Bioskop di Indonesia masih sangat menarik untuk dijadikan kajian sejarah atau paling tidak refleksi mengenai kekejaman kapitalisme. Sudah sering sekali aku melihat tayangan di TV tentang bioskop-bioskop yang pernah jaya, yang penuh dengan kisah heroik, yang kini sudah tutup atau sekarat digilas jaringan bisnis bioskop modern macam milik Sudwikatmono. Satu dari sekian banyak potret kekalahan sejarah dari uang. Seperti biasa, aku hanya akan sekadar menceritakan pengalaman dan kesan-kesanku (terutama saat ini) terhadap suatu tempat. Bioskop bagiku adalah sebuah pengalaman berada di ruang publik. Mungkin sudah sekian ratus film kutonton dalam hidupku, yang tentu saja tidak banyak yang masih bisa kuingat. Tapi, setiap kali menonton film di bioskop, ingatan akan film itu tidak akan hilang semudah ketika menonton film di rumah. Pertama tentu saja karena aku harus membayar tiket yang lebih mahal dari cara menikmati film lainnya. Kedua, karena aku tidak sering mengalami 2 jam berada di ruangan gelap dengan layar lebar, tata suara dolby stereo, dan bertemu dengan orang-orang asing.
Aku tidak yakin umur berapa aku pertama kali menonton bioskop. Yang aku ingat, Papalah yang sering mengajakku menonton bioskop ketika masih kecil. Alasan utamanya adalah karena, anak di bawah usia 7 tahun (atau 5 tahun?) tidak perlu membayar tiket. Papa dulu terutama sering mengajakku nonton di bioskop Star, di wilayah Widuran Solo. Selain bioskop, kalau tidak salah, di bangunan itu juga terdapat arena permainan, seperti bilyar atau bowling(?) selain kafe alias kantin. Tapi, aku juga sedikit tidak percaya pada ingatanku karena aku curiga ingatan masa kecilku tercampur dengan situasi di bangunan gedung lain yaitu (sekarang bekas) gedung Bengawan Sport Centre. Yang jelas, bangunan bioskop Star sekarang sudah menjadi sebuah gereja dengan konsep megachurch, tentunya dengan bangunan yang jauh lebih mewah, bahkan sudah dirombak total.
Tidak banyak film yang kuingat sebagai seorang anak seusia itu. Aku hanya ingat film aksi hero macam Rambo atau Predator kutonton di situ. Papa memang tidak perlu membeli tiket untukku, tapi ia tetap membelikan jajan untuk kumakan di bioskop. Satu kali, ia pernah mengeluh pada Mama karena saat menonton bioskop aku minta dibelikan permen (demikian istilah Papa) yang begitu mahal, namanya Silver Queen. Mungkin, harga Silver Queen yang baru muncul di pasar saat itu tidak beda jauh dengan harga tiket dewasa. Di bioskop Star itu juga, satu kali aku ingat pernah diajak menonton film perang. Aku lupa judul filmnya. Tapi, saat itu sepertinya aturan sudah mulai mengharuskan aku membayar tiket (barangkali setengah harga?). Namun, sepanjang film berlangsung, aku malah terus duduk menghadap belakang, melihat sinar dari proyektor di belakang, ketimbang menonton film yang tidak begitu kumengerti. Sepulang dari bioskop, Papa pun komplain. Sekali lagi, ia menceritakan pada Mama, bahwa aku diajak nonton kok malah melihat ‘wong ayu’ di belakang. Papa memang tipe yang selalu ingin memastikan anaknya menikmati yang ia berikan. Meski sering kali yang ia berikan tidak sesuai dengan selera si anak. Makanya, setiap kali pulang nonton, di jalan ia selalu bertanya, “Piye film e? Apik ndak?”, dan aku pun sering kali hanya bilang, “apik” lebih karena takut mengatakan yang negatif.
Selain Star, bioskop-bioskop besar di Solo pada era 80an itu antara lain, Dhady Theatre, Ura Patria (UP) Theatre, President Theatre, Galaxy Theatre, Solo Theatre, Nusukan Theatre, Rama Theatre, dan Regent Theatre yang tidak pernah aku tahu tempatnya. Di masa itu juga, cara mengiklankan film juga cukup berkesan. Satu dengan memasang papan setinggi satu meter di wilayah-wilayah yang strategis. Papan itu bagian atasnya bertuliskan nama bioskop, serta jam main filmnya (yang ini permanen). Lalu, di bawahnya ada lembaran tulisan yang menyolok, isinya antara lain judul film, nama pemeran utamanya, dan sedikit kata komentar. Info film baru akan ditempelkan di atas kertas yang lama, ditumpuk terus sampai cukup tebal. Jadi bunyi papan itu misalnya:
Cara pengiklanan kedua lebih berkesan lagi. Meski untuk yang satu ini aku jarang melihat karena rumahku saat itu di gang di daerah Nusukan lalu pindah jauh di Mojosongo, pinggiran kota. Caranya adalah dengan menggunakan sebuah mobil yang bagian luarnya diselimuti kain gambar film seperti yang juga dipasang di depan gedung. Di atas mobil kecil itu (biasanya mobil colt Suzuki yang biasa disebut mobil trontong karena bunyinya tron tong tong tong tong) ada sebuah corong. Lalu, sambil berkeliling kota, orang di dalam mobil itu mengiklankan filmnya dengan nada seperti penyiar laporan pandangan mata sepakbola, ditambah dengan suara latar ledakan dan desing peluru (kalau film perang) serta musik latar. Tidak hanya itu, dari dalam mobil juga disebarkan kertas-kertas (glossy) kecil iklan film itu, bergambar lagi! Aku bayangkan kalau itu terjadi di zaman sekarang, dengan harga BBM dan ongkos cetak sedemikian, tentu akan sangat besar biaya yang harus dikeluarkan si pemilik bioskop untuk mengiklankan filmnya. Sepupuku yang tinggal di tengah kota adalah yang akan segera lari keluar begitu terdengar suara dari corong loudspeaker itu, bahkan ia rela mengejar sambil berteriak, “mintaaa” demi mendapat kertas kecil itu.

Setelah aku makin besar sehingga harus membayar tiket, Papa agak jarang mengajakku nonton. Selain di Star, aku ingat pernah diajak Papa nonton di Dhady Theatre di jalan Slamet Riyadi, yang hanya dipisahkan jalan yang termasuk wilayah Pasar Pon. Dhady Theatre sudah lama tutup dan kini menjadi rumah makan es krim (entah kalau es krim itu juga sudah tutup). Aku tidak ingat film yang kutonton, tapi yang jelas waktu itu aku terpaksa menonton cuplikan film (istilah Papaku adalah ekstra) Malam Jumat Kliwon. Aku ingat bahkan kakiku sampai gemetaran naik turun (seperti adegan di film Mr. Bean) saking takutnya. Meski aku masih ingat, adegan film saat itu sudah berganti saat Sundel Bolong mengerjai Doyok yang berperan sebagai tukang ojek, di mana Doyok kemudian tiba-tiba terbang dengan berkostum Superman, dll. Mungkin suara cekikikan itu yang lebih membuatku takut setengah mati. Lain lagi dengan bioskop UP. Bioskop yang didirikan para veteran Tentara Pelajar ini memang sangat diingat oleh banyak anak SD di Solo sebagai tempat mereka diwajibkan menonton film-film macam Tjoet Njak Dien, Janur Kuning, dll. Tapi, aku tidak ingat pernah mengalami itu. Entah karena sekolahku tidak (lagi) menerapkannya atau karena aku berhalangan mengikutinya.
Pengalamanku dengan bioskop UP yang sangat kuingat bukanlah waktu menonton film. Tapi, kegiatan di sekitar gedung itu. Kebetulan tempat nongkrong Papa adalah di warung gudeg di samping bioskop itu. Selain makan, Papa bisa mengobrol, membaca koran/majalah di kios dekat situ, mendengarkan lagu dari toko kaset, dan tentunya urusan judi. Aku beberapa kali diajak makan di warung gudeg itu. Selain gudeg, juga ada makanan seperti klepon, cenil, getuk, dll. Karena sudah akrab dengan si pemilik warung, Papa lalu memanfaatkannya dengan minta sisa-sisa makanan bekas pengunjung warung supaya dibungkus untuk dibawa pulang sebagai makanan anjing-anjing di rumah. Aku memang agak jijik dengan bau sisa nasi gudeg itu yang harus dibilas beberapa kali bila kena tangan. Tapi, kadang kala makanan anjing-anjingku pun bisa lebih enak dari si pemiliknya, karena beberapa kali masih ada beberapa telur utuh, paha ayam utuh, selain juga ada tusuk gigi (yang beberapa kali membuat anjingku tersedak) dan menemukan sendok. Papa juga pernah mengajakku membeli sepatu di toko sepatu kecil di depan UP. Begitulah, Papaku memang dikenal sebagai orang kuno. Meski saat itu, sudah mulai muncul toko sepatu besar atau bahkan Toserba, tapi Papa tetap memilih toko kecil yang sudah ia kenal, meski koleksi barangnya mungkin tidak seupdate dua jenis toko di atas.
Di antara waktu-waktu itulah, aku ingat suka mencuri lihat gambar poster film di UP. Apalagi ketika UP sudah mulai hanya memutar film Indonesia yang saat itu didominasi film silat, komedi, dan film drama panas. Hal yang sama sering kulihat di bioskop Rama Theatre ketika SMP. Di sana sering kulihat orang-orang berkerumun melihat poster film panas Indonesia atau Hong Kong yang dipasang di luar gedung. Poster film UP yang kuingat adalah film silat tentang pendekar kelabang atau semacamnya. Aku ingat karena gambarnya cukup mengerikan; sebuah tubuh (mayat) yang bagian kepala dan beberapa bagian tubuh lainnya dikerubuti kelabang, disaksikan seorang wanita berkemben dari jauh. UP Theatre kini sudah menjadi toko Courts yang banyak bikin orang terlibat utang. Beberapa kali aku menonton film di UP, semuanya adalah film Indonesia. Di antaranya adalah film Saur Sepuh dan filmnya Warkop tahun 90-an (di sana Papa hanya menunggu di warung gudeg sementara aku, kakak, dan sepupuku dibayari untuk melihat film). Aku kira UP semula tidak khusus memutar film Indonesia saja, tapi mulai tahun 90an bioskop itu hanya memutar film Indonesia. Dan karena film Indonesia sedang lesu, aku yang ketika SMU selalu lewat situ pernah menyaksikan gambar film yang tidak pernah diganti selama berbulan-bulan (atau bahkan tahun?). Sebelum tutup, UP sempat mengganti kebijakannya dengan juga memutar film India. Tapi, ketika aku di Surabaya, bioskop itu akhirnya tutup (atau ditutup), kabarnya setelah kalah di pengadilan.
Bioskop lain yang masih cukup berjaya hingga era 90-an setelah munculnya jaringan Cineplex 21 adalah President Theatre, Solo Theatre, Galaxy Theatre, dan Fajar Theatre. Konsep bioskop modern yang disebut 21 (twenty one) di Solo sempat diwakili oleh sebuah gedung bioskop besar bernama Atrium 21 di pemukimana elit Solo Baru. Bioskop itu memang seperti kapal Titanic. Sangat modern, sangat luas, sangat megah dengan 8 teater, update pemutaran filmnya kabarnya juga bersamaan dengan kota-kota besar. Tapi, umurnya tidak panjang. Kerusuhan Mei 1998 membuat bioskop itu sampai kini hanya tinggal puing-puing dan abu. Aku sendiri hanya sempat beberapa kali nonton di situ. Pertama kali nonton di Atrium adalah ketika aku mendapatkan tiket gratis dari menang di acara radio. Aku dan kakakku waktu itu menonton sebuah film komedi Hong Kong yang dibintangi Stephen Chow dan Ami Yip. Setelah itu, aku juga pernah nonton dengan teman-temanku, kalau tidak salah film James Bond. Kini, nama Atrium masih disebut-sebut untuk mengidentifikasi wilayah di perempatan Solo Baru yang berseberangan dengan Supermarket Alfa itu. Di depannya banyak penjual nasi liwet yang katanya enak.
Tapi, sebenarnya, yang dibakar di waktu kerusuhan itu juga bukan hanya Atrium. Fajar Theatre dan Studio Theatre pun ikut dibakar. Bahkan ada guyonan satir, bahwa para penonton bioskop Fajar yang saat kerusuhan antara lain sedang menayangkan film Titanic mungkin sedang menonton adegan saat kapal itu terbelah dua saat gedung tempat mereka juga terbelah dua oleh api. Memang tragis, tapi 2 nama yang terakhir mampu dibangun lagi. Meski tentu saja keadaannya tidak akan pernah sama. Atrium mungkin terlalu mahal untuk dibangun di tengah krismon yang tidak kunjung membaik sampai saat ini, meski kalau tidak salah dulu sempat dibangun kafe. Warga Solo mungkin terlalu trauma dengan bangunan yang telah terbakar itu. Apalagi konon, ada korban yang ikut mati terbakar di bangunan-bangunan itu. Jadilah, kabar mistis ikut beredar.
President Theatre lain lagi. Bioskop yang lokasinya aku lupa itu mati mengenaskan karena kebakaran beberapa waktu sebelum muncul kerusuhan. Kalau tidak salah ingat, di President aku pernah menyaksikan film tentang Arie Hanggara. Kali ini bersama Mama dan beberapa kakak. Sepertinya, aku masih TK waktu itu. Sedangkan di Galaxy Theatre, Papa juga sempat beberapa kali mengajakku. Bioskop yang berlokasi di jalan Perintis Kemerdekaan, dekat Purwosari itu setahuku adalah generasi terakhir bioskop kelas lumayan yang masih sering dikunjungi Papa sebelum krismon dan kemudian ia sakit. Terutama karena harga tiketnya yang masih terjangkau meski filmnya tidak ketinggalan dengan Solo dan Fajar. Kalau tidak salah, terakhir kali Papa mengajakku nonton film adalah di Galaxy itu juga. Waktu itu aku masih SD, sekitar kelas 5. Sebelumnya Papa menanyaiku, mau nonton? Aku jawab, mau. Tapi, ia mengingatkan, tapi filmnya horor lho. Sejenak aku ragu, tapi setelah ditertawakan Papa, aku pun mengiyakan. Film yang kulihat kalau tidak salah menduga adalah hasil adaptasi novel Stephen King, Cujo. Aku belum memastikan karena yang kuingat adalah judulnya sama. Kisahnya tentang anjing herder pembunuh. Jadi, sebenarnya bukan horor seperti Sundel Bolong, tapi thriller. Tapi toh aku agak berdebar juga saat melihatnya.
Bahkan di era kejayaan bioskop, Nusukan Theatre (letaknya tentu saja di wilayah Nusukan), dan Rama Theatre (samping gereja Katolik, dekat daerah Ringin Semar) sepertinya kalah bersaing dengan nama-nama di atas. Untuk bioskop Nusukan, aku tidak yakin pernah nonton di sana. Untuk Rama, mungkin saja pernah, karena aku ingat dengan interior bagian dalamnya, terutama bangku penontonnya yang dari kayu. Kalau tidak salah, aku menonton di Rama atas perintah sekolah (SMP?). Padahal, aku juga ingat kalau di masa SMP, sudah beredar guyonan tentang nonton di Rama, mulai dari sajian film panas sampai bau pesing dan bokong dikerubuti tinggi (semacam kutu busuk). Tapi, meski cukup lama sekarat, Rama Theatre termasuk salah satu bioskop jadul yang lama bertahan di Solo.
Solo Theatre yang terletak di dalam kompleks stadion Sriwedari sepertinya saat ini sudah tutup. Bioskop Solo sepertinya bukan tutup karena kalah bersaing dengan 21 (setelah Atrium hancur bioskop itu masih buka), tapi lebih dengan VCD dan DVD. Ketika masih SMU, dari segi film bioskop itu masih tergolong elit (meski tempatnya masih tergolong ketinggalan). Aku pun masih pernah nonton di sana. Waktu itu, iklan film mereka dipasang di sebuah tempat khusus di depan gedung Sriwedari sehingga bisa dilihat pelintas jalan Slamet Riyadi. Yang agak menyulitkan bagiku menonton di Solo Theatre adalah tempat parkir dan jalan keluar-masuknya yang menurutku agak membingungkan.
Sedikit kenangan masih kuingat dengan Fajar Theatre. Bioskop di depan gereja Katolik, St. Antonius Purbayan itu kini sudah tutup. Karena SMP ku tidak jauh dari situ, aku pun selalu melewati gedung bioskop itu. Aku dan teman-teman pernah nonton di situ, tapi lagi-lagi agak lupa filmnya. Ketika SMU, Fajar sudah mulai agak goyah. Apalagi setelah dibakar kerusuhan plus karena krisis moneter dan munculnya VCD. Maka, Fajar pun menyiasati dengan memutar ulang film-film lama. Tentunya film yang bisa menarik penonton, yaitu film yang agak panas dengan tiket miring. Sampai saat ini belum ada yang tahu kalau waktu SMU, aku sering membolos les bahasa Inggris dan malah nonton film di sana. Dengan harga 3000, harga tiket tentu saja masih bisa kujangkau. Lagipula, saat itu Fajar masih belum terlalu tergolong bioskop murahan karena masih memutar film baru (dengan harga tiket lain). Tapi, satu kali aku mencoba, ternyata sangat mengecewakan karena gambar filmnya sangat buruk. Film berjudul Sliver yang dibintangi Sharon Stone dan Isabella Rosellini itu gambarnya gelap karena mungkin sudah lama. Ceritanya ternyata juga lumayan bagus, dan nyaris tidak ada adegan yang kuharapkan (disensor). Maka, aku malah lebih ingat jalan ceritanya ketimbang gambarnya. Tapi, di lain waktu, aku juga sempat dua kali menyaksikan dua film panas Hong Kong yang cukup terkenal waktu itu. Kali ini, aku tidak begitu kecewa karena memang ada beberapa adegan yang cukup mengundang imajinasi seorang remaja. Keinginan untuk bolos les dan nonton itu sendiri kadang memang direncanakan setelah melihat iklan film bioskop di koran, tapi biasanya itu muncul spontan saja.
Saat ini, bioskop di Solo kalau tidak salah hanya tersisa bioskop-bioskop yang ada di plasa. Studio Theatre ada di Singosaren. Lalu yang masih berdiri tegak adalah bioskop di Solo Grand Mall (SGM) yang kadang menjadi pilihan orang Jogja karena harga tiketnya jauh lebih murah dari bioskop di Jogja. Aku belum pernah nonton di SGM. Tapi, di Studio pernah beberapa kali. Ketika SMP, Studio masih baru buka dan seperti biasa, segera diserbu warga Solo. Aku pernah menonton ramai-ramai bersama teman, berdua, tapi juga pernah sendirian saja. Studio juga pernah sempat meniru langkah Fajar Theatre, yaitu memutar film-film lama. Tapi, Studio hingga kini masih bertahan meski filmnya ketinggalan dibanding SGM. Kalau melewati kompleks pertokoan Singosaren saat ini, info film yang sering kulihat sedang diputar di Studio adalah film-film Indonesia selain film barat kelas B. Mungkin saja, bioskop itu mulai tertatih-tatih.
Memang, sepertinya sekitar tahun 1998, aku pernah dengar bahwa bioskop di Solo sempat mengalami periode kering. Bukan hanya kering penonton, tapi kering karena rantai distribusi film yang tersendat. Ketika di kota-kota besar film terus silih berganti, bioskop di Solo lambat mendapat jatah film baru. Itu yang menyebabkan mereka kadang terpaksa memutar film lama. Tapi, aku belum mencari konfirmasi data untuk ini.
Seperti banyak orang lain, aku mulai jarang nonton di bioskop sejak kemunculan VCD dan DVD. Ketika kuliah di Surabaya, kemunculanku di gedung bioskop hanya bisa dihitung dengan jari. Beberapa kali itupun lebih sering karena ditraktir nonton. Gedung bioskop di Surabaya memang bagus-bagus, meski tetap tidak ada yang semegah Atrium (yang sempat sering kubanggakan di hadapan teman-teman dari kota lain). Bioskop di Surabaya biasanya juga ada di bagian atas mall yang menjamur di sana. Bioskop mandiri (tidak bersatu dengan mall) di Surabaya yang cukup kuat adalah bioskop Mitra yang ada di area gedung Dewan Kesenian Surabaya. Tapi, sempat terdengar kabar bahwa bioskop ini dijual atau tutup. Aku tidak tahu nasibnya kini. Di Surabaya, yang kuingat adalah aku pernah nonton di bioskop di Mal Galaxy dan Tunjungan Plaza. Kebanyakan adalah film yang bukan favoritku, tapi menurut selera si penyandang dana. Tapi, aku tentu tetap menikmati. Ketika pertama kali nonton bioskop di Surabaya, ada dua hal yang membuatku terkesan karena berbeda dengan bioskop di Solo. Pertama adalah bahwa bioskop di Surabaya cukup ramai. Aku pun merasa anak muda Surabaya (atau kota besar) ternyata masih menganggap nonton bioskop sebagai satu kegiatan bagus untuk hiburan, berkencan, dsb. Mungkin karena dana mereka cukup untuk itu. Hal kedua, adalah seperti yang kurasakan di banyak tempat seperti mal atau kampusku di Surabaya. Banyak pemandangan bagus di bioskop Surabaya. Cewek-cewek berpakaian modis seksi dan cantik-cantik banyak bertebaran di lorong dan kursi tunggu yang melingkar di tengah.
Sebagaimana di tempat lain, ada juga beberapa bioskop kelas bawah di Surabaya. Film-filmnya tentu saja film lama yang bertema seks. Salah satu yang sempat dikeluhkan para orang tua adalah bioskop di Wonokromo. Ini karena kain-kain info film yang gambarnya wanita dengan baju tersingkap atau ciuman itu bisa dilihat dengan mudah saat orang mengendara dan naik ke viaduk Wonokromo. Bioskop macam itu memang masih cukup banyak di Surabaya. Dekat kampusku, ada bioskop Anta yang kabarnya beberapa konsumennya adalah mahasiswa kampus mahal itu juga. Salah seorang teman bercerita bahwa mahasiswa anak kos, nonton di situ dengan sembunyi-sembunyi. Entah dengan memakai jaket dan topi agar tidak kelihatan, tentu karena malu kalau ketahuan oleh temannya (meski kadang mereka saling memergokiku di dalam gedung). Aku juga pernah makan di sebelah gedung bioskop di wilayah Dinoyo. Makan mie sambil mendengarkan bunyi cekikikan lalu lagu-lagu latar karena di dalam sedang memutar film horor Indonesia.
Di Yogyakarta, sampai saat ini aku hanya pernah sekali saja nonton. Semula, aku benar-benar mengira (karena ucapan seorang teman) bahwa di Jogja tidak ada bioskop. Maksudnya bioskop 21. Tapi, setelah kemunculan Ambarukmo Plaza, Jogja pun memiliki sebuah twenty one. Bioskop di Amplaz sebenarnya cukup ramai, tapi memang mahal untuk ukuran anak kos. Tapi, saat ini kukira kegiatan menonton bioskop masih sering dilakukan anak muda di Jogja. Karena aku sudah lama tidak mengikuti perkembangan film (terutama di bioskop), kadang aku hanya sempat sekilas saja mengamati bioskop di luar Amplaz, yaitu bioskop kelas B tadi. Iklan-iklan film bioskop jenis itu masih bisa kita ikuti di harian Kedaulatan Rakyat. Aku sendiri hanya tahu bioskop semacam itu salah satunya adalah bioskop Ratih dekat viaduk Baciro. Yang lain mungkin aku belum mengamati saja.
Itulah beberapa bioskop yang kutahu. Memang aku tidak terlalu banyak memiliki pengalaman nonton film yang benar-benar bagus atau bermutu di bioskop. Pengalaman nonton di bioskop biasanya malah film-film Holywood atau yang sedang in waktu itu. Film yang lebih bermutu biasanya aku tonton di VCD atau DVD atau bahkan TV. Memang mengherankan, padahal nonton bioskop jelas lebih mahal. Mungkin karena waktu masih bisa nonton aku belum begitu mengerti soal film bagus. Akhirnya sudah setahun lebih aku tidak nonton bioskop. Kemarin aku memang nonton di semacam bioskop kecil di Taman Pintar, bioskop 3 dimensi. Tapi, itu tentu tidak termasuk bioskop. Karena kalau itu dimasukkan sebagai bioskop, aku harus menyebutkan nonton film gratisan di CCCL, di layar tancap, di gedung pertunjukan, atau pertunjukan film keliling yang mampir di sekolah atau gereja. Kadang aku memang ingin bisa punya kesempatan nonton film, entah di bioskop atau DVD lagi, tapi nonton TV saja sekarang hampir tidak sempat. Mungkin harus dipaksakan.
Tulisan orang lain yang masih berhubungan:
UP Theatre, the Legend of Cinema
Adios Solo Theatre
Warga Tak Bisa Lagi Nonton Film
Aku tidak yakin umur berapa aku pertama kali menonton bioskop. Yang aku ingat, Papalah yang sering mengajakku menonton bioskop ketika masih kecil. Alasan utamanya adalah karena, anak di bawah usia 7 tahun (atau 5 tahun?) tidak perlu membayar tiket. Papa dulu terutama sering mengajakku nonton di bioskop Star, di wilayah Widuran Solo. Selain bioskop, kalau tidak salah, di bangunan itu juga terdapat arena permainan, seperti bilyar atau bowling(?) selain kafe alias kantin. Tapi, aku juga sedikit tidak percaya pada ingatanku karena aku curiga ingatan masa kecilku tercampur dengan situasi di bangunan gedung lain yaitu (sekarang bekas) gedung Bengawan Sport Centre. Yang jelas, bangunan bioskop Star sekarang sudah menjadi sebuah gereja dengan konsep megachurch, tentunya dengan bangunan yang jauh lebih mewah, bahkan sudah dirombak total.
Tidak banyak film yang kuingat sebagai seorang anak seusia itu. Aku hanya ingat film aksi hero macam Rambo atau Predator kutonton di situ. Papa memang tidak perlu membeli tiket untukku, tapi ia tetap membelikan jajan untuk kumakan di bioskop. Satu kali, ia pernah mengeluh pada Mama karena saat menonton bioskop aku minta dibelikan permen (demikian istilah Papa) yang begitu mahal, namanya Silver Queen. Mungkin, harga Silver Queen yang baru muncul di pasar saat itu tidak beda jauh dengan harga tiket dewasa. Di bioskop Star itu juga, satu kali aku ingat pernah diajak menonton film perang. Aku lupa judul filmnya. Tapi, saat itu sepertinya aturan sudah mulai mengharuskan aku membayar tiket (barangkali setengah harga?). Namun, sepanjang film berlangsung, aku malah terus duduk menghadap belakang, melihat sinar dari proyektor di belakang, ketimbang menonton film yang tidak begitu kumengerti. Sepulang dari bioskop, Papa pun komplain. Sekali lagi, ia menceritakan pada Mama, bahwa aku diajak nonton kok malah melihat ‘wong ayu’ di belakang. Papa memang tipe yang selalu ingin memastikan anaknya menikmati yang ia berikan. Meski sering kali yang ia berikan tidak sesuai dengan selera si anak. Makanya, setiap kali pulang nonton, di jalan ia selalu bertanya, “Piye film e? Apik ndak?”, dan aku pun sering kali hanya bilang, “apik” lebih karena takut mengatakan yang negatif.
Selain Star, bioskop-bioskop besar di Solo pada era 80an itu antara lain, Dhady Theatre, Ura Patria (UP) Theatre, President Theatre, Galaxy Theatre, Solo Theatre, Nusukan Theatre, Rama Theatre, dan Regent Theatre yang tidak pernah aku tahu tempatnya. Di masa itu juga, cara mengiklankan film juga cukup berkesan. Satu dengan memasang papan setinggi satu meter di wilayah-wilayah yang strategis. Papan itu bagian atasnya bertuliskan nama bioskop, serta jam main filmnya (yang ini permanen). Lalu, di bawahnya ada lembaran tulisan yang menyolok, isinya antara lain judul film, nama pemeran utamanya, dan sedikit kata komentar. Info film baru akan ditempelkan di atas kertas yang lama, ditumpuk terus sampai cukup tebal. Jadi bunyi papan itu misalnya:
Bagian atas:
UP Theatre
3-5-7 -9
Bagian bawah:
Wen Piao, Chuck Norris
King Kong Lives
Panas! Menggairahkan!
UP Theatre
3-5-7 -9
Bagian bawah:
Wen Piao, Chuck Norris
King Kong Lives
Panas! Menggairahkan!
Cara pengiklanan kedua lebih berkesan lagi. Meski untuk yang satu ini aku jarang melihat karena rumahku saat itu di gang di daerah Nusukan lalu pindah jauh di Mojosongo, pinggiran kota. Caranya adalah dengan menggunakan sebuah mobil yang bagian luarnya diselimuti kain gambar film seperti yang juga dipasang di depan gedung. Di atas mobil kecil itu (biasanya mobil colt Suzuki yang biasa disebut mobil trontong karena bunyinya tron tong tong tong tong) ada sebuah corong. Lalu, sambil berkeliling kota, orang di dalam mobil itu mengiklankan filmnya dengan nada seperti penyiar laporan pandangan mata sepakbola, ditambah dengan suara latar ledakan dan desing peluru (kalau film perang) serta musik latar. Tidak hanya itu, dari dalam mobil juga disebarkan kertas-kertas (glossy) kecil iklan film itu, bergambar lagi! Aku bayangkan kalau itu terjadi di zaman sekarang, dengan harga BBM dan ongkos cetak sedemikian, tentu akan sangat besar biaya yang harus dikeluarkan si pemilik bioskop untuk mengiklankan filmnya. Sepupuku yang tinggal di tengah kota adalah yang akan segera lari keluar begitu terdengar suara dari corong loudspeaker itu, bahkan ia rela mengejar sambil berteriak, “mintaaa” demi mendapat kertas kecil itu.

Setelah aku makin besar sehingga harus membayar tiket, Papa agak jarang mengajakku nonton. Selain di Star, aku ingat pernah diajak Papa nonton di Dhady Theatre di jalan Slamet Riyadi, yang hanya dipisahkan jalan yang termasuk wilayah Pasar Pon. Dhady Theatre sudah lama tutup dan kini menjadi rumah makan es krim (entah kalau es krim itu juga sudah tutup). Aku tidak ingat film yang kutonton, tapi yang jelas waktu itu aku terpaksa menonton cuplikan film (istilah Papaku adalah ekstra) Malam Jumat Kliwon. Aku ingat bahkan kakiku sampai gemetaran naik turun (seperti adegan di film Mr. Bean) saking takutnya. Meski aku masih ingat, adegan film saat itu sudah berganti saat Sundel Bolong mengerjai Doyok yang berperan sebagai tukang ojek, di mana Doyok kemudian tiba-tiba terbang dengan berkostum Superman, dll. Mungkin suara cekikikan itu yang lebih membuatku takut setengah mati. Lain lagi dengan bioskop UP. Bioskop yang didirikan para veteran Tentara Pelajar ini memang sangat diingat oleh banyak anak SD di Solo sebagai tempat mereka diwajibkan menonton film-film macam Tjoet Njak Dien, Janur Kuning, dll. Tapi, aku tidak ingat pernah mengalami itu. Entah karena sekolahku tidak (lagi) menerapkannya atau karena aku berhalangan mengikutinya.
Pengalamanku dengan bioskop UP yang sangat kuingat bukanlah waktu menonton film. Tapi, kegiatan di sekitar gedung itu. Kebetulan tempat nongkrong Papa adalah di warung gudeg di samping bioskop itu. Selain makan, Papa bisa mengobrol, membaca koran/majalah di kios dekat situ, mendengarkan lagu dari toko kaset, dan tentunya urusan judi. Aku beberapa kali diajak makan di warung gudeg itu. Selain gudeg, juga ada makanan seperti klepon, cenil, getuk, dll. Karena sudah akrab dengan si pemilik warung, Papa lalu memanfaatkannya dengan minta sisa-sisa makanan bekas pengunjung warung supaya dibungkus untuk dibawa pulang sebagai makanan anjing-anjing di rumah. Aku memang agak jijik dengan bau sisa nasi gudeg itu yang harus dibilas beberapa kali bila kena tangan. Tapi, kadang kala makanan anjing-anjingku pun bisa lebih enak dari si pemiliknya, karena beberapa kali masih ada beberapa telur utuh, paha ayam utuh, selain juga ada tusuk gigi (yang beberapa kali membuat anjingku tersedak) dan menemukan sendok. Papa juga pernah mengajakku membeli sepatu di toko sepatu kecil di depan UP. Begitulah, Papaku memang dikenal sebagai orang kuno. Meski saat itu, sudah mulai muncul toko sepatu besar atau bahkan Toserba, tapi Papa tetap memilih toko kecil yang sudah ia kenal, meski koleksi barangnya mungkin tidak seupdate dua jenis toko di atas.
Di antara waktu-waktu itulah, aku ingat suka mencuri lihat gambar poster film di UP. Apalagi ketika UP sudah mulai hanya memutar film Indonesia yang saat itu didominasi film silat, komedi, dan film drama panas. Hal yang sama sering kulihat di bioskop Rama Theatre ketika SMP. Di sana sering kulihat orang-orang berkerumun melihat poster film panas Indonesia atau Hong Kong yang dipasang di luar gedung. Poster film UP yang kuingat adalah film silat tentang pendekar kelabang atau semacamnya. Aku ingat karena gambarnya cukup mengerikan; sebuah tubuh (mayat) yang bagian kepala dan beberapa bagian tubuh lainnya dikerubuti kelabang, disaksikan seorang wanita berkemben dari jauh. UP Theatre kini sudah menjadi toko Courts yang banyak bikin orang terlibat utang. Beberapa kali aku menonton film di UP, semuanya adalah film Indonesia. Di antaranya adalah film Saur Sepuh dan filmnya Warkop tahun 90-an (di sana Papa hanya menunggu di warung gudeg sementara aku, kakak, dan sepupuku dibayari untuk melihat film). Aku kira UP semula tidak khusus memutar film Indonesia saja, tapi mulai tahun 90an bioskop itu hanya memutar film Indonesia. Dan karena film Indonesia sedang lesu, aku yang ketika SMU selalu lewat situ pernah menyaksikan gambar film yang tidak pernah diganti selama berbulan-bulan (atau bahkan tahun?). Sebelum tutup, UP sempat mengganti kebijakannya dengan juga memutar film India. Tapi, ketika aku di Surabaya, bioskop itu akhirnya tutup (atau ditutup), kabarnya setelah kalah di pengadilan.
Bioskop lain yang masih cukup berjaya hingga era 90-an setelah munculnya jaringan Cineplex 21 adalah President Theatre, Solo Theatre, Galaxy Theatre, dan Fajar Theatre. Konsep bioskop modern yang disebut 21 (twenty one) di Solo sempat diwakili oleh sebuah gedung bioskop besar bernama Atrium 21 di pemukimana elit Solo Baru. Bioskop itu memang seperti kapal Titanic. Sangat modern, sangat luas, sangat megah dengan 8 teater, update pemutaran filmnya kabarnya juga bersamaan dengan kota-kota besar. Tapi, umurnya tidak panjang. Kerusuhan Mei 1998 membuat bioskop itu sampai kini hanya tinggal puing-puing dan abu. Aku sendiri hanya sempat beberapa kali nonton di situ. Pertama kali nonton di Atrium adalah ketika aku mendapatkan tiket gratis dari menang di acara radio. Aku dan kakakku waktu itu menonton sebuah film komedi Hong Kong yang dibintangi Stephen Chow dan Ami Yip. Setelah itu, aku juga pernah nonton dengan teman-temanku, kalau tidak salah film James Bond. Kini, nama Atrium masih disebut-sebut untuk mengidentifikasi wilayah di perempatan Solo Baru yang berseberangan dengan Supermarket Alfa itu. Di depannya banyak penjual nasi liwet yang katanya enak.
Tapi, sebenarnya, yang dibakar di waktu kerusuhan itu juga bukan hanya Atrium. Fajar Theatre dan Studio Theatre pun ikut dibakar. Bahkan ada guyonan satir, bahwa para penonton bioskop Fajar yang saat kerusuhan antara lain sedang menayangkan film Titanic mungkin sedang menonton adegan saat kapal itu terbelah dua saat gedung tempat mereka juga terbelah dua oleh api. Memang tragis, tapi 2 nama yang terakhir mampu dibangun lagi. Meski tentu saja keadaannya tidak akan pernah sama. Atrium mungkin terlalu mahal untuk dibangun di tengah krismon yang tidak kunjung membaik sampai saat ini, meski kalau tidak salah dulu sempat dibangun kafe. Warga Solo mungkin terlalu trauma dengan bangunan yang telah terbakar itu. Apalagi konon, ada korban yang ikut mati terbakar di bangunan-bangunan itu. Jadilah, kabar mistis ikut beredar.
President Theatre lain lagi. Bioskop yang lokasinya aku lupa itu mati mengenaskan karena kebakaran beberapa waktu sebelum muncul kerusuhan. Kalau tidak salah ingat, di President aku pernah menyaksikan film tentang Arie Hanggara. Kali ini bersama Mama dan beberapa kakak. Sepertinya, aku masih TK waktu itu. Sedangkan di Galaxy Theatre, Papa juga sempat beberapa kali mengajakku. Bioskop yang berlokasi di jalan Perintis Kemerdekaan, dekat Purwosari itu setahuku adalah generasi terakhir bioskop kelas lumayan yang masih sering dikunjungi Papa sebelum krismon dan kemudian ia sakit. Terutama karena harga tiketnya yang masih terjangkau meski filmnya tidak ketinggalan dengan Solo dan Fajar. Kalau tidak salah, terakhir kali Papa mengajakku nonton film adalah di Galaxy itu juga. Waktu itu aku masih SD, sekitar kelas 5. Sebelumnya Papa menanyaiku, mau nonton? Aku jawab, mau. Tapi, ia mengingatkan, tapi filmnya horor lho. Sejenak aku ragu, tapi setelah ditertawakan Papa, aku pun mengiyakan. Film yang kulihat kalau tidak salah menduga adalah hasil adaptasi novel Stephen King, Cujo. Aku belum memastikan karena yang kuingat adalah judulnya sama. Kisahnya tentang anjing herder pembunuh. Jadi, sebenarnya bukan horor seperti Sundel Bolong, tapi thriller. Tapi toh aku agak berdebar juga saat melihatnya.
Bahkan di era kejayaan bioskop, Nusukan Theatre (letaknya tentu saja di wilayah Nusukan), dan Rama Theatre (samping gereja Katolik, dekat daerah Ringin Semar) sepertinya kalah bersaing dengan nama-nama di atas. Untuk bioskop Nusukan, aku tidak yakin pernah nonton di sana. Untuk Rama, mungkin saja pernah, karena aku ingat dengan interior bagian dalamnya, terutama bangku penontonnya yang dari kayu. Kalau tidak salah, aku menonton di Rama atas perintah sekolah (SMP?). Padahal, aku juga ingat kalau di masa SMP, sudah beredar guyonan tentang nonton di Rama, mulai dari sajian film panas sampai bau pesing dan bokong dikerubuti tinggi (semacam kutu busuk). Tapi, meski cukup lama sekarat, Rama Theatre termasuk salah satu bioskop jadul yang lama bertahan di Solo.
Solo Theatre yang terletak di dalam kompleks stadion Sriwedari sepertinya saat ini sudah tutup. Bioskop Solo sepertinya bukan tutup karena kalah bersaing dengan 21 (setelah Atrium hancur bioskop itu masih buka), tapi lebih dengan VCD dan DVD. Ketika masih SMU, dari segi film bioskop itu masih tergolong elit (meski tempatnya masih tergolong ketinggalan). Aku pun masih pernah nonton di sana. Waktu itu, iklan film mereka dipasang di sebuah tempat khusus di depan gedung Sriwedari sehingga bisa dilihat pelintas jalan Slamet Riyadi. Yang agak menyulitkan bagiku menonton di Solo Theatre adalah tempat parkir dan jalan keluar-masuknya yang menurutku agak membingungkan.
Sedikit kenangan masih kuingat dengan Fajar Theatre. Bioskop di depan gereja Katolik, St. Antonius Purbayan itu kini sudah tutup. Karena SMP ku tidak jauh dari situ, aku pun selalu melewati gedung bioskop itu. Aku dan teman-teman pernah nonton di situ, tapi lagi-lagi agak lupa filmnya. Ketika SMU, Fajar sudah mulai agak goyah. Apalagi setelah dibakar kerusuhan plus karena krisis moneter dan munculnya VCD. Maka, Fajar pun menyiasati dengan memutar ulang film-film lama. Tentunya film yang bisa menarik penonton, yaitu film yang agak panas dengan tiket miring. Sampai saat ini belum ada yang tahu kalau waktu SMU, aku sering membolos les bahasa Inggris dan malah nonton film di sana. Dengan harga 3000, harga tiket tentu saja masih bisa kujangkau. Lagipula, saat itu Fajar masih belum terlalu tergolong bioskop murahan karena masih memutar film baru (dengan harga tiket lain). Tapi, satu kali aku mencoba, ternyata sangat mengecewakan karena gambar filmnya sangat buruk. Film berjudul Sliver yang dibintangi Sharon Stone dan Isabella Rosellini itu gambarnya gelap karena mungkin sudah lama. Ceritanya ternyata juga lumayan bagus, dan nyaris tidak ada adegan yang kuharapkan (disensor). Maka, aku malah lebih ingat jalan ceritanya ketimbang gambarnya. Tapi, di lain waktu, aku juga sempat dua kali menyaksikan dua film panas Hong Kong yang cukup terkenal waktu itu. Kali ini, aku tidak begitu kecewa karena memang ada beberapa adegan yang cukup mengundang imajinasi seorang remaja. Keinginan untuk bolos les dan nonton itu sendiri kadang memang direncanakan setelah melihat iklan film bioskop di koran, tapi biasanya itu muncul spontan saja.
Saat ini, bioskop di Solo kalau tidak salah hanya tersisa bioskop-bioskop yang ada di plasa. Studio Theatre ada di Singosaren. Lalu yang masih berdiri tegak adalah bioskop di Solo Grand Mall (SGM) yang kadang menjadi pilihan orang Jogja karena harga tiketnya jauh lebih murah dari bioskop di Jogja. Aku belum pernah nonton di SGM. Tapi, di Studio pernah beberapa kali. Ketika SMP, Studio masih baru buka dan seperti biasa, segera diserbu warga Solo. Aku pernah menonton ramai-ramai bersama teman, berdua, tapi juga pernah sendirian saja. Studio juga pernah sempat meniru langkah Fajar Theatre, yaitu memutar film-film lama. Tapi, Studio hingga kini masih bertahan meski filmnya ketinggalan dibanding SGM. Kalau melewati kompleks pertokoan Singosaren saat ini, info film yang sering kulihat sedang diputar di Studio adalah film-film Indonesia selain film barat kelas B. Mungkin saja, bioskop itu mulai tertatih-tatih.
Memang, sepertinya sekitar tahun 1998, aku pernah dengar bahwa bioskop di Solo sempat mengalami periode kering. Bukan hanya kering penonton, tapi kering karena rantai distribusi film yang tersendat. Ketika di kota-kota besar film terus silih berganti, bioskop di Solo lambat mendapat jatah film baru. Itu yang menyebabkan mereka kadang terpaksa memutar film lama. Tapi, aku belum mencari konfirmasi data untuk ini.
Seperti banyak orang lain, aku mulai jarang nonton di bioskop sejak kemunculan VCD dan DVD. Ketika kuliah di Surabaya, kemunculanku di gedung bioskop hanya bisa dihitung dengan jari. Beberapa kali itupun lebih sering karena ditraktir nonton. Gedung bioskop di Surabaya memang bagus-bagus, meski tetap tidak ada yang semegah Atrium (yang sempat sering kubanggakan di hadapan teman-teman dari kota lain). Bioskop di Surabaya biasanya juga ada di bagian atas mall yang menjamur di sana. Bioskop mandiri (tidak bersatu dengan mall) di Surabaya yang cukup kuat adalah bioskop Mitra yang ada di area gedung Dewan Kesenian Surabaya. Tapi, sempat terdengar kabar bahwa bioskop ini dijual atau tutup. Aku tidak tahu nasibnya kini. Di Surabaya, yang kuingat adalah aku pernah nonton di bioskop di Mal Galaxy dan Tunjungan Plaza. Kebanyakan adalah film yang bukan favoritku, tapi menurut selera si penyandang dana. Tapi, aku tentu tetap menikmati. Ketika pertama kali nonton bioskop di Surabaya, ada dua hal yang membuatku terkesan karena berbeda dengan bioskop di Solo. Pertama adalah bahwa bioskop di Surabaya cukup ramai. Aku pun merasa anak muda Surabaya (atau kota besar) ternyata masih menganggap nonton bioskop sebagai satu kegiatan bagus untuk hiburan, berkencan, dsb. Mungkin karena dana mereka cukup untuk itu. Hal kedua, adalah seperti yang kurasakan di banyak tempat seperti mal atau kampusku di Surabaya. Banyak pemandangan bagus di bioskop Surabaya. Cewek-cewek berpakaian modis seksi dan cantik-cantik banyak bertebaran di lorong dan kursi tunggu yang melingkar di tengah.
Sebagaimana di tempat lain, ada juga beberapa bioskop kelas bawah di Surabaya. Film-filmnya tentu saja film lama yang bertema seks. Salah satu yang sempat dikeluhkan para orang tua adalah bioskop di Wonokromo. Ini karena kain-kain info film yang gambarnya wanita dengan baju tersingkap atau ciuman itu bisa dilihat dengan mudah saat orang mengendara dan naik ke viaduk Wonokromo. Bioskop macam itu memang masih cukup banyak di Surabaya. Dekat kampusku, ada bioskop Anta yang kabarnya beberapa konsumennya adalah mahasiswa kampus mahal itu juga. Salah seorang teman bercerita bahwa mahasiswa anak kos, nonton di situ dengan sembunyi-sembunyi. Entah dengan memakai jaket dan topi agar tidak kelihatan, tentu karena malu kalau ketahuan oleh temannya (meski kadang mereka saling memergokiku di dalam gedung). Aku juga pernah makan di sebelah gedung bioskop di wilayah Dinoyo. Makan mie sambil mendengarkan bunyi cekikikan lalu lagu-lagu latar karena di dalam sedang memutar film horor Indonesia.
Di Yogyakarta, sampai saat ini aku hanya pernah sekali saja nonton. Semula, aku benar-benar mengira (karena ucapan seorang teman) bahwa di Jogja tidak ada bioskop. Maksudnya bioskop 21. Tapi, setelah kemunculan Ambarukmo Plaza, Jogja pun memiliki sebuah twenty one. Bioskop di Amplaz sebenarnya cukup ramai, tapi memang mahal untuk ukuran anak kos. Tapi, saat ini kukira kegiatan menonton bioskop masih sering dilakukan anak muda di Jogja. Karena aku sudah lama tidak mengikuti perkembangan film (terutama di bioskop), kadang aku hanya sempat sekilas saja mengamati bioskop di luar Amplaz, yaitu bioskop kelas B tadi. Iklan-iklan film bioskop jenis itu masih bisa kita ikuti di harian Kedaulatan Rakyat. Aku sendiri hanya tahu bioskop semacam itu salah satunya adalah bioskop Ratih dekat viaduk Baciro. Yang lain mungkin aku belum mengamati saja.
Itulah beberapa bioskop yang kutahu. Memang aku tidak terlalu banyak memiliki pengalaman nonton film yang benar-benar bagus atau bermutu di bioskop. Pengalaman nonton di bioskop biasanya malah film-film Holywood atau yang sedang in waktu itu. Film yang lebih bermutu biasanya aku tonton di VCD atau DVD atau bahkan TV. Memang mengherankan, padahal nonton bioskop jelas lebih mahal. Mungkin karena waktu masih bisa nonton aku belum begitu mengerti soal film bagus. Akhirnya sudah setahun lebih aku tidak nonton bioskop. Kemarin aku memang nonton di semacam bioskop kecil di Taman Pintar, bioskop 3 dimensi. Tapi, itu tentu tidak termasuk bioskop. Karena kalau itu dimasukkan sebagai bioskop, aku harus menyebutkan nonton film gratisan di CCCL, di layar tancap, di gedung pertunjukan, atau pertunjukan film keliling yang mampir di sekolah atau gereja. Kadang aku memang ingin bisa punya kesempatan nonton film, entah di bioskop atau DVD lagi, tapi nonton TV saja sekarang hampir tidak sempat. Mungkin harus dipaksakan.
Tulisan orang lain yang masih berhubungan:
UP Theatre, the Legend of Cinema
Adios Solo Theatre
Warga Tak Bisa Lagi Nonton Film
Label: 80an, 90an, bioskop, jogja, solo, surabaya
Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...
Temanku dulu punya hobi aneh, nongkrong di krematorium. Aneh? Tidak juga. Terutama kalau kau tahu kondisi sebenarnya. Krematorium di Solo namanya Thiong Ting, dibangun oleh Perkumpulan Masyarakat Surakarta, sebuah yayasan yang mengurusi permasalahan kaum keturunan Cina di Solo. Letaknya di jalan Ir Sutami, Jebres bersebelahan dengan STM Warga yang merupakan sekolah temanku tadi. Mulai jelas bukan? Bahwa sudah diketahui kalau STM dimana-mana selalu minim atau malah tidak ada siswa wanitanya lagipula jam belajarnya bisa sampai seharian, jadi teman-temanku tadi hanya bisa melihat gadis-gadis yaitu para pelayat dari tempat itu.
Krematorium Thiong Ting sempat cukup kuakrabi terutama waktu ayahku meninggal tahun 1998. Satu-satunya krematorium di Solo tersebut memang tergabung dengan tempat persemayaman jenazah. Jadi disini aku sebenarnya agak bingung ingin bercerita tentang krematorium atau tempat persemayaman jenazah atau malah mau Thiong Ting saja. Tapi karena sejak kecil bayanganku tentang krematorium sudah jadi satu dengan tempat persemayaman, maka aku kira aku akan bicara baik tentang krematorium (aku hanya tahu yang di Thiong Ting) maupun tempat persemayaman (aku hanya pernah mengunjungi 2, satu Thiong Ting satunya Adi Yasa di Surabaya). Dari melihat foto-foto suasana pemakaman kakekku yang meninggal pada tahun 1980 (aku belum lahir), ternyata tempat persemayaman dan krematorium di Solo dulu terpisah. Krematorium letaknya di Thiong Ting yang sekarang (Jebres) sementara tempat persemayamannya ada di wilayah Kandangsapi, dekat rumah sakit Panti Kosala (sekarang dr. Oen), jarak keduanya sekitar 3 kilometer tapi jalannya relatif lurus saja. Jadi, kalau kau Cina yang mati pada tahun tujuh puluh atau delapan puluhan, mungkin boleh jadi urutannya begini: perawatan sampai meninggal di RS Panti Kosala, disemayamkan di belakangnya, lalu dikremasi di Jebres. Menariknya melakukan perjalanan sepanjang tempat persemayaman sampai krematorium itu sama saja dengan menelusuri aliran sungai Bengawan Solo yang rutenya memang sejajar. Apakah hal itu ada artinya aku belum tahu karena belum bertemu ahli feng shui.
Terakhir kali aku ke Thiong Ting adalah untuk mengantarkan ibuku melayat seorang kerabat jauh yang bahkan aku tak ingat pernah ketemu, sedangkan pertama kali ke Thiong Ting seingatku adalah untuk melayat meninggalnya salah seorang pamanku. "First thought is the strongest" katanya, dan aku juga mengamini jika kunjungan-kunjungan pertamaku di banyak tempat selalu masih kuingat dengan lumayan baik, termasuk kunjungan ke Thiong Ting, yang sekaligus pengalaman pertamaku melayat. Waktu itu adalah berbarengan dengan hari ketika untuk kedua kalinya aku mengikuti lomba menggambar (lupa tingkat apa karena yang kutahu waktu itu cuma menggambar saja) meski seingatku aku tidak memenangkan apa-apa dalam lomba tersebut. Setelah perlombaan, dengan diboncengkan oleh Bu Kris, guru TK ku yang gendut dan selalu tersenyum, aku diantar ke tempat persemayaman jenazah. Aku tak yakin itu adalah tempat persemayaman di Thiong Ting sekarang, karena seingatku sangat beda, ruang persemayaman itu banyak kayunya. Mungkin itu adalah ruang persemayaman jenazah yang lama, yang masih di daerah Kandangsapi. Aku sama sekali tak paham kemana Bu Kris membawaku, namun aku tak banyak tanya apalagi setelah disana aku bertemu ayah ibu dan kakak-kakakku. Sampai di tempat yang asing itu, nenek segera mengganti bajuku dengan kemeja dan celana pendek putih, seutas benang merah juga diselipkan diantara salah satu kancingnya, aku masih tidak paham apa yang sedang kami lakukan disana. Ruangan besar itu diisi oleh banyak kursi dan orang-orang, beberapa diantaranya adalah saudara dan kerabatku, di tengahnya ada sebuah peti kayu berhias bunga. Aku diberitahu bahwa itu namanya peti mati dan bahwa pamanku ada di dalamnya, aku rasa juga ada beberapa orang yang lebih dewasa waktu itu yang berusaha menjelaskan padaku apa itu kematian. Sayangnya aku juga belum bisa memahami apa yang mereka katakan apalagi bagaimana aku harus menentukan sikap. Tapi yang pasti, wajah nenek, ibu, ayah, paman bibi dan beberapa kakak terlihat sedih dan seperti habis menangis, sementara aku hanya bermain dengan beberapa sepupu, berjalan dan berlari kesana kemari di ruangan besar tersebut.
Sesudah pemakaman paman yang terjadi waktu aku berumur 5 tahun itu, sampai usia 17 tahun (ketika ayah meninggal) jelas ada beberapa kali kesempatan aku melayat di Thiong Ting (yang di Jebres) namun kebanyakan sudah tak kuingat lagi. Yang masih lumayan kuingat adalah pemakaman salah seorang adik kelas yang tak kukenal, namun toh aku dan banyak teman satu kelasku waktu itu tetap melayat. Bukan karena apa-apa, cuma memanfaatkan kesempatan mengingat layatan itu dilakukan waktu jam pelajaran, dan pihak sekolah yang entah karena euforia atau takut dibilang tak berperasaan juga membolehkan yang mau layat untuk pergi. Adik kelasku itu meninggal akibat kecelakaan motor, salah seorang tamu sempat bertanya padaku, "Temennya ya? Dia nakal nggak sih anaknya.." Dengan jujur kujawab bahwa aku tidak mengenalnya, tapi sesudah itu Erik, teman yang berdiri di sampingku bergumam, mengajari, "harusnya tadi kamu bilang dong, baik kok anaknya.." Aku tak berkomentar lebih lanjut. Membolos dengan alasan layat juga kami lakukan lagi, namun kali ini yang meninggal adalah ibu dari salah seorang teman sekelas kami, jadi sekolah nampaknya juga lebih tak bisa melarang, maka kami yang bawa motorpun sengaja ikut hingga ke tanah pekuburan di Delingan, Karanganyar sekalian hingga jam sekolah usai.
Ingatan tentang krematorium dan tempat persemayaman jenazah yang paling kuingat tentu adalah ketika ayah meninggal. 3 harmal (Kamis-Minggu) jenazah ayah disemayamkan, dan tiap malam juga harus ada yang menginap di depan peti, menjaganya. Meski aku ingin merasakan menginap, namun ibu dan kakak tak begitu mengizinkan dengan alasan tenagaku lebih dibutuhkan di rumah untuk membantu menyiapkan segala sesuatunya. Ketika ayah meninggal itu pulalah aku berkesempatan menyusuri sampai ke sudut-sudut Thiong Ting. Dimulai saat siang hari, beberapa jam setelah ayah dipastikan meninggal, aku dan beberapa saudara segera bergerak ke Thiong Ting untuk melihat-lihat peti. Penyimpanan peti mati yang dijual ternyata terletak di sebuah gudang di pinggir, yang selama ini memang selalu ditutup. Peti mati yang ada nampaknya tak begitu banyak, sekitar sepuluh atau belasan saja, diletakkan di rak-rak kayu. Memilih mana peti mati yang akan dibakar mungkin adalah pekerjaan yang harusnya gampang, seharusnya yang terjelek atau termurah yang dipilih. Namun tentu saja tidak demikian pertimbangannya, pertimbangan juga tidak semata karena peti itu nanti akan dilihat banyak orang, tapi lebih karena bayangan bahwa peti itu akan dipakai untuk meletakkan jenazah ayah, bahwa peti itu bisa disebut tempat tinggal ayah yang terakhir. Sempat juga aku dan beberapa saudara iseng membahas hal ini, tentang kenapa kita bisa takut dan memperlakukan secara berbeda jenazah yang notabene benda mati sama halnya dengan meja atau korek api. Fakta bahwa benda mati itu pernah hidup atau dihuni sebuah nyawa, itulah kesimpulan kami tentang perbedaan keduanya. Barangkali pelajaran tentang apa itu hidup dan mati hanya bisa kita dapatkan secara lebih mendalam ketika kita sudah mengalami dan terlibat langsung dalam prosesi kematian orang yang kita kenal dekat atau yang kita sayangi.
Terakhir ke sana tahun 2006, Thiong Ting kini memiliki 6 ruang, sebuah ruang baru telah dibangun dengan menggusur kantin dan toko yang dulu khusus menjual keperluan macam amplop, air mineral, pulpen, spidol merah, korek, lilin, minyak kolonyet (cologne), balsem untuk mengobati gigitan nyamuk atau rasa sedih di dada, termasuk jasa fotocopy untuk tetek bengek administrasi surat kematian, yang untungnya tidak senjelimet mengurus KTP, SBKRI atau akte kelahiran, dll. Mungkin pengurusan dokumen-dokumen itulah cara pemerintah menyatakan eksistensinya. Lalu, seperti halnya di rumah sakit, kalau kau bingung mana jenazah yang harus dilayat, bisa melihat dulu di papan tulis putih di depan. Jangan heran kalau melayat di tempat persemayaman jenazah seperti Thiong Ting memang bisa menjadi sesuatu yang tidak semudah maksud sebenarnya dari melayat. Terus terang dulu aku sendiri sempat kadang kurang pede jika harus melayat di tempat persemayaman jenazah umum Tionghoa seperti itu. Datang, apakah harus memberi hormat dengan pai cia, ke kanan dulu atau ke kiri dulu atau ke foto dulu, atau malah tidak perlu melakukannya, untuk menunjukkan diriku sebagai pemeluk Kristen, berapa lama harus pura-pura memejamkan mata, berdoa di depan foto orang yang meninggal, apakah setelah itu perlu bersalaman, untuk menggantikan pai cia atau lakukan keduanya? Itulah yang sempat membuat aku bingung paling tidak sebelum SMA. Masa SMA memang masa ketika aku mulai banyak melayat ke Thiong Ting. Melayat keluarga teman sekolah, gereja, tetangga maupun kerabatku sendiri, dengan puncaknya tentu saja adalah ketika aku menjadi keluarga yang dilayati itu sendiri. Kini aku tidak lagi bingung, bahkan kadang merasa agak superior saat aku melihat ada teman atau orang lain yang terlihat bingung atau melakukan 'kesalahan' dalam melakukan 'ritual' sederhana itu. Bahkan, saat tulisan ini pertama kali dibuat, lebih dari setahun yang lalu, aku justru cukup bersemangat dan ingin sekali mendapat alasan untuk mengunjungi Thiong Ting lagi. Sayangnya, tidak ada Ho Im dikirimkan ke rumah di masa-masa itu.
Rumah persemayaman Adi Yasa di Surabaya kalau tidak salah pernah kukunjungi dua kali. Aku merasa Adi Yasa tidak lebih bagus dari Thiong Ting. Aku merasa Thiong Ting lebih nyaman karena lebih luas dan tidak seramai Adi Yasa. Ruang-ruang di Adi Yasa barangkali hanya 80 % besar ruangan di Thiong Ting yang aku tahu. Kalau tidak salah, aku pikir di Adi Yasa tidak bercampur dengan Krematorium. Tapi aku tidak yakin soal ini. Waktu ke sana, aku merasa suasananya lebih seperti tempat pernikahan atau upacara peresmian pembukaan gedung baru ketimbang tempat persemayaman jenazah. Terlalu banyak karangan bunga, besar atau kecil, beberapa ruang memasang musik, mobil-mobil bersliweran karena area parkirnya langsung di depannya, banyak sampah, tempat itu pun terasa kotor dan tidak teratur. Kalau aku menjadi keluarga yang dilayat, mungkin akan tidak begitu mudah untuk bersedih atau menangis di sana.
Ada dua atau tiga makanan yang belum aku ketahui alasannya dipilih sebagai hidangan di layatan orang Cina di sini (atau di sana sini?). Yang pertama kacang, bisa juga digantikan kwaci, lalu juga roti semir. Dan sekarang kadang juga ada yang memakai permen. Untuk minuman dulu masih memakai air teh yang diwadahi gelas, tapi sekarang orang lebih suka memakai air mineral dalam gelas. Waktu Papa meninggal, paling tidak satu bungkus kacang garuda ukuran paling besar kuhabiskan sendiri, roti semir tidak begitu banyak, terutama setelah mereknya pada malam ke-2 diganti yang lebih murah. Paling tidak itu menunjukkan alasan beberapa konsumsi diganti dengan yang lebih murah, praktis, dan tahan lama. Dalam tradisi Cina, jenazah biasanya disemayamkan dalam hitungan hari ganjil sebelum dikubur atau dibakar karena katanya angka ganjil menggambarkan unsur Yang (unsur positif). Kalau soal makanan tadi, mungkin saja juga alasannya mirip, yang satu mewakili rasa asin dan manis, atau penganan kering dan basah, hanya saja aku belum pernah melihat roti semir digantikan donat atau roti isi pisang coklat, misalnya.
Krematorium di Thiong Ting letaknya di belakang tempat persemayaman jenazah, di samping ruang mayat, dekat gudang peti mati, di depan semacam taman kecil, untung saja di taman itu tidak dipasang ayunan, bayangkan kalau di tempat seperti itu ada ayunan, terkena angin di waktu malam. Setelah menaburkan bunga untuk keluarga-keluarga yang terhitung dekat dengan almarhum, dipersilakan bagi entah siapa di antara anggota keluarga yang mau mendapat kehormatan menekan dua buah tombol untuk membakar peti berisi jenazah itu. Waktu Papa dikremasi, aku yang menekannya. Setelah itu, kita bisa melihat atau tepatnya mengintip bagaimana api mulai membakar peti dan kalau jeli juga bisa melihat daging dan tulang yang dibakar api. Keesokan harinya, setelah abu menjadi dingin, keluarga bisa datang untuk mengambil abu jenazah. Ternyata, abu kayu peti mati dan barang-barang lain yang disertakan di dalamnya sangat mudah dibedakan dengan abu sisa pembakaran tulang manusia. Abu jenazah jauh lebih halus, lembut, dan bersih. Kita bisa memilah-milah dan memasukkannya sendiri ke guci atau wadah yang biasa dipakai sebagai tempat abu jenazah, lalu kita bisa membuangnya ke laut atau menyimpannya, seperti yang dilakukan Papa terhadap abu jenazah ayahnya yang bertahan selama sekitar 17 tahun, sebelum abu dan gucinya itu raib dicuri entah oleh siapa.
Ada seorang bapak yang bertugas di Thiong Ting, aku lupa namanya, yang ternyata memang sangat awet bekerja di sana. Bukti dari itu bisa dilihat di foto upacara kremasi kakek di tahun 1980, waktu Papa meninggal tahun 1998, bapak itu masih tetap bertugas di sana dengan gaya yang masih tetap sama. Topi pet dan tidak banyak omong. Petugas di Thiong Ting sendiri memang kebanyakan sudah tua, termasuk para pengusung peti. Aku rasa yang menggaji mereka adalah PMS. Mereka semua etnis Jawa, dan keawetan terhadap profesi yang seperti itu barangkali hampir seperti awetnya para abdi dalem, meski aku kira PMS tidak menggaji mereka sebesar gaji para abdi dalem yang setia mati dan bangga dengan pekerjaannya itu. Tugas para petugas di Thiong Ting itu macam-macam. Bisa aku pastikan mereka jauh lebih mengerti tradisi atau budaya Cina ketimbang anak muda seperti aku atau kakak-kakakku. Mereka mungkin juga mengenal banyak keluarga Cina di Solo beserta kerabat-kerabatnya. Kalau pagi, siang, atau sore, sewaktu tidak ada pelayat, siapa lagi yang bisa diajak bicara oleh para penunggu jenazah selain mereka? Aku tak akan heran jika beberapa keluarga yang anggotanya banyak atau sering meninggal, sudah seperti dianggap dan menganggap saudara dengan bapak-bapak petugas di Thiong Ting itu. Dan para petugas itu memang sangat membantu, terutama untuk keluarga yang baru sekali mengalami kematian dalam keluarga inti seperti keluargaku waktu itu.
Mungkin cukup di sini saja ceritaku tentang dua krematorium/tempat persemayaman jenazah yang pernah kukunjungi. Waktu aku mulai memiliki ide membuat tulisan ini sekitar satu setengah atau bahkan dua tahun yang lalu, sebenarnya aku ingin membuat tulisan yang lebih berisi ketimbang ingatan samara seperti ini. Aku sudah browsing ke banyak tempat, mencoba melempar topik ini dan meminta tolong di sebuah milis tentang budaya Cina, tapi tidak ketemu dan tidak ada yang menanggapi. Jadi, beberapa paragraf akhir mungkin hanya upaya merampungkan saja, secara kurang niat dan data. Tapi saat membicarakan tentang krematorium, dari dulu aku masih bertanya-tanya, kalau mati aku ingin dikubur atau dibakar atau dibenamkan atau dibalsam atau dipotong-potong? Dulu aku yakin ingin dibakar, sekarang aku tak begitu peduli. Kalau aku menjadi orang yang cukup punya sesuatu untuk dikenang banyak orang lain, dikubur mungkin lebih baik. Tapi aku sungguh tak terlalu peduli lagi sekarang, atau belum.
Label: krematorium, solo, surabaya, thiong ting
Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...Di Solo, kalau tidak salah mulai sekitar tahun 1999 tiba-tiba polisi gencar sekali merazia rental VCD bajakan yang akibatnya memaksa banyak sekali rental tutup dan hanya sedikit sekali rental yang tersisa. Lalu aku ke Surabaya, di kota itu aku masih mendapati beberapa rental yang menyewakan kaset VCD bajakan atau yang disebut ‘biasa’ (bukan ori) oleh penjaganya. Tidak pernah disebut ‘bajakan’ karena sebutan itu memang terlalu kasar. Menurutku, kalau memang sebutan itu dimaksudkan untuk menyamakan pengganda rekaman film atau musik dengan perompak di laut, atau termasuk juga para pelajar yang membajak bis kota atau suporter bola yang membajak kereta api, pertanyaannya apakah para perompak, pelajar bandel atau suporter bonek itu juga memperoleh sambutan hangat dari masyarakat luas seperti halnya para (hasil karya) pembajak rekaman film dan musik? Apapun itu, sekali lagi kalau tidak salah sekitar tahun 2003, atau mungkin beberapa tahun sebelumnya juga sudah pernah, polisi lagi-lagi gencar merazia rental VCD dan memaksa banyak rental yang tutup, atau menjadi hanya menyewakan DVD (tetap yang bajakan dong) saja, atau beralih usaha jadi multiplayer game.
Seingatku, pertengahan tahun 90an adalah awal boomingnya teknologi VCD (ditandai oleh munculnya rental) di kotaku. Sebelumnya, aku memang bisa dibilang melewatkan masa kejayaan laser disc karena tidak punya playernya. Tapi aku ingat pernah diajak teman ke sebuah rental laser disc di jl. Slamet Riyadi. Dalam pikiranku, rental tersebut seperti records store di film High Fidelity. Laser disc terbilang cepat masa jayanya, sampai aku kira mereka yang pernah membeli player laser disc mahal-mahal itu tentu akan lebih merasa rugi. Namun kalau mundur lebih ke belakang lagi, aku cukup akrab dengan video beta, terutama untuk nonton film-film robot Jepang. Meski demikian, sebuah player VCD baru ada di rumahku pada tahun 1997. Itu adalah player milik kakakku di Surabaya yang sengaja ditaruh di rumah agar papa yang waktu itu sudah terkena stroke bisa menonton film-film, tapi tentu aku juga menikmatinya, terlebih setelah papa meninggal tahun 1998. Beberapa rental pertama yang aku ingat pernah menjadi langgananku antara lain terletak di jl. Urip Sumoharjo, lalu juga Metta di wilayah Nonongan dan jl. Kapt. Mulyadi serta satu lagi di wilayah Manahan dekat sekolahku. Rental-rental itu jugalah yang menjadi korban razia polisi gelombang yang pertama.
Rental yang ada di Urip Sumoharjo itu kemudian pernah beralih menjadi warnet lalu menjadi rumah makan dan sekarang rasanya bangunannya tidak difungsikan sama sekali. Dalam ingatanku, rental itu cukup bagus dan lengkap. Bercampur dengan sebuah arena permainan play station, rental itu nampak ramai selalu. Sejak pertama kali hingga sekarang ini, aku selalu cukup lama untuk menentukan pilihan yang akan aku sewa. Pada waktu itu, rasanya tidak ada yang merasa bahwa aku harus meminjam yang ori dan tidak mau yang bajakan. Semua menyewa dan nonton yang bajakan dengan gembira, menurutku hal itu karena kualitas keduanya tidak beda jauh. Bajakan gambarnya termasuk jelas. Memang agak beda dengan kualitas gambar VCD bajakan yang saat ini (kecuali yang hasil convert DVD). Waktu itu aku sendiri menyukainya karena selain murah, filmnya baru, juga tidak ada adegan-adegan yang terputus karena digunting lembaga sensor. Aku ingat film Devil’s Advocate adalah salah satu yang kupinjam di situ dan juga ingat mana adegan yang membuatku yakin bahwa VCD tersebut tidak melalui mata para anonim yang merasa sebagai pengawal moralitas bangsa. Namun, selain film tsb aku tidak berhasil mengingat film apa lagi yang pernah kusewa di sana.
Lalu ada juga rental yang bisa dibilang rental pribadiku. Letaknya di Manahan, hanya lurus beberapa ratus meter dari sekolahku. Rental kecil itu adalah tempat aku bisa meminjam film-film sekehendak hati dan hasratku. Ya, memang yang lebih sering kuturuti adalah hasratku. Sempat ada beberapa film yang semacam Wild Thing atau Species yang masih aku ingat pernah kupinjam dari situ. Tapi tidak berarti semua film seperti itu secara kualitas jelek lho, aku rasa ada beberapa yang ceritanya lumayan bagus. Hanya saja waktu itu aku belum tahu soal film Eropa (atau mungkin rentalnya yang tidak ada). Rental itu ikut tutup akibat gelombang razia pertama.
Waktu SMU itu aku ingat cerita teman-temanku yang memblack list beberapa rental karena melecehkan mereka saat bermaksud hendak menyewa film yang kategorinya tidak termasuk yang dipajang di depan. “Kelas berapa kamu, nanti aku dimarahi mamamu, nyo” begitu kata si empunya rental. Mendapat penolakan seperti itu, ada teman yang mengakali dengan menyewa sambil mengajak teman (sebaya) yang dari etnis Jawa serta meminta dia yang menghadapi si pemilik rental agar bisa menyewa film yang katalognya ditaruh di map khusus di bawah meja. Cara itu rupanya berhasil, si pemilik biasanya tidak akan menghalang-halangi asalkan yang menyewa bukan remaja etnis Cina.
Untuk rental Metta lain lagi. Sebelum mengalami berbagai kemalangan hingga bergonta ganti usaha menjadi toko barang elektronik lalu juga toko pakaian, usaha mereka terbilang cukup sukses, koleksinya pun termasuk yang lengkap dan yang tidak ori itupun gambarnya juga sangat bagus. Tapi riwayat mereka terbilang cukup tragis. Setelah rental pertama mereka yang di Kapt. Mulyadi dibakar habis pada bulan Mei 1998, tinggal cabang di wilayah Nonongan yang tersisa. Tapi , tak berapa lama rental yang itu juga ikut jadi korban razia polisi. Mungkin karena itu mereka kapok sehingga banting setir menjadi toko barang elektronik yang nampaknya tidak begitu laku sehingga berubah lagi menjadi toko pakaian. Saat ini aku agak lupa, rasanya bangunan itu menjadi sebuah toko penjualan kaset Play Station, hanya saja aku tak tahu apakah pemiliknya masih sama.
Setelah gelombang razia pertama dan sebelum gelombang yang kedua, ada satu rental di dekat rumahku. Rental itu kecil, dikelola keluarga, memakai sistem katalog dan tidak ada sistem keanggotaan (kalau pinjam cukup ninggal KTP). Satu yang kuingat dari rental yang sekarang beralih menjadi sebuah salon kecil adalah ketika keluarga pemilik rental itu memarahi salah seorang putri mereka yang baru saja kepergok pacaran backstreet dan waktu aku ke situ juga pulang terlambat. Walau aku jelas tidak punya keterlibatan apapun, tapi waktu itu aku serasa terjebak di dalamnya meski juga cukup menikmati. Suasana itu; dengan ketegangan, bentakan dan caci maki, ada terdakwa (yang akhirya karena tak rela dirinya terus dipojokkan juga memberontak dan balas memaki-maki), saling menimpali, saling menambah-nambahi, hingga ada juga gerakan dengan intensitas akan memukul, dan akhirnya diselesaikan di dalam, semua itu adalah adegan yang cukup akrab bagiku. Yang membuatnya lebih menarik adalah bahwa kali ini aku hanya penonton dan tidak punya kekuatiran atau beban apapun dengan hasilnya. Meski begitu, terus terang aku tetap cukup berdebar-debar tapi juga penasaran menunggu kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya.
Jalan beberapa ratus kilometer ke arah timur membawaku ke sebuah rental lain. Inilah yang pertama, letaknya hanya sekitar 300 meter di bagian depan kompleks perumahan tempat aku numpang di rumah keluarga kakak. Yang aku ingat dari rental itu adalah baunya. Aku tak yakin apakah itu karena bangunannya, kotak-kotak VCD nya, cairan pelnya atau yang lain, namun bau itu sebenarnya juga tidak menggangguku tapi malah memudahkan dalam menandainya. Yang aku ingat, koleksinya memang tidak begitu baru, tapi dalam pandanganku saat itu judul-judul filmnya kebanyakan jarang kudengar. Yang cukup banyak juga adalah film mandarin (atau lebih tepatnya bikinan Hong Kong), yang gambar covernya juga seperti poster dan kalender tahun 90an. Jen Ta Hua, Amy Yip, Pheng Tan dan semacamnya. Meski koleksinya aku rasa adalah bajakan, namun kemasan dan kualitas gambarnya sangat meyakinkan dan yang jelas tidak kena sensor ala Indonesia. Secara jarang pinjam, hanya ada sedikit film yang aku ingat pernah pinjam di situ, di antaranya Eyes Wide Shut dan Lost World. Mengenai rental itu, aku mungkin tidak terlalu akrab dengannya. Namun ada satu hal yang cukup kuingat tentang rental itu, yaitu menyangkut teman kakak iparku. Akan terlalu panjang jika harus menceritakan tentang dia, singkat kata ia pernah berhasil menyewa sebuah film semi dari rental itu. Memang lucu bahwa pria yang sudah memiliki anak istri seperti dia ternyata cara bersembunyi dan nonton diam-diamnya ternyata tetap sama dengan cara seorang remaja. Nutup pintu dulu pelan-pelan, duduk di tempat yang bebas dari jendela, pintu atau pandangan dari mana saja, volume pelan, dsb. Tapi bedanya (atau mungkin karena ia agak ceroboh), setelah nonton ia tidak membereskan kaset dan kotaknya. Diletakkan begitu saja, hingga kakak perempuanku bisa tahu film macam apa yang disewanya. “O edan..” begitu komentarnya.
Aku rasa kebanyakan orang paling tidak memiliki kartu anggota rental film yang paling dekat dengan tempat tinggalnya. Aku juga demikian. Masih di wilayah Rungkut, tempat aku tinggal saat pertama kali di Surabaya, sempat ada sebuah rental rumah tangga yang juga membuka warung makan Chinese food. Jaraknya hanya sekitar 150 meter dari rumahku. Baik rental maupun warung makan yang dikelola pasangan setengah baya yang katanya termasuk suku Tio Ciu (suku yang terkenal pintar masak) itu memang tidak berumur panjang. Penyebabnya terutama adalah razia polisi tadi. Koleksinya memang tak begitu banyak, tapi termasuk baru walau kualitas gambarnya banyak yang kurang bagus. Keberadaan rental itu sebenarnya juga termasuk langkah bagus bagu usaha mereka, paling tidak orang bisa disibukkan untuk melihat-lihat koleksi film yang ada sembari menunggu masakan yang memang mempersiapkannya termasuk cukup lama. Meski sempat lumayan sering, aku belum bisa ingat film apa yang pernah kupinjam dari situ.
Setelah kos dan ada notebook (atau benda apalah namanya itu), lalu VCD player dan kemudian juga komputer yang semuanya milik Oni, seperti banyak anak kos lain aku juga meminjam film di dekat-dekat Petra saja. Beberapa rental yang kartu membernya masih ada di dompetku saat ini antara lain Trison yang penjaganya semuanya bisu tuli. Meski demikian, di Trison itu transaksi toh berjalan lancar dengan komunikasi dilakukan dengan menuliskan judul film yang dicari di sebuah kertas kecil. Trison cukup lengkap, bahkan ada satu wadah yang isinya film-film semi atau yang judul dan gambar covernya semacam itu (meski kita tahu kalau di mana-mana cover selalu menipu). Selain itu, ada juga tiga rental lain yang semuanya di jalan raya Siwalankerto. Ada rental yang mungkin setelah gencar isu-isu adanya razia lalu tiba-tiba pindah ke dalam sekali sehingga dari luar tidak kelihatan kalau itu sebuah rental, lalu berubah lagi menjadi tempat multiplayer game tok, semuanya tanpa ada pemberitahuan sama sekali. Ada juga rental yang dekat jalan masuk Siwalankerto Timur gang 1. Saat aku mulai pindah menyewa film di situ, nampaknya sudah mulai ngetren persewaan yang hanya memakai album katalog untuk film-film bajakan. Yang punya adalah seorang ibu berwajah tidak ramah dan kalau pinjam di situ juga harus memakai jaminan KTM sehingga waktu ujian aku tidak bisa meminjam film di sana. Rental terakhir yang menjadi langgananku sebelum alat untuk menyetel filmnya diambil yang punya ada di sebuah ruko. Koleksinya tidak begitu lengkap, mungkin karena waktu itu aku sudah mulai cukup pemilih dalam menyewa film. Yang menjaga adalah mbak-mbak, salah satunya lumayan cantik dan berkulit putih bersih, tapi aku hanya sebentar menjadi pelanggan rental itu karena alasan yang sudah kuutarakan di atas tadi.
Di Surabaya, sebenarnya masih ada beberapa rental besar yang pernah kumasuki, seperti Win Disc dan sebuah rental yang ada di jalan raya Kertajaya dekat rumahnya Iwan. Win Disc sudah kucatat dalam black list sebab aku pernah jauh-jauh ke sana hanya untuk ditolak karena tidak punya KTP Surabaya dan tidak bawa uang 50 ribu untuk jaminan. Sedangkan rental yang di depan rumah Iwan, aku justru pernah meminjam salah satu film yang berkesan untukku yaitu 24 Hours Party People, tentunya dengan membershipnya Iwan dan nontonnya juga memakai DVD playernya Iwan (sendirian). Oya, rental yang terakhir ini juga ada fasilitas nonton dalam mini theater lho, tapi aku belum sempat mencobanya, nggak pingin juga sih.
Pulang ke Solo lagi dan kerja di sana, aku hanya bisa menyewa di rental-rental besar yang kasetnya ori seperti video Ezzy, Movie Time, Odiva dan Movie Station. Nama-nama yang bunyinya sudah bergaya sok elit. Meski demikian, toh sampai sekarang aku sering tidak puas dengan koleksi film-film dalam format VCD (meski VCD terbilang masih merajai di Solo) karena jarang menemukan film yang kelihatannya aneh atau istimewa. Kalau sedang browsing di internet dan ke situs macam IMDB atau bahkan baca blog anak-anak kota besar, atau juga di milis-milis, atau mendengar cerita teman-teman yang punya DVD, aku sering hanya bisa gigit jari karena tidak menemukan film-film yang aku ingini di rental ori di atas. DVD player baru ada setelah ada laptop pinjaman saudara, lalu laptop kakak dan sekarang baru setelah aku di Jogja, ada DVD player yang malah belum pernah kupakai sama sekali. Dari keempat rental ori di atas, aku pun akhirnya lebih memilih menyewa di Movie Time (ada 2 cabang, yang satu cukup dekat dengan rumah tapi kurang lengkap dibandingkan yang jauh dari rumah). Alasannya adalah, pertama, untuk Odiva aku malas kalau harus membayar memakai sistem voucher meski rental itu sangat dekat dengan rumahku. Untuk rental kedua atau mungkin yang ketiga terdekat dari rumah, yaitu Movie Station, selain harga sewanya lebih mahal juga masih ditambah biaya parkir. Ah, tidak di Solo atau di Jogja ini, aku paling menghindari tempat-tempat kecil yang ada parkirnya. Parkir ini aku rasa memang bisa berpengaruh besar, mungkin tidak cuma untuk aku saja, tempat-tempat seperti warung makan, rental film, minimarket, termasuk juga warnet akan lebih kupilih jika tidak harus bayar parkir. Tapi sepertinya, dengan posisinya yang berada di ruko mewah, Movie Station susah untuk tidak memberlakukan parkir karena bahkan mengambil uang di ATM dekat situ pun kadang masih mau ditarik parkir juga! Lalu, yang terakhir, untuk video Ezzy, sekalipun koleksinya lumayan lengkap, tapi entah kenapa setiap kali aku datang ke sana selalu saja banyak film new release yang keluar, apalagi kemasan yang memakai boks juga membuat meminjam film di Ezzy terlalu ribet untuk dibawa motorku yang tidak ada cantolannya. Mengunjungi Movie Time yang jauh dari rumah juga membuatku senang sekaligus waspada karena di situ aku cukup sering bertemu teman-teman waktu SMU. Sayangnya, yang kujumpai di sana biasanya adalah teman-teman SMU yang kurang begitu akrab.
Setelah ada kesempatan nonton DVD, aku kemudian mengalihkan ke sebuah rental DVD bajakan bernama Leo di wilayah Kreteg Gantung. Pemilik rental itu ternyata cukup dikenal karena sudah sering digrebek, dan ternyata dia adalah yang punya rental Metta dulu. Tak cuma itu, lokasi rentalnya juga termasuk sering pindah-pindah. Pertama aku mulai menyewa di wilayah Singosaren, tapi kemudian mereka pindah ke Kreteg Gantung sekaligus membuka cabang (hanya melayani penjualan) di dekat Sido Kare. Film-film di situ bagiku lumayan lengkap, ya mungkin karena formatnya DVD itu. Dan selain itu, si pemilik tampaknya juga masih berbaik hati dengan kadang-kadang menconvert beberapa DVD ke format VCD meski kemudian kayaknya agak jarang. Meski tidak kenal, tentu saja aku senang dengan kegigihan si empunya untuk memberikan kesempatan bagi penikmat film berkantong cekak untuk menikmati film bagus meski faktanya kadang aku juga menyewa film yang agak memalukan sampai-sampai kalau hendak meminta aku berusaha pelan-pelan waktu menyebutkan judulnya.
Kalau sekarang di Jogja dan sudah bisa nonton DVD (baru saja sih), aku kemarin mencoba di Valent di jalan Mozes Gatotkaca. Enaknya di situ ada tulisan “khusus pengunjung Valent Disc, bebas parkir. Hanya saja, rasanya aku akan jarang meminjam di sana lagi soalnya kalau meminjam harus memakai KTP Jogja, KTM, SIM atau jaminan uang 40 ribu, dari semua itu kemarin aku hanya bisa memenuhi syarat meninggalkan satu-satunya SIM yang kupunya. Anehnya lagi, setelah pinjam dua film, karena yang satu gambarnya ancur dan yang satu lagi subtitlenya ga karuan, aku pun tidak menonton semua film yang kusewa itu. Yah, untuk ke depannya, kalau tidak menemukan rental yang syaratnya cukup KTP (luar Jogja), aku akan membeli atau pinjam teman saja. Wah, mesti kok ono wae!
Lalu ada juga rental yang bisa dibilang rental pribadiku. Letaknya di Manahan, hanya lurus beberapa ratus meter dari sekolahku. Rental kecil itu adalah tempat aku bisa meminjam film-film sekehendak hati dan hasratku. Ya, memang yang lebih sering kuturuti adalah hasratku. Sempat ada beberapa film yang semacam Wild Thing atau Species yang masih aku ingat pernah kupinjam dari situ. Tapi tidak berarti semua film seperti itu secara kualitas jelek lho, aku rasa ada beberapa yang ceritanya lumayan bagus. Hanya saja waktu itu aku belum tahu soal film Eropa (atau mungkin rentalnya yang tidak ada). Rental itu ikut tutup akibat gelombang razia pertama.
Waktu SMU itu aku ingat cerita teman-temanku yang memblack list beberapa rental karena melecehkan mereka saat bermaksud hendak menyewa film yang kategorinya tidak termasuk yang dipajang di depan. “Kelas berapa kamu, nanti aku dimarahi mamamu, nyo” begitu kata si empunya rental. Mendapat penolakan seperti itu, ada teman yang mengakali dengan menyewa sambil mengajak teman (sebaya) yang dari etnis Jawa serta meminta dia yang menghadapi si pemilik rental agar bisa menyewa film yang katalognya ditaruh di map khusus di bawah meja. Cara itu rupanya berhasil, si pemilik biasanya tidak akan menghalang-halangi asalkan yang menyewa bukan remaja etnis Cina.
Untuk rental Metta lain lagi. Sebelum mengalami berbagai kemalangan hingga bergonta ganti usaha menjadi toko barang elektronik lalu juga toko pakaian, usaha mereka terbilang cukup sukses, koleksinya pun termasuk yang lengkap dan yang tidak ori itupun gambarnya juga sangat bagus. Tapi riwayat mereka terbilang cukup tragis. Setelah rental pertama mereka yang di Kapt. Mulyadi dibakar habis pada bulan Mei 1998, tinggal cabang di wilayah Nonongan yang tersisa. Tapi , tak berapa lama rental yang itu juga ikut jadi korban razia polisi. Mungkin karena itu mereka kapok sehingga banting setir menjadi toko barang elektronik yang nampaknya tidak begitu laku sehingga berubah lagi menjadi toko pakaian. Saat ini aku agak lupa, rasanya bangunan itu menjadi sebuah toko penjualan kaset Play Station, hanya saja aku tak tahu apakah pemiliknya masih sama.
Setelah gelombang razia pertama dan sebelum gelombang yang kedua, ada satu rental di dekat rumahku. Rental itu kecil, dikelola keluarga, memakai sistem katalog dan tidak ada sistem keanggotaan (kalau pinjam cukup ninggal KTP). Satu yang kuingat dari rental yang sekarang beralih menjadi sebuah salon kecil adalah ketika keluarga pemilik rental itu memarahi salah seorang putri mereka yang baru saja kepergok pacaran backstreet dan waktu aku ke situ juga pulang terlambat. Walau aku jelas tidak punya keterlibatan apapun, tapi waktu itu aku serasa terjebak di dalamnya meski juga cukup menikmati. Suasana itu; dengan ketegangan, bentakan dan caci maki, ada terdakwa (yang akhirya karena tak rela dirinya terus dipojokkan juga memberontak dan balas memaki-maki), saling menimpali, saling menambah-nambahi, hingga ada juga gerakan dengan intensitas akan memukul, dan akhirnya diselesaikan di dalam, semua itu adalah adegan yang cukup akrab bagiku. Yang membuatnya lebih menarik adalah bahwa kali ini aku hanya penonton dan tidak punya kekuatiran atau beban apapun dengan hasilnya. Meski begitu, terus terang aku tetap cukup berdebar-debar tapi juga penasaran menunggu kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya.
Jalan beberapa ratus kilometer ke arah timur membawaku ke sebuah rental lain. Inilah yang pertama, letaknya hanya sekitar 300 meter di bagian depan kompleks perumahan tempat aku numpang di rumah keluarga kakak. Yang aku ingat dari rental itu adalah baunya. Aku tak yakin apakah itu karena bangunannya, kotak-kotak VCD nya, cairan pelnya atau yang lain, namun bau itu sebenarnya juga tidak menggangguku tapi malah memudahkan dalam menandainya. Yang aku ingat, koleksinya memang tidak begitu baru, tapi dalam pandanganku saat itu judul-judul filmnya kebanyakan jarang kudengar. Yang cukup banyak juga adalah film mandarin (atau lebih tepatnya bikinan Hong Kong), yang gambar covernya juga seperti poster dan kalender tahun 90an. Jen Ta Hua, Amy Yip, Pheng Tan dan semacamnya. Meski koleksinya aku rasa adalah bajakan, namun kemasan dan kualitas gambarnya sangat meyakinkan dan yang jelas tidak kena sensor ala Indonesia. Secara jarang pinjam, hanya ada sedikit film yang aku ingat pernah pinjam di situ, di antaranya Eyes Wide Shut dan Lost World. Mengenai rental itu, aku mungkin tidak terlalu akrab dengannya. Namun ada satu hal yang cukup kuingat tentang rental itu, yaitu menyangkut teman kakak iparku. Akan terlalu panjang jika harus menceritakan tentang dia, singkat kata ia pernah berhasil menyewa sebuah film semi dari rental itu. Memang lucu bahwa pria yang sudah memiliki anak istri seperti dia ternyata cara bersembunyi dan nonton diam-diamnya ternyata tetap sama dengan cara seorang remaja. Nutup pintu dulu pelan-pelan, duduk di tempat yang bebas dari jendela, pintu atau pandangan dari mana saja, volume pelan, dsb. Tapi bedanya (atau mungkin karena ia agak ceroboh), setelah nonton ia tidak membereskan kaset dan kotaknya. Diletakkan begitu saja, hingga kakak perempuanku bisa tahu film macam apa yang disewanya. “O edan..” begitu komentarnya.
Aku rasa kebanyakan orang paling tidak memiliki kartu anggota rental film yang paling dekat dengan tempat tinggalnya. Aku juga demikian. Masih di wilayah Rungkut, tempat aku tinggal saat pertama kali di Surabaya, sempat ada sebuah rental rumah tangga yang juga membuka warung makan Chinese food. Jaraknya hanya sekitar 150 meter dari rumahku. Baik rental maupun warung makan yang dikelola pasangan setengah baya yang katanya termasuk suku Tio Ciu (suku yang terkenal pintar masak) itu memang tidak berumur panjang. Penyebabnya terutama adalah razia polisi tadi. Koleksinya memang tak begitu banyak, tapi termasuk baru walau kualitas gambarnya banyak yang kurang bagus. Keberadaan rental itu sebenarnya juga termasuk langkah bagus bagu usaha mereka, paling tidak orang bisa disibukkan untuk melihat-lihat koleksi film yang ada sembari menunggu masakan yang memang mempersiapkannya termasuk cukup lama. Meski sempat lumayan sering, aku belum bisa ingat film apa yang pernah kupinjam dari situ.
Setelah kos dan ada notebook (atau benda apalah namanya itu), lalu VCD player dan kemudian juga komputer yang semuanya milik Oni, seperti banyak anak kos lain aku juga meminjam film di dekat-dekat Petra saja. Beberapa rental yang kartu membernya masih ada di dompetku saat ini antara lain Trison yang penjaganya semuanya bisu tuli. Meski demikian, di Trison itu transaksi toh berjalan lancar dengan komunikasi dilakukan dengan menuliskan judul film yang dicari di sebuah kertas kecil. Trison cukup lengkap, bahkan ada satu wadah yang isinya film-film semi atau yang judul dan gambar covernya semacam itu (meski kita tahu kalau di mana-mana cover selalu menipu). Selain itu, ada juga tiga rental lain yang semuanya di jalan raya Siwalankerto. Ada rental yang mungkin setelah gencar isu-isu adanya razia lalu tiba-tiba pindah ke dalam sekali sehingga dari luar tidak kelihatan kalau itu sebuah rental, lalu berubah lagi menjadi tempat multiplayer game tok, semuanya tanpa ada pemberitahuan sama sekali. Ada juga rental yang dekat jalan masuk Siwalankerto Timur gang 1. Saat aku mulai pindah menyewa film di situ, nampaknya sudah mulai ngetren persewaan yang hanya memakai album katalog untuk film-film bajakan. Yang punya adalah seorang ibu berwajah tidak ramah dan kalau pinjam di situ juga harus memakai jaminan KTM sehingga waktu ujian aku tidak bisa meminjam film di sana. Rental terakhir yang menjadi langgananku sebelum alat untuk menyetel filmnya diambil yang punya ada di sebuah ruko. Koleksinya tidak begitu lengkap, mungkin karena waktu itu aku sudah mulai cukup pemilih dalam menyewa film. Yang menjaga adalah mbak-mbak, salah satunya lumayan cantik dan berkulit putih bersih, tapi aku hanya sebentar menjadi pelanggan rental itu karena alasan yang sudah kuutarakan di atas tadi.
Di Surabaya, sebenarnya masih ada beberapa rental besar yang pernah kumasuki, seperti Win Disc dan sebuah rental yang ada di jalan raya Kertajaya dekat rumahnya Iwan. Win Disc sudah kucatat dalam black list sebab aku pernah jauh-jauh ke sana hanya untuk ditolak karena tidak punya KTP Surabaya dan tidak bawa uang 50 ribu untuk jaminan. Sedangkan rental yang di depan rumah Iwan, aku justru pernah meminjam salah satu film yang berkesan untukku yaitu 24 Hours Party People, tentunya dengan membershipnya Iwan dan nontonnya juga memakai DVD playernya Iwan (sendirian). Oya, rental yang terakhir ini juga ada fasilitas nonton dalam mini theater lho, tapi aku belum sempat mencobanya, nggak pingin juga sih.
Pulang ke Solo lagi dan kerja di sana, aku hanya bisa menyewa di rental-rental besar yang kasetnya ori seperti video Ezzy, Movie Time, Odiva dan Movie Station. Nama-nama yang bunyinya sudah bergaya sok elit. Meski demikian, toh sampai sekarang aku sering tidak puas dengan koleksi film-film dalam format VCD (meski VCD terbilang masih merajai di Solo) karena jarang menemukan film yang kelihatannya aneh atau istimewa. Kalau sedang browsing di internet dan ke situs macam IMDB atau bahkan baca blog anak-anak kota besar, atau juga di milis-milis, atau mendengar cerita teman-teman yang punya DVD, aku sering hanya bisa gigit jari karena tidak menemukan film-film yang aku ingini di rental ori di atas. DVD player baru ada setelah ada laptop pinjaman saudara, lalu laptop kakak dan sekarang baru setelah aku di Jogja, ada DVD player yang malah belum pernah kupakai sama sekali. Dari keempat rental ori di atas, aku pun akhirnya lebih memilih menyewa di Movie Time (ada 2 cabang, yang satu cukup dekat dengan rumah tapi kurang lengkap dibandingkan yang jauh dari rumah). Alasannya adalah, pertama, untuk Odiva aku malas kalau harus membayar memakai sistem voucher meski rental itu sangat dekat dengan rumahku. Untuk rental kedua atau mungkin yang ketiga terdekat dari rumah, yaitu Movie Station, selain harga sewanya lebih mahal juga masih ditambah biaya parkir. Ah, tidak di Solo atau di Jogja ini, aku paling menghindari tempat-tempat kecil yang ada parkirnya. Parkir ini aku rasa memang bisa berpengaruh besar, mungkin tidak cuma untuk aku saja, tempat-tempat seperti warung makan, rental film, minimarket, termasuk juga warnet akan lebih kupilih jika tidak harus bayar parkir. Tapi sepertinya, dengan posisinya yang berada di ruko mewah, Movie Station susah untuk tidak memberlakukan parkir karena bahkan mengambil uang di ATM dekat situ pun kadang masih mau ditarik parkir juga! Lalu, yang terakhir, untuk video Ezzy, sekalipun koleksinya lumayan lengkap, tapi entah kenapa setiap kali aku datang ke sana selalu saja banyak film new release yang keluar, apalagi kemasan yang memakai boks juga membuat meminjam film di Ezzy terlalu ribet untuk dibawa motorku yang tidak ada cantolannya. Mengunjungi Movie Time yang jauh dari rumah juga membuatku senang sekaligus waspada karena di situ aku cukup sering bertemu teman-teman waktu SMU. Sayangnya, yang kujumpai di sana biasanya adalah teman-teman SMU yang kurang begitu akrab.
Setelah ada kesempatan nonton DVD, aku kemudian mengalihkan ke sebuah rental DVD bajakan bernama Leo di wilayah Kreteg Gantung. Pemilik rental itu ternyata cukup dikenal karena sudah sering digrebek, dan ternyata dia adalah yang punya rental Metta dulu. Tak cuma itu, lokasi rentalnya juga termasuk sering pindah-pindah. Pertama aku mulai menyewa di wilayah Singosaren, tapi kemudian mereka pindah ke Kreteg Gantung sekaligus membuka cabang (hanya melayani penjualan) di dekat Sido Kare. Film-film di situ bagiku lumayan lengkap, ya mungkin karena formatnya DVD itu. Dan selain itu, si pemilik tampaknya juga masih berbaik hati dengan kadang-kadang menconvert beberapa DVD ke format VCD meski kemudian kayaknya agak jarang. Meski tidak kenal, tentu saja aku senang dengan kegigihan si empunya untuk memberikan kesempatan bagi penikmat film berkantong cekak untuk menikmati film bagus meski faktanya kadang aku juga menyewa film yang agak memalukan sampai-sampai kalau hendak meminta aku berusaha pelan-pelan waktu menyebutkan judulnya.
Kalau sekarang di Jogja dan sudah bisa nonton DVD (baru saja sih), aku kemarin mencoba di Valent di jalan Mozes Gatotkaca. Enaknya di situ ada tulisan “khusus pengunjung Valent Disc, bebas parkir. Hanya saja, rasanya aku akan jarang meminjam di sana lagi soalnya kalau meminjam harus memakai KTP Jogja, KTM, SIM atau jaminan uang 40 ribu, dari semua itu kemarin aku hanya bisa memenuhi syarat meninggalkan satu-satunya SIM yang kupunya. Anehnya lagi, setelah pinjam dua film, karena yang satu gambarnya ancur dan yang satu lagi subtitlenya ga karuan, aku pun tidak menonton semua film yang kusewa itu. Yah, untuk ke depannya, kalau tidak menemukan rental yang syaratnya cukup KTP (luar Jogja), aku akan membeli atau pinjam teman saja. Wah, mesti kok ono wae!
Label: jogja, rental, solo, surabaya
Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...
