perjalanan lalat hijau

LALAT HIJAU, sebuah catatan perjalanan untuk beberapa waktunya ke depan


Kenapa Isinya Video Terus?

Saya tahu blog sudah tidak terlalu zaman. Orang makin males baca blog, apalagi blogwalking. Saya tahu kalau blog ini tidak banyak dikunjungi orang (saya rasa yg cukup bisa saya banggakan dari blog ini cuma menang "tua" dan masih update biar cuma sebulan sekali dan selama 6 tahun lebih baru dua bulan yang tidak ada update). Saya sendiri, sekarang memang harus diakui malas mengupdate blog ini. Tapi, saya cuma suka kalau gambar lekuk-lekuk bulan di sisi kanan blog ini terus memanjang seperti ular. Nah, itulah alasan pertama saya belakangan lebih sering posting Youtube.
Tapi, bukan cuma itu. Hal kedua adalah bahwa katanya kan di zaman sekarang ini tidak boleh kolot. Masakan blog harus hanya berisi tulisan, youtube hanya berisi video, picasa dan flickr hanya berisi foto? Harusnya diintegrasikan biar lebih menarik. Karena saya tidak punya foto (atau kamera, maksudnya) dan tidak mengupload sendiri video-video saya, maka saya baru bisa mengintegrasikan tulisan dan video postingan orang lain di sini. Dan hal ketiga adalah bahwa saya pernah punya pengalaman agak buruk dengan menulis hal-hal yang pribadi seperti "seharusnya" blog (dulu kan katanya blog itu harus jurnal pribadi hehehe...). Maka, saya sekarang agak malas yang begituan, kan sudah ada Twitter dan Facebook. Saya juga sepertinya sudah susah sekali bikin cerpen atau puisi dan semacamnya. Meski sebenarnya masih ingin bisa menulis dengan variatif dan tema yang menarik (menurut saya), seperti dulu (sekarang, setelah punya Twitter, terutama, saya makin merasa apa yang hendak saya katakan kok sudah ada yang mengatakan atau banyak yang lebih menarik dan mendalam, sehingga yg mau saya tulis di blog tadi tak pantas dibahas atau dipublikasikan)
Lalu Kenapa Video Musik Terus?
Memang tidak pernah ada yang bertanya begitu hehehe.. Ini cuma pertanyaan saya sendiri, sebagai penggemar fanatik blog ini (?). Bukan, bukan semata karena saya malas atau karena saya hanya cari mudahnya saja kok. Flashback jauh ke tahun 80-90an, sebagai anak kecil, saya memang tidak punya banyak teman selain teman di sekolah. Di rumah, sejak SD saya pindah ke rumah besar di tengah tetangga-tetangga yang rumahnya kecil-kecil. Maka, terciptalah gap tanpa diingini. Saya pun di rumah lebih banyak menghabiskan waktu di depan TV. Untunglah waktu itu bukan TV biasa, apalagi hanya TVRI yang saya bisa tonton. Tapi, ada parabola yang membuat saya bisa melihat berbagai acara di luar negeri.
Salah satunya adalah acara-acara musik. Dari MTV, Channel V, atau siaran TV lain seperti Nescafe UK Top 40, dan lain-lain. Waktu itu, saya menonton dalam status abstain. Maksudnya, seingat saya, saya masih belum punya band favorit atau genre musik favorit. Semua macam musik saya tonton dan terutama musik yang videonya berkesan. Bahkan, saking banyaknya nonton TV, saya sempat dijadikan semacam TV Guide oleh Papa saya. Entah dia maksudnya ngeledek atau apa, padahal saya merasa saya tidak hafal-hafal banget semua acara TV. Saya merasa beruntung karena saya mengalami masa itu di tahun 80-90an, dan bukan di tahun 2000an hehehe.. (biasa, ini statemen khas orang tua). Tapi, faktanya lagu-lagu delapanpuluh dan sembilanpuluhan, sampai sekarang tetap dicover musisi tahun 2000-2010an kok? Jadi, memang tak salah kalau periode itu lebih superior dari periode saat ini. Kebiasaan nonton TV, terutama musik ini terus saya lakukan, kalau tidak salah hingga akhir 90 atau awal 2000an, meski waktu itu saya hanya nonton di TV (ANTV masih merelay banyak acara musik dari MTV).
Kalau saya pikir-pikir, kasian sekali anak-anak zaman ini yang terpaksa hanya menonton musik dari acara seperti Dahsyat dan Inbox. Tapi, ada untungnya juga anak-anak zaman sekarang juga punya Youtube. Hanya, dari mana mereka tahu kalau tidak ada yang memberi tahu? Jadi, semoga blog ini bisa membantu mereka. Demikianlah alasan saya, maaf tulisan ini memang acakadut.

Label: , , ,

Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...

Funeral Song

Kematian seharusnya tidak lebih tinggi atau rendah dibandingkan kehidupan. Kematian, bagi sebagian orang dihubungkan dengan kepercayaan. Bagi sebagian lagi, dihubungkan dengan psikologi. Sebagian suka mengaitkan dengan kesehatan, dst. Intinya, semua hal dalam kehidupan sebenarnya selalu bisa dikaitkan dengan kematian. Hanya ilmu yang belum lengkaplah yang belum bisa mengaitkan dirinya dengan kematian. Dan musik, bahkan musik pop, sudah sejak dulu sering mengangkat tema atau dihubungkan dengan kematian. Di sini sepertinya masih agak jarang yang memakai musik pop sebagai pengiring kematian. Yang ada hanya musik yang berkaitan dengan kepercayaan (lagu rohani gitu maksudnya), lagu folk, klasik (yang paling populer tentu saja adalah Taps) atau malah lagu yang terkait politik (Gugur Bunga, Mengheningkan Cipta). Entah kenapa banyak orang seperti tabu memakai musik pop untuk mengiring kematian seseorang. Mungkin ini karena anggapan musik pop kurang syahdu atau hanya "duniawi". Meski saya rasa ada banyak orang yang ingin memakainya (untung di zaman social media sekarang hal ini seperti diwadahi, seperti banyak orang yang untuk mengenang seseorang yang telah tiada, lalu menshare lagu-lagu dari yutub), tapi rasanya agak jarang kalau di upacara resmi. Kenapa? Apa karena tidak khidmat? Mestinya tidak juga. Nah, bagi yang tidak takut memikirkan tentang kematian, mungkin Anda bisa ikut saya memikirkan kira-kira lagu apa yang pas mengiringi kematian diri Anda nanti. Kalau saya, sejauh ini, baru bisa memikirkan lagu-lagu berikut ini:
VNV Nation - From My Hands

Ini lagu tidak bisa dimungkiri sangat dahsyat dan sangat sangat pas untuk mengiringi kematian. Iramanya memang sangat sedih (apalagi fanvideo yang bisa kita liat di atas ini), tapi liriknya sebenarnya tidak juga. Isinya kalau menurut saya adalah tentang mengikhlaskan, terutama bagian, "And hush now, Let it go now, There's no need for sad goodbyes.."
Sarah McLachlan - I Will Remember You

Ada lagu Sarah McLachlan yang lain yang diilhami dari kematian, yaitu Angels, yang terilhami peristiwa kematian Jonathan Melvoin, touring keyboardis dari Smashing Pumpkins. Tapi, saya kok pilih lagu yang ini. Sejak awal lagu ini sudah berisi petuah supaya jangan terlalu menangisi yang sudah lalu (di sini adalah kematian). Tapi, meski demikian jangan lupakan orang yang sudah meninggalkan Anda itu. "I will remember you, will you remember me, dont let your life pass you by weep not for the memories" Begitulah bunyinya...
Johnny Cash - Hurt

Hurt adalah lagunya Nine Inch Nails yang kemudian dicover dengan sangat baik dan sangat berbeda oleh Johnny Cash beberapa waktu sebelum ia kemudian meninggal dunia. Saya akui, lagu ini jadi pilihan saya karena fakta-fakta tersebut (Johnny Cash menyanyikan di akhir masa hidupnya, istrinya juga tampil di video ini di akhir masa hidupnya, dan videonya memang keren sekali). Saya bermimpi kalau saja nanti kalau saya meninggal, maka bisa ada big screen dan kalau saja ada video yang bisa benar-benar menggambarkan diri dan kehidupan saya. Kan tidak cuma pernikahan saja yang pake video seperti itu. Lucu lagi kalau bisa seperti di ending film "Man on the Moon." Ya, lagu ini memang liriknya agak getir, tapi bukankah seindah-indahnya kematian itu tetap ada rasa getir, minimal bagi mereka yang ditinggalkan?
Bill Medley & Jennifer Warnes - I’ve Had the Time of My Life

Ini adalah soundtrack Dirty Dancing, yang di abad 21 ini agak dirusak Black Eyed Peas hehehe.... Belakangan, setelah Patrick Swayze meninggal, banyak yang di Youtube mengenang Swayze dengan lagu ini. Lagu ini iramanya ceria (iyalah, wong buat menari kotor). Ada yang memakai lagu ini buat lagu wedding (liriknya cocok sih, karena tentang orang bergembira setelah kini bertemu seseorang). Tapi, sebagai lagu funeral pun cocok, menurut saya. Ya, hanya supaya menghibur orang-orang yang ditinggalkan bahwa si mati sudah menemukan waktu terindah bersama Seseorang kini. Meskipun tidak ada orang hidup yang benar-benar tahu apakah waktu meninggal dunia itu menyenangkan atau tidak.
Lighthouse Family - High

Ini liriknya juga ceria. Tapi, dengan iramanya yang naik dan terus naik, ini adalah rekomendasi saya selanjutnya untuk menghibur mereka yang ditinggalkan. Apalagi lagu ini gampang dinyanyikan buat saya karena nadanya rendah dan easy listening, meski bandnya sebenarnya tidak terlalu suka. Ada yang memakai lagu ini untuk lagu waktu lulusan atau perpisahan setelah wisuda, tapi untuk pemakaman sih cocok juga. Alasannya antara lain liriknya ada yang berbunyi "When you're close to tears remember, some day it'll all be over, one day we're gonna get so high... "
Vangelis - Chariots of Fire

Chariots of fire yang merupakan soundtrack dari film berjudul sama, kerap dipakai untuk menggambarkan sebuah kemenangan. Ya, saya sendiri tidak mau kematian saya nanti dianggap kekalahan. Setidaknya, berdasarkan iman kepercayaan yang saya anut, saya dinasihatkan untuk menganggap demikian. Di pemakaman, khotbah pendeta biasanya berisikan ayat tentang "aku telah mengakhiri pertandingan dengan baik." Dan hal itu memang yang membuat saya memasukkan lagu ini dalam playlist funeral song ini. Sekali lagi dengan alasan hampir mirip-mirip dengan beberapa lagu sebelumnya. Dan makin ke sini saya memang inginnya kesedihan sebuah pemakaman lambat laun berganti dengan optimisme dan semangat buat hidup lebih baik lagi. Sukur-sukur kalau hidup mati saya bisa jadi inspirasi, motivasi, atau sebuah peringatan pun tak apa-apa.
Bonus: Robbie Williams - Angel

Menurut sebuah jajak pendapat yang kalau tidak salah ditulis Majalah "Time", lagu ini ada di nomor satu lagu yang akan dipilih para surveyor di Amerika sana. Maka, tak ada salahnya saya pasang juga, siapa tahu ada yang tertarik memilih. Tentunya lagu ini dipilih karena liriknya (jadi saya pasang video yang cuma berisi lirik, dan bukan video aslinya yang berisi muka Robbie Williams itu). Mungkin lirik yang ini nih: "And do they know, the places where we go, when we're grey and old..."
Demikian beberapa saja lagu yang bisa saya pikirkan hingga saat ini, terutama karena saya belum sempat mikir bener-bener dan meneliti satu-satu lagu yang saya tahu. Sempat saya mau masukkan Changes dari Ozzy Osbourne atau Once Upon A Time dari Smashing Pumpkins tapi kayaknya terlalu sedih. Atau juga I Can See Clearly Now dari Jimmy Cliff yang bagus juga, tapi nanti kok kayaknya terlalu gembira atau kepedean begitu yah hehehe... Ya, kalau ada yang punya lagu pop lain, boleh juga menambahi.

Label: , , , , ,

Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...

Wed Song

Karena belakangan ini lagi musim orang nikahan, termasuk beberapa di antaranya orang-orang dekat, maka terpaksa saya sering datang kondangan. Dan mungkin baru beberapa tahun ini (karena ada masa di mana saya sekian tahun tidak pernah kondangan, yaitu masa kuliah dan masa belum dapat kerja), saya sadar kalau ada beberapa perubahan acara di kondangan. Salah satunya lagu. Dulu, lagu-lagu di kondangan seingat saya kurang begitu bervariasi. Yang ada, kondangan diisi dengan lagu-lagu Mandarin atau kemudian juga lagu-lagu gereja, yang juga cuma itu-itu saja. Menginjak awal tahun 2000an, memang sudah ada lagu-lagu pop Indonesia ataupun Barat dibawakan di kondangan. Tapi, itu juga biasanya yang membawakan penyanyi rumah makan atau bintang tamu, atau tamunya. Sekarang, entah dari meniru siapa suka ada pengantin yang menyanyi sendiri gitu. Kadang, ada juga yang dansa (kalo ini sih mungkin meniru di Barat yah?) .

Lalu, saya baru sadar juga kalau sebenarnya bisa saja pengantin memilih sendiri lagu-lagu yang untuk dibawakan, entah oleh band atau penyanyi sewaan, di acara kondangannya. Meski ini mungkin jarang dilakukan, tapi saya rasa ada juga kok yang begitu. Waktu kondangan di nikahan salah seorang teman, saya lihat sendiri band yang main di situ kebanyakan membawakan lagu-lagu yang saya tahu banget itu pilihan mempelai berdua karena beberapa lagu tidak pernah saya dengar di kondangan. Nah, bagi yang concern soal hal-hal begini, atau bagi yang mau nyanyi di waktu nikahan, mungkin kadang bingung pilih lagu ya? Yang jelas, menurut saya sih jangan boleh band atau penyanyi sewaan itu pilih yang lagi populer saja (apalagi kalau kadang ada request-request gitu dari penonton eh tamu undangan). Dulu, ada seorang penyanyi ibukota malah bingung sendiri waktu dia tanya mau request apa? Eh penonton ups tamu malah memilih lagu Jablay. Wong edan, mantenan kok malah lagunya ditinggal suami. Tapi, akhirnya sih diturutin juga. Nah, apalagi sekarang kita tau lagu-lagu yang lagi populer itu pada busuk liriknya dan isinya cuma selingkuh, putus, galau, mendua, dst. Maka sangat-sangat tidak recommended. Demikian juga, kalau mau nyanyi sendiri, sebenarnya sih terserah. Tapi, kalau cuma mengandalkan lagu yang disukai, kadang nggak selalu cocok juga menurut saya. Meski penggemar metal, tapi kalau lagunya metal meski liriknya cinta, tapi pengiringnya band yang ala kadarnya, sih menurut saya malah jadi aneh. Ya sudah, biar nggak bingung, sekarang saya mau merekomendasikan saja kira-kira lagu yang menurut saya cocok buat acara wedding ya.
1. Lionel Richie - Truly

Entah kenapa lagu ini kayaknya jarang dibawakan di wedding di Indonesia ini. Padahal, semua syarat sudah memenuhi. Cuma pake piano, lirik sederhana dan tentang cinta, komitmen, etc. Nyanyinya cukup gampang. Ada banyak di karaoker buat belajar. Lagu yang nggak baru lagi (jadi orang-orang tua juga bisa menikmati).
2. Vina Panduwinata - Biru

Ini juga mirip dengan Truly. Meski zaman sekarang, pada banyak yang taunya ini lagunya Afghan. Tapi, menurut saya lagu ini lebih cocok dinyanyikan cewe.
3. Nancy Danino - Reality

Iya, memang ini aslinya adalah dari Richard Sanderson. Tapi, menurut saya lagu ini lebih cocok kalau dibawakan dengan irama bossas seperti ini. Tapi, mungkin cocoknya tetep yang nyanyi cowo yah?
4. Bjork - All is Full of Love

Nah, yang ini mungkin susah dibawakan dan dinyanyikan. Tapi, saya sempat berpikir ini lagu yang pas buat mengiringi waktu pengantin masuk ruangan gitu (kalau memang nggak mau pake musik dari live band).
5. Kylie Minogue & Jason Donovan - Especially for You

Yang ini mungkin cocok kalau mau nyanyi duet. Kebetulan kedua penyanyi aslinya juga suaranya nggak terlalu istimewa hehehe.. Jadi kalau dinyanyikan ulang dengan suara agak pas-pasan sih saya rasa OK aja.
6. Karena agak males cari youtube, saya dulu pernah berpikir akan memakai Ava Adore dari Smashing Pumpkins atau Only Time dari Enya buat mengiringi masuk pengantin. Tapi, sekarang kayaknya sudah tidak kepingin lagi. Beberapa lagu lain yang dulu pernah dibayangkan sebagai lagu waktu menikah adalah Evan & Jaron - Crazy for This Girl, Ash (atau versinya Annie Lennox juga boleh) - Shinning Light, tapi kayaknya lagu-lagu itu terlalu remaja. Richard Marx dengan Now and Forever sebenarnya juga bisa, tapi kayaknya sudah sering. Demikian pula True dari Spandau Bullet. Atau Billy Joel - Love You Just the Way You Are, Your Song dari Elton John, serta lagu-lagu Elvis dan angkatannya, atau juga Kebo Giro, Kutut Manggung, Kodok Ngorek, Bimo Kurda sudah terlalu klise sehingga malas juga saya sebutkan apalagi cari videonya. Demikianlah, semoga tulisan ini menjadi tulisan yang tidak berguna bagi kalian hehe...

Label: , , ,

Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...

Jalan Raya Pos & Shadow Play

Siapa sangka ternyata film-film ini bisa lengkap ditemukan di Youtube!!!

Jalan Raya Pos
Jalan Raya Pos adalah film tentang jalan pos yang dibangun oleh Daendels pada awal abad 20. Kisah tentang jalan ini sudah ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer yang di film ini menjadi narator dengan cara membacakan tulisan di bukunya tersebut. Tapi, selain itu, film ini pada dasarnya mengangkat dua tema: kisah hidup keseharian seorang Pramoedya dan gambaran kehidupan rakyat di bawah Orde Baru. Gambar-gambar yang banyak bercerita sendiri tentang petani, buruh, eksekutif muda, orang desa yang terpaksa mencari makan di kota besar, militer, petugas layanan masyarakat, etnis-etnis, agama-agama, dan banyak lagi. Memang yang paling menjadi alasan saya mengumpulkan 40 video yang dipecah-pecah di Youtube ini adalah karena sosok Pram, tapi selain itu gambaran-gambaran kehidupan nyata dari manusia-manusia yang hidup dan mengais rezeki di sepanjang Jalan Raya Pos ini jelas sangat menarik. Berikut video pertamanya (video-video selanjutnya bisa disearch cukup dengan mengganti angkanya, dari 1 sampai 40):
Shadow Play
Untuk film ini, saya sudah pernah mendengarnya sewaktu masih kuliah. Saya bahkan hampir menontonnya seandainya saja pihak rektorat kampus memberikan izin untuk pemutaran film tersebut. Film berdurasi sekitar 1 jam yang mengangkat kisah korban genosida Orde Baru terhadap mereka yang dituduh orang komunis ini saya dengar beberapa tahun lalu juga pernah diputar di Gedung Cak Durasim Surabaya, tapi kemudian didatangi oleh FPI dan Forum Anti Komunis yang merampas VCDnya (tentu saja diberi yang kopian hahaha...). Nah, kini dengan bisa dinikmati di Youtube, mau apa itu para monyet bersorban. Mungkin mereka akan melapor ke Tifatul hehehe.. Padahal film dan tulisan seperti ini banyak sekali di Youtube atau internet. Tidak bisalah terus berusaha menyembunyikan kebusukannya, hai para penguasa negeri ini dan para begundalnya. Film ini juga saya rasa tidaklah memberikan info yang baru, sebenarnya. Ada banyak buku yang bahkan jauh lebih detail atau (kalau mau cari) provokatif dari film ini. Justru film ini adalah sebuah film yang menyedihkan tentang bagaimana orang-orang yang sudah tua itu tidak bisa membela diri hingga sekarang dan terpaksa menerima hidup yang begitu tidak adil, entah sampai kapan. Dan satu quotes paling saya suka di film ini adalah ini, "The army, they are very stupid.. they are very very stupid." :D Inilah cuplikannya (oya, yang ini cuma 9 klip aja kok):

Label: , , , , , , ,

Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...

Treasure!



Waktu masih kuliah, di awal-awal tahun 2000an, dari MTV saya baru kenal dua band ini. Koil wara wiri dengan video Mendekati Surga, Diselamatkan, dan Dosa Ini Tak Akan Berhenti, sementara Kubik belakangan juga muncul dengan klip Eternal Waking yang sempat saya kira band luar negeri. Saya ingat, dulu saya lebih suka Kubik. Bahkan di kali pertama mendengar lagu mereka saat melihat klip Eternal Waking, saya langsung suka. Padahal, waktu itu saya sedang suka-sukanya British-Britishan, tapi mungkin karena saya juga suka Smashing Pumpkins maka saya kemudian juga connect dengan lagunya Kubik tersebut.
Untuk Koil, saya sempat agak takut juga waktu melihat klip Mendekati Surga hehehe.. Takut karena suara tawa kuntilanaknya yang jujur sempat bikin saya agak merinding. Tapi, saya mulai tertarik waktu melihat video klip Kita Dapat Diselamatkan. Tentu saja yang paling menarik adalah bagian "sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan pada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan." Satu kalimat yang dihafal oleh para Killers (sebutan penggemar band itu) meski entah mereka tahu atau tidak jika itu diambil dari Alkitab, tepatnya Kisah Para Rasul 4:12. Mungkin lagu itu baik juga untuk didengarkan anak sekolah minggu. Sementara Dosa Ini Tak Akan Berhenti saat itu tarafnya biasa aja karena lagi-lagi di saat itu saya lagi sok anti-anti dengan musik Amerika. Dan dengan segala ketidaktahuan saya, saya pun menganggap musik yang kemudian baru saya tahu kalo itu nama genrenya industrial (sejak saat itu, setiap mendengar genre industrial, yang pertama kali terbersit di kepala adalah nama band ini), sebagai American Style. Apalagi waktu itu, Koil sering disebut-sebut Marilyn Manson Indonesia, Korn, dan sebagainya. Band-band itu tadi dulu waktu akhir SMA sebenarnya saya suka, tapi di pertengahan kuliah saya tidak suka. Entah kenapa kok tidak konsisten gitu, ya namanya juga mencari jati diri hehehe.. Saya juga sempat membaca (mestinya bisa melihat! Bodoh sekali saya waktu itu) kalo tidak salah di majalah Hai atau semacamnya, kalo Koil bikin heboh di MTV Video Music Award Indonesia dengan membawa anjing berwujud manusia atau manusia yang diperlakukan sebagai anjing. Lalu, ada juga teman yang bilang bahwa band itu suka ada stripteasenya waktu show (saya percaya saja, apalagi setelah pernah melihat band Bandung lainnya, PAS Band juga manggung dengan membawa dancer sexy tapi tidak striptease). Ada juga yang bilang kalo di Bandung, para personil band tersebut selalu berpakaian hitam-hitam dan selalu berdandan gothik tiap hari (yang kemudian boleh 85% dipastikan tidak benar). Lalu, ada juga teman yang selalu dengar kaset lagu mereka di walkman. Dia suka mengutip kata-kata aneh tapi bagus juga seperti Kesepian Ini Abadi, Rasa Takut adalah Seni, dst. Sekali lagi, waktu itu toh saya sejujurnya gengsi untuk bilang suka, hanya karena sok anti musik Amerika. Baru sekarang saya tahu kalo jenis musik seperti Koil itu malah lebih banyak kiblatnya ke Eropa, seperti Jerman dan Norwegia, atau band Inggris tahun delapanpuluhan gitu. Saya baru suka band ini setelah bosan dengan musik band-band orang kurus ala BritPop. Atau sebetulnya lebih tepatnya karena saya yang memang dasarnya sejak awal lebih suka musik elektronik, lalu mulai menemukan koneksi antara musik elektronik delapanpuluhan dengan musik industrial seperti ini. Atau bisa juga karena saya waktu itu mulai suka Kubik yang ternyata ibarat saudaraan dengan Koil, atau waktu sebelumnya lagi saya mulai suka dengan Homogenic (sesama band Bandung) bahkan melihat performance mereka, entah saya juga tidak ingat. Yang jelas, adalah satu waktu di sekitar tahun 2005 saya tidak sengaja menemukan MP3 lagu Mendekati Surga, Dosa, dan Diselamatkan, dan praktis sesudah itu saya lalu mulai suka dengan telatnya. Juga setelah melihat performance mereka di TV (Indosiar) untuk pertama kali mereka membawakan Hiburan Ringan (yang sudah saya punya MP3nya juga) bersama Kubik (membawakan Sun Grows Cold). Sayapun mulai gencar mendownload lagu-lagu mereka yang lain, termasuk yang dari album-album sebelum Megaloblast (waktu itu nemu dari sebuah blog di Multiply, meski kualitas suaranya tidak terlalu bagus). Bahkan, seiring waktu, saya kini justru lebih suka Koil ini daripada Kubik. Bahkan saya kadang sudah seperti penguntit kegiatan mereka, eh tapi mungkin tidak juga karena band ini memang cenderung sangat terbuka dan ramah pada fansnya. Dan memang mereka-mereka yang terlibat dalam band atau tepatnya lingkungan band ini, yang termasuk di antaranya Kubik, distro God.Inc, toko buku Oomunium, hingga Rumah Makan Legoh ini memang membumi, inklusif (bagaimana tidak, bandnya aja pernah terdiri dari satu orang Manado, satu Tionghoa, satu Batak, dua Jawa tapi semuanya berlogat Sunda, dan sebagian juga Katolik atau Kristen meski sama sekali tidak taat juga kayaknya hehe..) dalam artian tidak sombong sama sekali lagipula murah hati. Ya, saya bukan menjilat, tapi buktinya, selain dapat gratisan lagu-lagu mereka, saya juga mendapat lagu-lagu bagus dari playlist Otong yang dimuat di sebuah blog yang memuat playlist-playlist musisi indie begitulah. Referensi musik juga bertambah karena banyak band aneh yang mereka kenalkan pada fans, termasuk saya, entah sengaja atau tidak sengaja. Dan yang ini juga boleh dibilang harta karun. Video ini sudah saya download setelah diupload oleh Lusimers alias Uci, basis dan vokalis Kubik yang awalnya menshare di Twitternya. Demikian tulisan panjang dengan tata bahasa yang mungkin tidak enak dibaca. Ini saya sengaja kok, biar menghayati gaya bahasa orang-orang dalam band ini yang sering kali memang membingungkan. Enjoy!

Label: , ,

Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...

Hobi Baru


Di tengah tugas pekerjaan yang padat, Piala Dunia yang bikin ngantuk dan sering tidak fit, serta pikiran tentang masa depan yang kadang tidak menenangkan, aku bertemu hobi baru.. errrrrr.. sebenarnya bukan baru juga sih. Ini hobi lama, cuma sekarang nemu media yang beda saja. Last.fm sebenarnya sudah lama aku tahu keberadaannya. Hanya saja, baru belakangan saja aku menyadari keasyikannya.... errrrr... sebenarnya aku juga belum terlalu paham juga sih. Aku sadar masih ada beberapa fungsi yang belum aku pakai karena aku sendiri baru register 3-4 hari yang lalu.

Setelah (agak) bosan dengan koleksi buku (ebook terutama) yang sebagian besar belum pernah terbaca dan sebagian link lagi mengecewakan karena sudah ditutup atau berusaha dibatasi atau yang hanya menyediakan excerpt, kini aku kembali pada musik. Yang asyik pertama dari Last.fm adalah bahwa situs ini terbilang sangat lengkap. Untuk ukuran musik luar negeri, sebagian besar sekali musik yang aku tahu ada di sini. Tapi, bukan hanya itu, rekomendasi-rekomendasinya juga membuatku senang. Rasanya hampir (atau malah melebihi) seperti waktu pertama kali aku menemukan situs-situs macam truly-free, scribd, avaxhome, dan ebook30. Aku rasa hanya kebosanan, tidak ada waktu, pembatasan donlot gratis, atau tidak ada koneksi internet, yang akan bikin aku berhenti menelusuri situs ini. Ada banyak sekali band dan artis yang asik-asik aku temukan dari sini.
Yang asik, beberapa juga menyediakan donlot gratis. Dan sebagian besar menyediakan sample lagu buat didengarkan. Tapi, entah apakah ada batasan atau tidak, aku belum tahu soalnya sebagai newbie aku masih cukup leluasa memanfaatkan masa promosi. Tapi, tentu saja tidak boleh kurang akal. Masih ada situs-situs yang akan menyempurnakan kelengkapan asiknya. Yang pertama adalah youtube. Kalau ingin mendengarkan dan menilai lagunya secara utuh, aku rasa situs ini sangat oke. Aku kira youtube sudah sangat bisa diandalkan untuk mencari lagunya siapa saja. Dan kalau saja internet juga bisa makin kencang lagi, pastinya akan lebih asyik. Tapi, mendengarkan dari youtube juga tidak lengkap. Pada akhirnya, kalo memang lagunya keren, kita pasti ingin bisa mendengarkan kapan saja dan dengan piranti apa saja. Maka dari itu, perlu dimiliki itu lagu.
Kalau dulu aku sering kali mendonlot satu album, sekarang cara itu makin jarang kulakukan sebab internet kadang kurang stabil dan waktunya lama. Mari berdoa supaya situs-situs seperti 4shared, beemp3, abmp3, dan sejenisnya tidak ditutup. Yang terpenting dari situs-situs seperti tiga di atas tersebut adalah bisa disearching. Situs filesharing seperti rapidshare, ziddu, megaupload, dll memang bagus (kecuali rapidshare yang sekarang menjengkelkan gara-gara tuntutan kelompok yang nggak bisa liat orang senang hehehe..), tapi kurang praktis karena tidak bisa searching dan juga kadang menakutkan juga. Jadi, aku sekarang lebih suka donwload satu-satu, meski itu juga sebenarnya kadang tidak terlalu praktis juga kalau internet lagi cepat. Memang tidak selalu ada atau ditemukan filenya. Tapi, aku yakin itu hanya masalah waktu untuk menemukan situs-situs lain yang lebih lengkap menyediakan file mp3 yang bisa didownload. Kalau memang tidak sabar, ya saya download video youtubenya lalu diconvert dan diperbaiki sendiri kualitasnya (perlu cari software yang lebih canggih dan pengetahuan lebih lagi buat melakukan yang ini).
Inilah cara baru yang saya lakukan. Mungkin memang masih kurang praktis dan sangat tergantung pada kecepatan koneksi internet. Tapi, setelah tidak puas (kalau tidak bisa dibilang gagal) dengan memanfaatkan torrent, setelah link di situs-situs filesharing banyak yang sudah diremove, setelah limewire koit, setelah tidak ada teman yang bisa dikopi lagu-lagunya, setelah malas cari-cari lagi di lapak MP3 bajakan yang makin merusak selera juga, dan setelah tidak seroyal dulu belanja barang orisinal, cara ini cukup memuaskan dan bisa dilakukan di sela-sela kesibukan tanpa harus mengorbankan banyak waktu. Support good music by listening them! (Mau gimana lagi? Wong di Indonesia juga belum banyak musik bagus diperjualbelikan secara resmi)

Label: , ,

Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...

Sing Out Again

Film dan musik mestinya punya hubungan seperti layaknya saudara. Rasanya saya tidak ingat pernah menonton sebuah film yang tanpa musik sama sekali (atau pernah ya?). Sebaliknya, di zaman ketika indera penglihatan menjadi raja (atau malah budak yang paling menderita) seperti sekarang ini, musik juga sulit dilepaskan dari visualisasi. Demikian halnya dengan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Musik jelek bisa terkenal hanya karena bikin video klip yang berbiaya mahal, lebih mahal dari biaya membuat film malah. Itu sudah biasa.
Di sisi lain, bukankah ini juga zaman ketika tampaknya makin jarang ada orang yang bisa puas memiliki satu keahlian saja? Mereka yang dikenal sebagai penulis, tiba-tiba pada pingin jadi fotografer. Mereka yang dikenal sebagai politikus, tiba-tiba bisa jadi presenter TV. Mereka yang dikenal sebagai atlet atau programmer, tiba-tiba menulis buku. Maka dari itu, sama sekali tidak mengagetkan tentunya kalau penyanyi/musisi main film atau pemain film menyanyi/main musik. Itu sangat biasa. Mungkin sebiasa pengusaha jadi politikus/pejabat dan sebaliknya. Apa kalau begitu mungkin bisa diambil kesimpulan: jangan terlalu bangga dengan pekerjaanmu, karena banyak orang lain pun bisa melakukannya? Tidak usah dibahas. Saya tidak terlalu merasa senang memikirkan hal seperti itu.
Kali ini lagi-lagi saya mau pasang video klip saja. Kebetulan karena baru saja ada kasus koneksi internet di rumah mati hampir 2 minggu, makanya begitu nyala lagi saya langsung merayakan dengan browsing-browsing Youtube. Kebetulan juga, waktu internet mati saya sempat ke warnet dan mengkopi beberapa mp3, salah satunya album musik dari artis menggemaskan yang main di Lost in Translation, Scarlett Johansson. Lalu, setelah mendengarkannya, saya menulis di status FB kira-kira begini: Scarlett Johansson, Milla Jovovich, Julie Delpy, dan Juliette Lewis kalau menyanyi kira-kira bagusan mana? Tanggapannya seperti biasa, biasa-biasa saja. Saya memang tidak selalu ingin menulis status untuk ditanggapi, apalagi kalau cuma sekadar dijempol. Bagusan mana? Semua orang tentu bisa nyanyi. Cuma kalau sudah bikin album rekaman, itu tidak semua orang bisa. Sekali lagi, artis nyanyi itu sih sangat biasa. Tapi, apakah bagus? Itu pertanyaannya. Hayah, sudahlah daripada berbelit-belit, mari kita bandingkan langsung saja.
Scarlett Johansson
Ini adalah yang paling muda dibanding 3 nama lainnya. Kalau di album yang saya temukan di warnet dekat rumah saya itu, Scarlett nyanyinya secara minor (istilah saya sendiri), baik dari jenis musik maupun suaranya. Tapi, saya kaget waktu browsing di Youtube, rupanya suaranya beda. Suaranya lebih sesuai wajahnya. Yang di bawah ini adalah yang saya bilang versi minor. Saya pikir ini adalah salah satu dari lagu di albumnya. Judulnya, Yesterday is Here:



Lagu kedua ini banyak bertebaran di Youtube. Ternyata Scarlett pernah duet dalam sebuah proyek album bersama Pete Yorn. Video live nya di Youtube cukup membuat saya makin gemas dan membayangkan saya jadi Pete Yorn.



Juliette Lewis
Kalau melihat di Natural Born Killers, Juliette Lewis ini sempat menyanyi. Waktu dia dikurung dan terpisah dari Woody Harrelson, dia menyanyi macam adegan di film King Kong Lives saat king kong cewe terpisah dari king kong cowo. Hahaha... Yang jelas waktu ngeliat itu saya suka suaranya. Ealah, ternyata dia memang punya band yang namanya the Licks. Waktu mendengar band ini, entah kenapa saya tidak bisa suka. Mau rock n roll tapi kok nanggung, mau alternatif juga jauh, mau country juga bukan. Suaranya, kata pengagumnya, kayak Janis Joplin, tapi kayaknya juga beda kalau menurut saya. Kali ini dia menyanyikan lagunya PJ Harvey (oyaaa.. memang mirip-mirip dua orang ini) yang judulnya Hardly Wait.



Yang ini adalah penampilan live bandnya dengan lagunya Search and Destroy. Melihat video ini memang gila juga si Juliette Lewis. Tapi kok waktu vokalnya diambil alih sama gitarisnya, malah lebih bagus. Sepertinya Juliette ini salah milih genre musik kali ya? Terlalu maksain ngerock malah capek telinga ini dengarnya.



Milla Jovovich
Film-film Milla Jovovich mungkin jelek. Tapi, waktu nyanyi saya pikir ia lebih bagus. Musiknya masih berbau-bau Russia, karena ia sendiri kelahiran Ukraina. Dulu saya tidak yakin waktu mendengar lagu In A Glade, yang masuk di kompilasi album Inspirational Moment yang macam-macam serinya itu. Saya pikir itu Milla Jovovich yang lain, bukan yang artis itu. Ternyata saya memang salah. Milla rupanya memang menyanyi. Kalau dibandingkan tiga artis lain yang saya bahas di sini, saya pikir suaranya yang paling mantap. Dia bernyanyi dengan lebih mantap dari yang lainnya. Nah, yang ini judulnya Alien Song. Saya punya beberapa lagu dari Milla, sebenarnya bukan ini yang paling saya suka, tapi this is oke jugalah.



Dalam video yang ini, Milla Jovovich duet dengan band namanya Puscifer. Band yang ini adalah bikinan Keenan Maynard Jones yang adalah vokalis Tool, yang juga bikin side project A Perfect Circle. Kalo ibarat sales, pastinya orang ini pastinya ikut berbagai MLM dan tiap ketemu orang selalu tidak jemu-jemu berganti-ganti menawarkan bisnisnya. Hehehee... Sebenarnya malah bagus sih kalo ada musisi punya side project banyak. Biasanya musisi yang seperti itu justru yang bagus atau yang sangat kreatif. Selain video ini, kita bisa cari di Youtube penampilan live mereka, di mana Milla pake baju suster yang seksi dan mukanya dicoreng-coreng kayak kucing. Sayang gambarnya hanya rekaman amatir sehingga tidak enak ditampilkan di blog ini. Weisss.



Julie Delpy
Before Sunset dan Before Sunrise, dua film yang tentu disukai modelan para mahasiswa sastra termasuk saya. Dan kayaknya memang dua film itulah yang paling sukses dibintanginya sampai sekarang. Ada sih film yang judulnya 2 Days in Paris yang bukan cuma dibintangi, tapi juga disutradarai dan musiknya dikomposeri oleh dia sendiri. Tapi, saya belum nonton yang itu. Dalam film Before Sunset yang gambarnya diambil tanpa jeda itu, Julie ini sempat nyanyi main gitar dengan bagus sekali. Memang, dua film itu meski isinya cuma ngomong-ngomong tapi sangat berkesan dan menggemaskan. Ah, mau nyewa dan dikopi aja deh kapan-kapan. Lagu di bawah ini kabarnya diambil dari album debutnya yang sampai sekarang masih sulit saya cari tempat downloadnya. Judulnya Mr. Unhappy. Klip lirik di bawah ini juga lucu dan liriknya bisa membuat tersenyum. Nice job Julie!



Yang di bawah ini, saya tidak tahu apakah memang video klip resminya atau cuma editan orang di Youtube. Julie Delpy menyanyi bersama Nouvelle Vague dalam lagu yang intronya seperti lagunya Changcuters. Halah, bagusan ini dobel-dobellah! Makin dengar lagu-lagunya artis satu ini bikin saya makin kesengsem dengannya. Bukan hanya lagunya bagus dan cocok dengan selera saya, tapi waktu pilih rekan kolaborasi pun pilihnya pinter, Nouvelle Vague.



Nah, bagusan mana? Kalau saya, secara musikalitas saya pilih Julie Delpy. Kalau mantapnya saya pilih Milla Jovovich. Kalau penampilan orangnya saya pilih Scarlett Johansson. Kalau Julliete Lewis? Mungkin karena beberapa filmnya bagus atau karena energinya memang harus dihargai. Apakah Anda setuju? Silakan bandingkan sendiri.

Label: , , , , , , ,

Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...

Belum sempat nulis. Nyanyi dulu aja deh..

Kalau dibilang Freud, subconscious itu akan terbentuk dan menetap di usia 0-5 tahun, bisa saja ini alasan saya paling 'greng' dengan musik eighties (atau sound-sound elektronika pada umumnya). Meski demikian, saya meragukannya juga. Saya duga, itu lebih karena saya orang yang cenderung tertutup. Jadi, meski saya banyak dibilang tidak ekspresif tapi dalam hati saya ingin menari dan memberontak. Bukankah itu dua kata yang cukup pas menggambarkan musik new wave atau elektronika (beda dengan musik dugem loh)? Saya tidak menutup telinga pada jenis musik lain atau dari era lain. Tapi, kalau yang paling bikin saya tertarik atau lebih tepatnya 'greng' tadi memang jenis musik new wave, electronic, new romantic, sampai yang masih kental nuansa punknya begitu. Kali ini, saya hanya ingin mencoba membookmark sekaligus menshare beberapa video ini kepada siapa saja yang tertarik. Mau dishare di FB kok rasanya terlalu sering dan nanti malah bikin bosan.
DEPECHE MODE - ENJOY THE SILENCE
Ini adalah lagu dari Depeche Mode yang paling terkenal: Enjoy the Silence. Sudah dibawakan ulang oleh berbagai band ternama dunia saat ini. Band asal Bandung, Kubik dalam album remix mereka yang terbaru (lupa namanya) juga memakai sampel intro lagu berikut dalam salah satu track mereka yang saya juga lupa judulnya. Dalam album tribute buat Depeche Mode, "For the Masses", lagu ini dibawakan oleh band Amerika bernama Failure. Hasilnya sama dengan nama band itu sendiri: failure hahahaha...



NEW ORDER - BLUE MONDAY
Kalau Depeche Mode punya Enjoy the Silence, maka New Order, band yang diisi oleh personil Joy Division minus si vokalis Ian Curtis yang gantung diri, punya Blue Monday. Beberapa versi yang sempat terkenal membawakan lagu ini, misalnya: Orgy dan Nouvelle Vague. Lagu ini bisa dibilang menjadi anthem dari musik new wave agak dugem atau lebih tepatnya musik yang katanya disebut Madchester itu. Legendaris deh pokoknya!


NEW ORDER - TRUE FAITH
Apakah nama New Order ada hubungannya dengan Orde Baru? Hehehe.. Tidak tahulah. Yang jelas, yang satu menyengsarakan yang satunya menyenangkan. Tapi, kok New Order lagi sih? Ya, karena saya sebenarnya paling suka sama lagu yang ini: True Faith. Lagu yang pertama kali saya dengarkan sambil mengendarai motor dan ingatannya terus terkenang hingga kini. Dikatakan bahwa salah satu bait liriknya yang berbunyi: "when I was a very small boy, very small boy offer drug to me" disensor pihak rekaman dan diganti "very small boy talk to me" tapi kalau di manggung, liriknya tetap seperti aslinya. Penting nggak info ini?


BOY GEORGE - CRYING GAME
Nah, lagu ini mestinya cukup sering didengar. Salah satunya di film Ace Ventura. Boy George mungkin salah satu artis yang nasibnya cukup terlunta-lunta saat ini.

BLONDIE - CALL ME
Duo penyanyi perempuan kesukaan saya membawakan lagu yang juga saya suka. Yang satu adalah Shirley Manson dari Garbage, yang satu Debbie Harry dari Blondie yang membawakan lagunya Call Me.


RADIOHEAD - CEREMONY (JOY DIVISION COVER)
Radiohead membawakan lagu-lagu yang katanya memengaruhi musikalitas mereka. Salah satunya dari Joy Division, berjudul Ceremony. Lagu lainnya pernah saya post di sini juga, lagu dari Bjork berjudul Unravel. Lagu lain sejauh saya lihat di Youtube adalah lagunya The Smith.


SAINT ETIENNE - ONLY LOVE CAN BREAK YOUR HEART
Saint Etienne adalah nama kota di Prancis yang punya klub bola cukup terkenal. Tapi, selain itu adalah nama sebuah band Inggris yang biasanya membawakan lagu-lagu elektronik. Kali ini, mereka membawakan sebuah hit pertama mereka. Sebuah lagu yang pernah dipopulerkan Neil Young berjudul Only Love Can Break Your Heart. Lagu ini juga pernah dibawakan beberapa grup seperti The Corrs, tapi , Saint Etienne yang vokalisnya Sarah Cracknell saat ini juga punya album solo, membawakannya dengan irama dance khas 80-90an (ingat Ace of Base?)


NICK CAVE & KYLE MINOGUE - WHERE THE WILD ROSE GROW
Where the Wild Rose Grow. Waktu kecil, lagu ini bikin saya merinding. Setelah besar, baru saya mengerti liriknya memang bikin merinding. Tentang seorang pria psycho yang membunuh seorang gadis kecil dengan batu di sungai, agar kecantikannya tetap abadi. Dalam album berjudul Murder Ballads ini (semoga saya ingat untuk mendonlotnya), Nick Cave dan Kyle Minogue membawakan lagu ini dan bermain di video klipnya dengan baik

Label: , , , , , , , , , , , , , , ,

Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...

How I Miss Bung Pram

Tentu saja aku memang tidak kenal Pram secara pribadi. Pertama kali aku mendengar namanya adalah saat ada berita di TV tentangnya. Itu terjadi pada masa Orba. Kalau tidak salah, berita itu adalah mengenai pembebasannya atau kalau tidak adalah berita pelarangan bukunya untuk kesekian kali. Karena pergaulanku di masa itu memang bukan dengan penyuka sastra apalagi aktivis, maka aku juga tidak pernah tahu buku apa yang ia tulis. Buku pertamanya yang kemudian aku lihat ada di toko buku adalah Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer. Kalau tidak salah ingat, aku melihatnya di toko buku Uranus, Surabaya. Tentu saja itu terjadi setelah aku kuliah dan Orde Baru tumbang. Kalau menilik terbitan buku itu adalah tahun 2001, barangkali pada tahun itu juga aku pertama kali melihat karyanya. Ya, sekali lagi aku memang waktu itu juga jarang ke toko buku.

Aku baru tahu lebih detail tentang Pram, entahlah, mungkin seiring masa kuliah dan makin bebasnya bukunya dipajang di toko buku, aku makin akrab dengan namanya. Awalnya aku memang lebih tahu tentang biografinya, ketimbang karyanya. Jadi, kalau ada orang yang ngobrol tentang Pram, aku pura-pura tahu meski belum pernah membaca karyanya. Baru setelah menjelang pengajuan proposal skripsi, aku membaca-baca skripsi Dwi. Beberapa teman juga mengatakan bahwa skripsi menelaah karya Pram itu keren. Hehehe.. Kebetulan waktu menjelang tanggal pengajuan buku, aku dan teman-teman main ke rumah Ayu dan dia memperlihatkan beberapa buku sastra berbahasa Inggris milik kakaknya. Saat itu, sebenarnya Ayu ingin memakai buku karya Pram yang berjudul Tales from Djakarta. Tapi, ia kemudian berubah pikiran dan memilih buku Frank McCourt, Angela Ashes. Aku kemudian memutuskan memakai buku kumpulan cerpen Pram itu sebagai bahan skripsiku. Pertama-tama aku meminjam buku milik kakaknya Ayu itu. Tapi aku janji akan membeli sendiri nanti.

Lalu datanglah saat yang tak terduga. Onie memberi tahu bahwa sang sastrawan besar itu akan datang ke Surabaya. Pram akan datang ke hotel Majapahit, atas undangan sebuah surat kabar berbahasa mandarin (lupa namanya). Saat itulah, aku bisa berkesempatan bertemu langsung dengan dia. Sempat bersalaman dan dia menanyai aku kuliah di mana. Sungguh mendebarkan, tapi akan lebih mendebarkan seumpama itu terjadi setelah aku lebih tahu karya dan perjalanan hidupnya. Sebelum berangkat, teman-teman sudah mengingatkanku untuk membaca buku Tales from Djakarta tadi. Aku juga tidak tahu mengapa hanya aku yang membawa buku sementara beberapa teman yang tentu saja punya buku Pram justru tidak bawa apa-apa. Namun, yang jelas, di situlah buku itu akhirnya mendapat goresan tanda tangannya. Oh ya, di situ aku juga melihat tetanggaku waktu aku masih tinggal di rumah kakakku di Rungkut dulu, Koh Carolus, dia membawa banyak sekali buku Pram. Bertahun-tahun bertetangga, aku sungguh tak tahu kalau ia penggemar sastra, apalagi penggemar karya Pram. Dan singkat kata, biarpun sebenarnya Tales from Djakarta yang ditandatangani itu bukunya kakaknya Ayu. Tentu saja buku itu tidak kukembalikan lagi. Meski Ayu bilang kakaknya membeli buku itu di Boston, tapi mungkin karena kasihan, maka Ayu menerima buku yang sama persis yang kemudian kubeli di Gramedia Tunjungan Plaza.

Itulah pertemuan pertama dan satu-satunya dengan Pram yang pernah kualami. Tapi, dari situ aku memang makin termotivasi dan makin kagum dengannya. Setelah lebih tenggelam dalam skripsi, aku mulai makin banyak membaca tentang dia dan tentu saja membaca buku-bukunya juga. Sebenarnya aku bisa saja punya kesempatan kedua bertemu dengannya jika saja universitas Kristen Petra mengizinkan diundangnya Pram ke kampus dalam rangka memperingati ulang tahun majalah kampus kami yang bernama Genta (masih ada nggak ya majalah itu sekarang?) dengan alasan yang tidak terlalu berbeda dengan alasan pemerintah Orba. Bodoh sekali kampus itu. Dengan ketertarikan yang mendalam dengan sosok penulisnya, aku tidak pernah merasa rugi pernah menulis skripsi itu. Bahkan boleh dikatakan skripsi itu mengubah beberapa pandanganku tentang dunia.

Selepas lulus, di pekerjaan pertamaku, aku pernah menulis sebuah artikel ringan tentang Pram. Artikel itu sebenarnya lebih mirip artikel tabloid gosip, hanya comot sana comot sini, tapi aku cukup puas dan tampaknya sekarang cukup banyak tersebar dan dicopas di mana-mana. Memang hanya kecil, tapi semoga bisa membuat orang lebih akrab dan tidak takut-takut lagi membaca karya Pram dan rekan seperjuangannya. Hal lain yang menginspirasiku adalah dalam hal kegiatan mengkliping yang dilakukan Pram. Aku sudah pernah menulis tentang ini di blogku bulan lalu. Waktu mendengar Pram meninggal, sangat sedih rasanya. Kesedihan pertama adalah aku ternyata hanya sempat bertemu dan mendengarkannya langsung (bukan lewat tulisan) hanya satu kali. Kesedihan kedua adalah karena ia memang sulit dicari duanya di negeri ini. Sebut saja tokoh-tokoh hebat di negeri ini, tapi sangat sedikit orang yang pernah punya pengalaman dan pengetahuan sebaru dan seunik dia. Aku gembira saat kemarin aku menemukan bahwa ada beberapa postingan videonya di youtube. Sebelum ini, aku hanya pernah melihat dia masuk di layar kaca saat menonton film New Rulers of the World. Yang aku suka dari mendengarkan Pram (dan membaca tulisannya juga) adalah nada yang sangat mantap. Penuh informasi, fresh, dan lugas, sangat bisa dikutip di sana-sini. Aku tahu kadang aku seperti mendewakannya. Tapi, menurutku oke saja sepanjang aku memang sadar. Oh, berapa banyak orang yang punya karakter seperti ini? How i miss you Bung!
















Label: , ,

Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...

Menikmati Lagu, Menghayati Kehidupan

Saya memiliki beberapa lagu yang sering saya putar beberapa tahun yang lalu. Lagu-lagu itu beberapa masih saya simpan di komputer, walaupun agak jarang saya putar. Kemarin atau tepatnya dua hari lalu saya iseng memutar kembali lagu-lagu yang saya sukai ketika masih menjadi mahasiswa. Mestinya mahasiswa itu penuh gejolak, idealis, dsb. Tapi, ternyata waktu sekarang saya putar lagi, saya justru terharu dan ingin menangis. Teringat masa-masa susah, tidak punya apa-apa, tidak percaya diri, sering gagal, sering membayangkan akan kematian di masa muda, dan tentu saja kepura-puraan, emosi, dan sering kali juga penuh tawa dan canda. Terharu karena sedih atau bahagia atau malah kangen? Mungkin yang dua dan tiga. Berikut beberapa di antaranya (beberapa lagu memang tidak ada video klipnya, tapi saya cari seadanya di youtube):


























































Label: , , ,

Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...

Man on the Moon (REM & Martin)

Beberapa minggu ini selalu ingat lagu ini, lagu yang indah ini..



hmm..

Label: , , , ,

Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...

Video Pertama di Youtube



Web This Blog


XML

Powered by Blogger

make money online blogger templates




Free chat widget @ ShoutMix

Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign
Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign!



© 2006 perjalanan lalat hijau | Blogger Templates by GeckoandFly.
blog ini berisi catatan, kenangan, keluhan, caci maki, khayalan, pengakuan, tiruan, dan hasil kopi paste
blog ini tidak ada hubungannya dengan lalatx atau padepokan silat tertentu, pengelola sebenarnya tidak suka warna ijo!