Waktu masih kuliah, di awal-awal tahun 2000an, dari MTV saya baru kenal dua band ini. Koil wara wiri dengan video Mendekati Surga, Diselamatkan, dan Dosa Ini Tak Akan Berhenti, sementara Kubik belakangan juga muncul dengan klip Eternal Waking yang sempat saya kira band luar negeri. Saya ingat, dulu saya lebih suka Kubik. Bahkan di kali pertama mendengar lagu mereka saat melihat klip Eternal Waking, saya langsung suka. Padahal, waktu itu saya sedang suka-sukanya British-Britishan, tapi mungkin karena saya juga suka Smashing Pumpkins maka saya kemudian juga connect dengan lagunya Kubik tersebut.
Untuk Koil, saya sempat agak takut juga waktu melihat klip Mendekati Surga hehehe.. Takut karena suara tawa kuntilanaknya yang jujur sempat bikin saya agak merinding. Tapi, saya mulai tertarik waktu melihat video klip Kita Dapat Diselamatkan. Tentu saja yang paling menarik adalah bagian "sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan pada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan." Satu kalimat yang dihafal oleh para Killers (sebutan penggemar band itu) meski entah mereka tahu atau tidak jika itu diambil dari Alkitab, tepatnya Kisah Para Rasul 4:12. Mungkin lagu itu baik juga untuk didengarkan anak sekolah minggu. Sementara Dosa Ini Tak Akan Berhenti saat itu tarafnya biasa aja karena lagi-lagi di saat itu saya lagi sok anti-anti dengan musik Amerika. Dan dengan segala ketidaktahuan saya, saya pun menganggap musik yang kemudian baru saya tahu kalo itu nama genrenya industrial (sejak saat itu, setiap mendengar genre industrial, yang pertama kali terbersit di kepala adalah nama band ini), sebagai American Style. Apalagi waktu itu, Koil sering disebut-sebut Marilyn Manson Indonesia, Korn, dan sebagainya. Band-band itu tadi dulu waktu akhir SMA sebenarnya saya suka, tapi di pertengahan kuliah saya tidak suka. Entah kenapa kok tidak konsisten gitu, ya namanya juga mencari jati diri hehehe.. Saya juga sempat membaca (mestinya bisa melihat! Bodoh sekali saya waktu itu) kalo tidak salah di majalah Hai atau semacamnya, kalo Koil bikin heboh di MTV Video Music Award Indonesia dengan membawa anjing berwujud manusia atau manusia yang diperlakukan sebagai anjing. Lalu, ada juga teman yang bilang bahwa band itu suka ada stripteasenya waktu show (saya percaya saja, apalagi setelah pernah melihat band Bandung lainnya, PAS Band juga manggung dengan membawa dancer sexy tapi tidak striptease). Ada juga yang bilang kalo di Bandung, para personil band tersebut selalu berpakaian hitam-hitam dan selalu berdandan gothik tiap hari (yang kemudian boleh 85% dipastikan tidak benar). Lalu, ada juga teman yang selalu dengar kaset lagu mereka di walkman. Dia suka mengutip kata-kata aneh tapi bagus juga seperti Kesepian Ini Abadi, Rasa Takut adalah Seni, dst. Sekali lagi, waktu itu toh saya sejujurnya gengsi untuk bilang suka, hanya karena sok anti musik Amerika. Baru sekarang saya tahu kalo jenis musik seperti Koil itu malah lebih banyak kiblatnya ke Eropa, seperti Jerman dan Norwegia, atau band Inggris tahun delapanpuluhan gitu. Saya baru suka band ini setelah bosan dengan musik band-band orang kurus ala BritPop. Atau sebetulnya lebih tepatnya karena saya yang memang dasarnya sejak awal lebih suka musik elektronik, lalu mulai menemukan koneksi antara musik elektronik delapanpuluhan dengan musik industrial seperti ini. Atau bisa juga karena saya waktu itu mulai suka Kubik yang ternyata ibarat saudaraan dengan Koil, atau waktu sebelumnya lagi saya mulai suka dengan Homogenic (sesama band Bandung) bahkan melihat performance mereka, entah saya juga tidak ingat. Yang jelas, adalah satu waktu di sekitar tahun 2005 saya tidak sengaja menemukan MP3 lagu Mendekati Surga, Dosa, dan Diselamatkan, dan praktis sesudah itu saya lalu mulai suka dengan telatnya. Juga setelah melihat performance mereka di TV (Indosiar) untuk pertama kali mereka membawakan Hiburan Ringan (yang sudah saya punya MP3nya juga) bersama Kubik (membawakan Sun Grows Cold). Sayapun mulai gencar mendownload lagu-lagu mereka yang lain, termasuk yang dari album-album sebelum Megaloblast (waktu itu nemu dari sebuah blog di Multiply, meski kualitas suaranya tidak terlalu bagus). Bahkan, seiring waktu, saya kini justru lebih suka Koil ini daripada Kubik. Bahkan saya kadang sudah seperti penguntit kegiatan mereka, eh tapi mungkin tidak juga karena band ini memang cenderung sangat terbuka dan ramah pada fansnya. Dan memang mereka-mereka yang terlibat dalam band atau tepatnya lingkungan band ini, yang termasuk di antaranya Kubik, distro God.Inc, toko buku Oomunium, hingga Rumah Makan Legoh ini memang membumi, inklusif (bagaimana tidak, bandnya aja pernah terdiri dari satu orang Manado, satu Tionghoa, satu Batak, dua Jawa tapi semuanya berlogat Sunda, dan sebagian juga Katolik atau Kristen meski sama sekali tidak taat juga kayaknya hehe..) dalam artian tidak sombong sama sekali lagipula murah hati. Ya, saya bukan menjilat, tapi buktinya, selain dapat gratisan lagu-lagu mereka, saya juga mendapat lagu-lagu bagus dari playlist Otong yang dimuat di sebuah blog yang memuat playlist-playlist musisi indie begitulah. Referensi musik juga bertambah karena banyak band aneh yang mereka kenalkan pada fans, termasuk saya, entah sengaja atau tidak sengaja. Dan yang ini juga boleh dibilang harta karun. Video ini sudah saya download setelah diupload oleh Lusimers alias Uci, basis dan vokalis Kubik yang awalnya menshare di Twitternya. Demikian tulisan panjang dengan tata bahasa yang mungkin tidak enak dibaca. Ini saya sengaja kok, biar menghayati gaya bahasa orang-orang dalam band ini yang sering kali memang membingungkan. Enjoy!
Setahu saya, tidak banyak artis atau band musik Indonesia yang dibuatkan tribute. Kalaupun ada, itu baru belakangan ini. Mencoba mengingat-ingat, yang saya tahu dan pernah dengar antara lain adalah Koes Plus, Naif, Fariz RM, Titiek Puspa, dan mungkin juga Chrisye. Oh ya, ada juga album tribute to Munir. Tapi, itu beda. Beberapa bulan lalu, tanpa sengaja saya pun menemukan sebuah blog yang rupanya sengaja dibuat untuk sebuah proyek pembuatan album tribute bagi Koil.
Kenapa Koil?
Saya tidak mendebat hal itu. Saya tahu bahwa memang Koil bukan nama sembarangan di antara gerakan musik independen (halah, kalimatnya). Saya mendengar Koil pertama kali waktu masih kuliah, waktu album Megaloblast dan klip "Mendekati Surga" (juga "Kita Dapat Diselamatkan") sering diputar di MTV. Karena waktu itu saya masih sukanya band-band yang ngeBrit-ngeBrit, saya masih sebatas mengakui keberadaan dan keunikannya. Jujur saja, hati sempat berdesir saat melihat klipnya di MTV, selain juga foto mereka di red carpet MTV Indonesia Award yang membawa dua pria diberangus dan ditali macam anjing. Saya juga agak seram saat mendengar sample tawa kuntilanak di "Mendekati Surga" dan kata-kata kutipan Kisah Rasul 4:12 di "Kita Dapat Diselamatkan". Band yang kreatif, tapi bikin takut. Hehehehe.. Meski begitu, saya juga penasaran mendengar kabar bahwa di konser mereka ada dibawa gadis-gadis penari erotis (sekarang kabarnya sudah agak jarang sih pake begituan).
Namun, sampai selesai kuliah, karena saya juga waktu itu baru berteknologi kaset, maka saya juga tidak punya dan belum berminat mencari album Koil. Baru setelah lulus, satu kali saya menemukan di sebuah warnet 2 track lagunya Koil, "Mendekati Surga" dan "Dosa Ini Tak Akan Berhenti". Ya, saya copy deh. Setelah didengar-dengarkan ternyata memang enak dan membuat semangat. Saya lalu mencari link download di internet untuk lagu-lagu lain. Ketemu satu yang juga sudah saya tahu sejak kuliah, "Kita Dapat Diselamatkan." Lalu, tiba-tiba di TV juga muncul Koil membawakan lagu soundtrack sebuah film horor lokal. Lagunya berjudul "Hiburan Ringan". Kebetulan satu kali saya ketemu CD bajakannya soundtrack film itu di sebuah lapak. Selain "Hiburan Ringan #1" dan "Hiburan Ringan #2", saya juga senang karena di sana juga ada lagunya Kubik yang baru "Blessed Sigh". Kubik, seperti bersaudara dengan Koil ini, sudah saya suka lebih dulu sejak melihat klip "Eternal Waking" di MTV. Kaset Velvet Word and Lies saya beli di sebuah distro. Saya suka karena waktu itu sedang suka dan mengenang kembali lagu-lagunya Smashing Pumpkins dan jatuh cinta pada D'arcy. Jadi, sebenarnya memang saya melihat Mendekati Surga dulu, lalu melihat klipnya "Eternal Waking", lalu suka Smashing Pumpkins terutama "Ava Adore", dan beli kaset Velvet Words.
Setelah saya mendapat album soundtrack itu. Saya terus cari di multiply lagu-lagunya Koil yang bisa didownload. Saya temukan cukup banyak. Termasuk lagu-lagu sebelum Megaloblast, macam "Lagu Hujan", "Karat", "Murka", "Untuk Kemenangan Kami", dll. Dari situs hearlulu yang sudah koit, saya mendapat "Breathe With Me" yang ternyata adalah bonus untuk majalah Rolling Stones. Judul lagunya memang berbahasa Inggris (jarang-jarang lagunya Koil berbahasa Inggris, pikir saya), tapi ternyata isinya lebih seperti instrumental, dihiasi sampling erangan dari film bokep, dan Otong yang mengatakan "Aku tak dapat bernapas." Lagunya cukup panjang, tapi lumayan mengobati kerinduan. Kira-kira dua tahun lalu, saya menemukan sebuah warnet yang menyimpan satu album Megaloblast lengkap! Masa itu berbarengan dengan mulai diuploadnya lagu-lagu dari album BlackLight di situs deathrockstar. Hingga kemudian menemukan blog multiply resminya Koil, maka saya bisa mendownload beberapa lagu lagi. Serta beberapa bulan lalu, koleksi saya tambah lengkap dengan beberapa lagu baru mereka yang dishare di Indowebster.
Banyak orang bilang tentang Koil sebagai Marlyn Manson, Korn, dan ada juga yang bilang Rammstein dan Nine Inch Nailsnya Indonesia. Pada pecinta berat Koil di internet bilang bahwa Koil adalah Koil. Ya, terserah. Memang sebenarnya mirip juga sih. Tapi, walaupun begitu saya sendiri sering merasa orang Indonesia itu yang suka minder, merasa bahwa Indonesia selalu mengekor. Ada band baru dibilang ininya Indonesia, padahal kalau band yang mirip itu adalah asal Jerman saja, maka tidak ada istilah ininya Jerman, dsb. Hanya saja, yang agak konyol adalah di dunia sepakbola. Geli rasanya kalau komentator bola bilang si A ini Maradonanya Indonesia, si B Gattusonya Indonesia, si C Messinya Indonesia, wahahaha.. geli karena memang sering maksa.
Oke, kembali ke pertanyaan mengapa Koil. Kalau penggemar musik pop masa kini mendengar adanya album tribute ini, mungkin saja mereka merasa penasaran dan bertanya, "mengapa Koil?". Beberapa mungkin merasa Koil hanya band baru yang diorbitkan Ahmad Dhani. Sebagian mungkin baru mendapat kopian MP3 album BlackLightShinesOn. Atau mungkin ada juga yang membatin, "mungkin ini cuma proyek orang tidak terkenal yang menggandeng band-band tidak terkenal membawakan tribute untuk sebuah band yang belum terlalu terkenal, tanpa adanya lagu mereka yang paling terkenal saat ini." Hehehe... Dan adegan selanjutnya mungkin ada temannya yang bilang, "Lho, Koil itu band sudah lama.." Itu tidak penting. Tapi, bagi mereka yang setidaknya beberapa tahun lalu sudah pernah mendengar album Megaloblast (kayak saya) dan sudah cukup umur untuk memerhatikan MTV waktu itu, maka saya rasa mereka akan menyambut munculnya album ini.
Melintasi trek
Oke, basa-basinya sudah cukup ya. Sekarang, saya akan mencoba melintasi trek demi trek dari album yang terdiri dari 12 band mengkover 11 lagunya Koil. Seperti dikatakan di blog yang pertama kali membuat saya tahu tentang album ini, "beberapa lagu ada yang saya suka, beberapa lagi sering saya skip." Dan karena MP3 nya sudah ada di komputer, maka hanya beberapa lagu saja yang sering saya setel di Winamp. Saya mendapat album ini dari Indowebster. Kualitas suaranya kurang sempurna, volumenya agak kurang keras dan bassnya sedikit kurang mantap. Mungkin saya salah download, tapi nanti saya pikir bisa saya perbaiki dengan software untuk editing audio.
1. The Moms Berdarah - Burung Hantu
Saya belum punya dan belum pernah mendengar lagu Burung Hantu. Tapi, saya tahu Moms Berdarah memang membawakan lagu itu dengan versi mereka sendiri. Kedengarannya jadi seperti lagunya Netral atau agak sedikit the Brandals. Lumayan baik. Kesalahan saya kurang bisa menikmati lagu ini adalah karena saya belum pernah mendengar lagu Burung Hantu. Itu saja. Nanti kalau sudah ketemu lagu aslinya mungkin penilaian saya bisa berbeda.
2. Midnight Soul - Dosa Ini Tak Akan Berhenti
Lagu aslinya sudah sangat akrab. Pertama kali mendengar lagu ini dibawakan dengan gaya soul, telinga saya masih agak menolak. Tapi, setelah didengar-dengarkan lebih lama, saya mulai suka. Enak disetel saat dalam perjalanan naik mobil, motor, atau naik kereta sambil melihat jalan raya. Bisa disetel di tempat umum karena tidak keras dan kata-katanya memang bagus. Gitarnya itu loh, bikin saya serasa jadi petualang. Ini adalah track yang cukup sering saya setel.
3. Screaming Factor - Ini Semua Hanya Fashion.
Seperti sudah bisa dilihat di nama bandnya, band ini membawakan lagu dari album Megaloblast ini dengan teriak-teriak hehehe. Tidak terlalu teriak, hanya suaranya yang menggeram selalu diakhiri dengan akhiran "haauuwww" "yaaauuww". Lumayan juga sebenarnya. Hanya saja mungkin karena kualitas suara file yang saya punya kurang baik maka saya yang tidak terlalu suka genre macam speed metal ini agak kurang menikmati. Yang bagus adalah raungan gitarnya di outro. Gagah sekali.
4. Amazing in Bed - Lagu Hujan
Nah, ini favorit saya hehehe... Ya, memang suaranya yang paling ngepop di antara yang lain, untuk lagu Koil yang cukup lembut ini. Vokalnya suaranya macam Karen O atau vokalisnya Inspirational Joni, tapi masih agak lebih lembut, paling merdu saat suaranya bergema di tengah lagu. Musiknya sendiri lebih cepat dari versi aslinya. Membuat cukup bersemangat. Dan karena ada banyak nuansa gema-gemanya, membuat sound file yang kurang sempurna ini terasa lebih berharga dari lainnya. Selain saya memang sangat suka "Lagu Hujan", karena sound lagunyalah yang membuat saya paling suka track ini.
5 Lullaby for Michelle - Pudar.
Ini kedengarannya seperti Pure Saturday. Kalau Koil beberapa waktu lalu di TV pernah membawakan lagu "Kosong" meski suaranya Otong tidak jelas, kali ini saya mungkin bisa membayangkan, beginilah kalau PS membawakan lagu Koil. Saya belum pernah mendengar versi asli dari "Pudar." Dan band yang agak ngebrit ini membuat saya hanya biasa saja mendengarkannya (sudah agak bosan dengan Brit-Britan). Pembawaannya, menurut saya, kurang terlalu masuk.
6. Black Stone Boredom - Nyanyikan Lagu Perang.
Lagunya tentu sudah sangat kenal dan liriknya luar biasa. Kali ini, band bernama "kebosanan batu hitam" (wah, nama apaan ini?) membawakan dengan gaya ngeden. Ini band agak kedengaran seperti Seringai. Kalau Seringai disebut kayak Metallica (masa sih?), Batu Hitam ini tidak terlalu kayak nama band Amrik itu. Lagi-lagi kualitas audio file saya membuat semangat dari lagu ini agak kurang optimal. Kalau kualitas suaranya lebih baik dan saya sedang ngantuk berat, mungkin saya akan menyetel lagu ini di antara lagu lain. Tapi, mungkin juga saya akan menyetel versi aslinya saja.
7. Marianna En De Bastard - Karat
Nah, lagu ini katanya memang sudah banyak dicover. Di youtube ada band amatir memasang videonya. Kabarnya bahkan Charly ST 12 dulu pernah mengcover lagu ini juga. Kali ini, Marianna cukup baik membawakannya. Suara vokalisnya mantap tapi tidak berlebihan. Musiknya keren. Apalagi ada suara backing vocal wanitanya di tengah-tengah, mengingatkan akan lagu Koil dengan Uci Lusimers (atau siapa ya?) menjadi backing vocal. Cukup cepat dan semangat, dan saya suka. Apa mungkin lagi-lagi karena ada gema-gemanya itu yah?
8. Mosternaut - Tidak Berarti
Diawali dengan suara tidak jelas, lalu kemudian masuk gitar dan raungan ala deathmetal, wah.. saya jadi agak ilfil. Lagu "Tidak Berarti" sendiri kayaknya belum pernah saya dengar. Tapi, dari judulnya, mungkin saja itu hanya modifikasi dari "Karat"? Yah, Koil kadang memang suka begitu. Beberapa lagu mirip-mirip, kadang bisa dibilang sama atau dikutip sebagian, tapi judulnya beda. Lagu yang ini kurang masuk di hati saya.
9. Aneka Digital Safari - Semoga Kau Sembuh
Ini lagu yang hampir tidak pernah saya setel. Semula saya kira musiknya seperti Jalur Pantura atau lagu "Disko di Rumah" itu. Lucu donk kalau membawakan "Semoga Kau Sembuh" yang lambat itu dengan cara demikian. Tapi ternyata lain. Begitu mendengar dan melihat salah satu komen di FBnya Otong, saya sempat penasaran dan akhirnya memang kesal juga setelah mendengarkan lagu ini. Selama 3 menit lebih, isinya hanya seperti suara radio rusak. "Nggiiiiing" lalu kresek-kresek. Dan di akhir lagu ada sampling lagu "Semoga Kau Sembuh". Merusak telinga. Saya baca di sebuah blog, di konser mereka juga seperti orang sedang cek sound saja. Waktu saya melihat video live performance mereka di Myspacenya band ini, saya kesal dan ketawa saja. Dasar borjuis, orang egois, bikin suara bising sesukanya, trance sendiri, dan menyebut itu musik. Teringat band serupa bernama Manual. Saya percaya bahwa sebagian puja puji orang terhadap band macam ini hanya muncul karena mereka takut dibilang tidak nyeni saja.
10. A Slow in Dance - Aku Lupa Aku Luka
Ini adalah track paling panjang. Delapan menit 47 detik. Lebih seperti instrumental. Hanya bagian-bagian akhir ada gema suara "luka luka luka... aku luka luka lupa.." Kurang begitu suka karena relatif membosankan.
11. Psickot - Mendekati Surga
Yang ini bagus! Meski lagu suara Otong di "Mendekati Surga" hanya jadi sampling, tapi cukup membuat saya berdentam-dentam. Ada sampling suara film bokep juga. Yang agak saya sayangkan adalah lagunya terlalu pendek. We want more!!
12. M1D1D4T4 - Mendekati Surga.
Mungkin memang sengaja dua cover version dari lagu yang sama ini dipasang berurutan. Saya pun memilih mendengarkannya berurutan. Rasanya saling melengkapi, meski secara pribadi saya lebih suka Psickot. Bedanya, yang M1D1D4T4 (bah, susah banget nulis namanya) ini dua kali lebih panjang. Bagian tengahnya sedikit bikin bosan, terutama yang mirip-mirip lagunya Jalur Pantura. Untungnya, biasanya waktu sudah mulai bosan, suasana naik lagi. Cuma endingnya kurang berkesan (halah, kayak film aja). Saya sering menyetel lagu ini lebih karena bagian awalnya sangat pas mendampingi versinya Psickot.
Overall, album ini termasuk baik. Terutama karena saya pikir tidak ada yang sampai keterlaluan membawakan lagunya Koil dengan versi R & B atau Melayu misalnya. Intinya masih, kalau tidak rock ya elektronik, dua unsur yang membentuk musiknya Koil. Dan album ini juga bagus bagi band-band pendukungnya maupun saya juga. Melalui album ini, saya yang sudah lama tidak update tentang band-band baru yang bagus kini sudah mulai ada referensi lagi. Beberapa band yang terlibat sudah saya telusuri di Google dan kini sedang menjadi sasaran download. Hehehe....
Terakhir, menurut saya pribadi, saya lebih suka album tribute ini ketimbang tributenya Naif yang diisi oleh band-band indie yang lebih terkenal dan senior. Mungkin karena saya memang lebih suka musiknya Koil ketimbang Naif ya?
Label: kesan, koil, musik, review
Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...Akhirnya aku punya kesempatan juga nonton acara band-band an nih. Hebatnya, hehehe.. kali ini aku dapat info sendiri, nonton sendiri juga.. Bukan karena apa-apa kalau ketepatan malam minggu ini, karena dia ada satu acara yang tidak mungkin aku ikut, jadi tidak ada kencan juga.. Aku nonton Koil! di acara pameran clothing se Indonesia di JEC. Kemarin di myspace dan multiplynya ditulis jamnya .. rahasia.. walah. Tapi masih untung karena aku malah semula mengira mereka manggung tanggal 4. Jadi, cari aman dan cari murah (tiket masuk cuma 3 ribu rupiah) dan cari eman, aku berangkat sejak jam setengah lima-an. Sampai sana tiket sudah dicoret menjadi lima ribu rupiah. Gapapa, masih murah juga.
Waktu masuk ada band-band kampus yang nyanyi entah lagu apa. Aku sempat liat yang nyanyiin lagunya band Jepang tapi lagu ciptaan sendirinya kayak lagunya Cokelat. Gapapa.. Sampai setelah jam sholat maghrib aku nungguin.. panggung kosong, muter-muter di stan-stan mahal-mahal bajunya. Paling nggak 70 ribuan, jadi ingat harga clothing produksi Darjo neh.. Gapapa.... Lalu aku laper.. Mau keluar ke seberang makan di angkringan, tapi aku masih takut kalau tiba-tiba Koilnya manggung.. Sepertinya aku memang sudah terlalu lama tidak nonton band-bandan. Jadi, aku makan di selasar JEC. Makan mie ayam yang harusnya tiga ribuan tapi tertulis delapan ribu.. Setelah aku bayar pakai sepuluh ribuan, penjualnya bilang harganya sepuluh ribu.. Gapapa.. Makan sebentar yang tentu saja nggak kenyang, aku tahu memang harga makanan di selasar JEC itu mahal-mahal. Apalagi di sebelah ternyata juga ada pameran mobil yang HTMnya saja 25 ribu. Pantesan di bagian sebelah situ banyak cewe-cewe aneh yang menggemaskan hehe..
Masuk lagi, aku masih nunggu beberapa lama. Muter-muter lagi dan akhirnya ada yang manggung. Ternyata band Oh Nina yang direkomendasikan Emen dulu. Band Jogja yang dikontrak Aksara, begitu kalau tidak salah dengar. Aneh juga Emen yang dulu waktu di Jakarta memberitahu kalau dia suka Sore, sekarang suka band yang seperti Homogenic versi cowok itu. Bung Emen yang baru saja ke Jogja ini memang sudah banyak berubah... hehehe... Oh Nina cukup bagus, mereka juga membawakan Bittersweet Symphony versi agak elektronik dan duet dengan vokalis band dari Bandung entah band apa namanya. Setelah tentu saja diselingi MC yang lamanya kayak lama band manggung, ada band punk namanya Morning Horny. Yah, lumayan bagus.. Atau mungki karena aku sudah lama tidak lihat band-band an. Gapapa... Paling tidak mereka memang cukup menghibur. Setelah itu, MC berdua itu muncul lagi. Lama lagi. Persiapan Koil sebenarnya cukup cepat tapi mereka memang lama, mungkin agak telat datang. Sekitar jam setengah sembilan baru mereka siap.
Lagu pertama adalah Hiburan Ringan part 2, kalo nggak salah episode lho. Setelah itu, Nyanyikan Lagu Perang bikin aku kebelet pipis yang ditahan-tahan dari tadi karena takut kehilangan tempat berdiri. Setelah dari WC, sudah ada intro Kenyataan Dalam Dunia Fantasi. Berturut-turut Aku Lupa Aku Luka. Tapi, si Otong mengumumkan bahwa mereka tidak bisa membawakan banyak lagu karena JEC tutup jam sekian. Janjinya tinggal dua lagu lagi. Lalu bernyanyilah ia Ajaran Moral Sesaat. Setelah itu, ditawarkan mau request apa dan menghasilkan lagu Dosa ini Tak Akan Berhenti. Tapi, seperti biasanya konser, selalu ada lagu terakhir yang belum terakhir. Lagu terakhir adalah Sistem Kepemilikan. Ceritanya kok biaa banget gini ya?
Gak lah.. Aku sangat puas sekaligus tidak puas. Tidak puas karena waktu manggung mereka dan lagu yang dibawakan terasa sedikit sekali. Aku lantas menyesal, seandainya aku tahu kalau mereka juga manggung di Alun-alun Jogja waktu tahun baru, gratis! dan di Solo pada Februari lalu.. Tapi aku juga merasa beruntung karena tidak harus memaksakan diri ke Liquid untuk melihat aksi mereka bulan lalu. Di situ aku berkesimpulan mereka memang masih akan sering ke Jogja. Aku juga masih teringat komentarnya Marcell Siahaan yang dipasang di multiply nya Koil. Mereka memang band metal yang cerdas. Memang kelihatan kalau wajah-wajah si Otong atau Adam itu adalah wajah orang cerdas. Otong punya karisma yang sangat besar meski ia mungkin juga sopan, sangar, manis, atau low profile. Malam ini seperti nyidam dipuaskan, aku tambah suka dengan mereka, apapun kata orang... Mungkin kalau mereka manggung di Jogja atau Solo dengan harga ekonomis seperti ini, memburu mereka adalah harus.. Aku ingin mendengar banyak lagu lagi dari mereka. Kalau perlu yang aku tidak kenal pun gapapa. Bahkan kalau buat nonton mereka aku harus makan rujak yang pake lombok lima aku mau deh. Yang jelas malam ini aku bisa nonton pertunjukan musik yang bagus lagi. Cuma lain kali aku memang harus makan dulu, jangan terlalu ketakutan membayangkan yang tidak-tidak, dan mungkin ingin punya kamera atau hape yang kameranya lebih oke. Jarak dari panggung cuma lima meteran kok fotonya masih bleret ga karuan. Gapapa, ini kan pengalaman pertama nonton pertunjukan sambil moto-moto... hahaha
Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...Waktu masuk ada band-band kampus yang nyanyi entah lagu apa. Aku sempat liat yang nyanyiin lagunya band Jepang tapi lagu ciptaan sendirinya kayak lagunya Cokelat. Gapapa.. Sampai setelah jam sholat maghrib aku nungguin.. panggung kosong, muter-muter di stan-stan mahal-mahal bajunya. Paling nggak 70 ribuan, jadi ingat harga clothing produksi Darjo neh.. Gapapa.... Lalu aku laper.. Mau keluar ke seberang makan di angkringan, tapi aku masih takut kalau tiba-tiba Koilnya manggung.. Sepertinya aku memang sudah terlalu lama tidak nonton band-bandan. Jadi, aku makan di selasar JEC. Makan mie ayam yang harusnya tiga ribuan tapi tertulis delapan ribu.. Setelah aku bayar pakai sepuluh ribuan, penjualnya bilang harganya sepuluh ribu.. Gapapa.. Makan sebentar yang tentu saja nggak kenyang, aku tahu memang harga makanan di selasar JEC itu mahal-mahal. Apalagi di sebelah ternyata juga ada pameran mobil yang HTMnya saja 25 ribu. Pantesan di bagian sebelah situ banyak cewe-cewe aneh yang menggemaskan hehe..
Masuk lagi, aku masih nunggu beberapa lama. Muter-muter lagi dan akhirnya ada yang manggung. Ternyata band Oh Nina yang direkomendasikan Emen dulu. Band Jogja yang dikontrak Aksara, begitu kalau tidak salah dengar. Aneh juga Emen yang dulu waktu di Jakarta memberitahu kalau dia suka Sore, sekarang suka band yang seperti Homogenic versi cowok itu. Bung Emen yang baru saja ke Jogja ini memang sudah banyak berubah... hehehe... Oh Nina cukup bagus, mereka juga membawakan Bittersweet Symphony versi agak elektronik dan duet dengan vokalis band dari Bandung entah band apa namanya. Setelah tentu saja diselingi MC yang lamanya kayak lama band manggung, ada band punk namanya Morning Horny. Yah, lumayan bagus.. Atau mungki karena aku sudah lama tidak lihat band-band an. Gapapa... Paling tidak mereka memang cukup menghibur. Setelah itu, MC berdua itu muncul lagi. Lama lagi. Persiapan Koil sebenarnya cukup cepat tapi mereka memang lama, mungkin agak telat datang. Sekitar jam setengah sembilan baru mereka siap.
Lagu pertama adalah Hiburan Ringan part 2, kalo nggak salah episode lho. Setelah itu, Nyanyikan Lagu Perang bikin aku kebelet pipis yang ditahan-tahan dari tadi karena takut kehilangan tempat berdiri. Setelah dari WC, sudah ada intro Kenyataan Dalam Dunia Fantasi. Berturut-turut Aku Lupa Aku Luka. Tapi, si Otong mengumumkan bahwa mereka tidak bisa membawakan banyak lagu karena JEC tutup jam sekian. Janjinya tinggal dua lagu lagi. Lalu bernyanyilah ia Ajaran Moral Sesaat. Setelah itu, ditawarkan mau request apa dan menghasilkan lagu Dosa ini Tak Akan Berhenti. Tapi, seperti biasanya konser, selalu ada lagu terakhir yang belum terakhir. Lagu terakhir adalah Sistem Kepemilikan. Ceritanya kok biaa banget gini ya?
Gak lah.. Aku sangat puas sekaligus tidak puas. Tidak puas karena waktu manggung mereka dan lagu yang dibawakan terasa sedikit sekali. Aku lantas menyesal, seandainya aku tahu kalau mereka juga manggung di Alun-alun Jogja waktu tahun baru, gratis! dan di Solo pada Februari lalu.. Tapi aku juga merasa beruntung karena tidak harus memaksakan diri ke Liquid untuk melihat aksi mereka bulan lalu. Di situ aku berkesimpulan mereka memang masih akan sering ke Jogja. Aku juga masih teringat komentarnya Marcell Siahaan yang dipasang di multiply nya Koil. Mereka memang band metal yang cerdas. Memang kelihatan kalau wajah-wajah si Otong atau Adam itu adalah wajah orang cerdas. Otong punya karisma yang sangat besar meski ia mungkin juga sopan, sangar, manis, atau low profile. Malam ini seperti nyidam dipuaskan, aku tambah suka dengan mereka, apapun kata orang... Mungkin kalau mereka manggung di Jogja atau Solo dengan harga ekonomis seperti ini, memburu mereka adalah harus.. Aku ingin mendengar banyak lagu lagi dari mereka. Kalau perlu yang aku tidak kenal pun gapapa. Bahkan kalau buat nonton mereka aku harus makan rujak yang pake lombok lima aku mau deh. Yang jelas malam ini aku bisa nonton pertunjukan musik yang bagus lagi. Cuma lain kali aku memang harus makan dulu, jangan terlalu ketakutan membayangkan yang tidak-tidak, dan mungkin ingin punya kamera atau hape yang kameranya lebih oke. Jarak dari panggung cuma lima meteran kok fotonya masih bleret ga karuan. Gapapa, ini kan pengalaman pertama nonton pertunjukan sambil moto-moto... hahaha

