatan album tribute bagi Koil.
Kenapa Koil?
Saya tidak mendebat hal itu. Saya tahu bahwa memang Koil bukan nama sembarangan di antara gerakan musik independen (halah, kalimatnya). Saya mendengar Koil pertama kali waktu masih kuliah, waktu album Megaloblast dan klip "Mendekati Surga" (juga "Kita Dapat Diselamatkan") sering diputar di MTV. Karena waktu itu saya masih sukanya band-band yang ngeBrit-ngeBrit, saya masih sebatas mengakui keberadaan dan keunikannya. Jujur saja, hati sempat berdesir saat melihat klipnya di MTV, selain juga foto mereka di red carpet MTV Indonesia Award yang membawa dua pria diberangus dan ditali macam anjing. Saya juga agak seram saat mendengar sample tawa kuntilanak di "Mendekati Surga" dan kata-kata kutipan Kisah Rasul 4:12 di "Kita Dapat Diselamatkan". Band yang kreatif, tapi bikin takut. Hehehehe.. Meski begitu, saya juga penasaran mendengar kabar bahwa di konser mereka ada dibawa gadis-gadis penari erotis (sekarang kabarnya sudah agak jarang sih pake begituan).
Namun, sampai selesai kuliah, karena saya juga waktu itu baru berteknologi kaset, maka saya juga tidak punya dan belum berminat mencari album Koil. Baru setelah lulus, satu kali saya menemukan di sebuah warnet 2 track lagunya Koil, "Mendekati Surga" dan "Dosa Ini Tak Akan Berhenti". Ya, saya copy deh. Setelah didengar-dengarkan ternyata memang enak dan membuat semangat. Saya lalu mencari link download di internet untuk lagu-lagu lain. Ketemu satu yang juga sudah saya tahu sejak kuliah, "Kita Dapat Diselamatkan." Lalu, tiba-tiba di TV juga muncul Koil membawakan lagu soundtrack sebuah film horor lokal. Lagunya berjudul "Hiburan Ringan". Kebetulan satu kali saya ketemu CD bajakannya soundtrack film itu di sebuah lapak. Selain "Hiburan Ringan #1" dan "Hiburan Ringan #2", saya juga senang karena di sana juga ada lagunya Kubik yang baru "Blessed Sigh". Kubik, seperti bersaudara dengan Koil ini, sudah saya suka lebih dulu sejak melihat klip "Eternal Waking" di MTV. Kaset Velvet Word and Lies saya beli di sebuah distro. Saya suka karena waktu itu sedang suka dan mengenang kembali lagu-lagunya Smashing Pumpkins dan jatuh cinta pada D'arcy. Jadi, sebenarnya memang saya melihat Mendekati Surga dulu, lalu melihat klipnya "Eternal Waking", lalu suka Smashing Pumpkins terutama "Ava Adore", dan beli kaset Velvet Words.
Setelah saya mendapat album soundtrack itu. Saya terus cari di multiply lagu-lagunya Koil yang bisa didownload. Saya temukan cukup banyak. Termasuk lagu-lagu sebelum Megaloblast, macam "Lagu Hujan", "Karat", "Murka", "Untuk Kemenangan Kami", dll. Dari situs hearlulu yang sudah koit, saya mendapat "Breathe With Me" yang ternyata adalah bonus untuk majalah Rolling Stones. Judul lagunya memang berbahasa Inggris (jarang-jarang lagunya Koil berbahasa Inggris, pikir saya), tapi ternyata isinya lebih seperti instrumental, dihiasi sampling erangan dari film bokep, dan Otong yang mengatakan "Aku tak dapat bernapas." Lagunya cukup panjang, tapi lumayan mengobati kerinduan. Kira-kira dua tahun lalu, saya menemukan sebuah warnet yang menyimpan satu album Megaloblast lengkap! Masa itu berbarengan dengan mulai diuploadnya lagu-lagu dari album BlackLight di situs deathrockstar. Hingga kemudian menemukan blog multiply resminya Koil, maka saya bisa mendownload beberapa lagu lagi. Serta beberapa bulan lalu, koleksi saya tambah lengkap dengan beberapa lagu baru mereka yang dishare di Indowebster.
Banyak orang bilang tentang Koil sebagai Marlyn Manson, Korn, dan ada juga yang bilang Rammstein dan Nine Inch Nailsnya Indonesia. Pada pecinta berat Koil di internet bilang bahwa Koil adalah Koil. Ya, terserah. Memang sebenarnya mirip juga sih. Tapi, walaupun begitu saya sendiri sering merasa orang Indonesia itu yang suka minder, merasa bahwa Indonesia selalu mengekor. Ada band baru dibilang ininya Indonesia, padahal kalau band yang mirip itu adalah asal Jerman saja, maka tidak ada istilah ininya Jerman, dsb. Hanya saja, yang agak konyol adalah di dunia sepakbola. Geli rasanya kalau komentator bola bilang si A ini Maradonanya Indonesia, si B Gattusonya Indonesia, si C Messinya Indonesia, wahahaha.. geli karena memang sering maksa.
Oke, kembali ke pertanyaan mengapa Koil. Kalau penggemar musik pop masa kini mendengar adanya album tribute ini, mungkin saja mereka merasa penasaran dan bertanya, "mengapa Koil?". Beberapa mungkin merasa Koil hanya band baru yang diorbitkan Ahmad Dhani. Sebagian mungkin baru mendapat kopian MP3 album BlackLightShinesOn. Atau mungkin ada juga yang membatin, "mungkin ini cuma proyek orang tidak terkenal yang menggandeng band-band tidak terkenal membawakan tribute untuk sebuah band yang belum terlalu terkenal, tanpa adanya lagu mereka yang paling terkenal saat ini." Hehehe... Dan adegan selanjutnya mungkin ada temannya yang bilang, "Lho, Koil itu band sudah lama.." Itu tidak penting. Tapi, bagi mereka yang setidaknya beberapa tahun lalu sudah pernah mendengar album Megaloblast (kayak saya) dan sudah cukup umur untuk memerhatikan MTV waktu itu, maka saya rasa mereka akan menyambut munculnya album ini.
Melintasi trek
Oke, basa-basinya sudah cukup ya. Sekarang, saya akan mencoba melintasi trek demi trek dari album yang terdiri dari 12 band mengkover 11 lagunya Koil. Seperti dikatakan di blog yang pertama kali membuat saya tahu tentang album ini, "beberapa lagu ada yang saya suka, beberapa lagi sering saya skip." Dan karena MP3 nya sudah ada di komputer, maka hanya beberapa lagu saja yang sering saya setel di Winamp. Saya mendapat album ini dari Indowebster. Kualitas suaranya kurang sempurna, volumenya agak kurang keras dan bassnya sedikit kurang mantap. Mungkin saya salah download, tapi nanti saya pikir bisa saya perbaiki dengan software untuk editing audio.
1. The Moms Berdarah - Burung Hantu
Saya belum punya dan belum pernah mendengar lagu Burung Hantu. Tapi, saya tahu Moms Berdarah memang membawakan lagu itu dengan versi mereka sendiri. Kedengarannya jadi seperti lagunya Netral atau agak sedikit the Brandals. Lumayan baik. Kesalahan saya kurang bisa menikmati lagu ini adalah karena saya belum pernah mendengar lagu Burung Hantu. Itu saja. Nanti kalau sudah ketemu lagu aslinya mungkin penilaian saya bisa berbeda.
2. Midnight Soul - Dosa Ini Tak Akan Berhenti
Lagu aslinya sudah sangat akrab. Pertama kali mendengar lagu ini dibawakan dengan gaya soul, telinga saya masih agak menolak. Tapi, setelah didengar-dengarkan lebih lama, saya mulai suka. Enak disetel saat dalam perjalanan naik mobil, motor, atau naik kereta sambil melihat jalan raya. Bisa disetel di tempat umum karena tidak keras dan kata-katanya memang bagus. Gitarnya itu loh, bikin saya serasa jadi petualang. Ini adalah track yang cukup sering saya setel.
3. Screaming Factor - Ini Semua Hanya Fashion.
Seperti sudah bisa dilihat di nama bandnya, band ini membawakan lagu dari album Megaloblast ini dengan teriak-teriak hehehe. Tidak terlalu teriak, hanya suaranya yang menggeram selalu diakhiri dengan akhiran "haauuwww" "yaaauuww". Lumayan juga sebenarnya. Hanya saja mungkin karena kualitas suara file yang saya punya kurang baik maka saya yang tidak terlalu suka genre macam speed metal ini agak kurang menikmati. Yang bagus adalah raungan gitarnya di outro. Gagah sekali.
4. Amazing in Bed - Lagu Hujan
Nah, ini favorit saya hehehe... Ya, memang suaranya yang paling ngepop di antara yang lain, untuk lagu Koil yang cukup lembut ini. Vokalnya suaranya macam Karen O atau vokalisnya Inspirational Joni, tapi masih agak lebih lembut, paling merdu saat suaranya bergema di tengah lagu. Musiknya sendiri lebih cepat dari versi aslinya. Membuat cukup bersemangat. Dan karena ada banyak nuansa gema-gemanya, membuat sound file yang kurang sempurna ini terasa lebih berharga dari lainnya. Selain saya memang sangat suka "Lagu Hujan", karena sound lagunyalah yang membuat saya paling suka track ini.
5 Lullaby for Michelle - Pudar.
Ini kedengarannya seperti Pure Saturday. Kalau Koil beberapa waktu lalu di TV pernah membawakan lagu "Kosong" meski suaranya Otong tidak jelas, kali ini saya mungkin bisa membayangkan, beginilah kalau PS membawakan lagu Koil. Saya belum pernah mendengar versi asli dari "Pudar." Dan band yang agak ngebrit ini membuat saya hanya biasa saja mendengarkannya (sudah agak bosan dengan Brit-Britan). Pembawaannya, menurut saya, kurang terlalu masuk.
6. Black Stone Boredom - Nyanyikan Lagu Perang.
Lagunya tentu sudah sangat kenal dan liriknya luar biasa. Kali ini, band bernama "kebosanan batu hitam" (wah, nama apaan ini?) membawakan dengan gaya ngeden. Ini band agak kedengaran seperti Seringai. Kalau Seringai disebut kayak Metallica (masa sih?), Batu Hitam ini tidak terlalu kayak nama band Amrik itu. Lagi-lagi kualitas audio file saya membuat semangat dari lagu ini agak kurang optimal. Kalau kualitas suaranya lebih baik dan saya sedang ngantuk berat, mungkin saya akan menyetel lagu ini di antara lagu lain. Tapi, mungkin juga saya akan menyetel versi aslinya saja.
7. Marianna En De Bastard - Karat
Nah, lagu ini katanya memang sudah banyak dicover. Di youtube ada band amatir memasang videonya. Kabarnya bahkan Charly ST 12 dulu pernah mengcover lagu ini juga. Kali ini, Marianna cukup baik membawakannya. Suara vokalisnya mantap tapi tidak berlebihan. Musiknya keren. Apalagi ada suara backing vocal wanitanya di tengah-tengah, mengingatkan akan lagu Koil dengan Uci Lusimers (atau siapa ya?) menjadi backing vocal. Cukup cepat dan semangat, dan saya suka. Apa mungkin lagi-lagi karena ada gema-gemanya itu yah?
8. Mosternaut - Tidak Berarti
Diawali dengan suara tidak jelas, lalu kemudian masuk gitar dan raungan ala deathmetal, wah.. saya jadi agak ilfil. Lagu "Tidak Berarti" sendiri kayaknya belum pernah saya dengar. Tapi, dari judulnya, mungkin saja itu hanya modifikasi dari "Karat"? Yah, Koil kadang memang suka begitu. Beberapa lagu mirip-mirip, kadang bisa dibilang sama atau dikutip sebagian, tapi judulnya beda. Lagu yang ini kurang masuk di hati saya.
9. Aneka Digital Safari - Semoga Kau Sembuh
Ini lagu yang hampir tidak pernah saya setel. Semula saya kira musiknya seperti Jalur Pantura atau lagu "Disko di Rumah" itu. Lucu donk kalau membawakan "Semoga Kau Sembuh" yang lambat itu dengan cara demikian. Tapi ternyata lain. Begitu mendengar dan melihat salah satu komen di FBnya Otong, saya sempat penasaran dan akhirnya memang kesal juga setelah mendengarkan lagu ini. Selama 3 menit lebih, isinya hanya seperti suara radio rusak. "Nggiiiiing" lalu kresek-kresek. Dan di akhir lagu ada sampling lagu "Semoga Kau Sembuh". Merusak telinga. Saya baca di sebuah blog, di konser mereka juga seperti orang sedang cek sound saja. Waktu saya melihat video live performance mereka di Myspacenya band ini, saya kesal dan ketawa saja. Dasar borjuis, orang egois, bikin suara bising sesukanya, trance sendiri, dan menyebut itu musik. Teringat band serupa bernama Manual. Saya percaya bahwa sebagian puja puji orang terhadap band macam ini hanya muncul karena mereka takut dibilang tidak nyeni saja.
10. A Slow in Dance - Aku Lupa Aku Luka
Ini adalah track paling panjang. Delapan menit 47 detik. Lebih seperti instrumental. Hanya bagian-bagian akhir ada gema suara "luka luka luka... aku luka luka lupa.." Kurang begitu suka karena relatif membosankan.
11. Psickot - Mendekati Surga
Yang ini bagus! Meski lagu suara Otong di "Mendekati Surga" hanya jadi sampling, tapi cukup membuat saya berdentam-dentam. Ada sampling suara film bokep juga. Yang agak saya sayangkan adalah lagunya terlalu pendek. We want more!!
12. M1D1D4T4 - Mendekati Surga.
Mungkin memang sengaja dua cover version dari lagu yang sama ini dipasang berurutan. Saya pun memilih mendengarkannya berurutan. Rasanya saling melengkapi, meski secara pribadi saya lebih suka Psickot. Bedanya, yang M1D1D4T4 (bah, susah banget nulis namanya) ini dua kali lebih panjang. Bagian tengahnya sedikit bikin bosan, terutama yang mirip-mirip lagunya Jalur Pantura. Untungnya, biasanya waktu sudah mulai bosan, suasana naik lagi. Cuma endingnya kurang berkesan (halah, kayak film aja). Saya sering menyetel lagu ini lebih karena bagian awalnya sangat pas mendampingi versinya Psickot.
Overall, album ini termasuk baik. Terutama karena saya pikir tidak ada yang sampai keterlaluan membawakan lagunya Koil dengan versi R & B atau Melayu misalnya. Intinya masih, kalau tidak rock ya elektronik, dua unsur yang membentuk musiknya Koil. Dan album ini juga bagus bagi band-band pendukungnya maupun saya juga. Melalui album ini, saya yang sudah lama tidak update tentang band-band baru yang bagus kini sudah mulai ada referensi lagi. Beberapa band yang terlibat sudah saya telusuri di Google dan kini sedang menjadi sasaran download. Hehehe....
Terakhir, menurut saya pribadi, saya lebih suka album tribute ini ketimbang tributenya Naif yang diisi oleh band-band indie yang lebih terkenal dan senior. Mungkin karena saya memang lebih suka musiknya Koil ketimbang Naif ya?

Label: , , ,

Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...


Web This Blog


XML

Powered by Blogger

make money online blogger templates




Free chat widget @ ShoutMix

Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign
Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign!



© 2006 perjalanan lalat hijau | Blogger Templates by GeckoandFly.
blog ini berisi catatan, kenangan, keluhan, caci maki, khayalan, pengakuan, tiruan, dan hasil kopi paste
blog ini tidak ada hubungannya dengan lalatx atau padepokan silat tertentu, pengelola sebenarnya tidak suka warna ijo!