perjalanan lalat hijau

LALAT HIJAU, sebuah catatan perjalanan untuk beberapa waktunya ke depan


Kenapa Isinya Video Terus?

Saya tahu blog sudah tidak terlalu zaman. Orang makin males baca blog, apalagi blogwalking. Saya tahu kalau blog ini tidak banyak dikunjungi orang (saya rasa yg cukup bisa saya banggakan dari blog ini cuma menang "tua" dan masih update biar cuma sebulan sekali dan selama 6 tahun lebih baru dua bulan yang tidak ada update). Saya sendiri, sekarang memang harus diakui malas mengupdate blog ini. Tapi, saya cuma suka kalau gambar lekuk-lekuk bulan di sisi kanan blog ini terus memanjang seperti ular. Nah, itulah alasan pertama saya belakangan lebih sering posting Youtube.
Tapi, bukan cuma itu. Hal kedua adalah bahwa katanya kan di zaman sekarang ini tidak boleh kolot. Masakan blog harus hanya berisi tulisan, youtube hanya berisi video, picasa dan flickr hanya berisi foto? Harusnya diintegrasikan biar lebih menarik. Karena saya tidak punya foto (atau kamera, maksudnya) dan tidak mengupload sendiri video-video saya, maka saya baru bisa mengintegrasikan tulisan dan video postingan orang lain di sini. Dan hal ketiga adalah bahwa saya pernah punya pengalaman agak buruk dengan menulis hal-hal yang pribadi seperti "seharusnya" blog (dulu kan katanya blog itu harus jurnal pribadi hehehe...). Maka, saya sekarang agak malas yang begituan, kan sudah ada Twitter dan Facebook. Saya juga sepertinya sudah susah sekali bikin cerpen atau puisi dan semacamnya. Meski sebenarnya masih ingin bisa menulis dengan variatif dan tema yang menarik (menurut saya), seperti dulu (sekarang, setelah punya Twitter, terutama, saya makin merasa apa yang hendak saya katakan kok sudah ada yang mengatakan atau banyak yang lebih menarik dan mendalam, sehingga yg mau saya tulis di blog tadi tak pantas dibahas atau dipublikasikan)
Lalu Kenapa Video Musik Terus?
Memang tidak pernah ada yang bertanya begitu hehehe.. Ini cuma pertanyaan saya sendiri, sebagai penggemar fanatik blog ini (?). Bukan, bukan semata karena saya malas atau karena saya hanya cari mudahnya saja kok. Flashback jauh ke tahun 80-90an, sebagai anak kecil, saya memang tidak punya banyak teman selain teman di sekolah. Di rumah, sejak SD saya pindah ke rumah besar di tengah tetangga-tetangga yang rumahnya kecil-kecil. Maka, terciptalah gap tanpa diingini. Saya pun di rumah lebih banyak menghabiskan waktu di depan TV. Untunglah waktu itu bukan TV biasa, apalagi hanya TVRI yang saya bisa tonton. Tapi, ada parabola yang membuat saya bisa melihat berbagai acara di luar negeri.
Salah satunya adalah acara-acara musik. Dari MTV, Channel V, atau siaran TV lain seperti Nescafe UK Top 40, dan lain-lain. Waktu itu, saya menonton dalam status abstain. Maksudnya, seingat saya, saya masih belum punya band favorit atau genre musik favorit. Semua macam musik saya tonton dan terutama musik yang videonya berkesan. Bahkan, saking banyaknya nonton TV, saya sempat dijadikan semacam TV Guide oleh Papa saya. Entah dia maksudnya ngeledek atau apa, padahal saya merasa saya tidak hafal-hafal banget semua acara TV. Saya merasa beruntung karena saya mengalami masa itu di tahun 80-90an, dan bukan di tahun 2000an hehehe.. (biasa, ini statemen khas orang tua). Tapi, faktanya lagu-lagu delapanpuluh dan sembilanpuluhan, sampai sekarang tetap dicover musisi tahun 2000-2010an kok? Jadi, memang tak salah kalau periode itu lebih superior dari periode saat ini. Kebiasaan nonton TV, terutama musik ini terus saya lakukan, kalau tidak salah hingga akhir 90 atau awal 2000an, meski waktu itu saya hanya nonton di TV (ANTV masih merelay banyak acara musik dari MTV).
Kalau saya pikir-pikir, kasian sekali anak-anak zaman ini yang terpaksa hanya menonton musik dari acara seperti Dahsyat dan Inbox. Tapi, ada untungnya juga anak-anak zaman sekarang juga punya Youtube. Hanya, dari mana mereka tahu kalau tidak ada yang memberi tahu? Jadi, semoga blog ini bisa membantu mereka. Demikianlah alasan saya, maaf tulisan ini memang acakadut.

Label: , , ,

Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...

Great Live Performance & Cover Version

Sementara sebagian orang menganggap mengkover lagu sebagai sesuatu yang kurang kreatif, saya tidak setuju. Saya rasa lagu cover version justru bisa menunjukkan beberapa hal. Yang pertama, sejauh mana selera atau influence sebuah band atau musisi. Yang kedua, sejauh apa kita bisa berharap pada musikalitas si musisi atau band itu. Ketiga, sejauh mana pergaulan band atau musisi tersebut. Dan keempat, dari kesimpulan dua poin pertama, maka saya paling tidak bisa memutuskan sejauh mana saya cocok dengan band atau musisi itu. Kadang, saya malah bisa menyukai sebuah band atau seorang musisi karena ia mencover lagu yang saya suka. Pernah juga, saya yang semula tidak menyukai sebuah band atau musisi lalu jadi suka karena ia bisa melakukan cover yang bagus terhadap sebuah lagu. Untuk ketiga poin pertama, apakah perlu saya jelaskan? Mungkin perlu ya..
Yang pertama sudah jelas. Kadang saya sendiri bisa "kaget" karena sebuah band atau musisi ternyata mencover sebuah lagu dari band atau musisi yang sama sekali lain dari musik yang ia bawakan sekarang. Contoh paling mutakhir yang saya temukan adalah Viva Vox Choirs, sebuah kelompok paduan suara membawakan Du Hast dari band industrial Rammstein, secara acapella lagi! Hasilnya keren sekali (bisa cari di Youtube). Ya, tentu saja ada kalanya, bahkan cukup sering, yang seperti itu hasilnya jelek atau biasa-biasa saja. Salah satu contohnya adalah seri album Punk Goes... (eighties, nineties, new wave, metal, pop, dangdut, etc), yang menurut saya kebanyakan hasilnya adalah satu kata: lame. Sudah hasilnya jelek, yang mengaku punk itu juga kebanyakan pop punk biasa. Tapi, ada banyak juga kok, artis musik pop yang saat mencover hasilnya malah bagus. Jadi, bahwa selama ini musiknya kurang, mungkin hanya karena tuntutan industri saja maka ia membawakan musik yang seperti dikenal sekarang. Ini cukup menarik buat saya.
Yang kedua, ketika seorang musisi atau sebuah band yang kurang saya suka mengkover sebuah lagu yang saya suka dan hasilnya bagus, maka saya merasa bisa berharap pada band tersebut. Meski saat ini ia mungkin masih membawakan lagu-lagu yang kurang enak, tapi paling tidak satu saat ia mungkin bisa mendekati kualitas musik band atau musisi yang pernah ia cover. Itu harapan saya sih. Fakta bahwa ada banyak band atau musisi yang seiring waktu kemudian merubah aliran musiknya membuat saya sering optimis akan hal ini. Hal ini juga terutama berlaku buat band-band atau musisi baru atau yang baru saya dengar. Sementara biasanya seiring usia orang akan mandeg di selera musik waktu kuliah, misalnya, saya pribadi merasa senang tidak terjebak di situasi itu (meski sebelumnya hampir terjerumus ke dalam kemandegan seperti itu). Jika hingga kini saya bisa terus menemukan banyak band atau musisi baru sehingga daftar last.fm saya terus bertambah, salah satunya adalah berkat mendengarkan cover version atau album-album tribute. Beberapa contoh misalnya, Cylab saya tahu setelah mendengarkan mereka mengcover Heart Shaped Box dari Nirvana, Sonata Artica jadi saya suka setelah mendengar mereka dengan keren mengcover Still Loving You dari Scorpion, Banda Bassoti setelah dengar Bandiera Rosa plus Anarchy in UK versi mereka, Tina Root beserta berbagai grupnya (Tre Lux, Switchblade Symphony, Small Halo) syaa suka sejak ia menyanyikan Ava Adore, atau untuk lokal ada Amazing in Bed yang terlibat dalam album tribute Koil, bahkan band-band tribute seperti West End Girls (tribute band Pet Shop Boys) atau para spesialis penyanyi lagu orang seperti Apocalyptica dan Igor Presnyakov juga kini saya suka. Musikalitas juga bisa dibuktikan saat sebuah band atau musisi mengkover lagu yang tidak saya suka. Ini lebih hebat jika bisa membuat sebuah lagu yang tidak saya suka menjadi suka, karena ini berarti ia lebih-lebih memahami saya lagi. Tidak hanya itu, semakin lama mendengarkan lagu-lagu cover ini, kita bisa juga membedakan mana yang sekadar mengkover dan yang bisa membawakan lagu itu dengan jiwa. Kadang saya pikir, bisa jadi sebuah band atau artis hanya numpang tenar dengan mengkover sebuah lagu atau berpartisipasi dalam sebuah album tribute penyanyi atau band terkenal atau yang reputasinya bagus. Bisa saja menurut saya, meski saya tidak tahu kenyataannya. Tapi, saya kira itu bisa dibedakan.
Ketiga, dengan mendengarkan lagu-lagu cover, kita juga bisa melihat sejauh mana pergaulan band atau penyanyi itu. Maksudnya bagaimana? Maksudnya pergaulan di sini mungkin lebih pada keterbukaan dan hormat menghormati. Tidak selalu juga cover version menunjukkan senioritas. Bahkan The Cure ikut serta dalam album tribute Depeche Mode sementara menurut saya kedua band itu ada di level yang sama. Atau Annie Lennox yang sudah berkarier sejak 80an menyanyikan lagunya Ash yang kondang di masa saya kuliah. Keterbukaan juga saya hargai, misalnya ketika sebuah band atau penyanyi bisa mengkover band atau penyanyi lain yang genrenya sangat beda, bahkan di saat orang masih sering menganggap genre satu lebih tinggi dari genre lain. Lihat, misalnya saat Manic Street Preachers menyanyikan Umbrella (Rihanna), atau kunjungi saja blog tributes-of-metal.blogspot.com untuk menemukan para band metal menyanyikan lagu pop. Saya rasa perlu dibedakan juga antara gimmick dan tributes dan salah satunya itu bisa dilihat dari pilihan lagu atau artis yang dicovernya. Menurut saya, jika misalnya band death metal menyanyikan lagunya Avril Lavigne, itu gimmick yang agak murahan. Tapi, jika band darkwave membawakan lagunya Lady Gaga itu cukup sebuah tribute. Apa yang membedakan? Tentu saja sepop-popnya seorang artis kita masih bisa kok melihat mana yang berkualitas dan mana yang hanya pure industri belaka.
Nah, sejauh ini, saya memang paling suka jika menemukan lagu yang saya suka, yang berasal dari band yang "kurang terkenal" dicover artis/band yang bereputasi baik. Juga jika ternyata menemukan bahwa band atau musisi ini pernah mencover lagu ini. Seperti detektif saja rasanya. Tapi, sering juga saya temukan satu lagu yang entah kenapa covernya banyak sekali. Lagu macam Enjoy the Silence, Black Hole Sun, Love Will Tear Us Apart, Umbrella, Tainted Love, adalah beberapa lagu yang rasanya sangat sering dicover. Nggak apa-apa juga sih, selama itu bagus. Mungkin mereka cuma ingin menunjukkan kalau mereka cukup eighties, nineties, ngepop, new wave, disko, dsb.
Yang juga mengasyikkan adalah kalau mengetahui jika ternyata lagu yang sangat populer itu ternyata hanya lagu cover version. Saya rasa pendengar musik di Indonesia banyak yang tidak tahu itu. Siapa penyanyi Nothing Compares to You, misalnya? Kebanyakan bilang Sinnead O'Connor padahal penyanyi aslinya adalah Prince. Siapa yang nyanyi Bizarre Love Triangle? kebanyakan kenalnya Frente, padahal New Order. Siapa yang nyanyi Sweet Dream atau Tainted Love, mungkin pada taunya Marilyn Manson. Yang nyanyi Come On Aileen? Bukan Save Ferris donk! All Along Watchtower, bukan Hendrix! I Will Survive dan Perhaps Perhaps bukan Cake. Love Song bukan 311. Don't Dream It's Over bukan Sixpence. Man Who Sold the World juga bukan Nirvana. You Can't Hurry Love bukan Genesis. American Pie bukan Madonna. Landslide bukan Smashing Pumpkins. Big Yellow Taxi bukan Counting Crows. Backdoor Man bukan The Doors. Haduh.. Apa lagi ya? Bahkan Blue Suede Shoes itu hanya dicover Elvis. House of Rising Sun bukan punya the Animals. Perfect Day jelas bukan Duran Duran yang menciptakan. I Fought the Law bukan The Clash. Last Kiss bukan Pearl Jam. Me and Bobby McGee bukan Janis Joplin. Dan Only You adalah lagu Cues yang dicover The Platters, sebagaimana Stand By Me adalah karya Ben E King yang dinyanyikan lagi oleh John Lennon. Aha.. ternyata memang banyak sekali cover version, dan banyak di antaranya bagus-bagus kan? Karena itulah, saya merasa tidaklah tepat jika cover version dianggap tidak kreatif atau hanya dilakukan penyanyi atau band baru saja. Ini asyik sekali sehingga (dan inilah sebenarnya inti blog ini) saya lalu membuat Page di Facebook yang berisi link-link Youtube dari berbagai Cover Version, Mix Version dan juga Live Performance dari artis-artis, musisi, dan band-band yang keren (penampilan atau hasil covernya). Sampai saat ini, setelah berbulan-bulan, baru satu anggotanya: saya sendiri hehehe.. Ternyata susah sekali memang membuat sebuah Page bisa ditemukan tidak sengaja oleh orang yang tidak saya kenal (karena saya memang tidak mempromosikannya). Tidak semua musik di page ini lagu Barat, ada juga beberapa lagu Indonesia atau lagu dari manapun, asal saya kenal lagunya. Meski sendirian, cukup menyenangkan juga mengurusi Page ini. Supaya teman-teman di FB saya tidak terganggu juga jika saya terlalu sering memajang link-link musik (yang banyak di antara mereka tidak kenal atau bahkan tidak suka).
Klik di SINI atau SINI untuk melihat atau bergabung di Pagenya.

Label: , , , ,

Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...

Sing Out Again

Film dan musik mestinya punya hubungan seperti layaknya saudara. Rasanya saya tidak ingat pernah menonton sebuah film yang tanpa musik sama sekali (atau pernah ya?). Sebaliknya, di zaman ketika indera penglihatan menjadi raja (atau malah budak yang paling menderita) seperti sekarang ini, musik juga sulit dilepaskan dari visualisasi. Demikian halnya dengan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Musik jelek bisa terkenal hanya karena bikin video klip yang berbiaya mahal, lebih mahal dari biaya membuat film malah. Itu sudah biasa.
Di sisi lain, bukankah ini juga zaman ketika tampaknya makin jarang ada orang yang bisa puas memiliki satu keahlian saja? Mereka yang dikenal sebagai penulis, tiba-tiba pada pingin jadi fotografer. Mereka yang dikenal sebagai politikus, tiba-tiba bisa jadi presenter TV. Mereka yang dikenal sebagai atlet atau programmer, tiba-tiba menulis buku. Maka dari itu, sama sekali tidak mengagetkan tentunya kalau penyanyi/musisi main film atau pemain film menyanyi/main musik. Itu sangat biasa. Mungkin sebiasa pengusaha jadi politikus/pejabat dan sebaliknya. Apa kalau begitu mungkin bisa diambil kesimpulan: jangan terlalu bangga dengan pekerjaanmu, karena banyak orang lain pun bisa melakukannya? Tidak usah dibahas. Saya tidak terlalu merasa senang memikirkan hal seperti itu.
Kali ini lagi-lagi saya mau pasang video klip saja. Kebetulan karena baru saja ada kasus koneksi internet di rumah mati hampir 2 minggu, makanya begitu nyala lagi saya langsung merayakan dengan browsing-browsing Youtube. Kebetulan juga, waktu internet mati saya sempat ke warnet dan mengkopi beberapa mp3, salah satunya album musik dari artis menggemaskan yang main di Lost in Translation, Scarlett Johansson. Lalu, setelah mendengarkannya, saya menulis di status FB kira-kira begini: Scarlett Johansson, Milla Jovovich, Julie Delpy, dan Juliette Lewis kalau menyanyi kira-kira bagusan mana? Tanggapannya seperti biasa, biasa-biasa saja. Saya memang tidak selalu ingin menulis status untuk ditanggapi, apalagi kalau cuma sekadar dijempol. Bagusan mana? Semua orang tentu bisa nyanyi. Cuma kalau sudah bikin album rekaman, itu tidak semua orang bisa. Sekali lagi, artis nyanyi itu sih sangat biasa. Tapi, apakah bagus? Itu pertanyaannya. Hayah, sudahlah daripada berbelit-belit, mari kita bandingkan langsung saja.
Scarlett Johansson
Ini adalah yang paling muda dibanding 3 nama lainnya. Kalau di album yang saya temukan di warnet dekat rumah saya itu, Scarlett nyanyinya secara minor (istilah saya sendiri), baik dari jenis musik maupun suaranya. Tapi, saya kaget waktu browsing di Youtube, rupanya suaranya beda. Suaranya lebih sesuai wajahnya. Yang di bawah ini adalah yang saya bilang versi minor. Saya pikir ini adalah salah satu dari lagu di albumnya. Judulnya, Yesterday is Here:



Lagu kedua ini banyak bertebaran di Youtube. Ternyata Scarlett pernah duet dalam sebuah proyek album bersama Pete Yorn. Video live nya di Youtube cukup membuat saya makin gemas dan membayangkan saya jadi Pete Yorn.



Juliette Lewis
Kalau melihat di Natural Born Killers, Juliette Lewis ini sempat menyanyi. Waktu dia dikurung dan terpisah dari Woody Harrelson, dia menyanyi macam adegan di film King Kong Lives saat king kong cewe terpisah dari king kong cowo. Hahaha... Yang jelas waktu ngeliat itu saya suka suaranya. Ealah, ternyata dia memang punya band yang namanya the Licks. Waktu mendengar band ini, entah kenapa saya tidak bisa suka. Mau rock n roll tapi kok nanggung, mau alternatif juga jauh, mau country juga bukan. Suaranya, kata pengagumnya, kayak Janis Joplin, tapi kayaknya juga beda kalau menurut saya. Kali ini dia menyanyikan lagunya PJ Harvey (oyaaa.. memang mirip-mirip dua orang ini) yang judulnya Hardly Wait.



Yang ini adalah penampilan live bandnya dengan lagunya Search and Destroy. Melihat video ini memang gila juga si Juliette Lewis. Tapi kok waktu vokalnya diambil alih sama gitarisnya, malah lebih bagus. Sepertinya Juliette ini salah milih genre musik kali ya? Terlalu maksain ngerock malah capek telinga ini dengarnya.



Milla Jovovich
Film-film Milla Jovovich mungkin jelek. Tapi, waktu nyanyi saya pikir ia lebih bagus. Musiknya masih berbau-bau Russia, karena ia sendiri kelahiran Ukraina. Dulu saya tidak yakin waktu mendengar lagu In A Glade, yang masuk di kompilasi album Inspirational Moment yang macam-macam serinya itu. Saya pikir itu Milla Jovovich yang lain, bukan yang artis itu. Ternyata saya memang salah. Milla rupanya memang menyanyi. Kalau dibandingkan tiga artis lain yang saya bahas di sini, saya pikir suaranya yang paling mantap. Dia bernyanyi dengan lebih mantap dari yang lainnya. Nah, yang ini judulnya Alien Song. Saya punya beberapa lagu dari Milla, sebenarnya bukan ini yang paling saya suka, tapi this is oke jugalah.



Dalam video yang ini, Milla Jovovich duet dengan band namanya Puscifer. Band yang ini adalah bikinan Keenan Maynard Jones yang adalah vokalis Tool, yang juga bikin side project A Perfect Circle. Kalo ibarat sales, pastinya orang ini pastinya ikut berbagai MLM dan tiap ketemu orang selalu tidak jemu-jemu berganti-ganti menawarkan bisnisnya. Hehehee... Sebenarnya malah bagus sih kalo ada musisi punya side project banyak. Biasanya musisi yang seperti itu justru yang bagus atau yang sangat kreatif. Selain video ini, kita bisa cari di Youtube penampilan live mereka, di mana Milla pake baju suster yang seksi dan mukanya dicoreng-coreng kayak kucing. Sayang gambarnya hanya rekaman amatir sehingga tidak enak ditampilkan di blog ini. Weisss.



Julie Delpy
Before Sunset dan Before Sunrise, dua film yang tentu disukai modelan para mahasiswa sastra termasuk saya. Dan kayaknya memang dua film itulah yang paling sukses dibintanginya sampai sekarang. Ada sih film yang judulnya 2 Days in Paris yang bukan cuma dibintangi, tapi juga disutradarai dan musiknya dikomposeri oleh dia sendiri. Tapi, saya belum nonton yang itu. Dalam film Before Sunset yang gambarnya diambil tanpa jeda itu, Julie ini sempat nyanyi main gitar dengan bagus sekali. Memang, dua film itu meski isinya cuma ngomong-ngomong tapi sangat berkesan dan menggemaskan. Ah, mau nyewa dan dikopi aja deh kapan-kapan. Lagu di bawah ini kabarnya diambil dari album debutnya yang sampai sekarang masih sulit saya cari tempat downloadnya. Judulnya Mr. Unhappy. Klip lirik di bawah ini juga lucu dan liriknya bisa membuat tersenyum. Nice job Julie!



Yang di bawah ini, saya tidak tahu apakah memang video klip resminya atau cuma editan orang di Youtube. Julie Delpy menyanyi bersama Nouvelle Vague dalam lagu yang intronya seperti lagunya Changcuters. Halah, bagusan ini dobel-dobellah! Makin dengar lagu-lagunya artis satu ini bikin saya makin kesengsem dengannya. Bukan hanya lagunya bagus dan cocok dengan selera saya, tapi waktu pilih rekan kolaborasi pun pilihnya pinter, Nouvelle Vague.



Nah, bagusan mana? Kalau saya, secara musikalitas saya pilih Julie Delpy. Kalau mantapnya saya pilih Milla Jovovich. Kalau penampilan orangnya saya pilih Scarlett Johansson. Kalau Julliete Lewis? Mungkin karena beberapa filmnya bagus atau karena energinya memang harus dihargai. Apakah Anda setuju? Silakan bandingkan sendiri.

Label: , , , , , , ,

Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...

Belum sempat nulis. Nyanyi dulu aja deh..

Kalau dibilang Freud, subconscious itu akan terbentuk dan menetap di usia 0-5 tahun, bisa saja ini alasan saya paling 'greng' dengan musik eighties (atau sound-sound elektronika pada umumnya). Meski demikian, saya meragukannya juga. Saya duga, itu lebih karena saya orang yang cenderung tertutup. Jadi, meski saya banyak dibilang tidak ekspresif tapi dalam hati saya ingin menari dan memberontak. Bukankah itu dua kata yang cukup pas menggambarkan musik new wave atau elektronika (beda dengan musik dugem loh)? Saya tidak menutup telinga pada jenis musik lain atau dari era lain. Tapi, kalau yang paling bikin saya tertarik atau lebih tepatnya 'greng' tadi memang jenis musik new wave, electronic, new romantic, sampai yang masih kental nuansa punknya begitu. Kali ini, saya hanya ingin mencoba membookmark sekaligus menshare beberapa video ini kepada siapa saja yang tertarik. Mau dishare di FB kok rasanya terlalu sering dan nanti malah bikin bosan.
DEPECHE MODE - ENJOY THE SILENCE
Ini adalah lagu dari Depeche Mode yang paling terkenal: Enjoy the Silence. Sudah dibawakan ulang oleh berbagai band ternama dunia saat ini. Band asal Bandung, Kubik dalam album remix mereka yang terbaru (lupa namanya) juga memakai sampel intro lagu berikut dalam salah satu track mereka yang saya juga lupa judulnya. Dalam album tribute buat Depeche Mode, "For the Masses", lagu ini dibawakan oleh band Amerika bernama Failure. Hasilnya sama dengan nama band itu sendiri: failure hahahaha...



NEW ORDER - BLUE MONDAY
Kalau Depeche Mode punya Enjoy the Silence, maka New Order, band yang diisi oleh personil Joy Division minus si vokalis Ian Curtis yang gantung diri, punya Blue Monday. Beberapa versi yang sempat terkenal membawakan lagu ini, misalnya: Orgy dan Nouvelle Vague. Lagu ini bisa dibilang menjadi anthem dari musik new wave agak dugem atau lebih tepatnya musik yang katanya disebut Madchester itu. Legendaris deh pokoknya!


NEW ORDER - TRUE FAITH
Apakah nama New Order ada hubungannya dengan Orde Baru? Hehehe.. Tidak tahulah. Yang jelas, yang satu menyengsarakan yang satunya menyenangkan. Tapi, kok New Order lagi sih? Ya, karena saya sebenarnya paling suka sama lagu yang ini: True Faith. Lagu yang pertama kali saya dengarkan sambil mengendarai motor dan ingatannya terus terkenang hingga kini. Dikatakan bahwa salah satu bait liriknya yang berbunyi: "when I was a very small boy, very small boy offer drug to me" disensor pihak rekaman dan diganti "very small boy talk to me" tapi kalau di manggung, liriknya tetap seperti aslinya. Penting nggak info ini?


BOY GEORGE - CRYING GAME
Nah, lagu ini mestinya cukup sering didengar. Salah satunya di film Ace Ventura. Boy George mungkin salah satu artis yang nasibnya cukup terlunta-lunta saat ini.

BLONDIE - CALL ME
Duo penyanyi perempuan kesukaan saya membawakan lagu yang juga saya suka. Yang satu adalah Shirley Manson dari Garbage, yang satu Debbie Harry dari Blondie yang membawakan lagunya Call Me.


RADIOHEAD - CEREMONY (JOY DIVISION COVER)
Radiohead membawakan lagu-lagu yang katanya memengaruhi musikalitas mereka. Salah satunya dari Joy Division, berjudul Ceremony. Lagu lainnya pernah saya post di sini juga, lagu dari Bjork berjudul Unravel. Lagu lain sejauh saya lihat di Youtube adalah lagunya The Smith.


SAINT ETIENNE - ONLY LOVE CAN BREAK YOUR HEART
Saint Etienne adalah nama kota di Prancis yang punya klub bola cukup terkenal. Tapi, selain itu adalah nama sebuah band Inggris yang biasanya membawakan lagu-lagu elektronik. Kali ini, mereka membawakan sebuah hit pertama mereka. Sebuah lagu yang pernah dipopulerkan Neil Young berjudul Only Love Can Break Your Heart. Lagu ini juga pernah dibawakan beberapa grup seperti The Corrs, tapi , Saint Etienne yang vokalisnya Sarah Cracknell saat ini juga punya album solo, membawakannya dengan irama dance khas 80-90an (ingat Ace of Base?)


NICK CAVE & KYLE MINOGUE - WHERE THE WILD ROSE GROW
Where the Wild Rose Grow. Waktu kecil, lagu ini bikin saya merinding. Setelah besar, baru saya mengerti liriknya memang bikin merinding. Tentang seorang pria psycho yang membunuh seorang gadis kecil dengan batu di sungai, agar kecantikannya tetap abadi. Dalam album berjudul Murder Ballads ini (semoga saya ingat untuk mendonlotnya), Nick Cave dan Kyle Minogue membawakan lagu ini dan bermain di video klipnya dengan baik

Label: , , , , , , , , , , , , , , ,

Klik sini buat yang penasaran lanjutannya...


Web This Blog


XML

Powered by Blogger

make money online blogger templates




Free chat widget @ ShoutMix

Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign
Join the Blue Ribbon Online Free Speech Campaign!



© 2006 perjalanan lalat hijau | Blogger Templates by GeckoandFly.
blog ini berisi catatan, kenangan, keluhan, caci maki, khayalan, pengakuan, tiruan, dan hasil kopi paste
blog ini tidak ada hubungannya dengan lalatx atau padepokan silat tertentu, pengelola sebenarnya tidak suka warna ijo!