Aku mungkin terlalu gembira akhir-akhir ini sampai lupa ngeblog. Memang, baru pertama kali ini sejak dua tahun lebih blog lalathijau lowong satu bulan. Untuk kerjaan aku mungkin memang agak sibuk. Sebentar-sebentar deadline dan sebentar-sebentar aku meremehkan deadline sampai akhirnya begadang demi memenuhi deadline. Tapi alasan sebenarnya kenapa aku sampai tidak sempat mengisi blog dengan satu dua kata atau bahkan gambar atau video seperti kemarin memang ada. Alasannya adalah bahwa aku terlalu bersemangat untuk gembira meski seharusnya aku masih punya banyak sekali alasan untuk tetap marah, sedih, jengkel melihat yang terjadi di
Baiklah, untuk banyak cerita yang masih belum rampung atau yang sungguh jelek sehingga malu kuakui sendiri, untuk rasa bersalah atas kegembiraan yang kurasakan, bahwa untuk pertama kali sejak beberapa tahun belakangan aku bersemangat tidur awal, bahwa aku tidak keberatan berada di tempat dan di antara orang-orang yang tak kusukai dan tak bisa kuhormati, aku sekarang pulang libur lebaran selama 4 hari untuk mencari cara bagaimana menata agar semuanya lebih seimbang. Aku tidak menyalahkanmu untuk apa yang tidak kamu ketahui, cantikā¦
Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...Mungkinkah aku salah (semoga) jika aku mengira ada keraguan di matamu setiap kali memandangku. Namun, ragumu bagaimanapun berarti kau masih memiliki sekian persen setuju, karena itulah yang aku harap dapat kau bisikkan ke telingaku. Mungkin saja ini hanya trauma jika aku khawatir bahwa api itu tanpa disengaja justru membakar sebagian kulit tubuhmu, sehingga kau merasa begitu marah karena panasnya yang menyengat itu. Sumpah, aku akan takut karena sama sekali tak ada niatku untuk menyakitimu. Hanya rasa hangat dan nyala terang dari api itu yang ingin kuberikan untuk menghadang hawa dingin dan gelap yang membutakan itu.
Tahukah kamu bahwa waktu bergerak lebih cepat saat hari makin malam. Dan setelah itu pagi dan siang hari pun akan saling menelan dan ditelan oleh malam, seperti sebuah rantai makanan. Aku telah menunggu dan sering kali menunda, hingga waktu beranjak tua. Karena itu sekarang aku berusaha untuk tetap terjaga. Aku tak ingin waktu melaju terlalu cepat seperti juga aku tak ingin ia berhenti, apalagi di titik yang tak tepat. Kau tahu bahwa kata dan lembar-lembar surat tak akan dapat habis atau dihentikan sepanjang waktu itu masih deras. Tapi tak ada bagusnya hanya melihat waktu melaju membawa para penumpang di depan mata yang berusaha ditahan untuk tak terlelap, tanpa ada satu pun yang diperbuat.
Maka untuk pertama kalinya dalam hidupku aku menggunakan pena untuk menghadang deretan peristiwa dan perasaan yang menggelora, memohon dan dinista. Aku tak akan sekadar mencatat peristiwa-peristiwa. Aku ingin membuat peristiwa dengan pena dan kertas. Aku mengalunkan lagu, meski bukan satu irama yang sempurna. Aku tahu aku tetap harus bicara dalam tatap mata. Semoga kau mendengarkannya. Dan aku akan lega.
