perjalanan lalat hijau

LALAT HIJAU, sebuah catatan perjalanan untuk beberapa waktunya ke depan


Guru-guru SMP

Waktu hendak masuk SMA, seorang yang lebih tua sekitar 11 tahun dariku pernah berkata begini, "pokoknya, masa SMA itu masa yang pasti paling berkesan, buktinya lagu itu adanya 'nostalgia SMA kita', bukan nostalgia SMP, SD atau nostalgia TK kita… hehehe" Wah, angkatan Paramitha Rusady nih. Tapi, ternyata omongan orang itu tadi ternyata tidak terlalu pas untukku. Kalau bicara tentang masa berkesan, jelas masa kuliah dong. Sementara setelah kuliah, aku rasa masa SD lebih berkesan, setelah itu masa SMP, dan baru setelah itu SMA. Masa SD aku rasa pasti selalu berkesan di hati semua orang. Jangka waktunya saja dua kali lipat, hampir sama juga dengan masa kuliah (kalau S1). Lagipula, keduanya (kuliah dan SD) juga sama-sama masa penuh perubahan, yang satu dari masa baju bebas ke masa seragam, satunya lagi dari masa berseragam ke masa baju bebas lagi. Masalah baju ini tentu hanya simbol saja, intinya kita semua pasti tahu. Jika ingin perbandingan yang seimbang, masa SMP dan SMAlah yang bisa dipertandingkan dengan adil. Aku memilih masa SMP yang menang (tapi bukan berarti blog guru-guru SMA tidak akan ditulis).

SMP yang 'kupilih' adalah SMP Kanisius 1 Surakarta (untuk keren-kerenan disebut SMP Kansas, nah padahal Kansas tetap daerah ndeso juga). Masuk ke Kanisius sebenarnya adalah plan B. Karena kakak-kakak dan orang tua berhasil meyakinkanku bahwa masuk ke SMP Negeri itu adalah prestasi yang sangat hebat, maka impianku adalah masuk ke SMP Negeri 4, yang katanya adalah SMP negeri terbaik kedua di Solo. Selain bagus, kakak-kakak juga meyakinkan bahwa dengan masuk ke SMP Negeri (tapi hanya dibatasi SMPN 1 dan SMPN 4) juga akan membantu Papa, karena SPP nya akan jauh lebih ringan. Aku pun makin berharap. Kebetulan, nilai NEM ku juga terbilang lumayan, meski kata Papa terlalu ngepas untuk dibilang unggul, yaitu 41 koma sekian. Harapan dan impian untuk masuk negeri itu sangat besar sehingga aku bahkan sama sekali tidak ingin masuk ke SMP swasta yang kategori favorit seperti Bintang Laut, Regina Pacis (yang ini bahkan sama sekali tidak pernah kusebut) ataupun yang bisa memungkinkanku bertemu teman-teman SD, yaitu SMP Widya Wacana. Lalu kenapa setelah dinyatakan tidak lolos seleksi penerimaan di SMPN 4 aku justru masuk ke Kanisius? Pertama, SMP macam BL meski bagus tapi jelas mahal biayanya. Sedangkan untuk Widya Wacana? Entahlah, aku sendiri lupa, mungkin waktu itu keinginan untuk tidak berlama-lama di satu tempat (SMP WW satu lokasi dengan bangunan SD ku) atau untuk lebih banyak bertemu muka-muka baru sudah mulai muncul. Faktor yang juga sangat berpengaruh adalah fakta bahwa tiga dari empat kakakku menjalani masa SMP di Kanisius. "Huh, Kanicus… kanicus.." begitulah dulu aku (dan kakak yang keempat waktu masih SD) melecehkan sekolah kakak yang kedua dan ketigaku itu. Kami berdua kualat, sama-sama memilih sendiri dan diterima di SMP Kanicus itu.
Wali kelasku ketika kelas satu adalah Bu Ndari. Nama lengkapnya Retno Wulandari, nama yang sangat Jawa dan pantas untuk menjadi nama penyanyi keroncong. Bu Ndari ini adalah guru seni musik, tapi dia tidak pernah bernyanyi keroncong. Guru yang satu ini tidak galak dan agak kemayu, meski kelak aku akan bertemu banyak guru yang jauh lebih kemayu dalam artian genit ketimbang dia. Alasan aku menyebutnya agak kemayu barangkali karena ia termasuk guru yang suka dandan dan kadang memuji-muji dirinya sendiri. Dua dari tiga kakakku juga aku ingat mencap Bu Ndari sebagai guru yang kemayu. Gincu merah muda cukup tebal, rambut keriting panjang selalu diikat, kulit agak langsat, usia sekitar 30an tapi sepertinya sudah mulai rabun dekat (dilihat dari cara menaruh kacamatanya ketika membaca di depan kelas). Bu Ndari ini sebenarnya wajahnya cocok untuk menjadi galak, tapi tetap saja ia tidak bisa dibilang galak meski beberapa kali juga bisa marah-marah. Selain seni musik, Bu Ndari kalau tidak salah juga mengajar PKK (Pendidikan Keterampilan Keluarga), dua mata pelajaran yang waktu itu (mungkin hingga sekarang) dianggap sebagai mata pelajaran kelas B (karena tidak masuk dalam EBTANAS). Praktis, kelas kami hanya berjumpa dengannya kurang lebih dua kali seminggu selain di waktu-waktu penerimaan rapor atau acara kelas lain. Aku masih mencoba mengingat-ingat pengalamanku dengan Bu Ndari, tapi sayangnya sampai sekarang sepertinya masih lupa.
Untuk wali kelas kedua, aku jauh lebih ingat. Namanya adalah Pak Pranggoro. Bapak yang satu ini mengajar mata pelajaran yang 'lebih serius', Matematika, Fisika, dan Elektronika. Sangat kurus, tinggi, berkacamata, tatapannya tajam, jarang tersenyum, suara aristokrat, kadang berkumis kadang dicukur sehingga dagunya tampak kehijauan, jelas ini adalah wali kelas pria pertamaku. Kami memanggilnya dengan sebutan Pak Prang (lebih mirip Prank, ketimbang Praaangg atau Perang, meski kenyataannya lain). Karena memegang tiga mata pelajaran 'penting' itu, pertemuan kami pun sering terjadi. Meski suaranya sopan, tapi Pak Prang bisa juga berubah menjadi guru yang menakutkan. Maaf saja kalau yang lebih kuingat tentang Pak Prang adalah hukuman-hukumannya, tapi jika saja waktu itu aku adalah orang tua murid, kelakuannya harus kulaporkan.
Yang paling menakutkan adalah di mata pelajaran Elektronika. Ia selalu wanti-wanti agar setiap murid harus membawa buku diktat dan perlengkapan praktik yang lengkap. Di kelas 3, setidaknya aku pernah melihat dia bertindak seolah kelas adalah Guantanamo. Kebetulan saat itu teman dekatku, Hari Mulyono tidak membawa salah satu perlengkapan praktik (atau buku?). Sebagai hukuman, ia pun memanaskan solder listriknya, lalu dengan ujung solder mengepul yang bisa melelehkan timah, ia berjalan pelan menuju arah Hari alias si Mul dan memerintahkan agar ias menjulurkan tangannya. Ya, Pak Prang memang hanya menyerempetkan saja ujung solder itu ke tangan si Mul, namun temanku itu tetap berteriak, entah sakit, kaget atau hanya mendramatisir seperti pemain bola sedang diving. Entah sang guru atau si murid yang bersandiwara, yang jelas hal itu tetap membekas di kepalaku hingga saat ini. Aku juga ingat ketika satu kali aku lupa membawa jangka untuk pelajaran Matematika (kalau tidak salah juga di kelas 3). Hukuman yang diterima murid yang juga lupa membawa jangka adalah ditusuk dengan jangka besar untuk papan tulis. Sampai ketika giliranku, tanganku secara refleks mengelak, tapi ia tetap berusaha sampai kemudian memutuskan untuk memukul tanganku yang menangkis saja. Apakah mungkin itu sebabnya aku tidak menyukai elektro? Maaf Papa, tapi bagaimanapun aku memang tidak suka. Aku selalu menganggap Pak Prang agak menakutkan, kadang lembut dan bisa melucu, kadang bisa menebar teror sedemikian rupa.
Aku masih kurang yakin siapa wali kelasku di kelas tiga, antara Pak Step, Bu Susana, atau Pak Joko. Tapi, aku akan bahas Pak Step dulu. Nama lengkapnya adalah Stefanus Tukijo (demikian ia selalu menuliskannya, jadi harusnya ia dipanggil Pak Stef dengan f), mengajar pelajaran agama Katolik. Penampilan Pak Step ini seperti salah satu teman sekolah Papaku yang fotonya pernah kulihat di buku reuninya. Berbadan lumayan tegap meski sudah berusia sekitar akhir 40-an, tapi agak bungkuk juga, dagunya panjang, kulitnya hitam, suka berpakaian hem ketat lengan pendek model seragam pramuka (dengan kait di pundak) yang waktu itu belum ngetren seperti beberapa tahun lalu. Untuk dandanan, ia terbilang kuno; rambut licin mengkilap, disisir ke samping dengan sangat-sangat rapi, berkacamata tebal yang kalau di luar kacanya menjadi berwarna coklat, sementara suaranya juga aristokrat dan nadanya selalu teratur seperti seorang Romo ketika melantunkan, "berbahagialah orang yang mendengar sabdaa tuuuhann, dan yang dengan tekun melaksanakannyaaaa…."
Kelak, aku baru tahu kalau Pak Step ini ternyata adalah suami Bu Titik, guru mata pelajaran Agama dan Etika yang akan kutemui di SMA. Aku merasa Pak Step ini tidak galak tapi juga tidak sabar apalagi lucu, biasa saja. Mungkin juga karena pelajarannya sendiri tidak dianggap penting meski statusnya cukup terhormat di sekolah. Yang aku ingat dari Pak Step adalah bahwa ia yang selalu memimpin acara doa dan menyanyi yang dikumandangkan lewat speaker yang ada di tiap kelas. Lagu andalannya adalah "Aku muda, riang gembira, penuh harap serta cinta, hidupku bagai sinar…." atau "semua burung bernyanyi riang, gembira hatiku, semua rumput…" Acara itu dilaksanakan setiap pagi dengan sebelumnya setiap murid harus membeli buku kecil tipis berisi syair doa dan lagu, dan jika buku itu hilang atau tidak dibawa, kita harus beli lagi di koperasi sekolah. Seingatku, Pak Step baru mengajarku di kelas 3. Ada beberapa kali kegiatan dalam pelajaran yang cukup kuingat sampai sekarang. Yang pertama adalah tentang kesabaran. Ketika mengajarkan tentang itu, ia memberi contoh dirinya yang tidak pernah mau membunyikan klakson motor saat di jalan. Memang, saat aku mengecek sendiri motornya, sebuah Yamaha tua, di parkiran, klaksonnya memang sudah mengeras tidak bisa dipencet lagi, walau belum berarti juga pasti tidak bisa bunyi. Aku tak tahu apakah ia tidak mengklakson karena klaksonnya rusak atau memang karena sabar. Yang jelas, sebelum akhirnya menghadapi lalu lintas jalanan Surabaya, aku sempat meniru dia yaitu hampir tidak pernah atau jarang sekali mengklakson saat di jalan, apapun keadaannya.
Hal kedua yang masih kuingat adalah ketika dia mengajarkan bermeditasi atau membawa roh berjalan-jalan ke luar dari tubuh. Saat itu, akupun langsung membayangkan Sun Go Kong dalam film yang rohnya bisa pergi ke kahyangan sementara tubuhnya masih di bumi, melongo seperti patung monyet bego. Ia mengajak semua murid hening (kebetulan saat itu suasana sekolah juga sedang sepi), memejamkan mata, mengatur nafas, dan membayangkan kita pulang ke rumah. Ia pun memandu, "kalian lihat rumah kalian sedang sepi, lalu kalian mulai pelan-pelan berjalan-jalan masuk, dst… dst." Semua murid sepertinya memang menurut dan terhanyut, termasuk aku. Aku rasa pelajaran yang ia ajarkan saat itu berhasil meski aku tak ingat apa sebenarnya tema yang ia ajarkan. Aku masih terus membayangkan jika memang benar rohku sudah berjalan-jalan keluar dari tubuhku, tapi lama kelamaan tidak yakin juga jika memang itu yang terjadi. Entahlah.
Sekarang tentang Bu Susana. Guru yang satu ini mengajarku pelajaran bahasa Jawa (atau Bahasa Daerah). Bu Susana baru masuk saat aku duduk di kelas 2. Ia masih cukup muda, mungkin baru di awal 30an. Suara agak cempreng, berambut keriting pendek, kulit langsat, pipinya tembem dihiasi jerawat dan bekas-bekasnya, beberapa murid pria tertarik dengan dadanya yang besar (temanku Fransiscus alias Sisko yang kerempeng menyebutnya guru yang lapang dada, meski nyatanya, pinggul si guru juga besar). Aku sendiri sama sekali tidak tertarik karena melihatnya lebih seperti ibu-ibu yang berbadan melar akibat melahirkan dan menyusui. Tapi, mungkin itulah risiko berada di antara remaja-remaja yang sedang akil baliq. Bu Susana sendiri tampaknya entah tidak sadar atau tidak peduli dengan itu. Meski dijadikan objek oleh beberapa murid, tapi kadang ia galak. Dan enaknya menjadi guru bahasa Jawa barangkali adalah ini, ia bisa marah-marah atau mengatai murid-muridnya dengan bahasa Jawa hehehe… Pelajaran ini sendiri memang bukan favoritku. Rasanya, para guru bahasa Jawa atau yang merancang kurikulumnya hanya berusaha menakut-nakuti para murid, bahwa pelajaran ini penting, bahwa pelajaran ini tidak boleh diremehkan, dengan memberikan beban-beban hafalan aksara Jawa, nama-nama anak binatang, bahasa kromo alus atau inggil dari ini atau itu, jejer, wasesa, katrangan panggonan, dll. Begitulah, saat itu (atau mungkin sampai saat ini), pelajaran yang dianggap 'bagus' atau 'penting' adalah yang banyak hafalan atau rumusnya.
Saat menulis hal ini, aku tiba-tiba makin yakin bahwa wali kelasku di kelas 3 sebenarnya adalah Pak Joko. Aku lupa nama lengkap bapak ini. Yang jelas, Pak Joko yang ini adalah guru olahraga sekaligus seni rupa. Tubuhnya tinggi tegap, usia mungkin di awal 40, suka berpakaian ketat model seperti Pak Step, bedanya hanya celananya cut bray, mengendarai vespa, rambut ikal rapi, wajah merah, rahang kotak, gigi agak nyakil sehingga membuat suaranya kurang enak didengar karena seperti bercampur antara udara dan gigi geligi. Aku mengingat sosoknya agak seperti Benny Murdani waktu muda. Pak Joko ini di mataku dan mata kakak-kakakku atau di mata sebagian (besar) teman adalah guru yang kemaki alias kemlinthi (sok jago/sok gagah). Sebagai guru olahraga, karakter seperti itu mungkin memang cocok, sekalipun keterampilan olahraganya tampaknya hanya biasa-biasa saja. Yang jelas, ia bisa dibilang galak. Dan hal ini mestinya agak menjadikannya kurang cocok mengajar mata pelajaran Seni Rupa (atau Seni Lukis). Nyatanya, Pak Joko ini sepertinya hanya agak terpaksa mengisi kekosongan guru Seni Rupa. Aku hampir tak pernah ingat melihatnya menggambar. Yang ia lakukan saat pelajaran seni ini adalah membawa sebuah papan tulis yang sudah ada gambarnya (digambar dengan kapur). Setelah itu, ia menyuruh semua murid mencontoh gambar itu. Kali lain, ia hanya memerintah secara lisan saja, kalian gambar ini atau itu, atau bebas. Yah, pelajaran seni ini memang tidak pernah dianggap penting di sekolahku. Aku ingat ia pernah satu kali memerintahkan murid-murid menggambar sebuah kapal yang juga adalah logo dari yayasan Kanisius, jika belum selesai bisa dijadikan PR. Waktu itu, kakakku yang sudah kelas 3 SMA mengatakan bahwa tugas seperti itu pernah diberikan di masanya. Jadi, aku pun memintanya untuk menggambarkannya untukku dan ia menuliskan nama kapalnya KRI Joko Bodo (tentu saja setelah itu segera dihapus). Hasilnya memang bagus. Aku pun membawanya ke sekolah dan seorang teman segera mencurigai bahwa gambar itu bukan hasil karyaku. Aku tentu saja berbohong dan menolak tuduhan itu. Untung yang curiga hanya satu temanku itu, sementara Pak Joko sendiri memberiku nilai bagus dan beberapa teman malah meyakinkan temanku yang jeli tadi bahwa aku memang pandai menggambar.
Sebagai guru olahraga, Pak Joko masih agak cocok. Tapi, kakak-kakakku merasa ia masih kalah dibanding Pak Tabing atau Bu Kris, dua guru olahraga lainnya. Bahkan, salah satu kakakku mengatakan Pak Joko menjegal Pak Tabing sehingga Pak Tabing akhirnya pindah (atau dipindahkan) ke sekolah lain. Aku tidak begitu tahu atau peduli kalau memang ada konflik antar guru seperti itu. Pak Joko sendiri meski berbadan cukup atletis tapi sepertinya memang bukan atlet. Dalam sebuah pertandingan basket antara guru vs murid dalam rangka ultah sekolah, ia terlihat tidak begitu hebat, bahkan kalah semangat dengan Pak Step yang kemudian terkilir. Namun, Pak Jokolah yang menjadi 'pelatih' tim putra maupun putri dalam pertandingan basket uji coba (ya, zaman itu basket sedang ngetop sekali), sekalipun yang ia lakukan hanya duduk menonton dan kadang memberi semangat, tanpa arahan strategi berarti (hanya mengandalkan skill pemainnya). Pertandingan itu dilaksanakan di lapangan sekolah lain yang aku lupa namanya. Aku sendiri menonton karena beberapa teman main basketku tergabung dalam tim. Aku memang sempat sangat berharap bisa ikut dalam tim. Tapi saat namaku tidak tercantum, aku merasa kecewa dan merasa yang memilih itulah yang tidak bisa melihat potensiku. Aku rasa saat itu tim putra kalah dan tim putri menang. Tapi, yang lebih aku ingat bahwa di situ aku hampir dipalak oleh beberapa pemuda kampung yang juga ikut menonton. Sementara teman-teman sedang main, di pinggir lapangan mereka meminta jaketku. Tapi, aku hanya memandang mereka dan mencoba tersenyum. Tampaknya mereka memang tidak terlalu serius menginginkan jaketku. Gagal mendapatkan jaket, mereka malah mengajakku ngobrol basa-basi, kenapa aku tidak ikut main, dsb. Namun, beberapa teman yang membawa motor ternyata tetap saja kehilangan beberapa helmnya. Pemuda-pemuda itu juga mentertawakan dan menyoraki Pak Joko, yang hampir sepanjang pertandingan hanya duduk diam dan lebih tampak seperti bingung ketimbang memikirkan strategi.
Di pelajaran seni rupa, aku merasa Pak Joko terasa lemah dan klemak-klemek, tapi di pelajaran olahraga, apalagi di lapangan, ia bisa sangat keras. Aku pernah melihatnya menggampar Ernest, temanku lain kelas saat di lapangan basket. Ernest tidak apa-apa, entah karena ia seorang pelatih beladiri kateda yang biasa latihan dengan menjadikan bagian tubuhnya sansak hidup atau karena memang gamparan Pak Joko di kepalanya tidaklah sakit. Yang jelas, aku termasuk kaget melihatnya. Aku kira beberapa teman juga merasa demikian. Di kelas 3, aku mendengar bahwa Pak Joko harus menjalani operasi akibat sesuatu di tangannya. Aku tak tahu, mungkin itu bisul, atau bahkan tumor. Yang jelas, sejak saat itulah aku melihat Pak Joko sebagai sosok yang makin kasihan.
Bagi yang pernah bersekolah di SMP Kanisius sebelum angkatanku, aku pastikan ada dua nama yang tidak akan pernah dilupakan: Bu Agnes dan Pak Yus. Bu Agnes adalah guru PMP (sekarang PPKn). Sudah cukup berumur, bertubuh pendek, tapi langkahnya tegap dan mantap. Mungkin itu juga karena ia selalu naik sepeda jengki ke mana-mana, mungkin juga karena ia sering melakukan ritual jalan salib. Bu Agnes adalah guru yang religius. Tapi ia juga seperti sersan wanita. Penampilannya sederhana, baju warna abu-abu, rambut diikat ke belakang, berkacamata, bibir merah karena gincu, dan wajah putih karena dilapisi bedak meski kulitnya sebenarnya terbakar matahari. Jarang tersenyum meski kalau disapa saat bertemu di luar kelas atau bahkan luar sekolah, ia tetap tersenyum sehingga bibirnya yang merah dan lancip melebar ke samping. Suaranya keras dan tegas, agak sembab, tapi yang jelas bisa menggetarkan hati setiap murid yang mendengarnya.
Bu Agnes memang guru yang terkenal galak meski setahuku ia tak pernah main tangan. Kutipannya yang paling terkenal adalah, "kursus buta huruf." Ini adalah istilahnya untuk murid yang hanya menjawab berdasarkan apa yang tertulis di buku, bukan dengan kalimatnya sendiri. "Ini pelajaran PMP. Kalau hanya membaca, namanya kursus buta huruf." Agak disayangkan memang, kenapa ia harus mengajar mata pelajaran PMP. Dengan prinsip, murid harus bisa menjawab dengan kalimat sendiri, alias harus bisa berpikir sendiri, menurutku agak sayang kalau yang diajarkan adalah pelajaran yang menjadi indoktrinasi pemerintah rezim Orde Baru. Mungkin itu satu sisi positif ajaran Bu Agnes, tapi cara mengajarnya tetap saja kuno. Sangat text book, sehingga jangan harap bisa selamat jika kita tidak membawa buku diktat yang sampulnya burung garuda itu. Senjatanya yang lain adalah absensi kelas. Ia tinggal menyebutkan nama murid yang bisa disuruh membaca halaman sekian. Kemudian, ia juga membaca pertanyaan, juga dari buku itu. Ia membahas atau menanyakan hampir perkalimat yang ada. "Kenapa kita mengamalkan UUD 45 secara murni dan konsekwen? Si A." Deg-degan dan harap-harap cemas semoga nama kita tidak dipanggil. Kalau salah, muncullah istilah tadi, "kursus buta huruf." Tapi, kalau salah dua kali atau jawabannya sangat tidak sesuai, kata-kata "tolol" atau "guoblok" bisa disemburkan tepat di wajah Anda.
Sejak masa kakak iparku, yang selisih 12 tahun dariku, bu Agnes sudah dikenal galak. Yang agak baikan dengan bu Agnes adalah kakakku yang keempat. Ia termasuk murid yang dihafal oleh bu Agnes karena hal positif, satu hal yang agak jarang terjadi. Dari dia jugalah aku tahu bahwa bu Agnes kadang berjalan melewati jalan depan rumahku dalam rangka via dolorosa, jalan salib. Padahal, setahuku rumah bu Agnes jauh dari rumahku yang jalannya naik turun. "Mungkin bertobat, mengaku dosa karena selalu galak pada anak-anak," kata kakakku setengah bercanda. Bu Agnes kini sudah pensiun, tentu saja, karena sepupuku yang sekitar 6 tahun di bawahku sudah tidak mengalami diajar olehnya.
Pak Yus bernama lengkap Yusdarsio Heryunanto. Aku sangat ingat dengan nama ini. Dia adalah guru seni lukis dan bahasa daerah. Aku hanya sempat diajar bahasa daerah olehnya. Apa yang membuat Pak Yus sulit dilupakan? Secara fisik, ia biasa saja. Pria setengah baya yang tubuhnya termasuk pendek bahkan belakangan sudah agak bongkok. Rambut tinggi disisir ke belakang, berkumis, kacamata coklat, sepintas tampangnya seperti Antasari Azhar versi tua. Di masaku, pak Yus sudah mulai agak sakit-sakitan. Tapi, sikapnya sepertinya tidak berubah dari generasi ke generasi. Satu hal yang pasti diingat adalah dijenggit, yaitu menjewer rambut di daerah dekat telinga. Kalau tidak salah aku hanya mengalami setahun diajar oleh Pak Yus, tepatnya waktu kelas 1. Ketika itu, aku sudah mendengar kabar-kabar tentang sepak terjangnya. Bahwa jenggitan atau jewerannya sangat sakit, tapi itu hanya untuk murid pria. Aku juga pernah merasakannya, setidaknya 2 kali. Yang menjengkelkan, ia melakukannya dengan tertawa-tawa karena memang kesalahanku waktu itu sepertinya tidak begitu berat. Mungkin ia hanya berikhtiar bahwa tiap murid pria harus paling tidak sekali merasakan jenggitannya.
Tapi, 'hukuman' Pak Yus untuk murid perempuan lain. Ini yang lebih menjengkelkan. Untuk murid perempuan, ia malah mengelus-elus pipi mereka. Kakakku pernah heran, bagaimana kira-kira rasanya orang tua seperti dia malah menggoda gadis pra remaja yang bisa jadi anak bahkan cucunya seperti itu ya? Waktu itu, kakakku baru duduk di bangku SMA. Mungkin belum banyak yang tahu bahwa hal itu aneh dan mungkin harusnya tidak boleh. Katanya, Pak Yus memang bidangnya di seni lukis. Katanya, ia memang pintar menggambar. Sayangnya, aku tidak pernah melihat karyanya. Tapi, aku sempat curiga bahwa gambar-gambar jadi di papan tulis yang dibawa Pak Joko sebagai tugas di pelajaran menggambar sebenarnya adalah hasil karya Pak Yus. Kalau Pak Joko, memang jujur saya aku rasa dia tidak bisa menggambar, apalagi dengan kapur tulis.
Pak Yus hanya mengajarku Bahasa Daerah. Kemampuan seninya hanya pernah kulihat saat ia nembang, kalau tidak salah Pangkur atau Megatruh. Suaranya bagus, seperti suara di radio. Ketika ia menyanyi, kelas hening, dan aku membayangkan suasana di desa ketika Pak Yus sebagai petani bersenandung sendiri sambil, entah mengasah sabit atau duduk-duduk saja. Ia juga pernah bercanda dengan Pak Tabing di depan kelas. Ketika itu, Pak Tabing menggoda Pak Yus dengan mengatakan kalau dia ganteng. Pak Yus segera mengeluarkan dompet dan selembar uang lima ribu. "Nyoh, le limang ewu susuk sepuluh ewu." (Nih, nak… lima ribu kembali sepuluh ribu). Sekarang, guyon lawas seperti ini pernah beberapa kali diperagakan Tukul. Semua murid tertawa, termasuk aku karena memang jarang melihat sesama guru bercanda.
Di akhir tahun ajaran kelas 1 itu, Pak Yus sudah tidak mengajar. Posisinya sementara digantikan wakil kepala sekolah Pak Titus Wasana. Ternyata Pak Yus masuk rumah sakit. Jadi, ceritanya ia sedang membungkuk dan mengangkat sesuatu sebelum tiba-tiba punggungnya cedera. Pak Wakasek sempat menjelaskan, sepertinya tulang keropos atau bahkan patah tulang dialami Pak Yus. Sejak saat itu, tidak pernah aku melihatnya lagi. Mungkin sekarang ia sudah meninggal dunia.
Karena sudah menyinggung satu nama, sekalian saja aku ceritakan tentang para petinggi di SMPku waktu itu. Ketika pertama kali aku masuk, SMP Kanisius 1 masih dikepalai oleh A.M Sunarno, dipanggil Pak Narno. Bapak ini orangnya gemuk, hitam, rambutnya sudah memutih, kacamatanya tebal warna coklat. Salah satu kakakku sering memuja-mujanya. Tapi aku tidak begitu mengenalnya karena memang jarang ada pertemuan di kelas. Yang jelas, kakak yang memujanya itu bilang Pak Narno pintar bicara. Ia menyamakan Pak Narno dengan ayahku. Waktu itu, kakakku yang lebih tua 7 tahun di atasku mencoba melobi biaya uang gedungku waktu mendaftar. Tapi, kakakku yang di keluargaku termasuk pandai berdebat itu kalah total. Ayah mentertawakan kegagalannya. Kakak beralasan dia bukan levelnya Pak Narno, mestinya ayah sendirilah yang menghadapinya. "Dikek'i ati kok ngrogoh rempelo" (diberi hati kok masih minta ampela) kata kakak menirukan jawaban yang membuatnya skak mat. "Lha sama-sama enak kok pak" demikian saran ayah. Tapi sepertinya ayah memang tidak berharap banyak pada negosiasi itu. Seperti biasa, ia mungkin hanya sekadar melatih anaknya dalam bernegosiasi, diplomasi, menghadapi orang, atau hal-hal semacam itu.
Ketika kelas 1, dengan kepala sekolah Pak Narno, ada dua wakil kepala sekolah yaitu Bu F.M (Febe Maria?) Retno dan yang tadi sudah disebut, T. Wasana (lucu, karena dibaca Tewasono alias bunuh saja). Bu Retno adalah seorang ibu jangkung dengan kulit putih dan kacamata model kuno dan rambut model nyonya besar. Aku sempat mengajarku Seni Musik di kelas 3. Aku ingat, waktu EBTA ada tugas praktik untuk pelajaran itu. Harus membawakan lagu dengan alat musik. Yah, meski suka, tapi sampai sekarang aku memang belum dapat memainkan alat musik apapun. Jadi, alat musik yang kubawa juga standar, solmisasi alias pianika. Lagunya juga standar, Mengeningkan Cipta. Sudah berlatih cukup intensif, saat tiba giliranku tampil, bukan di hadapan teman-teman, tapi duduk di hadapan bu Retno, aku cukup lega karena Bu Retno bertingkah seolah dia menikmati permainan musikku. Dengan menutup mata, di beberapa nada ia ikut bersenandung, membuatku cukup semangat sekaligus takut salah. Aku lulus meski nilainya biasa-biasa saja. Meski demikian, Bu Retno sebenarnya cukup galak. Yang sedikit aneh adalah, meski ia lebih dulu ada sebelum Pak Wasono dan bahkan tertulis wakasek I adalah dirinya, setelah Pak Narno pensiun, yang menjadi kepala sekolah adalah Pak Wasono yang notabene wakasek II. Bu Retno sendiri tetap menjadi wakil kepala sekolah meski kalau tidak salah ia kemudian menjadi kepala sekolah juga.
Pak Wasono, tidak ada seorang pun kakak yang mengenalnya. Artinya, ia masuk ke Kanisius bersamaan dengan aku. Aku dengar ia adalah pindahan dari SMP Kanisius 2. Pak Wasono, atau biasanya kita sebut dengan Pak Tewasono (di kelas satu aku selalu menulis singkatan T itu berarti Tejo, ternyata Titus) pernah mengajarku untuk mata pelajaran PPKn. Ia tergolong sabar, hampir tidak pernah marah, meski punya kumis seperti Jusuf Kalla. Ia juga selalu mengingatkanku pada karakter bapaknya si Unyil. Namun, ketika kelas 2, Pak Narno pensiun dan Pak Wasono menggantikannya menjadi kepala sekolah. Kenapa bukan Bu Retno yang lebih 'senior' di sekolahku? Entahlah, tapi tentunya itu merupakan keputusan yayasan. Apakah ada yang beda dengan sekolahku dengan kepemimpinan dua kepsek tersebut? Mungkin ada. Yang jelas, ada beberapa guru yang pindah (atau dipindahkan?), ada juga guru-guru baru. Ah, apa itu hanya pergantian biasa saja ya? Aku tak tahu, yang jelas sekarang kualitas dan peringkat prestasi sekolahku menurun dibanding masaku. Apakah itu terjadi setelah kepemimpinan Pak Wasono atau Bu Retno? Aku belum mencari tahu.
Para wali kelas sudah. Guru galak sudah. Kepala sekolah sudah. Sekarang, aku akan membicarakan guru-guru lain. Aku akan ceritakan tentang salah satu guru yang paling aneh selama aku bersekolah. Guru ini masih muda, namanya Mulyono, mengajar agama. Tampang Pak Mul ini bisa aku deskripsikan sebagai sangat Katolik. Kulitnya langsat dan bersih, rambutnya ikal model jadul, matanya besar agak belok, tingginya sedang, tubuhnya ramping, bibirnya merah, berkumis tipis mungkin untuk menutupi giginya yang sedikit agak maju dan renggang. Kalau tidak salah, aku sering melihat model perawakan seperti dia di buku-buku diktat Agama Katolik atau buku-buku Kristen terbitan tahun 80an. Masih sulit membayangkan? Bayangkan saja… hmmm… Mardi Lestari? Mengapa aku katakan guru satu ini aneh? Sebentar, satu-satu dulu.
Pak Mul mulai masuk ketika aku duduk di kelas 2. Saat itu, aku juga mulai bergaul dan bersahabat dengan si Mul, yang ini adalah panggilan untuk Hari Mulyono, teman sekelas yang ternyata rumahnya cukup dekat dengan rumahku (pertengahan kelas 1, aku pindah rumah). Jadi, awalnya anak-anak sering mengolok-olok si Mul karena namanya sama seperti si guru. Setelah guru itu makin aneh, anak-anak makin gencar mengolok-olok nama Mul dengan pura-pura memanggil si Mul kalau Pak Mul lewat. Pak Mul sebenarnya baik, hanya saja ia seperti tidak pernah menghadapi remaja. Ia mengajar dan mengajak bicara seolah dengan orang seusianya. Ia melontarkan humor yang agak mikir, meski anak-anak mungkin mengerti letak kelucuannya, tapi humornya itu memang tidak lucu. Jadi, tidak ada murid yang tertawa saat Pak Mul capek-capek menceritakan humornya. Lalu, tahu apa yang ia lakukan? Ia tetap tertawa. Setelah ia tertawa sendiri, murid-murid pun tertawa atau lebih tepat mentertawakannya, sambil diiringi sorakan huuu…. Pak Mul tersinggung dan marah.
Yah, itulah salah satu keanehan si guru agama yang sangat kuingat. Aku tidak ingat humornya, karena aku bersumpah memang itu tidak lucu, seperti humor ala sitkom Amerika, hanya saja dibawakan dengan tidak menarik. Kejadian konflik antara Pak Mul dan murid-murid itu lama-lama makin sering terjadi. Semula murid perempuan masih menghargai dia, dan hanya murid cowok yang bandel yang mengoloknya, tapi lama-lama bahkan para cewek pun tidak menghargai Pak Mul. Pernah juga satu kali, Pak Mul mengancam walk out meninggalkan kelas dan tidak mau mengajar jika murid-murid masih bandel. Biasanya, jika seorang guru sampai walk out seperti itu, paling tidak ketua kelas atau murid teladan atau murid aktivis OSIS akan menyusulnya dan minta maaf, lalu si guru kembali lagi. Tapi, kali itu tidak ada satupun murid yang menyusul atau minta maaf pada Pak Mul yang walk out dari kelasku. Entah mengapa. Para murid bahkan seakan senang dan malah makin ramai dan bercanda-canda, meski esok harinya wali kelas memang memarahi kami.
Ketika kelas 3, seorang temanku, bernama Sinangdoyo, anak yang rupanya punya kelainan eksebisionis, satu kali melihat Pak Mul lewat di depan kelasku. Lalu, Sinang berteriak-teriak, "Mooolll…. Si Mullll!!!" Pak Mul hanya melotot dan dengan langkah jengkel bergegas menaiki tangga. Waktu kelas 3, aku memang sudah tidak diajar oleh Pak Mul lagi. Tapi, waktu kelas 3, tampaknya Pak Mul telah berubah menjadi sosok yang keras. Ia bukan lagi pemuda mudika yang sopan, agak gemulai, dan sok smart. Buktinya, aku pernah melihatnya memukuli seorang adik kelas yang memang dikenal nakal, entah aku lupa kasusnya apa, dan aku lihat ia mencuci tangan di ledeng setelah itu. Kalau dibayangkan, sekolahku memang kental dengan nuansa kekerasan. Apakah saat ini, hal itu masih terjadi? Aku kira masih, dengan generasiku kini yang giliran menjadi guru.
Puncak dari keanehan Pak Mul adalah saat ia memberi semua anak di kelasku, tanpa kecuali, nilai merah untuk pelajaran agama. Papa tidak memarahi dan hanya bergurau mengatakan pada kakak, "beri tahu, diikutkan ngaji dia (maksudnya aku) itu…" Aku pun menjelaskan bahwa semua anak di kelasku mendapat nilai merah karena balas dendam sang guru. Saat penerimaan rapor itu, aku juga melihat temanku Andi, seorang anak yang sangat pendiam dan rajin, tertegun dan sangat nelangsa melihat rapornya dihiasi angka merah. Ya, terang saja, Andi (dan aku juga) jelas tidak termasuk dalam kategori anak yang pernah membuat Pak Mul jengkel. Tapi, rupanya si guru sudah terlanjur sebal, bahkan seingatku di beberapa pertemuan terakhir pelajaran kami, ia sudah mogok mengajar kelas kami. Seingatku, Pak Mul akhirnya pindah di sekitar pertengahan tahun ajaran waktu aku kelas 3.

(masih bersambung, bos..)

Label: , , ,

Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...

Dokter Lo & Dokter Oen

KUBURAN PURWOLOYO

disini terbaring
mbok cip
yang mati di rumah
karena ke rumah sakit
tak ada biaya

di sini terbaring
pak pin
yang mati terkejut
karena rumahnya digusur

di tanah ini terkubur orang-orang yang
sepanjang hidupnya memburuh
terhisap dan menanggung hutang

di sini
gali-gali
tukang becak
orang-orang kampung
yang berjasa dalam setiap pemilu
terbaring
dan keadilan masih saja hanya janji

di sini kubaca kembali:
sejarah kita belum berubah!

Jagalan, Kalangan
Solo, 25 Oktober 1988
"Turah (kebanyakan) duit ya?" bentaknya tanpa memandang wajah Mama. Mama tersipu, lalu mengucapkan terima kasih kepadanya. Badanku masih panas, tapi roti semir Luwes yang tadi dibeli Mama dari penjual roti di depan agak menghiburku. Pria tinggi, setengah botak, setengah beruban dengan suara keras itu terkenal di seantero kota dengan kegalakannya. Kata-kata seperti "sudah 4 hari baru dibawa kemari? Mau nunggu mati dulu apa?" sudah tidak mengejutkan lagi. Aku sendiri pernah mendengarnya. Tapi, ia sangat dicintai banyak orang. Ketika aku sudah bisa membaca, aku lihat kertas yang ia berikan sebagai resep untuk ditebus di apotek tertulis nama lengkapnya: dr. Lo Siauw Ging. Dokter Lo, demikian ia dipanggil. Dokter galak tapi baik hati. Bahkan, meski terkesan kasar, kata-kata tadi pun kalau direnungkan memang ada benarnya. Dokter Lo ini adalah seorang dokter langka dan makin langka dari hari ke hari. Bukan karena galaknya. Tapi karena jiwa sosial yang melekat kuat sampai masa tuanya sekarang ini.
Menjadi dokter sejak 1963, dokter dengan gelar MARS (Manajemen Administrasi Rumah Sakit) ini dikenal sebagai dokter yang tidak pernah mau dibayar. Tak heran jika pasien yang kebanyakan dari kalangan kurang mampu selalu antre di tempat praktik pribadinya di daerah Jagalan, Solo. Dalam sehari, ia melayani dua kali jam praktik. Pagi dan sore. Di luar dari itu, kalau tidak salah ia menjabat sebagai direktur RS Kasih Ibu (entah apa sekarang masih atau tidak). Yang mengagumkan, sampai sekarang dokter ini tetap melayani pasien, meski jalannya saja kini sudah dibantu tongkat. "Saya belum mau pensiun. Saya ingin mereka yang tidak mampu membayar masih bisa menikmati pelayanan kesehatan," katanya dalam sebuah wawancara. Orang bilang, itulah yang membedakan 'orang kuno' dengan pemuda zaman sekarang. Aku beberapa kali melihatnya ada dalam etos kerja mereka yang termasuk angkatan Papaku ke atas. 
Seorang teman bilang bahwa sudah sangat sulit jika kita hendak menjadi legenda saat ini. Jika ingin jadi artis, penulis, atau politisi, bersiaplah untuk mengalami roller coaster; hari ini terkenal luar biasa, besok dicampakkan begitu saja oleh mereka yang punya kuasa, suara, dan dana. Barangkali ia ada benarnya juga. Terkecuali kita memiliki karakter sehebat dokter Lo, yaitu bahwa kita harus siap melawan arus dan siap paling tidak untuk lebih memilih kepuasan melakukan sesuatu untuk orang lain yang membutuhkan ketimbang hanya menyenangkan diri sendiri. Dokter Lo adalah dokter legendaris di kotaku selain dokter Oen, seniornya. "Ada kepuasan tersendiri, itu tidak dapat diukur dengan uang," jelas dokter Lo tentang kepuasan bisa menyembuhkan pasien-pasiennya yang kurang mampu. 
Dokter ini tidak hanya memberi pengobatan gratis selama puluhan tahun, ia juga selalu menyisihkan sebagian gaji yang diterimanya untuk membantu jika ada pasien yang harus mondok di rumah sakit tapi tidak punya biaya. Jika itu masih kurang, ia juga akan mencarikan donatur, terutama mereka yang mau menjadi donatur anonim. Puluhan tahun menjadi dokter, sebuah profesi yang masih sangat terhormat di masyarakat, bahkan sempat menjadi direktur rumah sakit swasta, bukankah harusnya di masa tuanya seseorang bisa menikmati hidupnya? Aku memang sama sekali tidak kenal dokter Lo dari dekat. Tapi, jika memikirkan bahwa tempat praktiknya hingga kini masih relatif tidak berubah, tidak ada renovasi, perluasan, atau semacamnya, maka aku bisa lihat dedikasi dokter Lo membantu masyarakat memang telah berhasil menepis godaan menjadikan keahliannya sebagai komoditi semata.  
Nah, kemarin kamu bilang kamu benci dokter karena mereka suka menipu. Aku rasa kamu harus ketemu dokter Lo. Memang, aku terakhir kali ke dokter Lo ketika masih SD. Tapi, tentunya aku juga tidak akan berobat ke sana lagi sekarang. Aku tahu kamu tidak keliru tentang dokter-dokter mata duitan itu. Kebetulan saja hanya Omni yang kebetulan sedang disorot saat ini. Dan bukannya untuk gaya-gayaan aku mengutip puisi Wiji Thukul di atas. Tanyakan, kenapa Thukul yang notabene terbilang tetangga dengan dokter Lo pun tetap membuat puisi seperti di atas. Lihatlah puisi itu dibuat tahun 1988. Nyata bahwa sosok seperti dokter Lo pun sudah langka sejak puluhan tahun lalu. Sekarang, mestinya orang bisa melihat betapa dekatnya kaitan antara Ponari dan Omni. Legenda tidak perlu harus bisa mengubah dunia, tapi legenda adalah orang yang mampu membuktikan bahwa ia bisa melawan dunia. Kisah dokter yang kedua berikut ini juga sama hebatnya.
dr. Oen
Ketika kakak sepupuku melahirkan anaknya belasan tahun lalu, aku pernah melihat sebuah buku tentang sejarah RS dr Oen, Solo. Bukan kebetulan jika ternyata dokter Lo pernah menjadi anak buah dokter Oen Boen Ing. Nama yang ini memang lebih terkenal, setidaknya sudah diabadikan di beberapa buku. Aku tidak pernah bertemu dengan dokter Oen. Dokter Oen sudah meninggal waktu aku masih usia satu tahun. Dokter yang mendapat gelar KRMT (anumerta) dari Mangkunegaran atas jasanya ini juga meninggalkan nama sangat harum di masyarakat. Lahir dari keluarga kaya, tapi ia terinspirasi kakeknya yang seorang suhu sinshe. Maka, meski ia menggunakan metode pengobatan Barat, tapi teladan sang kakek yang tidak pernah mau dibayar saat mengobati orang benar-benar ia terapkan.
Sebagaimana dokter Lo, dokter Oen juga tidak pernah menuntut bayaran dari pasiennya, tanpa peduli latar belakang, agama, status, dll. Ia hanya menyediakan sebuah kotak dan pasien boleh memasukkan atau tidak memasukkan bayaran sukarela. Memang agak beda dengan dokter Lo yang lebih ekstrem, yang kadang justru memarahi pasien yang mau membayarnya (bahkan, kalau memang ingin bayar, kita harus segera meletakannya di mejanya dan cepat-cepat pamit sebelum ia menegur). Aku percaya dokter Lo memang ingin menjadi penerus dokter Oen. Dan ia sudah berhasil. "Orang-orang miskin berani datang berobat karena tidak diharuskan membayar. Pasien yang tak mampu tetap diberi resep, disuruh ke apotek, obatnya dibayar Dr Oen..." kata Wiwik, perawat yang bekerja bersamanya sejak 1975.
Ketika perang pun, dokter Oen ikut bertugas merawat korban perang. Seorang veteran pun bersaksi bahwa dokter Oen semasa perang sungguh pemberani, tak peduli tembakan Belanda, dokter Oen tetap keluar masuk ke daerah TNI. Tak kurang jenderal Sudirman pernah ia buatkan ramuan obat. Tahun 1933, ia mulai membuka poliklinik kecil yang kini pindah ke daerah Kandangsapi dan menjadi rumah sakit besar bernama poliklinik Tsi Sheng Yuan yang oleh Orde Baru sempat diganti menjadi RS Panti Kosala, dan kini menjadi RS. dr Oen Boen Ing yang bahkan sudah memiliki beberapa cabang. 
Hanya saja, sepertinya rumah sakit itu kini toh sudah sama seperti rumah sakit yang lain. Apakah semangat sosial dr Oen diterapkan rumah sakit tersebut? Sepertinya tidak. Bukannya berharap semua rumah sakit menggratiskan biaya berobat, aku tahu operasional rumah sakit jelas butuh banyak biaya. Tapi, aku hanya berpikir, jika dokter Lo adalah penerus dokter Oen, lalu siapa yang akan meneruskan dokter Lo? Memang masih ada beberapa dokter yang baik. Tapi, dokter yang menjadi legenda, aku khawatir keponakanku yang saat ini sudah kelas 3 SD saja tidak akan pernah mempunyai kenangan tentangnya.

Label: , , , , , ,

Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...

Menjadi Penglaju (Being A Commuter)

Sejak minggu lalu, aku jadi penglaju setiap minggu. Memang bukan tiap hari, tapi dalam setiap minggu aku harus bolak-balik Solo-Jogja. Aku menerima pekerjaan sebagai part-timer di Solo, di tempat kakak yang dulu sempat 3 bulan menjadi kantorku. Sementara 4 hari yang lain aku ada di Jogja, rencananya waktu itu akan kugunakan untuk mengerjakan pekerjaan freelance (kalau pas ada) dari Jogja. Karena itulah aku harus siap-siap pindah kos. Meski harga pokok kamar kos yang sekarang tidak terlalu mahal, tapi tidak adanya pilihan untuk hanya membayar harga pokok kamar (tanpa cuci, dan air minum yang entah kenapa sudah sekitar sebulan tidak disediakan lagi.) membuat biaya kos di tempat itu terlampau mahal. Apalagi aku bakal hanya tinggal 3-4 hari dalam seminggu. Yang jelas aku sudah bosan juga setahun lebih tinggal di situ.

Mulai sekarang aku akan jadi manusia yang lebih mobile. Aku tidak tahu sampai kapan, aku juga tidak tahu apa yang terjadi tahun depan. Mungkin ini memang agak aneh, paling tidak karena baru pertama kalinya aku melakukan ini. Yang jelas, bukan karena terpaksa aku melakukan ini, namanya juga usaha hehehe...

Label: , ,

Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...

Bioskop


Bioskop di Indonesia masih sangat menarik untuk dijadikan kajian sejarah atau paling tidak refleksi mengenai kekejaman kapitalisme. Sudah sering sekali aku melihat tayangan di TV tentang bioskop-bioskop yang pernah jaya, yang penuh dengan kisah heroik, yang kini sudah tutup atau sekarat digilas jaringan bisnis bioskop modern macam milik Sudwikatmono. Satu dari sekian banyak potret kekalahan sejarah dari uang. Seperti biasa, aku hanya akan sekadar menceritakan pengalaman dan kesan-kesanku (terutama saat ini) terhadap suatu tempat. Bioskop bagiku adalah sebuah pengalaman berada di ruang publik. Mungkin sudah sekian ratus film kutonton dalam hidupku, yang tentu saja tidak banyak yang masih bisa kuingat. Tapi, setiap kali menonton film di bioskop, ingatan akan film itu tidak akan hilang semudah ketika menonton film di rumah. Pertama tentu saja karena aku harus membayar tiket yang lebih mahal dari cara menikmati film lainnya. Kedua, karena aku tidak sering mengalami 2 jam berada di ruangan gelap dengan layar lebar, tata suara dolby stereo, dan bertemu dengan orang-orang asing.

Aku tidak yakin umur berapa aku pertama kali menonton bioskop. Yang aku ingat, Papalah yang sering mengajakku menonton bioskop ketika masih kecil. Alasan utamanya adalah karena, anak di bawah usia 7 tahun (atau 5 tahun?) tidak perlu membayar tiket. Papa dulu terutama sering mengajakku nonton di bioskop Star, di wilayah Widuran Solo. Selain bioskop, kalau tidak salah, di bangunan itu juga terdapat arena permainan, seperti bilyar atau bowling(?) selain kafe alias kantin. Tapi, aku juga sedikit tidak percaya pada ingatanku karena aku curiga ingatan masa kecilku tercampur dengan situasi di bangunan gedung lain yaitu (sekarang bekas) gedung Bengawan Sport Centre. Yang jelas, bangunan bioskop Star sekarang sudah menjadi sebuah gereja dengan konsep megachurch, tentunya dengan bangunan yang jauh lebih mewah, bahkan sudah dirombak total.

Tidak banyak film yang kuingat sebagai seorang anak seusia itu. Aku hanya ingat film aksi hero macam Rambo atau Predator kutonton di situ. Papa memang tidak perlu membeli tiket untukku, tapi ia tetap membelikan jajan untuk kumakan di bioskop. Satu kali, ia pernah mengeluh pada Mama karena saat menonton bioskop aku minta dibelikan permen (demikian istilah Papa) yang begitu mahal, namanya Silver Queen. Mungkin, harga Silver Queen yang baru muncul di pasar saat itu tidak beda jauh dengan harga tiket dewasa. Di bioskop Star itu juga, satu kali aku ingat pernah diajak menonton film perang. Aku lupa judul filmnya. Tapi, saat itu sepertinya aturan sudah mulai mengharuskan aku membayar tiket (barangkali setengah harga?). Namun, sepanjang film berlangsung, aku malah terus duduk menghadap belakang, melihat sinar dari proyektor di belakang, ketimbang menonton film yang tidak begitu kumengerti. Sepulang dari bioskop, Papa pun komplain. Sekali lagi, ia menceritakan pada Mama, bahwa aku diajak nonton kok malah melihat ‘wong ayu’ di belakang. Papa memang tipe yang selalu ingin memastikan anaknya menikmati yang ia berikan. Meski sering kali yang ia berikan tidak sesuai dengan selera si anak. Makanya, setiap kali pulang nonton, di jalan ia selalu bertanya, “Piye film e? Apik ndak?”, dan aku pun sering kali hanya bilang, “apik” lebih karena takut mengatakan yang negatif.

Selain Star, bioskop-bioskop besar di Solo pada era 80an itu antara lain, Dhady Theatre, Ura Patria (UP) Theatre, President Theatre, Galaxy Theatre, Solo Theatre, Nusukan Theatre, Rama Theatre, dan Regent Theatre yang tidak pernah aku tahu tempatnya. Di masa itu juga, cara mengiklankan film juga cukup berkesan. Satu dengan memasang papan setinggi satu meter di wilayah-wilayah yang strategis. Papan itu bagian atasnya bertuliskan nama bioskop, serta jam main filmnya (yang ini permanen). Lalu, di bawahnya ada lembaran tulisan yang menyolok, isinya antara lain judul film, nama pemeran utamanya, dan sedikit kata komentar. Info film baru akan ditempelkan di atas kertas yang lama, ditumpuk terus sampai cukup tebal. Jadi bunyi papan itu misalnya:

Bagian atas:

UP Theatre
3-5-7 -9

Bagian bawah:

Wen Piao, Chuck Norris
King Kong Lives
Panas! Menggairahkan!


Cara pengiklanan kedua lebih berkesan lagi. Meski untuk yang satu ini aku jarang melihat karena rumahku saat itu di gang di daerah Nusukan lalu pindah jauh di Mojosongo, pinggiran kota. Caranya adalah dengan menggunakan sebuah mobil yang bagian luarnya diselimuti kain gambar film seperti yang juga dipasang di depan gedung. Di atas mobil kecil itu (biasanya mobil colt Suzuki yang biasa disebut mobil trontong karena bunyinya tron tong tong tong tong) ada sebuah corong. Lalu, sambil berkeliling kota, orang di dalam mobil itu mengiklankan filmnya dengan nada seperti penyiar laporan pandangan mata sepakbola, ditambah dengan suara latar ledakan dan desing peluru (kalau film perang) serta musik latar. Tidak hanya itu, dari dalam mobil juga disebarkan kertas-kertas (glossy) kecil iklan film itu, bergambar lagi! Aku bayangkan kalau itu terjadi di zaman sekarang, dengan harga BBM dan ongkos cetak sedemikian, tentu akan sangat besar biaya yang harus dikeluarkan si pemilik bioskop untuk mengiklankan filmnya. Sepupuku yang tinggal di tengah kota adalah yang akan segera lari keluar begitu terdengar suara dari corong loudspeaker itu, bahkan ia rela mengejar sambil berteriak, “mintaaa” demi mendapat kertas kecil itu.


Setelah aku makin besar sehingga harus membayar tiket, Papa agak jarang mengajakku nonton. Selain di Star, aku ingat pernah diajak Papa nonton di Dhady Theatre di jalan Slamet Riyadi, yang hanya dipisahkan jalan yang termasuk wilayah Pasar Pon. Dhady Theatre sudah lama tutup dan kini menjadi rumah makan es krim (entah kalau es krim itu juga sudah tutup). Aku tidak ingat film yang kutonton, tapi yang jelas waktu itu aku terpaksa menonton cuplikan film (istilah Papaku adalah ekstra) Malam Jumat Kliwon. Aku ingat bahkan kakiku sampai gemetaran naik turun (seperti adegan di film Mr. Bean) saking takutnya. Meski aku masih ingat, adegan film saat itu sudah berganti saat Sundel Bolong mengerjai Doyok yang berperan sebagai tukang ojek, di mana Doyok kemudian tiba-tiba terbang dengan berkostum Superman, dll. Mungkin suara cekikikan itu yang lebih membuatku takut setengah mati. Lain lagi dengan bioskop UP. Bioskop yang didirikan para veteran Tentara Pelajar ini memang sangat diingat oleh banyak anak SD di Solo sebagai tempat mereka diwajibkan menonton film-film macam Tjoet Njak Dien, Janur Kuning, dll. Tapi, aku tidak ingat pernah mengalami itu. Entah karena sekolahku tidak (lagi) menerapkannya atau karena aku berhalangan mengikutinya.

Pengalamanku dengan bioskop UP yang sangat kuingat bukanlah waktu menonton film. Tapi, kegiatan di sekitar gedung itu. Kebetulan tempat nongkrong Papa adalah di warung gudeg di samping bioskop itu. Selain makan, Papa bisa mengobrol, membaca koran/majalah di kios dekat situ, mendengarkan lagu dari toko kaset, dan tentunya urusan judi. Aku beberapa kali diajak makan di warung gudeg itu. Selain gudeg, juga ada makanan seperti klepon, cenil, getuk, dll. Karena sudah akrab dengan si pemilik warung, Papa lalu memanfaatkannya dengan minta sisa-sisa makanan bekas pengunjung warung supaya dibungkus untuk dibawa pulang sebagai makanan anjing-anjing di rumah. Aku memang agak jijik dengan bau sisa nasi gudeg itu yang harus dibilas beberapa kali bila kena tangan. Tapi, kadang kala makanan anjing-anjingku pun bisa lebih enak dari si pemiliknya, karena beberapa kali masih ada beberapa telur utuh, paha ayam utuh, selain juga ada tusuk gigi (yang beberapa kali membuat anjingku tersedak) dan menemukan sendok. Papa juga pernah mengajakku membeli sepatu di toko sepatu kecil di depan UP. Begitulah, Papaku memang dikenal sebagai orang kuno. Meski saat itu, sudah mulai muncul toko sepatu besar atau bahkan Toserba, tapi Papa tetap memilih toko kecil yang sudah ia kenal, meski koleksi barangnya mungkin tidak seupdate dua jenis toko di atas.

Di antara waktu-waktu itulah, aku ingat suka mencuri lihat gambar poster film di UP. Apalagi ketika UP sudah mulai hanya memutar film Indonesia yang saat itu didominasi film silat, komedi, dan film drama panas. Hal yang sama sering kulihat di bioskop Rama Theatre ketika SMP. Di sana sering kulihat orang-orang berkerumun melihat poster film panas Indonesia atau Hong Kong yang dipasang di luar gedung. Poster film UP yang kuingat adalah film silat tentang pendekar kelabang atau semacamnya. Aku ingat karena gambarnya cukup mengerikan; sebuah tubuh (mayat) yang bagian kepala dan beberapa bagian tubuh lainnya dikerubuti kelabang, disaksikan seorang wanita berkemben dari jauh. UP Theatre kini sudah menjadi toko Courts yang banyak bikin orang terlibat utang. Beberapa kali aku menonton film di UP, semuanya adalah film Indonesia. Di antaranya adalah film Saur Sepuh dan filmnya Warkop tahun 90-an (di sana Papa hanya menunggu di warung gudeg sementara aku, kakak, dan sepupuku dibayari untuk melihat film). Aku kira UP semula tidak khusus memutar film Indonesia saja, tapi mulai tahun 90an bioskop itu hanya memutar film Indonesia. Dan karena film Indonesia sedang lesu, aku yang ketika SMU selalu lewat situ pernah menyaksikan gambar film yang tidak pernah diganti selama berbulan-bulan (atau bahkan tahun?). Sebelum tutup, UP sempat mengganti kebijakannya dengan juga memutar film India. Tapi, ketika aku di Surabaya, bioskop itu akhirnya tutup (atau ditutup), kabarnya setelah kalah di pengadilan.

Bioskop lain yang masih cukup berjaya hingga era 90-an setelah munculnya jaringan Cineplex 21 adalah President Theatre, Solo Theatre, Galaxy Theatre, dan Fajar Theatre. Konsep bioskop modern yang disebut 21 (twenty one) di Solo sempat diwakili oleh sebuah gedung bioskop besar bernama Atrium 21 di pemukimana elit Solo Baru. Bioskop itu memang seperti kapal Titanic. Sangat modern, sangat luas, sangat megah dengan 8 teater, update pemutaran filmnya kabarnya juga bersamaan dengan kota-kota besar. Tapi, umurnya tidak panjang. Kerusuhan Mei 1998 membuat bioskop itu sampai kini hanya tinggal puing-puing dan abu. Aku sendiri hanya sempat beberapa kali nonton di situ. Pertama kali nonton di Atrium adalah ketika aku mendapatkan tiket gratis dari menang di acara radio. Aku dan kakakku waktu itu menonton sebuah film komedi Hong Kong yang dibintangi Stephen Chow dan Ami Yip. Setelah itu, aku juga pernah nonton dengan teman-temanku, kalau tidak salah film James Bond. Kini, nama Atrium masih disebut-sebut untuk mengidentifikasi wilayah di perempatan Solo Baru yang berseberangan dengan Supermarket Alfa itu. Di depannya banyak penjual nasi liwet yang katanya enak.

Tapi, sebenarnya, yang dibakar di waktu kerusuhan itu juga bukan hanya Atrium. Fajar Theatre dan Studio Theatre pun ikut dibakar. Bahkan ada guyonan satir, bahwa para penonton bioskop Fajar yang saat kerusuhan antara lain sedang menayangkan film Titanic mungkin sedang menonton adegan saat kapal itu terbelah dua saat gedung tempat mereka juga terbelah dua oleh api. Memang tragis, tapi 2 nama yang terakhir mampu dibangun lagi. Meski tentu saja keadaannya tidak akan pernah sama. Atrium mungkin terlalu mahal untuk dibangun di tengah krismon yang tidak kunjung membaik sampai saat ini, meski kalau tidak salah dulu sempat dibangun kafe. Warga Solo mungkin terlalu trauma dengan bangunan yang telah terbakar itu. Apalagi konon, ada korban yang ikut mati terbakar di bangunan-bangunan itu. Jadilah, kabar mistis ikut beredar.

President Theatre lain lagi. Bioskop yang lokasinya aku lupa itu mati mengenaskan karena kebakaran beberapa waktu sebelum muncul kerusuhan.
Kalau tidak salah ingat, di President aku pernah menyaksikan film tentang Arie Hanggara. Kali ini bersama Mama dan beberapa kakak. Sepertinya, aku masih TK waktu itu. Sedangkan di Galaxy Theatre, Papa juga sempat beberapa kali mengajakku. Bioskop yang berlokasi di jalan Perintis Kemerdekaan, dekat Purwosari itu setahuku adalah generasi terakhir bioskop kelas lumayan yang masih sering dikunjungi Papa sebelum krismon dan kemudian ia sakit. Terutama karena harga tiketnya yang masih terjangkau meski filmnya tidak ketinggalan dengan Solo dan Fajar. Kalau tidak salah, terakhir kali Papa mengajakku nonton film adalah di Galaxy itu juga. Waktu itu aku masih SD, sekitar kelas 5. Sebelumnya Papa menanyaiku, mau nonton? Aku jawab, mau. Tapi, ia mengingatkan, tapi filmnya horor lho. Sejenak aku ragu, tapi setelah ditertawakan Papa, aku pun mengiyakan. Film yang kulihat kalau tidak salah menduga adalah hasil adaptasi novel Stephen King, Cujo. Aku belum memastikan karena yang kuingat adalah judulnya sama. Kisahnya tentang anjing herder pembunuh. Jadi, sebenarnya bukan horor seperti Sundel Bolong, tapi thriller. Tapi toh aku agak berdebar juga saat melihatnya.

Bahkan di era kejayaan bioskop, Nusukan Theatre (letaknya tentu saja di wilayah Nusukan), dan Rama Theatre (samping gereja Katolik, dekat daerah Ringin Semar) sepertinya kalah bersaing dengan nama-nama di atas. Untuk bioskop Nusukan, aku tidak yakin pernah nonton di sana. Untuk Rama, mungkin saja pernah, karena aku ingat dengan interior bagian dalamnya, terutama bangku penontonnya yang dari kayu. Kalau tidak salah, aku menonton di Rama atas perintah sekolah (SMP?). Padahal, aku juga ingat kalau di masa SMP, sudah beredar guyonan tentang nonton di Rama, mulai dari sajian film panas sampai bau pesing dan bokong dikerubuti tinggi (semacam kutu busuk). Tapi, meski cukup lama sekarat, Rama Theatre termasuk salah satu bioskop jadul yang lama bertahan di Solo.

Solo Theatre yang terletak di dalam kompleks stadion Sriwedari sepertinya saat ini sudah tutup. Bioskop Solo sepertinya bukan tutup karena kalah bersaing dengan 21 (setelah Atrium hancur bioskop itu masih buka), tapi lebih dengan VCD dan DVD. Ketika masih SMU, dari segi film bioskop itu masih tergolong elit (meski tempatnya masih tergolong ketinggalan). Aku pun masih pernah nonton di sana. Waktu itu, iklan film mereka dipasang di sebuah tempat khusus di depan gedung Sriwedari sehingga bisa dilihat pelintas jalan Slamet Riyadi. Yang agak menyulitkan bagiku menonton di Solo Theatre adalah tempat parkir dan jalan keluar-masuknya yang menurutku agak membingungkan.

Sedikit kenangan masih kuingat dengan Fajar Theatre. Bioskop di depan gereja Katolik, St. Antonius Purbayan itu kini sudah tutup. Karena SMP ku tidak jauh dari situ, aku pun selalu melewati gedung bioskop itu. Aku dan teman-teman pernah nonton di situ, tapi lagi-lagi agak lupa filmnya. Ketika SMU, Fajar sudah mulai agak goyah. Apalagi setelah dibakar kerusuhan plus karena krisis moneter dan munculnya VCD. Maka, Fajar pun menyiasati dengan memutar ulang film-film lama. Tentunya film yang bisa menarik penonton, yaitu film yang agak panas dengan tiket miring. Sampai saat ini belum ada yang tahu kalau waktu SMU, aku sering membolos les bahasa Inggris dan malah nonton film di sana. Dengan harga 3000, harga tiket tentu saja masih bisa kujangkau. Lagipula, saat itu Fajar masih belum terlalu tergolong bioskop murahan karena masih memutar film baru (dengan harga tiket lain). Tapi, satu kali aku mencoba, ternyata sangat mengecewakan karena gambar filmnya sangat buruk. Film berjudul Sliver yang dibintangi Sharon Stone dan Isabella Rosellini itu gambarnya gelap karena mungkin sudah lama. Ceritanya ternyata juga lumayan bagus, dan nyaris tidak ada adegan yang kuharapkan (disensor). Maka, aku malah lebih ingat jalan ceritanya ketimbang gambarnya. Tapi, di lain waktu, aku juga sempat dua kali menyaksikan dua film panas Hong Kong yang cukup terkenal waktu itu. Kali ini, aku tidak begitu kecewa karena memang ada beberapa adegan yang cukup mengundang imajinasi seorang remaja. Keinginan untuk bolos les dan nonton itu sendiri kadang memang direncanakan setelah melihat iklan film bioskop di koran, tapi biasanya itu muncul spontan saja.

Saat ini, bioskop di Solo kalau tidak salah hanya tersisa bioskop-bioskop yang ada di plasa. Studio Theatre ada di Singosaren. Lalu yang masih berdiri tegak adalah bioskop di Solo Grand Mall (SGM) yang kadang menjadi pilihan orang Jogja karena harga tiketnya jauh lebih murah dari bioskop di Jogja. Aku belum pernah nonton di SGM. Tapi, di Studio pernah beberapa kali. Ketika SMP, Studio masih baru buka dan seperti biasa, segera diserbu warga Solo. Aku pernah menonton ramai-ramai bersama teman, berdua, tapi juga pernah sendirian saja. Studio juga pernah sempat meniru langkah Fajar Theatre, yaitu memutar film-film lama. Tapi, Studio hingga kini masih bertahan meski filmnya ketinggalan dibanding SGM. Kalau melewati kompleks pertokoan Singosaren saat ini, info film yang sering kulihat sedang diputar di Studio adalah film-film Indonesia selain film barat kelas B. Mungkin saja, bioskop itu mulai tertatih-tatih.

Memang, sepertinya sekitar tahun 1998, aku pernah dengar bahwa bioskop di Solo sempat mengalami periode kering. Bukan hanya kering penonton, tapi kering karena rantai distribusi film yang tersendat. Ketika di kota-kota besar film terus silih berganti, bioskop di Solo lambat mendapat jatah film baru. Itu yang menyebabkan mereka kadang terpaksa memutar film lama. Tapi, aku belum mencari konfirmasi data untuk ini.

Seperti banyak orang lain, aku mulai jarang nonton di bioskop sejak kemunculan VCD dan DVD. Ketika kuliah di Surabaya, kemunculanku di gedung bioskop hanya bisa dihitung dengan jari. Beberapa kali itupun lebih sering karena ditraktir nonton. Gedung bioskop di Surabaya memang bagus-bagus, meski tetap tidak ada yang semegah Atrium (yang sempat sering kubanggakan di hadapan teman-teman dari kota lain). Bioskop di Surabaya biasanya juga ada di bagian atas mall yang menjamur di sana. Bioskop mandiri (tidak bersatu dengan mall) di Surabaya yang cukup kuat adalah bioskop Mitra yang ada di area gedung Dewan Kesenian Surabaya. Tapi, sempat terdengar kabar bahwa bioskop ini dijual atau tutup. Aku tidak tahu nasibnya kini. Di Surabaya, yang kuingat adalah aku pernah nonton di bioskop di Mal Galaxy dan Tunjungan Plaza. Kebanyakan adalah film yang bukan favoritku, tapi menurut selera si penyandang dana. Tapi, aku tentu tetap menikmati. Ketika pertama kali nonton bioskop di Surabaya, ada dua hal yang membuatku terkesan karena berbeda dengan bioskop di Solo. Pertama adalah bahwa bioskop di Surabaya cukup ramai. Aku pun merasa anak muda Surabaya (atau kota besar) ternyata masih menganggap nonton bioskop sebagai satu kegiatan bagus untuk hiburan, berkencan, dsb. Mungkin karena dana mereka cukup untuk itu. Hal kedua, adalah seperti yang kurasakan di banyak tempat seperti mal atau kampusku di Surabaya. Banyak pemandangan bagus di bioskop Surabaya. Cewek-cewek berpakaian modis seksi dan cantik-cantik banyak bertebaran di lorong dan kursi tunggu yang melingkar di tengah.

Sebagaimana di tempat lain, ada juga beberapa bioskop kelas bawah di Surabaya. Film-filmnya tentu saja film lama yang bertema seks. Salah satu yang sempat dikeluhkan para orang tua adalah bioskop di Wonokromo. Ini karena kain-kain info film yang gambarnya wanita dengan baju tersingkap atau ciuman itu bisa dilihat dengan mudah saat orang mengendara dan naik ke viaduk Wonokromo. Bioskop macam itu memang masih cukup banyak di Surabaya. Dekat kampusku, ada bioskop Anta yang kabarnya beberapa konsumennya adalah mahasiswa kampus mahal itu juga. Salah seorang teman bercerita bahwa mahasiswa anak kos, nonton di situ dengan sembunyi-sembunyi. Entah dengan memakai jaket dan topi agar tidak kelihatan, tentu karena malu kalau ketahuan oleh temannya (meski kadang mereka saling memergokiku di dalam gedung). Aku juga pernah makan di sebelah gedung bioskop di wilayah Dinoyo. Makan mie sambil mendengarkan bunyi cekikikan lalu lagu-lagu latar karena di dalam sedang memutar film horor Indonesia.

Di Yogyakarta, sampai saat ini aku hanya pernah sekali saja nonton. Semula, aku benar-benar mengira (karena ucapan seorang teman) bahwa di Jogja tidak ada bioskop. Maksudnya bioskop 21. Tapi, setelah kemunculan Ambarukmo Plaza, Jogja pun memiliki sebuah twenty one. Bioskop di Amplaz sebenarnya cukup ramai, tapi memang mahal untuk ukuran anak kos. Tapi, saat ini kukira kegiatan menonton bioskop masih sering dilakukan anak muda di Jogja. Karena aku sudah lama tidak mengikuti perkembangan film (terutama di bioskop), kadang aku hanya sempat sekilas saja mengamati bioskop di luar Amplaz, yaitu bioskop kelas B tadi. Iklan-iklan film bioskop jenis itu masih bisa kita ikuti di harian Kedaulatan Rakyat. Aku sendiri hanya tahu bioskop semacam itu salah satunya adalah bioskop Ratih dekat viaduk Baciro. Yang lain mungkin aku belum mengamati saja.

Itulah beberapa bioskop yang kutahu. Memang aku tidak terlalu banyak memiliki pengalaman nonton film yang benar-benar bagus atau bermutu di bioskop. Pengalaman nonton di bioskop biasanya malah film-film Holywood atau yang sedang in waktu itu. Film yang lebih bermutu biasanya aku tonton di VCD atau DVD atau bahkan TV. Memang mengherankan, padahal nonton bioskop jelas lebih mahal. Mungkin karena waktu masih bisa nonton aku belum begitu mengerti soal film bagus. Akhirnya sudah setahun lebih aku tidak nonton bioskop. Kemarin aku memang nonton di semacam bioskop kecil di Taman Pintar, bioskop 3 dimensi. Tapi, itu tentu tidak termasuk bioskop. Karena kalau itu dimasukkan sebagai bioskop, aku harus menyebutkan nonton film gratisan di CCCL, di layar tancap, di gedung pertunjukan, atau pertunjukan film keliling yang mampir di sekolah atau gereja. Kadang aku memang ingin bisa punya kesempatan nonton film, entah di bioskop atau DVD lagi, tapi nonton TV saja sekarang hampir tidak sempat. Mungkin harus dipaksakan.

Tulisan orang lain yang masih berhubungan:
UP Theatre, the Legend of Cinema
Adios Solo Theatre
Warga Tak Bisa Lagi Nonton Film


Label: , , , , ,

Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...

Guru-guru SD


lanjutan dari kisah guru TK

Masa SD yang enam tahun lamanya itu mungkin hanya bisa ditandingi waktu kuliah. Tapi mungkin tidak juga, mungkin SD lebih diingat karena katanya ingatan itu seperti bak pasir, pasir yang pertama masuk akan menghuni bagian dasar bak, menjadi pernopangnya, sementara pasir yang berikutnya hingga butir-butir yang terakhir akan menjadi bagian yang diinjak.

Setahun di bangku TK, aku kemudian disekolahkan ke SD yang masih dalam naungan yayasan yang sama, tapi lokasi sekolahnya beda, SD Widya Wacana di daerah Pasar Legi, Solo, sekolah swasta yang dinaungi sebuah yayasan Kristen yang berafiliasi ke organisasi GKI (Gereja Kristen Indonesia), yayasan yang sama juga menaungi universitas Satya Wacana di Salatiga. Guru pertamaku, yang adalah wali kelasku di kelas A adalah bu Yanti. Lengkapnya Dewi Yanti. Guru yang satu ini bertubuh kecil, berambut keriting, mata bulat, dengan janggut maju alias agak nyakil. Satu hal yang barangkali akan selalu dikenang semua bekas muridnya adalah kesukaannya bercerita. Ia punya banyak sekali koleksi dongeng, tentang keluarga kerajaan, dunia hewan, atau kisah dari Alkitab dan belakangan kisah dari film yang ia tonton dengan beberapa modifikasi disesuaikan dengan usia anak-anak, warna ceritanya baik yang kebarat-baratan, kemelayu-melayuan hingga kehongkong-hongkongan. Dongeng yang masih kuingat di antaranya tentang kancil, pangeran kodok, sebuah fragmen dari cerita film aksi bikinan Hong Kong yang dibintangi Chow Yun Fat yang beberapa hari sebelumnya juga aku tonton bersama Papa, dan kisah tentang Abraham yang mengorbankan Ishak, yang aku ingat terutama karena bu Yanti mendeskripsikan, "kalau Ismael itu nakal kayak… (nama temanku), tapi kalau Ishak anaknya diam, kayak lalathijau ini, yang kalau dinakali diam aja." Aku tidak bisa membayangkan perilakuku waktu kecil, tapi hubunganku dengan bu Yanti aku rasakan cukup dekat, meski aku sedemikian pendiam. Bu Yanti ini memang adalah wali kelasku, ia sangatlah sabar dan mungkin tidak bisa marah. Satu kali ketika di kelas 1, aku lupa membawa sesuatu untuk mata pelajaran Prakarya (keterampilan tangan). Nah, karena harus menepati janji akan mencubit anak yang lupa membawa, bu Yanti berpura-pura mencubitku, tapi hanya dengan sentuhan ringan saja sambil tersenyum pula, meski juga dengan berkata "hayo, nggak bawa, elek ini." Meski demikian, aku toh tetap merasa sedikit terpukul, aku masih ingat aku mencoba memandangi tanganku yang habis 'dicubit' bu Yanti itu. Tidak ada bekasnya, tentu saja, tapi aku merasa ada bekas putih di kulitku, mungkin itu kapur, aku merasakan panas menjalari wajahku, mungkin karena malu, mungkin aku seperti pemain bola yang diving. Tapi di luar itu, pastinya hukuman pertamaku di sekolah itu masih kuingat sampai sekarang.

Di kelas 1, guru yang mengajar kami memang tidak banyak. Wali kelas mengajarkan hampir semua pelajaran. Pengecualian mungkin adalah pelajaran olahraga (dulu namanya ORKES = Olahraga dan Kesehatan, halah.. singkatan itu sampai SMP sungguh membuatku sering rancu dengan kata orkes dalam bidang musik). Pelajaran ORKES selalu diajarkan oleh guru pria. Entah dia atletis atau tidak, rasanya setiap guru pria di SD ku harus selalu bisa menjadi guru olahraga, terutama untuk olahraga praktik, bukan teori. Tapi, tingkah polah para guru pria waktu SD ini akan kuceritakan nanti. Kembali pada bu Yanti, selain sebagai guru, ia juga punya sambilan membuat dan menjual kacang telor. Kacang bersalut tepung dalam bungkus plastik kecil dengan tulisan dan gambar warna merah, sayang aku lupa nama mereknya, dijual seharga 25 rupiah per-bungkusnya. Aku tahu dan masih ingat sebab kacang itu juga titip dijual di kantin sekolah dan merupakan salah satu jajanan kesukaanku waktu itu.

Hubunganku, termasuk keluargaku, dengan bu Yanti tergolong baik. Ya, menjadi guru SD memang tidak mudah, selain berhubungan dengan si murid, kita juga harus bisa menjalin hubungan yang baik dengan keluarga terutama orangtuanya, apalagi di kota kecil seperti Solo, apalagi sebagai sesama etnis Cina, apalagi di tahun-tahun itu (1980-1990-an). Mama hampir selalu tahu perkembangan dan sikapku selama di sekolah, ia juga tahu dan membawa sebutan 'pak Kem' dan 'bu Kem' yang dicetuskan oleh bu Yanti di sekolah, jika ada anak yang jorok, tangannya kotor, bajunya kotor, dsb. 'Kem' maksudnya adalah singkatan dari 'kemproh.' Mama dan kakak-kakakku, saling tahu dan saling mengenal dengan bu Yanti. Tapi Papa tidak. Terjadilah, satu hari aku diajak Papa makan sate kambing (sekarang ketahuan kalau memang Papa sendirilah yang tidak bisa menjaga menu makannya sampai kena macam-macam penyakit, termasuk hipertensi), di warung itu aku bertemu bu Yanti dan suaminya juga sedang makan di sana. Bu Yanti menyapaku tapi aku justru seperti malu-malu dan enggan beramah-tamah dengannya. Sejujurnya, saat itu aku merasa bingung hampir tidak percaya karena melihat guruku berada di tempat selain sekolah, dengan pakaian biasa, makan makanan yang sama denganku. Begitulah pikiranku saat itu. Karena belum tahu kalau dia adalah guruku di sekolah, Papa sendiri mungkin tampak heran dan tidak bisa menduga siapa kira-kira wanita setengah baya dengan suaminya yang botak dan berkacamata tebal itu. Ia pun hanya menyapa seadanya. Setelah pulang dan aku bercerita pada Mama tentang pertemuanku dengan bu Yanti, barulah Papa menyadari dan merasa sangat rikuh karena merasa kurang bersikap sepantasnya pada waliku di sekolah itu, "oalah, kok nggak ngomong?, lain kali disapa dong, jangan diam saja ketemu gurunya, …" demikian nasihat Papa padaku. Sebagai orang kuno, Papa tampaknya memang memandang seorang guru sebagai sosok yang sangat mulia, begitu kira-kira.

Waktu aku duduk di kelas 3 atau 4, Bu Yanti sempat sakit dan absen mengajar beberapa bulan, atau bahkan setahun, untuk memulihkan kesehatannya. Barangkali ia bahkan sempat mondok di rumah sakit, aku lupa. Mungkin saja penyakitnya tidak jauh dari akibat kebiasaan pola makan yang sama seperti Papaku, yang jelas waktu aku kelas 5, ia sudah kembali mengajar meski tampaknya tidak menjadi wali kelas lagi, dengan tubuh yang tampak lebih lemah dan makin kurus. Ia mengajar aku di mata pelajaran Seni Musik waktu kelas 5. Tapi, bukannya mengajar, kami malah lebih sering mendengarkan dongeng-dongengnya. Bu Yanti mungkin memang benar-benar lebih suka mendongeng ketimbang mengajar mata pelajaran yang sudah ditetapkan sesuai kurikulum yang tidak mencerdaskan anak itu. Mungkin saja ia merasa pendidikan budi pekerti melalui dongeng akan lebih berguna bagi anak-anak. Selalu, setiap melihat para murid terasa jenuh atau tidak berminat mengikuti pelajaran dan mulia berulah, bu Yanti segera berkata, "Bu Yanti punya cerita, mau dengar nggak?" Atau mungkin ia mendongeng karena alasan praktis, ia tak ingin atau tak bisa marah pada anak-anak yang ramai atau susah diatur, jadi ia pun selalu menggunakan rayuan, "kalau kalian tidak mau diam, bu Yanti tidak akan cerita lho.. ayo diam dulu." Rayuan itu memang sering manjur, paling tidak untuk sebagian besar anak, apalagi untuk aku yang tergolong murid yang tak banyak tingkah dan tuntutan. Jadilah satu jam pelajaran digunakan untuk mendongeng, kadang sampai dua dongeng, kadang yang satu selesai, satunya lagi bersambung di pertemuan berikutnya. Satu kali, wali kelasku di kelas 5 itu, bu Tjien Hwa datang ketika bu Yanti sedang mendongeng. Saat itu, bu Tjien Hwa memergoki beberapa temanku yang memang termasuk golongan yang banyak polahnya sedang main silat-silatan di depan kelas, di belakang punggung bu Yanti yang mendongeng di hadapan sebagian anak yang mau mendengarkan. Waktu bu Yanti ada di sana, bu Tjien Hwa hanya terlihat kaget tapi tidak marah-marah pada anak-anak yang main silat-silatan itu. Tapi, di hari atau jam pelajaran berikutnya, bu Tjien Hwa langsung marah-marah pada anak-anak itu. Situasi itu memang lebih seperti situasi di rumah tangga, antara tamu dan tuan rumah, dan sebaliknya. Tapi memang demikianlah keadaannya di SD-ku saat itu.

Kira-kira waktu aku duduk di bangku SMP, aku mendengar kabar bu Yanti meninggal dunia. Guru yang sangat penyabar, yang lebih seperti seorang nenek dalam cerita, yang minatnya dalam mengajar mungkin hanya mendongeng dan menyanyi itu kalau tidak salah meninggal karena penyakit yang sama yang pernah membuatnya absen selama setahun untuk kemudian kembali lagi, tapi sebagai guru yang tak begitu penting. Aku merasa ia guru yang memang sangat mencintai anak-anak. Ia selalu mengakhiri dongengnya tepat ketika bel berbunyi, dengan mengucap kalimat penutup, "baar.. ceritane bu Yanti apik ya.." sambil tersenyum lebar dan tangan dilipat di depan. Kalimat yang diucapkan dengan lambat seperti tirai pertunjukan yang pelan-pelan ditutup. Aku mungkin sudah tak begitu ingat semua dongengnya, tapi sepertinya dialah satu-satunya orang yang mengenalkan dongeng lisan padaku.

Guru kedua adalah bu Jun, nama lengkapnya Juniasningsih. Dia adalah wali kelasku saat kelas 2, masih muda mungkin usianya sekitar 30-an tahun, rambutnya model keriting sebahu yang sedang ngetren waktu itu (lihat gaya rambut Merriam Bellina di film Catatan si Boy), pipinya agak tembem dan bergigi kelinci. Beda dengan bu Yanti yang sangat kekeluargaan, bu Jun pembawaannya lebih pendiam. Sebagai guru, sepertinya ia lempeng-lempeng saja. Bu Jun juga sabar, aku tidak ingat ia pernah marah-marah. Satu perbedaan antara bu Jun dan bu Yanti yang masih sangat kuingat adalah tulisan tangannya. Tulisan bu Yanti berkait, besar-besar, gaya khas orang tua, sedangkan tulisan tangan bu Jun rapi, kecil-kecil, dan tidak berkait. Ketika duduk di kelas dua itulah aku mulai meraih juara, cawu (caturwulan) 1, 2, 3 selalu juara 2 sekelas, dengan formasi juara 1 dan 3 juga selalu sama. Juara 1, Reine Wulandari, juara 2, lalathijau, dan juara 3, Eko Haryanto. Entah kenapa bisa begitu, dan karena prestasi yang selalu sama itu, tulisan pesan guru di raporku juga selalu sama, tapi sekarang aku lupa bunyinya. Hanya saja, aku ingat ketika di cawu 1 aku pertama kali meraih juara 2, sambil memberikan rapor, bu Jun sempat memelukku sambil mengucapkan "Selamat ya", tentu saja aku bertambah bangga waktu itu. Bu Jun sepertinya memang menyayangiku. Ia jugalah satu-satunya guru yang pernah mengunjungi rumahku. Waktu itu, aku tidak masuk karena sakit, jadi sepulang sekolah bu Jun menjengukku. Sakitku memang tidak parah, hanya sedikit panas, waktu bu Jun datang pun aku sedang berkeliaran di rumah dan melihat guruku datang aku jadi malu. Tapi, aku masih ingat sampai sekarang. Di kelas 2, karena keterbatasan ruang kelas yang dimiliki sekolahku, aku masuk mulai pukul 09.30. Dengan demikian, bisa jadi itu adalah setahun masa paling santai dan menyenangkan dalam hidupku sebagai anak SD, atau mungkin juga sampai sekarang. Meski demikian, masa itu seperti lewat terlalu cepat, jadi tidak begitu banyak yang bisa kuceritakan, termasuk tentang bu Jun ini.

Guru ketiga, yang adalah wali kelasku di kelas 3 dan 6 adalah salah satu guru SD yang paling kuingat. Nama lengkapnya Kwa Tjien Hwa, dipanggil bu Tjien Hwa (bacanya Cin Hua). Badannya besar, kulitnya hitam, wajahnya kasar dengan beberapa bekas jerawat, flek, dan tahi lalat, rambutnya keriting dipotong pendek model laki-laki, berkacamata putih, serta wajah jarang tersenyum (seingatku). Gambaran yang terekam tentang bu Tjien Hwa memang demikian, detail tapi juga terkesan buruk. Memang, bu Tjien Hwa adalah guru yang menurutku galak, termasuk pada aku yang pendiam ini. Tapi, bu Tjien Hwa memang mengidap hipertensi, pernah satu kali ia tiba-tiba minta izin pulang karena pusing akibat tekanan darahnya naik. Bu Tjien Hwa sering kuanggap sebagai musuh, apalagi karena dia tampaknya lebih concern pada mata pelajaran Matematika yang aku benci.

Pengalaman terburukku dengan bu Tjien Hwa terjadi ketika masih di kelas 3. Waktu itu, entah kenapa yang jelas untuk pertama kalinya aku lupa mengerjakan PR. Soal-soal hitungan itu adalah sisa pekerjaan kemarin yang karena waktunya tidak mencukupi sehingga diputuskan dipakai sebagai bahan PR. Maka, karena tidak ada yang bisa membantu, sewaktu bu Tjien Hwa menyuruh anak-anak untuk mengeluarkan PR dan menukarkannya pada teman sebelahnya, aku buru-buru mengisi kolom-kolom yang masih kosong dengan angka-angka jawaban yang ngawur, sementara teman sebelahku juga tampak sudah tidak sabar karena pekerjaanku tidak segera diberikan kepadanya. Waktu itu, anak kelas 3 SD, atau barangkali hanya aku dan temanku itu saja, mungkin belum berpikir tentang bekerjasama menutupi kesalahan temannya, misalnya dengan meminjamkan PR-nya untuk disalin. Waktu itu, bu Tjien Hwa berkeliling ke bangku anak-anak untuk melihat kalau-kalau ada yang belum mengerjakan PR-nya. Beberapa anak ada yang kedapatan belum mengerjakan dan dihardik disuruh mengerjakan di luar. Waktu mendekati bangkuku, dengan gemetaran aku memperlihatkan buku PR-ku padanya, setelah sebelumnya karena panik aku justru memasukkannya lagi ke dalam tas, bu Tjien Hwa pun harus meminta, "lalat, mana coba liat PR-nya, sudah bikin belum?" Dengan melihat sekilas, kolom-kolom terlihat penuh, bu Tjien Hwa pun membiarkan dan berlalu. Aku sungguh lega. Tapi sekali lagi, karena lugunya, meski yang memeriksa PR-ku adalah teman sebelahku, yang tentu saja harusnya cukup akrab denganku, sewaktu jawaban yang benar dibacakan, toh tidak ada pikiran untuk mengisikan yang benar ke kolom yang masih kosong, sekadar membantu teman… Maka, setelah jawaban diperiksa, dengan jumlah coretan salah yang tentu saja sangat banyak, satu persatu murid harus maju ke depan untuk diberikan paraf nilai dari guru. Ketika melihat lembar jawabanku yang sangat penuh coretan salah, dengan beberapa kolom yang masih kosong, bu Tjien Hwa langsung menghardik, "Haah, apa ini??! Keluar!!"

Hatiku pun hancur. Tapi penderitaan belum selesai, ketika aku bersama beberapa temanku yang memang termasuk golongan yang badung mengerjakan soal-soal itu di luar kelas, datanglah bu Endang Ekawati, kepala sekolah SD Widya Wacana 3 (meski bangunannya satu, SD Widya Wacana di Pasar Legi secara organisasi terdiri dari 3 cabang, disebut cabang nomor 3 (kelas A), 5 (kelas B), dan 6 (kelas C), jadi ada 3 kepala sekolah yang kantornya bersebelah-sebelahan, konon murid kelas A otaknya lebih superior dari kelas B dan B lebih dari C, tapi kini aku meragukannya dan merasa itu hanyalah salah satu perang urat syaraf, yang di antaranya didasari rivalitas Mama yang anaknya ada di kelas A terhadap Paman, Bibi serta sepupuku, Leo yang seumuran denganku tapi masuk ke kelas B). Bu Endang ini juga terkenal galak, dengan tampilan fisik agak mirip dengan bu Tjien Hwa, tapi sedikit lebih tua, kulit mukanya lebih rusak dan warna kulitnya lebih terang serta lebih necis dan suka berdandan. Ketika melihat murid-murid yang bandel itu, ia pun seperti mendapat mangsa. "Naaa… ada apa ini?" "Nggak bikin PR, Bu…" jawab bu Tjien Hwa mewakili kami. Lalu, bu Endang pun menjewer telinga kami satu persatu, dengan senyuman menyeringai. Waktu itu, sepertinya aku sudah atau nyaris menangis, jeweran bu Endang bagiku sangat sakit dan panas, jelas berbeda dengan 'cubitan' bu Yanti yang kuterima di kelas 1.

Sudah selesai? Ternyata masalah lupa mengerjakan PR itu masih berlanjut. Kali ini sampai di rumah. Tapi, untuk lebih jelasnya aku ceritakan latar belakangnya yang lengkap dulu. Jadi, sejak cawu 2, lagi-lagi karena keterbatasan ruang kelas, maka kelas 3A dan kelas 3B belajar dengan menggunakan kelas yang sama, meski tetap dengan dua orang wali kelas. Dalam satu kelas, berdesak-desakan sekitar 50 murid untuk kelas yang kapasitas normalnya mungkin hanya 30-an anak. Beberapa bangku tambahan dan beberapa anak yang hanya mendapat meja sangat kecil diusahakan, tentu saja setahuku belum ada anak yang cukup kritis mengeluh, entah kalau orangtuanya, pastinya sih ada. Sebagaimana diketahui, sepupuku Leo ada di kelas B, kami pun menjadi teman sekelas. Tentu saja ia tahu semua hal yang kualami di kelas, tapi meski demikian sepupuku ini rupanya bukan pengadu. Mungkin ia menceritakan itu pada orangtuanya, tapi tidak kepada Mamaku. Tapi, ada temanku yang bernama Markus Yulianto, adiknya Lukas Yulianto, rumahnya Kalioso. Markus digolongkan sebagai anak badung di sekolah (sehingga kalau tidak salah waktu kelas 3 atau 4, ia tidak naik kelas), sewaktu kejadian aku lupa bikin PR itu Markus juga tidak membuatnya, hanya saja ia sudah dipergoki dan disuruh keluar sejak saringan pertama. Tapi sesudah itu, tanpa kutahu motifnya, rupanya Markus memberitahukan kejadian itu pada kakakku yang waktu itu duduk di kelas 6 lingkup sekolah yang sama. Kakakku melaporkannya pada Mama dan akupun dimarahi. Terlebih saat itu, Leo sekeluarga sedang berkunjung di rumah. Karena untuk keperluan konfirmasi, Leo pun harus buka mulut menceritakan kejadiannya. Lalu, Mama langsung marah besar, mungkin karena malu, aku segera diharuskan mengerjakan semua PR yang ada, termasuk PR yang masih akan diperiksa beberapa hari ke depan. Ketika sampai di PR mata pelajaran IPA, Mama makin marah lagi saat mengetahui catatan IPA-ku masih kurang lengkap. Terpaksa aku meminjam dan menyalin catatan dari Leo. Dengan ditunggui Mama yang terus mengomel dan sesekali menjewer, aku menyalin catatan Leo tentang anatomi bunga itu sambil menangis-nangis, tak jauh dari situ Leo memerhatikan aku bersama mamanya. Mama jelas marah terutama karena malu dan kehilangan muka di hadapan adik iparnya.

Jika bu Yanti bertemu Papa di warung sate kambing, bu Tjien Hwa juga pernah bertemu Papa, tapi mereka bertemu di sekolah. Waktu itu adalah karena angkutan umum tidak berhasil kudapat, alhasil Papa mengantarkanku ke sekolah, meski sudah terlambat. Aku terlambat untuk kesekian kalinya. Aturannya kalau tidak salah waktu itu adalah jika terlambat aku harus mengetuk pintu dan kemudian berkata pada guru, "Bu Tjien Hwa, maaf saya terlambat." Ketika itu, aku sudah tahu kalau kali ini aku terlambat lagi. Karena aku memang takut dengan bu Tjien Hwa, maka aku berjalan agak pelan menuju pintu. Tiba-tiba dari belakang, ada seorang pria berbaju putih datang. Jujur saja semula aku tidak mengenali papaku sendiri. Pikiranku masih terasa sangat susah untuk mencerna kehadiran Papa yang masuk di halaman sekolahku. Papa yang mengetukkan pintu dan memintakan izin maaf serta alasan aku terlambat kepada bu Tjien Hwa. Kali itu, aku merasa sangat dibela menghadapi guru yang juga musuhku itu. Terlebih sebagaimana mestinya, bu Tjien Hwa menjadi ramah dan tidak memarahiku karena datang terlambat. Meski sorenya Papa mengatakan "tadi katanya kamu sudah sering terlambat," aku tetap masih terkesan dengan kehadiran Papa dan upaya turun tangannya secara langsung dalam kehidupanku di sekolah.

Untuk urusan mengambil rapor atau pertemuan dengan guru, Mamalah yang selalu datang. Dalam sejarah, Papa hanya sekali saja datang untuk mengambil rapor kakakku yang pertama. Ketika menanyakan hal itu pada Mama dan kakak pertamaku, jawabannya adalah karena Papa hanya akan mau mengambil rapor jika anaknya juara kelas. Kakakku yang pertama memang sering meraih juara kelas, paling tidak juara dua atau tiga. Di keluargaku, di antara lima, empat anak pernah meraih juara (maksudnya juara 1 atau 2 atau 3) ketika SD, selain aku dan kakak yang pertama, kakak yang ketiga dan keempat pernah satu kali meraih juara ketiga di kelasnya. Aku memang sempat protes karena selama duduk di bangku SD, paling tidak aku pernah 8 kali meraih juara, dengan satu kali juara kelas. Tapi, sepertinya alasan bahwa Papa hanya akan mau mengambil rapor jika anaknya juara kelas adalah alasan rekaan saja. Papa mungkin memang tidak suka melakukannya.

Bu Tjien Hwa mungkin adalah guru galakku yang pertama. Meski galak, tapi di kelas 3 itu aku juga meraih satu-satunya juara kelas. Secara keseluruhannya adalah sebagai berikut: cawu 1 juara 3, juara 1 diraih Reine Wulandari, juara 2 nya Eka Haryanta. Cawu 2, juara 1, juara 2 diraih Reine Wulandari, juara 3 nya Eka Haryanta. Cawu 3, juara 2, juara 1 diraih Eka Haryanta, juara 3 Reine Wulandari. Memang, selama 2 tahun urutannya terus begitu. Bedanya, bu Tjien Hwa seperti tidak ingin menganakemaskan semua anak. Ia galak dan sering memarahiku, di lain waktu Reine Wulandari juga kena semprot, hanya Eka Haryanta yang sepertinya agak jarang.

Dengan prestasi seperti itu, ketiga anak itu memang termasuk anak yang pendiam, sangat tipikal 'bukan? Reine, seorang anak perempuan yang tubuhnya bungkuk, mata besar, gigi tak rapi, suara cempreng keras, dandanan seperti orang tua. Eka Haryanta, anak yang kurus, mata melotot, telinga besar mengarah ke luar seperti alien, dengan bentuk wajah lonjong. Aku anak kurus, gigi tonggos besar-besar, rambut selalu diminyaki dan disisir rapi belah pinggir model jadul, alis yang sempat dicukur habis, juga pendiam dan penakut. Aku dan Eka sering pulang bersama dalam satu angkot, jurusan 07 karena rumah kami searah, sekitar 4 km dari sekolah. Kadang, kami memang mampir dulu ke rumah teman kami Tomas alias Tomi yang searah dan berjarak sekitar 1,5 km dari sekolah. Bedanya, Tomi si anak pasangan dokter itu dijemput dengan mobil dan sopir pribadi. Jadi, kadang mampir ke rumahnya dengan menumpang mobil Tomi jelas bisa menghemat biaya angkot, dari 100 atau 75 rupiah menjadi 50 rupiah. Kalau ke rumah Tomi, Eka kadang juga ikut main. Kadang, aku sendiri yang sepulang sekolah, setelah makan dan berganti pakaian, dari rumah pergi naik angkot ke rumah Tomi main sampai sore. Pernah juga sudah berencana hendak menginap tapi tiba-tiba sekitar jam 8 malam, Papa menjemputku dan kemudian memarahi, "punya rumah sendiri ngapain menginap di rumah orang lain…" Alasan Papa kadang memang tidak kuat. Tapi, aku diam saja, takut tentu saja. Teman lain yang sering menjadi tempatku dolan, adalah rumah Henri dan Franki, rumah keduanya dekat tapi tidak searah rumahku. Kadang aku diboncengnya naik sepeda, kadang naik mobil omprengan atau angkot jurusan 01. Kalau ke rumah Henri atau Franki ini, kelompoknya agak lain, kadang ditambah dengan Ferry, Very, Kiki alias Hengki yang rumahnya lebih menyimpang lagi arahnya. Selain main ke rumah mereka, mereka juga kadang main ke rumahku.

Kembali ke bu Tjien Hwa, sial memang, di kelas 6 bu Tjien Hwa menjadi wali kelasku lagi. Tapi, tampaknya waktu kelas 6 itu aku tidak begitu memiliki kenangan menakutkan dengan beliau. Barangkali karena aku sendiri sudah lebih besar dan sudah mulai belajar menghadapi berbagai jenis karakter orang. Kemungkinan lain adalah karena bu Tjien Hwa sendiri sudah mulai harus mengontrol emosinya setelah mengetahui dirinya mempunyai budrek alias hipertensi, serius, aku memang pernah mendengar ada orang mengemukakan alasan itu. Di kelas 6, atau tepatnya sejak cawu 3 kelas 4, aku sudah tidak pernah meraih peringkat 1, 2, atau 3 lagi. Terlebih di kelas 6, beberapa kali aku mulai disetrap atau disuruh keluar dari kelas karena tidak atau salah membawa atau lupa mengerjakan sesuatu, namun aku sudah mulai menyikapinya secara biasa, tanpa reaksi berlebihan seperti 3 tahun sebelumnya, apalagi karena setiap disetrap itu, beberapa teman mainku di atas sering ikut disetrap juga. Mama mungkin sering menganggap Henri atau Franki membawa pengaruh buruk bagiku. Terlebih melihat Franki, teman sekelasku tapi berumur 2 tahun di atasku, dengan badan yang jauh lebih besar dariku, ikut Taekwondo, dan kadang bertindak seperti tukang pukul yang membela teman-temannya yang kecil-kecil atau yang pendiam, termasuk aku jika diganggu beberapa anak badung di sekolah. Sementara Henri, anak yang tubuhnya seukuranku, sampai kelas 5 selalu dicukur gundul, Franki dan Henry mungkin hampir seperti Giant dan Suneo dalam versi lain. Suatu kali, ketika aku, Franki, dan Henri disetrap disuruh keluar kelas oleh bu Tjien Hwa, sementara aku masih terlihat agak terpukul dengan hukuman itu, Franki mengatakan, "jangan kuatir, lalat, nanti aku hajar dia (maksudnya bu Tjien Hwa)…" Tentu saja Franki hanya membual, tapi waktu itu aku pun merasa lebih tenang dan mengira rasa dendamku pada sang guru galak benar-benar akan dibalaskan oleh temanku itu.

Guru keempat di SD yang harus kusebut adalah bu Chris, aku lupa nama lengkapnya. Bu Chris adalah mamanya Hong Hong, teman sekelasnya Leo. Wajahnya sangat putih, sebagian karena pemakaian bedak yang amat tebal, bibirnya yang tipis selalu berlipstik merah, matanya sipit tapi bulu matanya panjang-panjang, suaranya agak serak dan suka berteriak, rambutnya kering seperti wig dan terlihat mulai beruban. Sebenarnya, bu Chris cukup humoris, tapi ia tidak bisa dibilang sabar juga, meski kalau denganku ia relatif cukup baik. Satu hal yang cukup khas adalah cara tertawanya, tawanya terkesan seperti mengejek, tidak feminim, bunyinya seperti orang bengek.

Bu Chris menjadi wali kelasku di kelas 4 dan 5. Ketika kelas 5, ia mengawali tahun ajaran baru dengan berkata, "kita ketemu lagi anak-anak, barangkali kalian mengharapkan akan memiliki wali kelas yang lebih cantik, tapi akhirnya kita ketemu lagi." Ketika itu, pembukaan tersebut disambut dengan ketegangan, termasuk untuk aku, mengira kalimat itu sebagai pertanda beliau akan marah atau tidak suka mengajar kami. Kata-kata bu Chris memang sering kali agak terlalu sinis untuk disampaikan kepada anak SD. Ia juga agak moody, kadang lucu dan baik, tapi kalau mungkin di rumah sedang ada masalah, di kelas ia bisa berubah menjadi galak dan dingin, kadang selama jam pelajaran ia juga sekadar menyuruh seorang anak menulis catatan di papan tulis sementara ia duduk di kursinya sambil menunduk memegangi kepala. Satu kali aku ingat ia pernah sengaja menyuruh temanku Dian mengambilkan sesuatu di ruang kantor bawah. Setelah Dian keluar, ia menutup pintu dan mulai menceritakan kejadian di kelas beberapa hari lalu, saat ia memarahi Dian dan mengucapkan satu perkataan (kalau tidak salah kata "goblok"). Rupanya Dian merasa sangat terpukul dengan ucapannya itu dan melaporkan pada orangtuanya. Lalu, orangtua Dian pun sepertinya tidak terima dan protes pada sekolah. Mungkin bu Chris sempat ditegur, tapi ia kukuh merasa tak pernah mengucapkan kata itu pada Dian. Ia merasa Dian telah melebih-lebihkan, jadi ketika Dian keluar itu, ia berusaha memengaruhi anak-anak yang lain bahwa Dian adalah anak yang suka berlebihan dan telah berbohong mengenai kejadian waktu itu. Setelah Dian kembali ke kelas, beberapa atau mungkin sebagian besar anak, terutama anak perempuan, memang segera mengambil sikap berbeda pada Dian. Ia seperti dikucilkan selama beberapa hari. Aku sendiri sudah lupa kejadian sebenarnya, entah bu Chris memang pernah mengucapkan kata itu atau tidak, yang jelas barangkali itu adalah satu pengalaman pertamaku berhubungan dengan intrik.

Seperti sudah kukatakan, bu Chris sebenarnya relatif baik denganku. Namun, kadang ia memang membuatku takut. Suatu kali ia memarahi Budiono alias Ming Ming, anak bertubuh kecil dengan kacamata rantai yang sering izin ke toilet. Karena berasumsi ia sudah ke toilet terlalu sering, bu Chris melarang Budiono ke toilet lagi. Beberapa hari kemudian, karena takut bernasib sama seperti temanku tadi, meski aku sudah sangat ingin kencing, aku terus menahannya. Namun, ternyata tidak bisa. Jadi, sementara bu Chris di depan sedang mengajar, aku menunduk dan celanaku makin lama makin basah, beberapa bahkan mengalir ke bawah bangkuku. Untuk menutupinya, aku mencoba menjatuhkan tasku yang berbentuk koper mini ke atas genangan air pesing itu. Tapi di belakangku. Franki dan Henri mengetahuinya. Franki tertawa-tawa, dan berteriak menyindir, "Asin ya?" Kelas pun menyadari kalau aku telah mengompol, bu Chris lalu mendatangiku dan tertawa. Untuk menutupi malu, aku pura-pura bilang bahwa aku tidak merasakan kalau aku kencing di celana. Alasan yang amat bodoh. Bu Chris berkata, "Lho kenapa tidak bilang mau ke WC?" Franki pun menjawab mewakili, "Lha, kemarin itu dimarahi.." Bu Chris hanya tertawa dan bilang "Kalau memang kebelet tidak apa-apa" lalu menyuruhku membersihkan diri di WC, sedang temanku Yiska disuruh meminjamkan celana di UKS. Di WC, jelas aku malu. Apalagi karena harus menunggu celana pinjaman untukku diambilkan oleh anak perempuan. Aku mengintip-intip dari belakang dinding kompleks WC dengan tidak memakai celana, menunggu Yiska mengulurkan celana kepadaku. Aku memang malu karena waktu itu aku sudah duduk di bangku kelas 5, tapi karena bu Chris tampaknya berhasil membuat kelas tidak lagi membahasnya, aku merasa agak tenang dan jelas lega karena yang kutahan-tahan akhirnya bisa dikeluarkan.

Bu Chris juga sering memberi julukan pada murid-muridnya. Ferry yang bernama Ferry Irawan Sunaryo (tentu Sunaryo adalah nama bapaknya), dipanggil dengan sebutan Cak Naryo. Temanku Hermawan yang pernah tidak naik kelas, yang sewaktu masih menjadi kakak kelasku sangat membuatku takut, dan konon sempat disekolahkan di sekolah anak nakal(?) di Jombang, dipanggil dengan sebutan Kucing. Khusus untuk Yohanes Hermawan ini, setelah menjadi satu kelas denganku, ternyata ia malah cukup baik denganku. Lalu ada juga Yohanes Haditomo, anak hitam berambut keriting, yang juga sempat tidak naik kelas, mendapat sebutan Brintik. Mulai kelas 4 dan 5, memang mulai banyak teman sekelasku yang adalah anak yang pernah tidak naik kelas, demikian pula banyak mantan teman sekelasku yang kemudian menjadi adik kelasku. Selain dua Yohanes, juga ada dua Didik, termasuk Ferry tadi. Semuanya termasuk akrab denganku, dengan kelompok main yang berbeda-beda. Kalau main bersama Franki dan Henri, biasanya diikuti Hengki, Ferry, kadang juga Ryan. Kalau main dengan Tomi, ada Eka. Kalau main dengan Didik. H, ada Rudi, Petrus, Haditomo. Main dengan Didik. T yang adalah sepupu dari sepupuku Leo alias Yoyo, ada Very alias A Fuk, Paulus Daniel alias Han Ciang, dan kadang kelompok dua Didik itu juga bercampur karena rumah keduanya cukup dekat.

Mana yang paling dekat? Aku tidak ingat lagi. Yang jelas, sedekat apapun hubunganku dengan mereka, hampir semua tidak pernah bertemu lagi denganku setelah lulus SD. Memang, waktu SMP kelas 1 aku masih sempat ke rumah Henri. Tapi ketika aku dan dia satu SMA, di kelas 1 ia masih cukup ramah, tapi di kelas 3, bahkan ketika kami sekelas, ia sudah sangat berbeda dan kami pun bukan lagi sahabat dekat. Ia bahkan berganti nama menjadi John (aku duga karena nama baptisnya Yohanes) dan dipanggil dengan sebutan si Jon yang cool, dandy, dan playboy. Masya allah. Dengan Didik T, ketika SMA, aku sempat bertemu dengannya di jalan. Ia naik mobil bersama teman-temannya dan aku naik motor, ia masih ingat denganku dan masih menyapaku dengan ramah dari dalam mobil. Tapi, kira-kira setelah kuliah, rupanya Didik telah menjadi pemakai narkoba, sempat menjalani rehab, dan sejak itu menurut informasi dari keluarga Leo, ia seperti orang yang agak bloon dan kalau diajak omong sering tidak nyambung. Demikian juga Franky, ketika di waktu SMP aku sempat aktif mengikuti latihan beladiri bernama KATEDA, ia menjadi pelatih di cabang lain (tapi kadang kami mengadakan latihan gabungan), ia masih mengenaliku tapi kami tidak bisa akrab lagi. Tapi Han Ciang agak lain dengan mereka. Kami bersekolah di SMA yang sama, juga sempat sekelas. Tapi, jika waktu SD ia adalah anak gemuk yang agak pendiam, waktu SMA, ia menjadi seorang remaja yang aktif, pemain bola yang cukup handal di sekolah, dan cukup gaul. Tapi ia masih cukup baik denganku. Yang lebih akrab waktu SMA justru Darwin, sepupu Han Ciang yang waktu SD tidak seakrab aku dan Han Ciang. Sementara Petrus sempat aku lihat menjadi tukang parkir di sebuah warnet dekat lingkungan rumahnya.

Kembali pada bu Chris, gosip sempat beredar sewaktu aku di SMP. Aku ingat kira-kira waktu aku di kelas 6, suami bu Chris meninggal dunia, lalu ketika awal SMP aku dengar bu Chris menikah lagi, konon dengan suami alm. Bu Yanti. Aku tak tahu kebenarannya. Yang jelas, alm. suami bu Chris dan suami bu Yanti memang tampilannya cukup mirip. Satu hal lagi yang kuingat tentang bu Chris adalah waktu kelas 5, cawu 1. Ketika akan menerima rapor, adalah hal yang mendebarkan untuk mengetahui siapa yang akan menghuni peringkat 1-10. Seperti malam penerimaan anugerah Oscar, beberapa gosip tentang siapa yang akan menjadi juara 1 cukup gencar. Dulu, waktu aku masih sering merebut juara 1, 2, dan 3, biasanya beberapa hari sebelum terima rapor, guru tata usaha atau wali kelas akan memberitahuku secara diam-diam, agar membawa foto hitam putih ukuran 3x4=1 lembar. Foto itu akan dipasang di piagam juara. Itulah pertanda aku akan meraih juara, tapi mengenai peringkatnya aku masih belum tahu sebelum rapor dibagikan. Di hari pembagian rapor itu, seperti biasa diawali dengan wali kelas memberi wejangan untuk kemudian setelah itu memanggil orangtua dan muridnya satu persatu menerima rapor. Ternyata, seperti seorang tukang sulap, bu Chris membuka bagian belakang papan tulis yang memang bisa bisa dibolak-balik, di situ ada 10 nama dari peraih rangking 1-10. Semua murid terpana, kenapa tidak ada satupun yang punya pikiran akan ada 10 nama itu di bagian belakang papan itu? Maka, pada dua cawu berikutnya, setiap menjelang hari pembagian rapor, papan tulis bagian belakang itu selalu diperiksa. Tentu saja tidak ada lagi tulisan seperti itu di sana. Begitulah bu Chris, labil tapi sering kali cukup menghibur.

Semua guru yang pernah menjadi wali kelasku sudah kubahas, jadi setelah ini adalah guru-guru di SD yang bukan wali kelas tapi cukup berkesan untukku. Nama pertama aku pilih pak Tomo saja. Guru olahraga ini masih muda. Badannya tinggi dan tegap dengan rambut yang tipis dan model agak kuno, ia juga selalu terkesan berpeluh, mungkin karena pakaian yang ia kenakan juga selalu tampak terlalu ketat di badan. Aku rasa ia tak begitu pintar dalam mengajar di kelas, tapi kalau di lapangan, para murid banyak yang mengaguminya. Ia agak keras dalam mengajar, tapi jarang menghukum, hanya sebatas menghardik dan memelototi. Ternyata, kakak pertamaku bilang kalau istri pak Tomo adalah mantan kekasih pacarnya kakak pertamaku (yang sekarang menjadi kakak iparku). Guru olahraga lain adalah pak Yo. Tapi, sebenarnya aku agak kurang yakin kalau pak Yo pernah mengajarku. Aku mengingatnya karena rumah kami sama-sama di Mojosongo. Tapi walau pak Yo bukan guruku di sekolah, ia adalah guru kakak-kakakku. Pak Yo juga pernah menjadi guru sekolah mingguku. Rumahnya dipakai sebagai tempat mengadakan kebaktian sekolah minggu. Dengan memakai nama pena Yoyok HS, pak Yo (kependekan dari Yohanes) juga menulis buku pelajaran olahraga dan bukunya dipakai sebagai diktat di sekolahku selama bertahun-tahun. Pak Yo adalah guru dengan tampilan yang sangat konvensional. Sangat khas Solo, suka memakai baju batik, rambut potongan khas tukang cukur bawah pohon, kumis rapi, dan gerak-geriknya tertata. Ketika perang Teluk jilid pertama berlangsung, pak Yo datang ke rumahku, hanya untuk menumpang melihat tayangan CNN dari parabola tentang jalannya perang itu. Gambar yang ditayangkan di CNN sebenarnya hanya latar gelap agak hijau dengan titik-titik bunga api berloncatan, tapi ia menganggap itu menarik. Sebenarnya ada seorang guru olahraga lagi, tapi aku lupa namanya. Sebenarnya pak guru itu adalah guru matematika, tapi seperti sudah kubilang, di SDku semua guru pria harus bisa mengajar olahraga. Jadi, meski sudah memakai baju kaos dan celana training, postur tubuh pak guru itu, dengan perut buncit dan tangannya yang kecil terlihat tidak meyakinkan.

Guru pria lain yang kuingat ada dua, keduanya adalah kepala sekolah, pak Sardi dan pak Petrus. Pak Sardi bernama lengkap Sardipon bla bla bla… Ia selalu menceritakan bahwa tambahan 'pon' itu diberikan karena ia dilahirkan pada zaman Jepang (Nipon). Pak Sardi orangnya gemuk, pipi besar, mukanya hitam, berkumis tipis, kacamatanya berframe tebal warna coklat gelap senada dengan warna kacanya. Ia pernah mengajar di kelasku sebagai guru pengganti di pelajaran Matematika karena bu Tjien Hwa mendadak izin pulang karena pusing tekanan darahnya naik. Meski tidak galak, tapi ia juga tetap tegas, atau setidaknya kami semua agak takut dengannya. Kepala sekolah kami sendiri gitu loh… Sebagai kepala sekolah Widya Wacana 3 (kelas A, kelasku), ia menggantikan bu Endang kira-kira sejak aku di kelas 4. Pak Sardi juga adalah pakdenya Wilis, temanku beda kelas. Wilis adalah anaknya Pak In, guru juga, mengajar di Widya Wacana Warungmiri, dan sepupu Yiska, teman sekelasku yang adalah anaknya bu Naomi, guru di TK ku tapi kemudian juga mengajar di SD ku. Jadi, ada semacam klan keluarga guru di sekolah kami.

Kepala sekolah Widya Wacana 5 (kelas B) adalah pak Petrus, lengkapnya Petrus Sutimin. Ia lebih fleksibel lagi, kalau tidak salah ia juga pernah menjadi guru SMP. Pak Petrus orangnya tinggi dan kurus, rambutnya selalu tersisir rapi, hidung mancung, muka dan kepala kecil, dagu berwarna kehijauan, bekas brewok yang dicukur habis, giginya kelinci, dan ke mana-mana mengendarai vespa. Pak Petrus tinggal di daerah Mojosongo juga. Dari dalam angkot, aku sering melihatnya mengendarai vespanya. Aku sama sekali tak pernah diajar pak Petrus, tapi kakak-kakakku pernah, baik ketika SD atau SMP. Kalau kepala sekolah kelas A adalah bu Endang lalu pak Sardi dan kepala sekolah B adalah pak Petrus, maka kepala sekolah kelas C di masaku adalah bu Febe, biasa dipanggil bu Fe. Bu Fe membuka lembaga kursus semua mata pelajaran bernama Vita Class. Kalender dari Vita Class aku ingat menghiasi setiap kelas di sekolahku. Bu Fe orangnya putih, rambut keriting, dan kabarnya cukup galak. Kini, rupanya ia masih aktif dan menjadi kepala sekolah SD (atau TK?) Pratama di Solo Baru, sekolahnya dua keponakanku. Jadi, ia menjadi kepala sekolah atau paling tidak pernah mengajar dua generasi karena kakak pertamaku (ibu dari dua ponakanku itu) juga adalah mantan anak didik bu Fe juga.

Sedikit lepas dari konteks guru, aku juga ingat pak Pono, papanya temanku Amelia. Pak Pono kalau tidak salah adalah ketua Yayasan Widya Wacana waktu itu. Wajahnya sangat mirip dengan Amelia, temanku yang sebenarnya termasuk pendiam tapi agak manja dan tidak begitu ramah. Satu kali kalau tidak salah bu Tjien Hwa pernah memarahi Amelia karena satu kesalahan, dan bu Tjien Hwa juga menyebut-nyebut kalau ia tak takut meskipun papa Amelia adalah pak Pono yang bahkan dihormati oleh kepala sekolah. Mungkin bu Tjien Hwa memang benar-benar takut kalau dilaporkan dan ada permainan kekuasaan waktu itu. Ketika kelas 3, Amelia juga pernah merayakan ulangtahunnya di sekolah, dengan dihadiri bu Endang sang kepala sekolah serta papanya, tentu saja. Hidangan waktu itu adalah sup jagung yang dimasak seperti sup asparagus dan sempat membuatku kecanduan. Tapi, kalau makan sup jagung di manapun saat ini, aku justru sudah tidak suka, hanya kenanganku di masa SD itulah yang membuatku kadang tergoda untuk mencicipi menu sup jagung. Meski ketika SD, sering ada pembagian bungkusan berisi berbagai makanan kecil dari temanku yang sedang berulangtahun, kehadiran bu Endang dan adanya hidangan khusus yang rupanya dimasak sendiri oleh bu Pono serta pemakaian jam pelajaran lebih lama dari acara ulangtahun teman-teman yang lain adalah keistimewaan tersendiri untuk seorang anak ketua yayasan. Acara ulangtahun sendiri memang menyenangkan. Biasanya, kami sudah tahu kalau di jam terakhir pelajaran sudah ada bungkusan tas kresek besar di bawah meja guru. Dan beberapa saat menjelang pulang, pintu kelas akan ditutup oleh anak yang berulangtahun. Lalu wali kelas akan mengumumkan kalau si A berulangtahun. Dinyanyikan lagu Selamay Ulang Tahun, lalu Happy Birthday to You, disambung Panjang Umurnya, diakhiri dengan wali kelas berteriak "hip.. hip" dijawab serentak oleh kelas "huraaa..." Setelah semua seremoni sederhana itu dijalankan, murid yang lain maju satu persatu untuk menerima bungkusan plastik berisi berbagai makanan kecil, kadang dengan pita warna-warni, sambil satu persatu juga menyalami si birthday girl/boy. Aku rasa tradisi seperti itu masih tetap terjadi sampai sekarang.

Beberapa guru SD lain yang aku ingat mungkin tidak pernah mengajarku, atau pernah mengajar sebagai guru pengganti. Yang pertama adalah bu Nunik. Guru yang hitam, berambut keriting, berkacamata, mukanya selalu terlihat berminyak, apalagi dengan bibirnya diberi lipstik tebal. Kakakku yang keempat sepertinya membual saat mengatakan kalau bu Nunik pernah menggambar di papan sambil menyuruh kelas menebak gambar apa itu, dan ternyata yang ia gambar adalah pantat orang sedang berak, lengkap dengan e'eknya. Tapi, sekali lagi waktu itu aku agak percaya juga dengan kakakku itu. Hanya kabarnya bu Nunik memang suka ngomong yang jorok-jorok. Guru kedua adalah bu Marsini, dia sebenarnya adalah wali kelas kakakku yang keempat tadi. Bu Marsini (dipanggil bu Mar) tampangnya sangat keibuan. Rambut digelung dan beberapa sudah beruban, kacamata tebal warna coklat seperti punya pak Sardi, kulit putih karena bedak, hanya kabarnya ia agak galak. Guru selanjutnya adalah pak Pramono (dipanggil pak Pram). Dia adalah guru favorit kakakku yang kedua. Waktu aku masih kelas 3 atau 4, ia mengajar di kelas 6. Orangnya tinggi, bibirnya tipis, rambut hitam berbelah pinggir dan selalu rapi, sepertinya masih cukup muda. Ada juga guru favorit kakakku yang ketiga. Namanya Pak Zakaria (dipanggil pak Sak). Sebenarnya ia tidak mengajar di sekolahku tapi di Widya Wacana Warungmiri. Pak Sak orangnya agak tinggi, model rambutnya seperti pak Tomo, hanya saja ia berkumis. Aku selalu membayangkan pak Tomo adalah pak Sak waktu muda dan sebaliknya. Kakakku senang dengan dia karena pak Sak yang mengajar matematika suka memberi hadiah pulpen atau pensil atau hadiah lain kepada anak yang nilainya bagus atau yang bisa menjawab pertanyaannya. Tampaknya, kakakku itu cukup kuat di mata pelajaran matematika sehingga pernah mendapat hadiahnya. Pak Sak sekarang masih eksis dan cukup dekat dengan keluarga suami kakakku yang kedua. Ia sekarang menjadi pendeta, bahkan memimpin doa saat upacara perkawinan kakakku yang kedua tadi. Selanjutnya, ada juga bu Kim, bukan kependekan dari Kimberly tapi sebuah nama Tionghoa yang terdiri dari tiga suku kata. Aku ingat itu karena ada merek kue Tiong Ciu Pia (kue bulan) yang namanya Kim Hwa (aku mengingatnya sebagai nama kedua guru kelas 3 yang kebetulan waktu itu kelasnya digabung, yakni bu Kim dan bu Tjien Hwa). Beda dengan bu Tjien Hwa, bu Kim yang mengajar kelas 3B lebih pendiam dan lebih sabar. Dia adalah wanita yang mungkin seumuran dengan bu Tjien Hwa, hanya saja kulitnya lebih terang, tubuhnya kurus tinggi, rambut lurus sebahu, wajah seperti beberapa saudaraku dari pihak ibu yang berasal dari Kalimantan. Di kelas 3 itu, aku sering iri dengan Leo karena wali kelasnya adalah bu Kim sementara aku harus sering bertemu bu Tjien Hwa yang galak. Guru selanjutnya yang cukup berkesan adalah bu Gwat. Ia tidak pernah mengajarku, tapi mengajar kakakku yang keempat. Bu Gwat sudah tua, bertubuh pendek dan gemuk sehingga kalau menulis di papan tulis ia harus menaiki sebuah injak-injakan kecil. Jika bertemu di luar, ia jauh lebih seperti seorang nenek biasa ketimbang seorang guru. Aku juga sudah membahas tentang bu Naomi, tapi sebagai tambahan, aku ingat ketika di SD bu Naomi pernah menjadi guru pengganti di kelasku yang antara lain berisi putrinya Yiska. Aku merasakan suasananya memang agak canggung, apalagi karena ia juga menunjuk anaknya untuk mengerjakan sesuatu, dan memarahi dengan cara seorang ibu memarahi anaknya, saat ia melakukan satu kesalahan. Hal itu terjadi waktu SD sehingga rasanya tak bisa kuceritakan dalam tulisan tentang guru TK.

Selain guru-guru, aku juga ingat beberapa nama pegawai di sekolah yang bukan guru atau kepala sekolah. Ada pak Kadim, pesuruh sekolah alias pak bon. Dia adalah pak bon untuk kelas A, begitu menurutku. Sementara untuk kelas B, ada bapaknya Heni temanku dan Elia temannya kakakku, namanya lupa. Bapaknya Heni ini meninggal dunia akibat kecelakaan sehabis ia menonton wayang kulit. Ia yang menaiki sepeda angin ditabrak oleh motor (atau mobil?) sampai meninggal dunia. Jika pak Kadim orangnya pendek, matanya ngantuk, dan kulitnya agak terang, bapaknya Heni ini bertubuh kurus tinggi dan berkulit gelap, seperti kedua putrinya. Aku juga ingat pak Yap, petugas perpustakaan di sekolah. Orangnya hitam, rambutnya sudah banyak yang putih tapi selalu rapi diminyaki dan disisir ke belakang. Ia juga mengenakan kacamata dengan lensa dan frame yang tebal, yang selalu dipakai melorot, sehingga jika melihat kepalanya menunduk sambil bola mata melirik ke atas. Ia agak galak, terutama jika anak-anak ribut di perpustakaan atau terlambat mengembalikan buku/majalah yang dipinjam pulang. Perpustakaan SDku sebenarnya hanya menempati satu ruangan saja dengan raknya menempati seluruh sisi dinding. Tapi ruangan itu bersih, yang mau masuk harus melepas sepatu atau sandalnya karena lantainya dilapisi karpet. Di sana ada TV dan video beta yang pernah memutar video Ten Commandements buatan lawas itu dalam beberapa hari. Semua anak berteriak ketika adegan laut Merah terbelah. Lalu, setelah TPI menyiarkan film Mahabharata setiap Sabtu siang, TV itu selalu menyetelnya dan sambil menunggu dijemput aku sering menonton di situ. Film kolosal yang sangat panjang dan agak kurang kumengerti, satu-satunya yang kutunggu hanyalah adegan perang atau unjuk kekuatannya. Aku juga pernah berlatih untuk paduan suara yang akan mengisi sebuah acara radio. Meski sudah hapal dua lagu yang akan dibawakan itu, namun karena aku (dan juga Leo) pergi bersama keluarga dan rombongan rekan kerja Papa ke Parangtritis, kalau tidak salah untuk acara sepeda santai, maka kami urung datang ke stasiun radio itu. Barang pertama yang kupinjam pulang dari perpustakaan itu adalah majalah Bobo, setelah itu barulah Donal Bebek atau buku cerita rakyat. Perpustakaan itu juga pernah meraih juara tingkat kotamadya, kalau tidak salah sebagai perpustakaan teladan. Sebagai petugasnya, pak Yap memang sangat memelihara, bahkan protektif dengan perpustakaannya itu.

Aku juga ingat dengan pak Hono, dia adalah penjaga sekolah. Ia sudah sangat tua, memakai topi hansip dan berkemeja batik. Karena aku sering telat dijemput, pak Hono cukup hapal denganku. Bersama anak-anak lain, tas selalu kutaruh untuk dititipkan, kadang dengan tidak teratur, di depan, bawah, atau belakang meja tempat pak Hono duduk menjaga sekolah. Mestinya ia sering kesal atau khawatir dengan tas yang digeletakkan begitu saja oleh anak-anak yang belum mengenal tanggung jawab itu. Bagaimana kalau ada tas yang hilang atau paling tidak isinya hilang? Bukankah ia yang pasti akan pertama disalahkan oleh orangtua atau bahkan anak yang sembarangan itu tadi? Aku baru menyadari betapa aku menyusahkan pak Hono yang kadang memang harus marah-marah (sehingga kami kemudian menganggap dia galak) karena hal itu, kini di mana pun ia berada saat ini, maafkan saya Pak... Pak Hono, penjaga sekolah di SD dan TK jelas sangat sangat berbeda dengan bapak satpam yang menjaga SMP. Satpam itu memiliki gardu khusus, jaraknya hanya sekitar 7 meter dari bangku dan meja pak Hono. Satpam itu botak, hitam, beralis tebal, bahkan sepertinya dari kawasan timur Indonesia, dan masih muda. Mungkin karena menghadapi anak SMP lebih banyak tantangannya.

Kantin di sekolahku ada dua. Yang satu semestinya untuk SD, tempatnya jauh lebih kecil, sementara yang satu untuk anak SMP, meski anak SD juga sah-sah saja jajan di situ. Aku lupa penjaga di kantin SD, namun untuk yang berjualan di kantin SMP, aku ingat seorang wanita tua, gemuk, dan berkebaya putih, serta jarang kulihat ia berdiri apalagi berjalan, meski ia tidak lumpuh. Wanita itu dipanggil dengan sebutan 'encim.' Tampaknya ia adalah yang memiliki kantin itu, karena dia yang memegang kas. Duduk di balik meja dagangan yang panjang, yang bergerak hanya tangannya yang gemuk. Sementara di depan ada beberapa orang, tua dan muda yang melayani pembeli. Kantin di SMP lebih lengkap dan lebih disukai kalau Mama mentraktirku. Penyebabnya adalah di situ dijual masakan berkuah seperti soto, bakso, dan timlo meski porsinya tidak begitu banyak. Hingga aku kelas dua atau tiga, masih ada semangkuk soto tanpa nasi seharga 50 rupiah. Tidak begitu banyak tapi cukup untuk mengisi perut. Kalau ingin lebih kenyang, ada timlo atau soto campur nasi yang semula berharga Rp.75 lalu naik menjadi 100, kemudian 150 dan waktu aku kelas 6 menjadi 200. Jajanan di depan sekolah juga banyak. Salah satu yang cukup sering kubeli adalah es cendol pak Sadinu. Kadang saking kepinginnya, di siang yang panas, aku merelakan uang ongkos angkotku dipakai untuk membeli es yang antara lain terdiri dari janggelan, cendol, nangka, kacang hijau, semacam manisan buah kecil-kecil warna hitam, dan susu bendera. Harganya pernah 75 rupiah, lalu meningkat 100, 125, dan terakhir 150 rupiah. Jajanan lain yang di depan juga banyak yang kugemari seperti terang bulan, leker, gandos rangin, arum manis, babi kuah yang diwadahi daun, dll. Beberapa penjual ada juga yang agak seperti penipu. Biasanya penjual yang seperti itu masih muda, mangkalnya tidak lama, tidak bertahun-tahun seperti yang lainnya dan dagangannya juga mahal. Mereka ini misalnya penjual susu dalam kemasan yang mereknya aku lupa, juga seorang pemuda yang membawa berbagai macam game watch untuk disewakan. Beberapa game dihargai beberapa rupiah. Sebenarnya itu sah dan halal, namun banyak orangtua dan guru yang tidak suka karena membuat anak boros dan lupa waktu. Jelas, saat itu belum ada yang membayangkan akan ada playstation atau game online yang bisa membuat orang tanpa sadar bermain non-stop selama berhari-hari.

Weuw, ternyata panjang sekali tulisan tentang SD ini. Padahal masih cukup banyak yang bisa kuceritakan lagi, hanya saja sepertinya aku belum ingin. Tapi, tulisan panjang ini sudah mencakup cukup banyak tentang masa-masa SD-ku, terutama yang berhubungan dengan para guru-gurunya. Tentang teman-teman waktu SD jelas akan jauh lebih banyak dari ini. Tapi, mungkin kali ini aku membicarakan tentang guru dulu. Beberapa guru jelas ada, tapi aku lupa nama-nama mereka. Asal aku bisa mengingatnya, kalau sempat akan aku tambahkan lagi ke dalam tulisan ini. Tentang para guru waktu SMP bisa jadi akan lebih panjang lagi tulisannya, mengingat ingatanku lebih segar, gurunya lebih banyak, dan pikiranku sudah lebih mengerti ketimbang sebagai anak SD, tentu saja. Meski panjang, aku cukup senang saat menuliskan semua ini. Sebelumnya aku sempat melihat-lihat dan mencari di Google tentang berapa banyak tulisan mengenai para guru SD Widya Wacana ini telah dituliskan para mantan muridnya. Sejauh yang kutemukan, aku baru menemukan dua tulisan di dua blog saja, itupun relatif pendek-pendek. Aku kira, dengan segala kelebihan dan kelemahan mereka, dengan segala pengalaman baik dan pengalaman buruk yang pernah dialami murid-muridnya, para guru itu harusnya dikenang secara lebih pantas. Inilah caraku mengenang mereka, baik untuk mereka yang masih aktif, yang sudah pensiun, yang sudah alih profesi, dan terutama untuk yang sudah tiada, serta terkhusus untuk para mantan wali kelasku.

Label: , , , , ,

Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...


Web This Blog


XML

Powered by Blogger

make money online blogger templates




Free chat widget @ ShoutMix

Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign
Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign!



© 2006 perjalanan lalat hijau | Blogger Templates by GeckoandFly.
blog ini berisi catatan, kenangan, keluhan, caci maki, khayalan, pengakuan, tiruan, dan hasil kopi paste
blog ini tidak ada hubungannya dengan lalatx atau padepokan silat tertentu, pengelola sebenarnya tidak suka warna ijo!